Ushul Tsalatsah [Sesi ke-17]: Jenis-jenis Ibadah

? SESI 17

Alhamdulillah kita lanjutkan pembahasan kitab Ushulutstsalaatsah, sampai pada :

JENIS-JENIS IBADAH

‘DABH’

Dalil dzabh (menyembelih) adalah firman Allah ta’ala:
{ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ } الآية
ومن السنة: « لعن الله من ذبح لغير الله »
“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. ” (QS.Al-An’am:162-163).

Dan dalil dari sunnah:
“Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah” (HR. Muslim)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullahuta’aala
الذبح إزهاق الروح بإراقة الدم على وجه مخصوص ويقع على وجوه :
الأول: أن يقع عبادة بأن يقصد به تعظيم المذبوح له والتذلل له والتقرب إليه، فهذا لا يكون إلا لله تعالى على الوجه الذي شرعه الله تعالى، وصرفه لغير الله شرك أكبر، ودليله ما ذكره الشيخ رحمه الله وهو قوله تعالى: { قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ } .
الثاني: أن يقع إكراما لضيف أو وليمة لعرس أو نحو ذلك فهذا مأمور به إما وجوبا أو استحبابا؛ لقوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه » وقوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لعبد الرحمن بن عوف : « أولم ولو بشاة » .
الثالث: أن يقع على وجه التمتع بالأكل أو الاتجار به ونحو ذلك، فهذا من قسم المباح فالأصل فيه الإباحة لقوله تعالى: { أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ } وقد يكون مطلوبا أو منهيا عنه حسب ما يكون وسيلة له

Menyembelih artinya menghilangkan nyawa (hewan ternak) dengan cara mengalirkan darah dengan tujuan tertentu .

Penyembelihan ada beberapa macam:

Pertama: Penyembelihan yang dilakukan sebagai ibadah yang ditujukan untuk mengagungkan sesuatu atau merendahkan diri dan mendekatkan diri kepada sesuatu. Penyembelihan semacam ini tidak boleh diperuntukkan kepada selain Alloh dan dengan cara selain yang disyariatkan oleh Alloh Ta’ala’. Melaksanakanpenyembelihan semacam ini untuk sesuatu selain Alloh merupakan syirik akbar. Dalilnya adalah ayat-yang telah disebutkan oleh Syaikh rahimahullah, yaitu firman Alloh [artinya]:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sholatku, peryembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya'” (Al-An’aam: 162-163)

Kedua: penyembelihan yang dilaksanakan sebagai penghormatan kepada tamu, untuk pesta perkawinan, dan sebagainya. Ini diperintahkan, hukumnya bisa wajib atau sunnah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hai akhir, hendaklah menghormati tamunya” (HR.Bukhari dalam Kitabul Adaab, HR. Muslim dalam Kitabul Luqothoh)

Juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wassalam kepada ‘Abdurrohman bin ‘Auf :
“Adakanlah walimah, walaupun dengan seekor kambing”
(HR. Bukhari dalam Kitabul Buyu’, HR. Muslim dalamKitabun Nikah)

Ketiga: Penyembelihan yang dilaksanakan untuk bersenang-senang dengan memakannya, memperdagangkannya, dan sebagainya. Ini merupakan perbuatan mubah. Pada dasarnya perbuatan ini mubah, karena Allah ‘azza wa jalla berfrman:

{ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ }
Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan” (Yaasiin: 71-72)

Bisa jadi, penyembelihan semacam ini menjadi diperintahkan atau dilarang, tergantung kepada sarana
apakah yang digunakan untuknya.
JENIS-JENIS IBADAH

? ”NADZAR”

ودليل النذر (1) قوله تعالى: { يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا }

(1) أي دليل كون النذر من العبادة قوله تعالى: { يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا } .
وجه الدلالة من الآية أن الله أثنى عليهم لإيفائهم بالنذر وهذا يدل على أن الله يحب ذلك، وكل محبوب لله من الأعمال فهو عبادة.
ويؤيد ذلك قوله: { وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا } .
واعلم أن النذر الذي امتدح الله تعالى هؤلاء القائمين به هو جميع العبادات التي فرضها الله عز وجل فإن العبادات الواجبة إذا شرع فيها الإنسان فقد التزم بها، ودليل ذلك قوله تعالى: { ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ } .
والنذر الذي هو إلزام الإنسان نفسه بشيء ما، أو طاعة لله غير واجبة مكروه، وقال بعض العلماء : إنه محرم لأن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نهى عن النذر وقال: « إنه لا يأتي بخير وإنما يستخرج به من البخيل » ومع ذلك فإذا نذر الإنسان طاعة لله وجب عليه فعلها؛ لقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « من نذر أن يطيع الله فليطعه » (2) .
والخلاصة أن النذر يطلق على العبادات المفروضة عموما، ويطلق على النذر الخاص وهو إلزام الإنسان نفسه بشيء لله عز وجل وقد قسم العلماء النذر الخاص إلى أقسام ومحل بسطها كتب الفقه

Dalil nadzar adalah firman Allah ta’ala:
“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan: 7)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullahuta’aala

Dalil yang menunjukkan bahwa nadzar merupakan ibadah adalah firman Alloh Ta’ala,
“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu har yang siksanya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan: 7)
Indikasi yang menunjukkan bahwa ayat tersebut merupakan dalil bahwa nadzar itu termasuk ibadah
adalah bahwa Alloh memuji mereka disebabkan mereka menunaikan nadzar.
Ini menunjukkan bahwa Alloh mencintai tindakan mereka itu, sedangkan setiap amal yang dicintai oleh
Alloh adalah ibadah. Hal itu dikuatkan oleh frman Alloh, “Dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana” Ketahuilah bahwa nadzar yang para pelakunya dipuji oleh Alloh Ta’ala adalah seluruh macam ibadah yang telah diwajibkan oleh Alloh ‘azza wa jalla. Sebab jika seseorang mulai melaksanakan ibadah-ibadah wajib, berarti ia telah mewajibkan dirinya untuk melaksanakannya. Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala :
“Kemudian hendaklah mereka rnenghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thowaf di sekeliling rumah tua itu (Baitullah)” (Al-Hajj: 29)

Adapun nadzar dalam artian seseorang mewajibkan diri untuk melakukan sesuatu atau hal-hal yang tidak wajib, maka hukumnya makruh. Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa nadzar tersebut haram, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melarang nadzar dan bersabda :

“Sesungguhnya nadzar itu tidak mendatangkan kebaikan, yang mengeluarkannya hanyalah orang yang bakhil” (HR. Bukhari dalam Kitabul Qodar)

Meskipun demikian, jika seseorang bernadzar untuk melaksanakan suatu amal ketaatan kepada Alloh, ia berkewajiban untuk melaksanakannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Barangsiapa bernadzar untak menaati Alloh, hendaklah ia menaati-Nya” (HR. Bukhari dalam Kitabul Aiman) Ringkasnya, nadzar adalah istilah yang kadang-kadang digunakan untuk menyebut ibadah-ibadah wajib secara umum dan kadang- kadang digunakan untuk menyebut nadzar khusus, yaitu tindakan seseorang mewajibkan dirinya untuk melaksanakan sesuatu sebagai ketaatan kepada Alloh shallallahu ‘alaihi wassalam. Para ulama membagi nadzar khusus ini menjadi beberapa bagian, penjelasannya secara panjang lebar terdapat dalam kitab-kitab fikih.

(IN SYAA ALLAH BERSAMBUNG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.