Ushul Tsalatsah [Sesi ke-41]: KEWAJIBAN MENGINGKARI THAGHUT

? SESI 41

Alhamdulillah kita lanjutkan pembahasan kitab Ushulutstsalaatsah, sampai pada :

KEWAJIBAN MENGINGKARI THAGHUT

وافترض الله على جميع العباد الكفر بالطاغوت والإيمان بالله. قال ابن القيم رحمه الله تعالى: الطاغوت: ما تجاوز به العبد حده من معبود أو متبوع، أو مطاع

Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir kepada thaghut
dan hanya beriman kepada-Nya saja. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah ta’ala telah menjelaskan pengertian thaghut dengan mengatakan: “Thaghut, ialah segala sesuatu yang diperlakukan manusia secara
melampaui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti, atau dipatuhi.”

? Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

أراد شيخ الإسلام رحمه الله بهذا أن التوحيد لا يتم إلا بعبادة الله وحده لا شريك له واجتناب الطاغوت .
وقد فرض الله ذلك على عباده والطاغوت مشتق من الطغيان، والطغيان مجاوزة الحد ومنه قوله تعالى: { إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ } . يعني لما زاد الماء عن الحد المعتاد حملناكم في الجارية يعني السفينة.
واصطلاحا أحسن ما قيل في تعريفه ما ذكره ابن القيم رحمه الله أنه أي الطاغوت: “كل ما تجاوز به العبد حده من معبود، أو متبوع، أو مطاع “. ومراده بالمعبود والمتبوع والمطاع غير الصالحين، أما الصالحون فليسوا طواغيت وإن عبدوا -أو اتبعوا- أو أطيعوا فالأصنام التي تعبد من دون الله طواغيت، وعلماء السوء الذين يدعون إلى الضلال والكفر، أو يدعون إلى البدع، أو إلى تحليل ما حرم الله، أو تحريم ما أحل الله طواغيت، والذين يزينون لولاة الأمر الخروج عن شريعة الإسلام بنظم يستوردونها مخالفة لنظام الدين الإسلامي طواغيت، لأن هؤلاء تجاوزوا حدهم، فإن حد العالم أن يكون متبعا لما جاء به النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لأن العلماء حقيقة ورثة الأنبياء، يرثونهم في أمتهم علما وعملا، وأخلاقا، ودعوة وتعليما، فإذا تجاوزوا هذا الحد
وصاروا يزينون للحكام الخروج عن شريعة الإسلام بمثل هذه النظم فهم طواغيت ؛ لأنهم تجاوزوا ما كان يجب عليهم أن يكونوا عليه من متابعة الشريعة.
وأما قوله رحمه الله : “أو مطاع ” فيريد به الأمراء الذين يطاعون شرعا أو قدرا، فالأمراء يطاعون شرعا إذا أمروا بما لا يخالف أمر الله ورسوله، وفي هذه الحال لا يصدق عليهم أنهم طواغيت، والواجب لهم على الرعية السمع والطاعة، وطاعتهم لولاة الأمر في هذا الحال بهذا القيد طاعة لله عز وجل ولهذا ينبغي أن نلاحظ حين ننفذ ما أمر به ولي الأمر مما تجب طاعته فيه أننا في ذلك نتعبد لله تعالى ونتقرب إليه بطاعته، حتى يكون تنفيذنا لهذا الأمر قربة إلى الله – عز وجل – وإنما ينبغي لنا أن نلاحظ ذلك لأن الله تعالى يقول: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ } .
وأما طاعة الأمراء قدرا فإن الأمراء إذا كانوا أقوياء في سلطتهم فإن الناس يطيعونهم بقوة السلطان وإن لم يكن بوازع الإيمان، لأن طاعة ولي الأمر تكون بوازع الإيمان وهذه هي الطاعة النافعة، النافعة لولاة الأمر، والنافعة للناس أيضا، وقد تكون الطاعة بوازع السلطان بحيث يكون قويا يخشى الناس منه ويهابونه لأنه ينكل بمن خالف أمره.
ولهذا نقول: إن الناس مع حكامهم في هذه المسألة لهم أحوال:
الحال الأولى : أن يقوى الوازع الإيماني والرادع السلطاني وهذه أكمل الأحوال وأعلاها.
الحال الثانية : أن يضعف الوازع الإيماني والرادع السلطاني وهذه أدنى الأحوال وأخطرها على المجتمع، على حكامه ومحكوميه ؛ لأنه إذا ضعف الوازع الإيماني والرادع السلطاني حصلت الفوضى الفكرية والخلقية والعملية.
الحال الثالثة : أن يضعف الوازع الإيماني ويقوى الرادع السلطاني وهذه مرتبة وسطى لأنه إذا قوي الرادع السلطاني صار أصلح للأمة في المظهر فإذا اختفت قوة السلطان فلا تسأل عن حال الأمة وسوء عملها.
الحال الرابعة : أن يقوى الوازع الإيماني ويضعف الرادع السلطاني فيكون المظهر أدنى منه في الحالة الثالثة لكنه فيما بين الإنسان وربه أكمل وأَعلى.
[Wajibnya ingkar kepada taghut]

Syaikhul Islam rahimahullah memaksudkan bahwa tauhid itu tidak akan sempurna kecuali dengan
mengibadahi Alloh saja, tiada sekutu bagi-Nya, serta dengan menjauhi thaghut. Alloh telah mewajibkan hal itu kepada seluruh hamba. Sedangkan kata thaghut di sini merupakan pecahan dari kata thughyan yang mempunyai arti melampui batas.
Di antara contohnya adalah firman Alloh Ta’ala,

“Sesunguhnya Kami, tatkala air telah ‘melampaui batas’, maka Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam
bahtera” (Al-Haaqqah:11)

Maksudnya, ketika air itu telah melampaui batas yang normal (meluap melampaui batas), maka Kami bawa
(nenek moyang) kalian ke dalam bahtera.
Menurut istilah, pengertian thaghut yang paling tepat adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnul
Qoryim rahimahullah, yaitu apa saja yang diperlakukan oleh hamba (manusia) secara melampaui batas; berupa
sesuatu yang disembah, diikuti dan ditaati. Yang dimaksud dengan yang disembah, diikuti dan ditaati sini adalah selain orang-orang sholih. Orang-orang sholih itu bukan thaghut, sekalipun mereka disembah,
diikuti, atau ditaati. Berhala-berhala yang disembah selain Alloh, itulah thaghut.

Para ulama su’u, yang menyeru kepada kesesatan dan kekufuran, atau menyeru untuk menghalalkan apa yang
diharamkan oleh Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh, maka mereka itu adalah para
thaghut. Orang-orang yang menggoda para pemimpin atau penguasa untuk keluar dari syariat Islam untuk berganti menggunakan tatanan-tatanan yang mereka impor, yang menyelisihi tatanan agama Islam, maka
mereka itu adalah para thaghut. Sebab, mereka ini telah melampaui batasnya. Batasan seorang alim (ulama)
adalah mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi, karena pada hakekatnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Para
ulama itu mewarisi para nabi dalam mengurus umat para nabi itu, baik berkenaan dengan ilmu, amal, akhlak, serta dakwah maupun ta’lim. Jika para ulama itu telah melampaui batasan ini, lalu mereka justru menggoda para
penguasa untuk keluar dari syariat Islam dengan berganti menggunakan tatanan-tatanan (nizham) semacam itu;
maka mereka ini adalah para thaghut. Sebab, mereka telah melampaui batas yang diwajibkan atas mereka,
yaitu mengikuti syariat.

Yang dimaksudkan dengan perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah “atau yang ditaati”, adalah para umaro
yang ditaati karena syari maupun karena kebesaran atau keagunganya. Para umaro itu ditaati karena syar’i,
manakala mereka memerintahkan sesuatu yang tidak bertentangan dengan perintah Allah dan rosul-Nya.
Dalam hal semacam ini tidak benar jika mereka dikatakan sebagai thaghut. Bahkan mendengar dan
menaati mereka merupakan kewajiban bagi rakyat. Ketaatan rakyat terhadap ulil amri dalam hal ini dan
dengan ikatan seperti ini merupakan bentuk ketaatan kepada Alloh ‘azza wa jalla. Oleh karena itu, seyogyanya
kita mesti selalu ingat bahwa ketika kita menunaikan apa yang diperintahkan oleh ulil amri dalam hal yang
memang wajib ditaati, kita dalam menunaikan hal itu berarti beribadah kepada Alloh ta’ala dan mendekatkan
diri kepada-Nya dengan cara mentaati ulil amri itu; sehingga perintah yang kita tunaikan ini meniadi suatu
bentuk pendekatan diri (qurbah) kepada Alloh ‘azza wa jalla . Yang menjadi dasar bahwa kita mesti ingat akan
hal ini adalah karena Alloh Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul-Nya serta ulil amri di antara kalian”
(An-Nisaa: 59)
Ketaatan kepada umaro bisa juga karena kebesaran umaro tersebut. Umaro’ itu jika memiliki kekuasaan yang
kuat, maka manusia akan mematuhi mereka lantaran kuatnya kekuasaan itu, jika bukan karena kendali iman.
Sebab, ketaatan kepada ulil amri itu sebenarnya atas dasar kendali iman; dan inilah ketaatan yang bermanfaat,
bagi para ulil amri itu sendiri maupun juga bagi manusia atau rakyat seluruhnya.

Terkadang ketaatan atau kepatuhan itu lantaran kendali sang penguasa;karena dia kuat, sehingga manusia merasa takut dan khawatir kepadanya. Sebab ia akan menyiksa siapa saja yang menyelisihi perintahnya.
Oleh karena itu, dapat kami katakan bahwa hubungan antara manusia pada umumnya dengan para penguasa
mereka dalam masalah ini terbagi menjadi beberapa kondisi :

Pertama : Kuatnya kendali iman dan kendali penguasa.
Inilah bentuk ketaatan yang paling sempurna dan paling tinggi.

Kedua: Lemahnya kendali iman dan kendali penguasa.
Ini adalah kondisi yang paling rendah dan paling berbahaya bagi masyarakat, baik terhadap penguasa itu
sendiri maupun bagi rakyat Sebab jika kendali iman dan kendali penguasa itu lemah, maka yang terjadi adalah
anarki pemikiran, akhlak maupun perbuatan.

Ketiga: Lemahnya kendali iman dan kuatnya kendali penguasa.
Ini adalah tingkatan nomor tengah. Sebab jika kendali penguasa itu kuat, maka hal itu akan lebih bermaslahat
bagi umat dalam bentuk luarnya. Jika kekuatan penguasa itu sudah tersembunyi, maka Anda tidak perlu tanya lagi mengenai kondisi umat dan aktivitasnya yang buruk.

Keempat: Kuatnya kendali iman dan lemahnya kendali penguasa.
Dalam kond.isi seperti ini, maka perwujudan luarnya lebih rendah dari pada kondisi yang ketiga di atas, akan
tetapi hubungan antara manusia dengan Robbnya jauh lebih sempurna dan lebih tinggi.

(IN SYAA ALLAH BERSAMBUNG PEKAN BERIKUTNYA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.