Ushul Tsalatsah [Sesi ke-22]: Puasa Ramadhan

?SESI 22

Alhamdulillah kita lanjutkan pembahasan kitab Ushulutstsalaatsah, sampai pada :

☄PUASA RAMADHAN

ودليل الصيام (1) قوله تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ } (2)

Dalil puasa adalah firman Allah ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:183)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Dalilnya kewajiban puasa]

أي دليل وجوبه قوله تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ }
وفي قوله: { كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ } فوائد:
أولا : أهمية الصيام حيث فرضه الله عز وجل على الأمم من قبلنا وهذا يدل على محبة الله عز وجل له وأنه لازم لكل أمة.
ثانيا : التخفيف على هذه الأمة حيث إنها لم تكلف وحدها بالصيام الذي قد يكون فيه مشقة على النفوس والأبدان.
ثالثا : الإشارة إلى أن الله تعالى أكمل لهذه الأمة دينها حيث أكمل لها الفضائل التي سبقت لغيرها
Maksudnya, dalil mengenai kewajiban berpuasa adalah firman Alloh di atas.

Ada beberapa faedah dari firman Alloh yang menyebutkan, “sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian”, yaitu:

Pertama:
Puasa merupakan ibadah yang penting, di mana Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mewajibkannya kepada umat umat sebelum kita. Ini menunjukkan kecintaan Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada ibadah puasa tersebut dan
bahwa ia merupakat lbadah yang harus dilaksanakan oleh setiap umat.

Kedua:
Keringanan yang diberikan bagi umat ini, di mana ia bukan merupakan satu-satunya umat yang mendapatkan
kewajiban puasa, yang barangkali memberatkan jiwa maupun badan.

Ketiga:
Isyarat bahwa Alloh Ta’ala” telah menyempurnakan agama umat ini, di mana Dia telah menyempurnakannya
dengan amalan-amalan utama yang terdapat pada umat umat sebelumnya.

[Agar kalian bertakwa]

بين الله عز وجل في هذه الآية حكمة الصيام بقوله : { لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ } أي تتقون الله بصيامكم وما يترتب عليه من خصال التقوى وقد أشار النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلى هذه الفائدة بقوله: « من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Dalam ayat ini Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan hikmah puasa, yaitu dengan firman-Nya, “agar kalian
bertakwa..”.Artinya agar kalian bertakwa kepada Allah berkat puasa dan berbagai amalan yang terkandung di
dalamnya yang merupakan sifat-sifat ketakwaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam telah mengisyaratkan faedah
ini dalam sabdanya :
“Barangsiapa tidak neningalkan perkataan dusta dan perilaku jahat, makaAlloh tidak membutuhkan dia dalam
meningalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari)

☄HAJI

ودليل الحج قوله تعالى: وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Dalil haji adalah firman Allah ta’ala:
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Kewajiban haji]

وهذه الآية نزلت في السنة التاسعة من الهجرة وبها كانت فريضة الحج ولكن الله عز وجل قال: { مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا } ففيه دليل على أن من لم يستطع فلا حج عليه.

Ayat ini turun pada tahun kesembilan setelah hijrah. Pada tahun itulah haji diwajibkan. Tetapi Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitulla”. Maka barangsiapa yang tidak
mampu, ia tidak wajib berhaji.
) في قوله تعالى { وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ } دليل على أن ترك الحج ممن استطاع إليه سبيلا يكون كفرا ولكنه كفر لا يخرج من الملة على قول جمهور العلماء لقول عبد الله بن شقيق : “كان أصحاب رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة”.
Firman Alloh “Dan barangsiapa kafir, maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya (tidak membutuhkan) semesta alam”, merupakan dalil bahwa meninggalkan haji bagi orang yang mampu mengadakan perlalanan ke Baitulloh merupakan kekafiran, tetapi kekafiran ini tidak mengeluarkan seseorang dari millah, menurut jumhur ulama. Pendapat ini berdasarkan perkataan ‘Abdullah bin Syaqiiq,
“Para sahabat Rosululloh tidak memandang ada suatu amalan yang jika ditingalkan merupakan kekafiran,
kecuali shalat” (HR. Tirmidzi dalam Kitabul Imaan)

(IN SYAA ALLAH BERSAMBUNG PEKAN BERIKUTNYA)


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.