Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari amalan yang tidak terangkat dan dari doa yang tidak didengarkan.

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ

. ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟﻠﻪ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩُ، ﻭَﻧَﻌُﻮْﺫُ بالله ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ

ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪ ﻓَﻠَﺎ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻠَﺎ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ، ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ

ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻟَﺎ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ، ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﻣﻦ

ﻭﺍﻟﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺗﺴﻠﻴﻤﺎ ﻛﺜﻴﺮﺍ . ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ .

قد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع وعمل لا يرفع ودعاء لا يسمع

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari amalan yang tidak terangkat dan dari doa yang tidak didengarkan.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dan juga Imam Ibnu Majah dalam dan juga Imam Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Al Hakim dalam mustadroqnya dan dinyatakan shahih oleh Syeikh Muhammad Nasrudin Albani di dalam shahiih al-jaami shaghiir.

Hadits ini merupakan doa yang agung yang diajarkan Rasulullãh ﷺ kepada setiap muslim, yaitu berlindung dari tiga perkara yaitu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari amalan yang tidak terangkat dan dari do’a yang tidak didengar.

Dan maksud dari berlindung kepada Allāh dari ilmu yang tidak bermanfaat yang ini tidak bermanfaat dari segi bahwa dia tidak bermanfaat dari segi zatnya bahkan membahayakan seperti ilmu perdukunan, ilmu nujum, atau ilmu filsafat, yaitu berlindung kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari kecenderungan jiwa untuk mempelajarinya belajar dari setiap ilmu yang tidak bermanfaat pada zatnya.

Kemudian juga dimaksudkan dengannya berlindung dari ilmu yang bermanfaat akan tetapi ketika seorang mempelajarinya tidak memperoleh manfaat ketika dia tidak mengamalkannya maka lepas dari apa yang dia ilmui.

Maka Rasulullãh ﷺ berlindung kepada Allāh ,

“Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat dari dunia dan akhirat, ilmu filsafat, ilmu nujum, dan lainnya, yakni haram oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk dipelajari.

Bahkan ketika seorang mempelajari ilmu sihir dikatakan kekufuran oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla . Sebagaimana surat Al Baqarah tentang larangan mempelajari ilmu sihir. Kemudian juga ilmu filsafat yang ini jelas datang dari orang kafir yang bahkan menjadi sebab dari penyimpangan, penyelewengan dari umat islam sejak masuk ilmu ini kedalam umat islam menimbulkan dari kerusakan-kerusakan aqidah seorang muslim.

Maka Rasulullãh ﷺ memerintahkan mencontohkan pada kita agar kita berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat yaitu yang berbahaya, yang tidak bermanfaat pada dunia dan agama dan dari zatnya, kemudian juga berlindung dari tidak mengandung manfaat ketika kita tidak mengamalkan ilmu yang bermanfaat yang kita pelajari.

Kemudian juga Rasulullãh ﷺ berlindung dari amalan yang tidak terangkat, yaitu amalan yang tidak diterima Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Karena amalan yang diterima akan diangkat oleh para malaikat sampai pada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Ketika amalan tidak terangkat adalah tanda amalan tidak diterima. Kita berlindung kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari amalan yang tidak diterima oleh Allah yaitu ketika amalan tersebut tidak dimurnikan kepada Allāh, tidak ikhlas kepada Allāh, yang Allāh tidak akan menerima amalan yang tidak ikhlas kepadaNya.

Allāh berfirman dari hadits Qudsi,

“Aku tidak butuh, aku tidak perlu tidak membutuhkan, paling tidak butuh pada sekutu barang siapa yang beribadah kepadaKu dan mempersekutukanKu dengan yang lain, Aku tinggalkan dia dengan kesyirikannya.”

Maka ikhlas adalah syarat dari rangkaian ibadah, dari diterimanya ibadah.

Kemudian juga amal tidak diterima adalah ketika amalan tersebut tidak mengikuti petunjuk Rasulullãh ﷺ .

Rasulullãh ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang beramal yang tidak ada contoh perintah dari kami maka akan tertolak/tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.” Maka kita berlindung dari amalan yang tidak diterima yaitu kita mengupayakan agar ikhlas dari setiap amalan dan juga mengikuti petunjuk Rasulullãh ﷺ dalam setiap amalan kita.

Kemudian Rasulullãh ﷺ berlindung pada Allāh dari doa yang tidak didengar yaitu doa yang tidak dikabulkan oleh Allāh karena kemaksiatan orang yang berdoa atau karena dia melampaui batas dalam berdoa atau karena dia berdoa dalam kondisi hatinya lalai atau lengah yang ini merupakan sebab doa tidak diterima yaitu kemaksiatan. Yang Allah tidak menerima kecuali yang baik.

Rasulullãh ﷺ menjelaskan ada yang seorang yang dia panjang dan lama dan dalam perjalanannya, tubuhnya penuh debu, rambutnya kusut …, dia berdoa pada Allah, tawasul rububiyahnya, Ya Rabb Ya Rabb akan tetapi tidak diterima doanya karena dia makan yang haram, minum yang haram, pakaian yang haram dan dia mendapat harta yang haram maka tidak diterima karena ada penghalang dari diterima doa yaitu dia tidak membersihkan dirinya dari perkara yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Maka ketika seorang berlindung dari doa yang tidak didengar maka dia berlindung dan juga mengupayakan agar diterima doanya dengan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang haram, dari makanan, minumannya, pakainanya dan yang lainnya. Kemudian juga hendaknya dia menjauhi diri dari berlebih-lebihan, melampaui batas dalam berdoa. Demikian juga dia berdoa dalam kondisi yang betul-betul khusyu’, atau yang dia paham apa yang diucapkan, bukan seorang yang lalai yang tidak diterima dari doanya sebagaimana hadits yang shahih dari Rasulullãh ﷺ.

Hadits yang agung ini merupakan petunjuk yang agung dari Rasulullãh ﷺ yaitu kita hendaknya selalu berlindung kepada Allāh dari ilmu yang tidak bermanfaat kemudian dari amalan yang tidak diterima, dan dari doa yang tidak dikabulkan dan tentunya ini bukan sekedar berdoa saja, tentunya kita berupaya bermanfaat dengan kita mengikhlaskan niat semata-mata pada Allāh didalam mempelajarinya kemudian mengamalkannya dan mengajarkannya. Kemudian juga kita berupaya ikhlas dalam setiap amalan dan mengupayakan mengikuti petunjuk Rasulullãh ﷺ dan juga melakukan adab-adab dalam berdoa agar kita diterima doa kita dan menjauhi perkara-perkara yang bisa menjadi penghalang dari diterimanya doa kita. Ini akan bisa dengan kebaikan didalam ilmu kita, amalan kita dan doa kita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla selalu memberikan taufik kepada kita untuk bisa mengamalkan dari petunjuk Rasulullãh ﷺ bisa menjadikan ilmu kita bermanfaat, amalan kita diterima Allāh dan doa kita dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Wallahu’alam bishshowab

ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ﻭ ﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭ ﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ .

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠّﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.