Ushul Tsalatsah [Sesi ke-24]: Iman kepada Rububiyah Allah

?SESI 24

Alhamdulillah kita lanjutkan pembahasan kitab Ushulutstsalaatsah, sampai pada :
الثاني: الإيمان بربوبيته :
أي بأنه وحده الرب لا شريك له ولا معين.
والرب: من له الخلق والملك، والأمر، فلا خالق إلا الله، ولا مالك
إلا هو، ولا أمر إلا له، قال تعالى: { أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ } وقال: { ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ } .
ولم يعلم أن أحدا من الخلق أنكر ربوبية الله سبحانه، إلا أن يكون مكابرا غير معتقد بما يقول، كما حصل من – فرعون – حين قال لقومه: { أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى } وقال: { يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي } لكن ذلك ليس عن عقيدة، قال الله تعالى: { وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا } وقال موسى لفرعون فيما حكى الله عنه: { لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا } .
ولهذا كان المشركون يقرون بربوبية الله تعالى ، مع إشراكهم به في الألوهية ، قال الله تعالى: { قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ } .
وقال الله تعالى: { وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ } وقال: { وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ } .
وأمر الرب سبحانه شامل للأمر الكوني والشرعي فكما أنه مدبر الكون القاضي فيه بما يريد حسب ما تقتضيه حكمته، فهو كذلك الحاكم فيه بشرع العبادات وأحكام المعاملات حسبما تقتضيه حكمته، فمن اتخذ
مع الله تعالى مشرعا في العبادات أو حاكما في المعاملات فقد أشرك به ولم يحقق الإيمان.

?II. IMAN KEPADA RUBUBIYAH-NYA

Artinya, bahwa Dia adalah satu-satunya Robb yang tak mempunyai sekutu maupun penolong. Robb adalah Dzat yang berwenang mencipta, memiliki dan memerintah. Tiada pencipta selain Alloh, tiada yang memiliki kecuali Alloh serta tiada yang berhak memerintah kecuali Alloh.

Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“… ingatlah, mencipta dan memerintah hanyalah wewenang Allah…”(Al-A’raaf: 54)
“…yang demikian itulah Rabb kalian. Hanya milikNyalah segala kerajaan. Sedangkan orang-orang yang
kamu seru (sembah) selain Alloh itu tiada meniliki apaapa walau hanya setipis kulit ari pun” (Faathir: 13)
Tidak ada ceritanya bahwa ada diantara makhluk ini yang mengingkari rububiyah Alloh Ta’ala, kecuali karena ia sombong namun sebenarnya ia tidak yakin dengan apa yang diucapkannya, ini seperti pernah terjadi pada diri
Fir’aun ketika berkata kepada kaumnya sebagaimana disebutkan oleh Al-Quran:“…akulah tuhan kalian yang maha tinggi!” (An-Nazi’at:24)
“Hai para pembesar kaumku, aka tidak tahu akan adanya tuhan lain bagimu selain aku … “(Al-Qoshosh: 38)
Namun sebenarnya yang dia katakan itu bukan berasal dari keyakinan. Alloh Ta’ala, berfirman [artinya]:
“Mereka mengingkarinya lantaran kedzaliman dan kesombongan (mereka) padahal sebenarnya di hati
mereka meyakini (kebenaran)nya..”(An-Naml: 14)

Musa pernah berkata kepada Fir’aun sebagamana yang dikisahkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an [artinya]:
“Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizatmukjizat
itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya
aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa” (Al-Israa: 102)
Karena itu, kaum musyrikin itu mengakui rububiyah Alloh Ta’ala, namun mereka menyekutukan-Nya dalam
hal uluhiyah-Nya. Alloh Ta’ala, berfirman [artinya]: “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua
yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka
apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy
yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak
bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia
melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan
menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”
(Al-Mukminuun: 84-89)

Alloh Ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya
mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”
(Az-Zukhruf: 9)

Allah Ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka
menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?”
(Az-Zukhruf: 87)

“Perintah” Robb di sini meiiputi segala perintah yang bersifat kauni (alam) dan syar’i. Dia adalah pengatur alam
semesta ini, yang mengatur segala apa yang ada di dalamnya dengan kehendak-Nya sendiri sejalan dengan
hikmah-Nya; maka demikian juga, Dia adalah hakim yang mensyariatkan peribadahan-peribadahan dan
hukum-hukum muamalat sejalan dengan hikmah-Nya pula. Siapa saja yang menjadikan pensyariat lain dalam
masalah-masalah ibadah atau menjadikan hakim lain dalam hal muamalah di samping Alloh, maka ia berarti
telah menyekutukan-Nya, dan dengan demikian ia berarti belum merealisasikan keimanan.

الثالث: الإيمان بألوهيته :
أي ( بأنه وحده الإله الحق لا شريك له) و”الإله” بمعنى المألوه” أي “المعبود حبا وتعظيما، وقال الله تعالى: { وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ } وقال تعالى: { شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } . وكل ما اتخذ إلها مع الله يعبد من دونه فألوهيته باطلة، قال الله تعالى: { ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ } وتسميتها آلهة لا يعطيها حق الألوهية قال الله تعالى في ( اللات والعزى ومناة): { إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ } وحكى عن هود أنه قال لقومه: { أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَاءٍ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا نَزَّلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ } وحكى عن يوسف أنه قال لصاحبي السجن: { أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ } ولهذا كانت الرسل عليهم الصلاة والسلام يقولون لأقوامهم: { اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ } ولكن أبى ذلك المشركون، واتخذوا من دون الله آلهة، يعبدونهم مع الله سبحانه وتعالى، ويستنصرون بهم، ويستغيثون.
?III. IMAN KEPADA ULUHIYAH-NYA
Artinya bahwa Dia adalah satu-satunya ilah yang haq, tiada sekutu bagi-Nya. Kata ilah disini bermakna ma’luh,
yang berarti ma’buud (yang disembah atau diibadahi) atas landasan kecintaan dan pengagungan. Allah ta’ala
berfirman [artinya]:
“’Ilah kamu adalah ilah yang satu; tiada ilah selain Dia. Dia Maha Pemurah lagi Penyayang” (Al-Baqarah: 163)
Allah ta’ala juga berfirman [artinya]: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Ali ‘Imraan: 18) Segala yang dijadikan sebagai ilah disamping Allah, yang disembah selain Allah, maka uluhiyah sembahan itu adalah bathil.
Allah berfirman [artinya]:
“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja
yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi
Maha Besar” (Al-Hajj: 62)

Ilah-ilah selain Allah itu tidak mempunyai hak uluhiyah. Mengenai Latta, ‘Uzza dan Manaat, Allah ta’ala
berfirman [artinya]: “Ilah-ilah itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya”
(An-Najm: 23)

Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Huud bahwa ia pernah berkata kepada kaumnya [artinya]:
“Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama ilah yang kamu beserta nenek
moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu?”
(Al-A’raaf: 71)

Alloh Ta’a1a, juga berfirman bahwa Nabi Yusuf pernah berkata kepada penghuni penjara:
“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhantuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang
Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) namanama yang kamu dan nenek moyangmu membuatbuatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun
tentang nama-nama sesembahan itu”
(Yuusuf: 39-40)

Oleh karena itu, seluruh rosul ‘alaihimussalam selalu berkata kepada kaum mereka, “Ibadahilah Alloh; tiada
ilah selain-Nya bagi kalian” Namun ternyata orang-orang musyrik itu enggan, dan mereka tetap saja mengambil ilah-ilah lain selain Alloh yang mereka sembah di samping Alloh serta dimintai pertolongan dan perlindungan.

وقد أبطل الله تعالى اتخاذ المشركين هذه الآلهة ببرهانين عقليين:
Alloh Ta’ala telah membatilkan (menggugurkan) tindakan kaum musyrikin mengambil ilah-ilah ini dengan
dua keterangan (hujah) ‘aqli:

الأول: أنه ليس في هذه الآلهة التي اتخذوها شيء من خصائص الألوهية، فهي مخلوقة لا تخلق، ولا تجلب نفعا لعابديها، ولا تدفع عنهم ضررا، ولا تملك لهم حياة ولا موتا، ولا يملكون شيئا من السماوات ولا يشاركون فيه.
قال الله تعالى: { وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا } .
وقال تعالى: { قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ } .
وقال: { أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ } .
وإذا كانت هذه حال تلك الآلهة، فإن اتخاذها آلهة من أسفه السفه، وأبطل الباطل.

Pertama:
Ilah-ilah yang disembah oleh kaum musyrikin ini sama sekali tidak memiliki karakteristik uluhiyah sedikit pun.
Ilah-ilah itu sekedar makhluk yang tidak akan dapat mencipta, tidak dapat mendatangkan kemanfaatan bagi
penyembahnya, tidak dapat menolak kemadhorotan, dan mereka tidak kuasa untuk menghidupkan atau mematikan mereka serta tidak memiliki apa pun tentang apa yang ada di langit dan juga tidak mempunyai saham sedikit pun.

Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu
tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu
kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak
kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan” (Al-Furqaan:3)

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Katakanlah: ” Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki
(kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam
(penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan
tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu”
(Saba’: 22-23)

Allah juga berfirman [artinya]
“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun?
Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan
kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi
pertolongan” (Al-A’raaf: 191-192)
Jika seperti ini keadaan ilah-ilah itu, maka menjadikannya sebagai ilah (sembahan) merupakan
tindakan yang paling tolol dan paling batil.

الثاني: أن هؤلاء المشركين كانوا يقرون بأن الله تعالى وحده الرب الخالق الذي بيده ملكوت كل شيء، وهو يجير ولا يجار عليه، وهذا يستلزم أن يوحدوه بالألوهية كما وحده بالربوبية كما قال تعالى: { يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ } وقال : { وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ } وقال:
{ قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ }

Kedua:
Sebenarnya kaum musyrikin itu mengakui bahwa Alloh Ta’ala saja satu-satunya Robb pencipta (Khaliq) yang
memegang kekuasaan atas segala sesuatu, serta yang memberikan perlindungan; dan tidak ada yang dapat
dirindungi atau diselamatkan dari adzab-Nya. Hal ini sebenarnya mengandung konsekuensi bahwa mereka
harus mengesakan-Nya dalam hal uluhiyah. Sebagaimana mereka telah mengesakan-Nya dalam hal rububiyah.

Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar
kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan
sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], padahal kamu
mengetahui” (Al-Baqarah: 21-22)

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan mereka, tentu mereka akan menjawab,
‘Allah’. Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (Az-Zukhruf: 87)

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa
(menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati
dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup] dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka
akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” Maka (Zat yang
demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan
kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? “ (Yunus: 31-32)

الرابع: الإيمان بأسمائه وصفاته : أي ( إثبات ما أثبته الله لنفسه في كتابه، أو سنة رسوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من الأسماء والصفات على الوجه اللائق به من غير تحريف، ولا تعطيل، ولا تكييف، ولا تمثيل، قال الله تعالى: { وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } وقال: { وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } وقال: { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } .

?IV. IMAN KEPADA NAMA-NAMA DAN SIFATSIFAT-NYA

Artinya, menetapkan apa saja yang telah ditetapkan oleh Alloh T’ala bagi diri-Nya, yang tersebut dalam Kitab-Nya atau Sunnah Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam tentang nama-nama (asma) dan sifat-sifat yang sesuai
dengan kelayakan bagi-Nya, tanpa (melakukan) tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.

Alloh Ta’ala berfrman [artinya]:
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti
mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan ”(Al-A’raaf: 180)

Hanya milik-Nya sifat Yang Maha Tinggi di langit maupun di bumi. Firman Alloh Ta’ala [artinya]:
”Tiada sesuatu pun yng menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat” (Asy-Syu’ar:11)

الرابع: الإيمان بأسمائه وصفاته : أي ( إثبات ما أثبته الله لنفسه في كتابه، أو سنة رسوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من الأسماء والصفات على الوجه اللائق به من غير تحريف، ولا تعطيل، ولا تكييف، ولا تمثيل، قال الله تعالى: { وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } وقال: { وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } وقال: { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } .
وقد ضل في هذا الأمر طائفتان:
إحداهما: (المعطلة) الذين أنكروا الأسماء، والصفات، أو بعضها، زاعمين أن إثباتها لله يستلزم التشبيه، أي تشبيه الله تعالى بخلقه، وهذا الزعم باطل لوجوه منها:
الأول: أنه يستلزم لوازم باطلة كالتناقض في كلام الله سبحانه، وذلك أن الله تعالى أثبت لنفسه الأسماء والصفات، ونفى أن يكون كمثله شيء، ولو كان إثباتها يستلزم التشبيه لزم التناقض في كلام الله، وتكذيب بعضه بعضا.
الثاني: أنه لا يلزم من اتفاق الشيئين في اسم أو صفة أن يكونا متماثلين، فأنت ترى الشخصين يتفقان في أن كلا منهما إنسان سميع،
بصير، متكلم، ولا يلزم من ذلك أن يتماثلا في المعاني الإنسانية، والسمع والبصر، والكلام، وترى الحيوانات لها أيد وأرجل، وأعين ولا يلزم من اتفاقها هذا أن تكون أيديها وأرجلها، وأعينها متماثلة .
فإذا ظهر التباين بين المخلوقات فيما تتفق فيه من أسماء، أو صفات، فالتباين بين الخالق والمخلوق أبين وأعظم.
الطائفة الثانية: ( المشبهة) الذين أثبتوا الأسماء والصفات مع تشبيه الله تعالى بخلقه زاعمين أن هذا مقتضى دلالة النصوص، لأن الله تعالى يخاطب العباد بما يفهمون وهذا الزعم باطل لوجوه منها:
الأول: أن مشابهة الله تعالى لخلقه أمر باطل يبطله العقل، والشرع، ولا يمكن أن يكون مقتضى نصوص الكتاب والسنة أمرا باطلا.
الثاني: أن الله تعالى خاطب العباد بما يفهمون من حيث أصل المعنى، أما الحقيقة والكنه الذي عليه ذلك المعنى فهو مما استأثر الله تعالى بعلمه فيما يتعلق بذاته، وصفاته.
فإذا اثبت الله لنفسه أنه سميع، فإن السمع معلوم من حيث أصل المعنى ( وهو إدراك الأصوات) لكن حقيقة ذلك بالنسبة إلى سمع الله تعالى غير معلومة، لأن حقيقة السمع تتباين حتى في المخلوقات، فالتباين فيها بين الخالق والمخلوق، أبين وأعظم.
وإذا أخبر الله تعالى عن نفسه أنه استوى على عرشه فإن الاستواء من حيث أصل المعنى معلوم، لكن حقيقة الاستواء التي هو عليه غير معلومة
بالنسبة إلى استواء الله على عرشه لأن حقيقة الاستواء تتباين في حق المخلوق، فليس الاستواء على كرسي مستقر كالاستواء على رحل بعير صعب نفور، فإذا تباينت في حق المخلوق، فالتباين فيها بين الخالق والمخلوق أبين وأعظم.
والإيمان بالله تعالى على ما وصفْنا يثمر للمؤمنين ثمرات جليلة منها:
الأولى: تحقيق توحيد الله تعالى بحيث لا يتعلق بغيره رجاء، ولا خوف، ولا يعبد غيره.
الثانية: كمال محبة الله تعالى، وتعظيمه بمقتضى أسمائه الحسنى وصفاته العليا .
الثالثة: تحقيق عبادته بفعل ما أمر به، واجتناب ما نهى عنه.

Dalam masalah ini ada dua golongan yang tersesat:

Pertama : Golongan Mu’aththilah
Mereka adalah golongan yang mengingkari seluruh asma’ dan sifat Alloh, atau mengingkari sebagiannya, dengan anggapan (alasan) bahwa penetapan asma’ dan sifat-sifat itu berarti menuntut adanya penyerupaan (tasybih); yaitu penyerupaan Alloh Ta’ala dengan makhluk-Nya. Anggapan semacam ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; di antaranya: – Hal itu akan melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang batil, seperti kontradiksi mengenai firman-firman Alloh. Sebab, Alloh Ta’ala telah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi diri-Nya serta telah menyatakan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Jika penetapan asma’ dan sifat itu menuntut adanya penyerupaan (taybih), tentu hal ini menuntut adanya kontradiksi dalam firman Alloh
serta adanya satu frman yang mendustakan firman lainnya.
– Adanya kesesuaian (kesamaan) antara dua hal mengenai nama atau sifat, tidak mengharuskan keduanya sama.
Anda dapat melihat adanya dua orang yang sama-sama sebagai manusia yang mendengar, melihat dan dapat
berbicara. Namun kesamaan itu tidak mengharuskan adanya kesamaan di antara keduanya mengenai maknamakna kemanusiaan, pendengaran, penglihatan dan pembicaraan. Anda iuga mehhat berbagai binatang yang sama-sama mempunyai tangan, kaki dan mata. Namun kesamaan seperti itu tidak mengharuskan kesamaan (persis) mengenai tangat, kaki dan mata seluruh macam
binatang tersebut.
Jika telah jelas adanya perbedaan antara berbagai makhluk dalam hal yang terdapat kesamaannya mengenai
nama atau sifatnya, maka perbedaan antara Kholiq dengan makhluk tentunya jauh lebih jelas dan lebih
besar.

Kedua : Golongan Musyabbihah
]
Mereka adalah orang-orang yang menetapkan asma’ dan sifat, namun mereka menyerupakan Alloh Ta’ala, dengan makhluk-Nya. Mereka beranggapan bahwa ini merupakan konsekuensi dan petunjuk nash-nash yang
ada, karena Alloh Ta’ala menyatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami.
Anggapan ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; diantaranya:

# Keserupaan Alloh Ta’ala dengan makhluk-Nya merupakan perkara yang batil, yang dibatilkan oleh akal
maupun syara’. Dan tidak mungkin bila konsekuensi dari nash-nash Kitab dan Sunnah itu merupakan hal yang
batil.

# Alloh Ta’ala memang mengatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami dari
segi asal maknanya. Adapun hakikat yang dikandung oleh makna tersebut termasuk perkara yang hanya
diketahui oleh Alloh Ta’ala, termasuk mengenai sesuatu yang berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.
Jika Alloh Ta’ala, telah menetapkan bagi diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu dapat kita ketahui bersama dari segi asal maknanya, yaitu penangkapan terhadap suara. Akan tetapi hakikat dari hal
itu, jika dinisbatkan kepada pendengaran Alloh Ta’ala, maka hal itu tidak kita ketahui. Karena hakikat
pendengaran itu berbeda-beda, sekalipun antara sesama makhluk, apalagi antara Kholiq dengan makhluk;
tentunya perbedaannya lebih jelas dan lebih besar. Iman kepada Alloh Ta’a1a, sesuai dengan yang kita
kriteriakan di atas akan menghasilkan buah yang agung bagi orang-orang beriman, di antaranya :
1. Terwujudnya ketauhidan kepada Alloh Ta’ala, di mana selain Alloh tidak ada yang digantungi dalam rangka
mengharap atau cemas dan juga tidak ada yang diibadahi selain-Nya.
2. Sempurnanya kecintaan (mahabbah) kepada Alloh Ta’a1a dan pengagungan terhadap-Nya sesuai dengan
nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.
3 . Terwujudnya peribadahan kepada-Nya dengan
melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

(IN SYAA ALLAH BERSAMBUNG PEKAN BERIKUTNYA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.