Ushul Tsalatsah [Sesi ke-23]: Iman

? SESI 23

Alhamdulillah kita lanjutkan pembahasan kitab Ushulutstsalaatsah, sampai pada :

المرتبة الثانية(1):الإيمان (2) وهو بضع (3) وسبعون شعبة (4)، فأعلاها قول : لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى (5) عن الطريق، والحياء (6) شعبة من الإيمان

? Tingkatan 2 : Iman

Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi ialah syahadat. “La Ilaha Illallah”, sedang
cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu
cabangnya iman.

? Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
الإيمان في اللغة التصديق.
وفي الشرع “اعتقاد بالقلب وقول باللسان وعمل بالجوارح وهو بضع وسبعون شبعة”.
البضع: بكسر الباء من الثلاثة إلى التسعة.
الشبعة: الجزء من الشيء.
أي إزالة الأذى وهو ما يؤذي المارة من أحجار وأشواك، ونفايات وقمامة وما له رائحة كريهة ونحو ذلك.

[Definisi Iman]

Menurut bahasa kata “iman” mempunyai arti pembenaran (at-tashdiq). Sedangkan dalam pengertian syar’i, iman
adalah keyakinan (i’tiqad dengan hati, pengucapan dengan lisan serta mengamalkannya dengan anggota
badan. Sedangkan cabangnya berjumlah antara 73 hingga 79 cabang.

[Menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk iman]

Yakni melenyapkan “gangguan”, yaitut segala sesuatu yang dapat mengganggu orang lewat, apakah berupa
bebatuan, duri-durian, sampah, kotoran, sesuatu yang berbau tak enak, dan semisalnya.

[Malu juga termasuk iman]
الحياء صفة انفعالية تحدث عند الخجل وتحجز المرء عن فعل ما يخالف المروءة.
والجمع بين ما تضمنه كلام المؤلف رحمه الله تعالى من أن الإيمان بضع وسبعون شعبة وأن الإيمان أركانه ستة أن نقول: الإيمان الذي هو العقيدة أصوله ستة وهي المذكورة في حديث جبريل عليه الصلاة والسلام حينما سأل النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عن الإيمان فقال: « الإيمان أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه ورسله، واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره » متفق عليه.
وأما الإيمان الذي يشمل الأعمال وأنواعها وأجناسها فهو بضع وسبعون شعبة، ولهذا سمى الله تعالى الصلاة إيمانا في قوله: { وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ } قال المفسرون : يعني صلاتكم إلى بيت المقدس؛ لأن الصحابة كانوا قبل أن يؤمروا بالتوجه إلى الكعبة يصلون إلى بيت المقدس.

Malu adalah suatu sifat atau petasaan spontanitas yang akan muncul pada diri orang yang mempunyai sifat malu itu, dan ia akan menghalangi seseorang dari melakukan perbuatan yang bertentangan dengan muru’ah
(kesopanan, kehormatan).
Untuk menyatukan antara pernyataan Penulis rahimahullah bahwa iman itu berjumlah antara 73 hingga
79 cabang dengan pernyataan beliau bahwa iman itu memiliki enam rukun, maka dapat kami jelaskan sebagai
berikut. Iman yang merupakan akidah memiliki enam asas, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist Jibril
‘alahissalam tatkala menanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam tentang iman, dan Nabi pun menjawab, “Iman yaitu kamu beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rosul-Nya, Hari Akhir serta beriman kepada takdir baik dan buruk.” Sedangkan iman yang meliputi amal perbuatan dengan
segala macam jenisnya itu mempunyai cabang antara 73 hingga 79 cabang.
Oleh karena itu, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menamakan sholat sebagai (bagian dari) iman. Yaitu dalam firman-Nya : “… Alloh tidak akan menyia-nyiakan begitu saja akan ‘iman’ kalian…”
(Al-Baqoroh: 143)

Para mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan iman di sini adalah sholat menghadap ke Baitul Maqdis sebab para sahabat sebelum mendapat perintah untuk menghadap ke Ka’bah, mereka melaksanakan sholat dengan menghadap ke Baitul Maqdis.
Rukun Iman: 1. Iman kepada Allah

وأركانه ستة:
أن تؤمن بالله

Rukun Iman ada 6:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada para malaikat-Nya
3. Iman kepada kitab-kitab-Nya
4. Iman kepada para rasul-Nya
5. Iman kepada Hari Akhir
6. Iman kepada takdir yang baik dan yang buruk
Dalil keenam rukun iman ini adalah firman Allah ta’ala

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya
kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi …
[Al-Baqarah: 177]
Sedangkan dalil takdir adalah firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya segala sesuatu telah kami ciptakan sesuai dengan takdir” (Al-Qomar: 49)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
الإيمان بالله يتضمن أربعة أمور:
الأول: الإيمان بوجود الله تعالى :
وقد دل على وجوده تعالى: الفطرة، والعقل، والشرع ، والحس.

Iman kepada Alloh itu mencakup empat hal:

I. IMAN KEPADA KEWUJUDAN (ADANYA) ALLAH TA’ALA

Kewujudan Alloh ta’ala ini telah dibuktikan oleh fithroh, akal, syara’ dan indera.

أما دلالة الفطرة على وجوده: فإن كل مخلوق قد فطر على الإيمان بخالقه من غير سبق تفكير أو تعليم، ولا ينصرف عن مقتضى هذه الفطرة إلا من طرأ على قلبه ما يصرفه عنها؛ لقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « ما من مولود إلا يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه، أو ينصرانه، أو يمجسانه » . رواه البخاري .

Petunjuk fithroh menyatakan kewujudan Allah. Karena segala makhluk telah diciptakan untuk beriman kepada
penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada makhluk yang berpaling dari fithroh ini, kecuali hatinya
termasuki oleh sesuatu yang dapat memalingkannya dari firhroh itu. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwassalam:
“Tiada yang terlahir melainkan ia dilahirkan di atas (dalam keadaan) fithroh. Maka kedua orang tuanya yang
akan menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani atau Majusi”
(HR. Bukhari dalam Kitabul Janaiz, HR.Muslim dalam Kitabul Qadr)

وأما دلالة العقل على وجود الله تعالى : فلأن هذه المخلوقات سابقها ولاحقها لا بد لها من خالق أوجدها إذ لا يمكن أن توجد نفسها بنفسها، ولا يمكن أن توجد صدفة.
لا يمكن أن توجد نفسها بنفسها لأن الشيء لا يخلق نفسه، لأنه قبل وجوده معدوم فكيف يكون خالقا؟
ولا يمكن أن توجد صدفة، لأن كل حادث لا بد له من محدث، ولأن وجودها على هذا النظام البديع، والتناسق المتآلف، والارتباط الملتحم بين
الأسباب ومسبباتها، وبين الكائنات بعضها مع بعض يمنع منعا باتا أن يكون وجودها صدفة، إذ الموجود صدفة ليس على نظام في أصل وجوده فكيف يكون منتظما حال بقائه وتطوره؟!
وإذا لم يمكن أن توجد هذه المخلوقات نفسها بنفسها، ولا أن توجد صدفة تعين أن يكون لها موجد وهو الله رب العالمين.
وقد ذكر الله تعالى هذا الدليل العقلي والبرهان القطعي في سورة الطور، حيث قال: { أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ } يعني أنهم لم يخلقوا من غير خالق، ولا هم الذين خلقوا أنفسهم، فتعين أن يكون خالقهم هو الله تبارك وتعالى، ولهذا « لما سمع – جبير بن مطعم – رضي الله عنه رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقرأ سورة الطور فبلغ هذه الآيات: { أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَل لَا يُوقِنُونَ أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ } وكان – جبير يومئذ مشركا قال: “كاد قلبي أن يطير، وذلك أول ما وقر الإيمان في قلبي » رواه – البخاري – مفرقا

Petunjuk akal menyatakan kewujudan Alloh, karena seluruh makhluk yang ada ini, termasuk yang sudah
berlalu maupun yang akan datang kemudian, sudah tentu ada pencipta yang menciptakannya. Tidak mungkin
makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya (tanpa ada yang menciptakannya).
Tidak mungkin makhluk itu tercipta oreh dirinya sendiri, karena sesuatu itu tidak dapat menciptakan dirinya
sendiri. Sebab, sebelum ia ada, ia tiada. Maka bagaimana mungkin ia bisa menjadi pencipta?
Ia juga tidak mungkin ada secara kebetulan, karena segala sesuatu yang terjadi itu sudah pasti ada yang
menjadikannya. Dan lagi, wujudnya yang mengikuti keteraturan yang indah ini, mengikuti keserasian yang
padu serta adanya hubungan erat yang tak bisa dipisahkan antara sebab dan musababnya, dan juga antara
makhluk satu dengan lainnya; semuanya menolak penuh jika kewujudan sesuatu itu secara kebetulan. Sebab,
sesuatu yang ada secara kebetulan berarti tidak mengikuti keteraturan pada asal kewujudannya; lalu bagaimana
mungkin ia kemudian bisa menjadi teratur dalam perkembangan berikutnya?
Jika seluruh makhluk yang ada ini tidak mungkin ada dengan sendirinya (menciptakan dirinya sendiri) dan juga
tidak mungkin ada secara kebetulan begitu saja, maka dapatlah dipastikan bahwa ada yang menciptakannya
atau mengadakannya; yaitu Alloh Robb semesta alam! Allah ta’ala sendiri telah menyebutkan dalil ‘aqli dan
alasan yang qath’i ini dalam surat Ath-Thuur. Disitu Allah berfirman [artinya]
“Apakah mereka menicpta tanpa sesuatupun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)”
(Ath-Thuur:35)

Maksudnya, mereka itu tidaklah tercipta tanpa pencipta, dan merekapun tidak pula mencipta diri sendiri. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pencipta mereka adalah Alloh tabaraka wa ta’ala. Lantaran itu, tatkala Jubair bin Muth’im radhiallahu’anhu mendengar Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam sedang membaca surat Ath-Thuur hingga sampai pada ayat (yang artinya):
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?
Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka
katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?”
(Ath-Thuur:35-37)
(Dimana ketika itu Jubair masih musyrik), maka ia berkata, “Hampir-hampir saja hatiku hendak terbang.
Ketika itulah mula pertama keimanan bersemayam di dalam hatiku.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara
terpisah-pisah. (HR.Bukhari dalam Kitabu Al-Tafsir)

ولنضرب مثلا يوضح ذلك، فإنه لو حدثك شخص عن قصر مُشيد، أحاطت به الحدائق، وجرت بينها الأنهار، وملئ بالفرش والأسرة، وزين بأنواع الزينة من مقوماته ومكملاته، وقال لك: إن هذا القصر وما فيه من كمال قد أوجد نفسه، أو وجد هكذا صدفة بدون موجد، لبادرت إلى إنكار ذلك وتكذيبه، وعددت حديثه سفها من القول، أفيجوز بعد ذلك أن يكون هذا الكون الواسع بأرضه وسمائه، وأفلاكه وأحواله، ونظامه البديع الباهر، قد أوجد نفسه، أو وجد صدفة بدون موجد ؟ !

Ada baiknya jika kita mengambil satu contoh untuk lebih memperjelas hal itu. Jika seseorang menceritakan
kepadamu tentang sebuah istana yang megah, dikelilingi oleh berbagai taman, ada sungai-sungai yang mengalir
diantara bangunan-bangunan istana itu, dipenuhi berbagai permadani, dipercantik dengan berbagai jenis
perhiasan pada bangunan-bangunan inti maupun penyempurnaanya, lalu ia berkata kepada Anda,
“Sesungguhnya istana ini dengan berbagai kesempurnaanya yang ada tercipta oleh dirinya sendiri,
atau tercipta seperti ini secara kebetulan tanpa ada yang mencipta”; maka Anda tentu langsung membantah hal itu serta mendustakan-Nya, dan Anda pasti akan mengkategorikan perkataannya itu sebagai perkataan
tolol. Dengan demikian, apa mungkin jika alam yang luas dengan bumi dan langitnya, dengan orbitnya, dan dengan tatanannya yang indah dan luar biasa ini, semua mencipta dirinya sendiri, atau tercipta secara kebetulan tanpa ada yang mencipta?!

وأما دلالة الشرع على وجود الله تعالى : فلأن الكتب السماوية كلها تنطق بذلك، وما جاءت به من الأحكام المتضمنة لمصالح الخلق دليل على أنها من رب حكيم عليم بمصالح خلقه، وما جاءت به من الأخبار الكونية التي شهد الواقع بصدقها دليل على أنها من رب قادر على إيجاد ما أخبر به.

Petunjuk syar’i juga menyatakan kewujudan Alloh, sebab kitab-kitab samawi seluruhnya menyatakan demikian.
Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab samawi itu, berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan
makhluk merupakan bukti bahwa hal itu datang dari Robb yang Bijaksana dan Maha Tahu akan kemaslahatan
makhluk-Nya. Berita-berita yang berkenaan dengan alam yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut, serta telah
disaksikan oleh kenyataan tentang kebenarannya, merupakan bukti bahwa kitab-kitab itu berasal dari Robb
yang Maha Kuasa untuk mewujudkan (mencipta) apa yang diberitakan itu.

وأما أدلة الحس على وجود الله فمن وجهين:
أحدهما: أننا نسمع ونشاهد من إجابة الداعين، وغوث المكروبين، ما يدل دلالة قاطعة على وجوده تعالى، قال الله تعالى: { وَنُوحًا إِذْ نَادَى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ } وقال تعالى: { إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ } وفي صحيح البخاري عن – أنس بن مالك – رضي الله عنه: « “أن أعرابيا دخل يوم الجمعة والنبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يخطب، فقال: ( يا رسول الله)، هلك المال، وجاع العيال، فادع الله لنا، فرفع يديه ودعا فثار السحاب أمثال الجبال فلم ينزل عن منبره حتى رأيت المطر يتحادر على لحيته. وفي الجمعة الثانية قام ذلك الأعرابي أو غيره فقال: ( يا رسول الله) تهدم البناء وغرق المال، فادع الله لنا، فرفع يديه وقال: “اللهم حوالينا ولا علينا”، فما يشير إلى ناحية إلا انفرجت

Dan petunjuk indera mengenai kewujudan Alloh dapat dilihat dari dua hal :

Pertama:
Kita semua mendengar dan menyaksikan dikabulkannya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongnya
orang-orang yang kesusahan, yang semuanya ini menunjukkan secara qoth’i akan adanya Allah Ta’ala.
Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“Ingatlah akan kisah Nuuh sebelum itu ketika ia berdoa, lalu Kami kabulkan doanya” (Al-Anbiyaa’: 76)
“Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Robbmu, lalu Diapun mengabulkan permohonanmu”
(Al-Anfaal: 9)
Dalam Shohih Al-Bukhari disebutkan hadits dari Anas bin Malik:
Bahwa seorang Arab pedalaman masuk (ke dalam masjid) pada hari Jumat, sementara Nabi sedang
berkhutbah. Orang itu lantas berkata, “Ya Rosululloh, harta kami musnah dan keluarga kami kelaparan. Maka
berdoalah kepada Alloh buat kami!” Akhirnya beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa . Tak lama
kemudian, awan sebesar gunungpun tiba; sementara beliau masih berada di atas mimbar, sehingga aku lihat
air hujan bercucuran pada jenggot beliau. Pada Jumat kedua (berikutnya), si Arab pedalaman itu, atau lainnya,
berdiri lantas berkata, “Ya Rosululloh, bangunan rumah kami roboh dan harta kami tenggelam. Maka berdoalah
kepada Alloh untuk kami!” Akhirnya beliau pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: “Ya Alloh,
turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami”(HR. Bukhari dalam Kitabul Jum’ah, HR. Muslim dalam Kitabul Istisqa)
وما زالت إجابة الداعين أمرا مشهودا إلى يومنا هذا لمن صدق اللجوء
إلى الله تعالى وأتى بشرائط الإجابة.
Akhimya, tidaklah beliau menunjuk pada suatu arah (tempat) melainkan menjadi terang (tanpa hujan).
Terkabulnya permohonan orang-orang yang berdoa hingga hari ini masih dapat disaksikan dengan nyata,
tentunya bagi orang yang benar-benar bersandar kepada Alloh Ta’ala serta memenuhi syarat-syarat dikabulkannya sebuah doa’.

الوجه الثاني: أن آيات الأنبياء التي تسمى (المعجزات) ويشاهدها الناس، أو يسمعون بها، برهان قاطع على وجود مرسلهم، وهو الله تعالى، لأنها أمور خارجة عن نطاق البشر، يجريها الله تعالى تأييدا لرسله ونصرا لهم.
مثال ذلك: آية موسى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حين أمره الله تعالى أن يضرب بعصاه البحر، فضربه فانفلق اثني عشر طريقا يابسا، والماء بينها كالجبال، قال الله تعالى: { فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ } .
ومثال ثان: آية عيسى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حيث كان يحيي الموتى، ويخرجهم من قبورهم بإذن الله، قال الله تعالى: { وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ } وقال: { وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي } .
ومثال ثالث: لمحمد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حين طلبت منه قريش آية، فأشار إلى القمر فانفلق فرقتين فرآه الناس، وفي ذلك قوله تعالى : { اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ } . فهذه الآيات المحسوسة التي يجريها الله تعالى تأييدا لرسله، ونصرا لهم، تدل دلالة قطعية على وجوده تعالى.

Kedua:
Ayat-ayat (tanda-tanda) para nabi yang dinamakan mukjizat yang disaksikan oleh manusia lain, atau yang
mereka dengar merupakan bukti yang qoth’i akan adanya Dzat yang mengutus mereka, yaitu Alloh Ta’ala. Sebab, kemukjizatan-kemukjizatan itu di luar jangkauan manusia pada umumnya, yang memang sengaja
diberlakukan oleh Alloh Ta’ala untuk mengokohkan dan memenangkan para rosul-Nya.
Contoh pertama, mukjizat Musa ketika Alloh memerintahkannya untuk memukul laut dengan
tongkatnya. Musa pun memukulnya dan akhirnya laut itu terbelah menjadi dua belas jalan yang kering, sementara air laut berada di antara jalan-jalan itu laksana gunung.

Alloh Ta’ala berfirman:
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiaptiap belahan adalah seperti gunung yang besar ” (Asy-Syu’ara: 63)

Contoh kedua, mukiizat ‘Isa berupa dapat menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dan mengeluarkan mereka dari kubur dengan izin Alloh. Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“ ..dan aku (‘Isa) dapat menghidupkan orang mati dengan izin Allah…” (Ali ‘Imraan: 49)
“…dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku..”
(Al-Maidah: 110)

Contoh ketiga, ketika kaum Quroisy meminta mukjizat dari Nabi Muhammad, maka beliau menunjuk bulan, lalu bulan itu terbelah menjadi dua, dan orang-orang pun menyaksikannya. Mengenai hal ini, Alloh Ta’ala
berfirman : “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”
(Al-Qomar: 1-2)
Berbagai mukjizat yang dapat diindera yang sengaja dibuat oleh Alloh Ta’ala untuk mengokohkan dan
menolong para rosul-Nya ini menunjukkan secara qoth’I akan adanya Alloh Ta’ala”.

(IN SYAA ALLAH BERSAMBUNG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.