Ushul Tsalatsah [Sesi ke-14]: Jenis-jenis Ibadah: Inabah

kolom-doa-tulang-sumsumnya-ibadah-1373_l

Alhamdulillah kita lanjutkan pembahasan kitab Ushulutstsalaatsah, sampai pada :

?JENIS-JENIS IBADAH

?’INABAH’

ودليل الإنابة قوله تعالى: وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ

Dalil inabah (kembali kepada Allah) adalah firman Allah ta’ala:
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya)
sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat di tolong lagi.” (QS. Az-Zumar: 54)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

الإنابة الرجوع إلى الله تعالى بالقيام بطاعته، واجتناب معصيته، وهي قريبة من معنى التوبة إلا أنها أرق منها لما تشعر به من الاعتماد على الله واللجوء إليه، ولا تكون إلا لله تعالى، ودليلها قوله تعالى: { وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ } .
والمراد بقوله تعالى: { وَأَسْلِمُوا لَهُ } الإسلام الشرعي وهو الاستسلام لأحكام الله الشرعية وذلك أن الإسلام لله تعالى نوعان:
الأول: إسلام كوني وهو الاستسلام لحكمه الكوني وهذا عام لكل من في السماوات والأرض من مؤمن وكافر، وبر وفاجر لا يمكن لأحد أن يستكبر عنه ودليله قوله تعالى: { وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ } .
الثاني: إسلام شرعي وهو الاستسلام لحكمه الشرعي وهذا خاص بمن قام بطاعته من الرسل وأتباعهم بإحسان، ودليله في القرآن كثير ومنه هذه الآية التي ذكرها المؤلف رحمه الله.

Inabah artinya kembali kepada Alloh dengan menaati-Nya dan menghindari kemaksiatan. Makna inabah mirip dengan taubat, tetapi lebih mendalam, karena ia juga mengandung makna penyandaran diri kepada Allah.

Inabah hanya boleh dilakukan untuk Allah. Dalilnya firman Allah [artinya] :
“Dan kembalilah dan berserah dirilah kamu semua kepada Rabb kalian” (Az-Zumar: 54)
Yang dimaksudkan dengan firman Allah Ta’ala, “Dan berserah dirilah kepada-Nya” adalah penyerahan diri
secara syar’i, yaitu penyerahan diri kepada ketentuan syariat Alloh.

Penyerahan diri kepada Alloh ada dua macam :

Pertama: Penyerahan diri secara alami (Islam kauni), yaitu penyerahan diri kepada hukum Alloh yang alami.
Ini berlaku untuk siapa saja yang ada di langit dan di bumi, mukmin maupun kafir, orang yang berbakti
maupun durhaka. Tidak ada seorangpun yang mampu menolak penyerahan diri semacam ini.

Dalilnya adalah firman Alloh Ta’ala [artinya]:
“… padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (Ali ‘Imraan: 83)

Kedua: Penyerahan diri secara syar’i (Islam syar’i) yaitu penyerahan diri kepada hukum syariat Alloh. Ini hanya dilakukan oleh orang- orang yang menaati-Nya, yaitu para rosul dan pengikut-pengikut mereka. Dalam Al-Quran terdapat banyak dalil mengenai hal ini, diantaranya adalah ayat yang telah disebutkan oleh Penulis rahimahullah.

? ‘ISTI’ANAH’ (MEMINTA TOLONG)

ودليل الاستعانة قوله تعالى: { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } وفي الحديث « إذا استعنت فاستعن بالله

Dalil isti’anah adalah firman Allah ta’ala:
“Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 4)

Dan diriwayatkan dalam hadits:
“Apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah”

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

الاستعانة طلب العون وهي أنواع:
الأول: الاستعانة بالله وهي: الاستعانة المتضمنة لكمال الذل من العبد لربه، وتفويض الأمر إليه، واعتقاد كفايته وهذه لا تكون إلا لله تعالى ودليلها قوله تعالى: { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } ووجه الاختصاص أن الله تعالى قدم المعمول { إِيَّاكَ } وقاعدة اللغة العربية التي نزل بها القرآن أن تقديم ما حقه التأخير يفيد الحصر والاختصاص وعلى هذا يكون صرف هذا النوع لغير الله تعالى شركا مخرجا عن الملة.
الثاني: الاستعانة بالمخلوق على أمر قادر عليه فهذه على حسب المستعان عليه فإن كانت على بر فهي جائزة للمستعين مشروعة للمعين لقوله تعالى: { وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى } . وإن كانت على إثم فهي حرام على المستعين والمعين لقوله تعالى: { وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ } .
وإن كانت على مباح فهي جائزة للمستعين والمعين لكن المعين قد يثاب على ذلك ثواب الإحسان إلى الغير ومن ثم تكون في حقه مشروعة لقوله تعالى: { وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ } .
الثالث: الاستعانة بمخلوق حي حاضر غير قادر فهذه لغو لا طائل تحتها مثل أن يستعين بشخص ضعيف على حمل شيء ثقيل.
الرابع: الاستعانة بالأموات مطلقا أو بالأحياء على أمر غائب لا يقدرون على مباشرته فهذا شرك لأنه لا يقع إلا من شخص يعتقد أن لهؤلاء تصرفا خفيا في الكون.
الخامس: الاستعانة بالأعمال والأحوال المحبوبة إلى الله تعالى وهذه مشروعة بأمر الله تعالى في قوله: { اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ } .
وقد استدل المؤلف رحمه الله تعالى للنوع الأول بقوله تعالى: { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } وقوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « إذا استعنت فاستعن بالله »

Isti’ianah adalah permintaan tolong kepada Alloh, dan ia terdiri dari beberapa macam, yakni :

Pertama:
Permintaan tolong kepada Alloh. Ini merupakan isti’anah yang mengandung puncak ketundukan hamba kepada
Robbnya, penyerahan urusan kepada-Nya, dan keyakinan bahwa Dia memberikan kecukupan. Isti’anah yang semacam ini tidak boleh dituiukan kecuali kepada A1loh Ta’ala. Dalilnya adalah firman Alloh Ta’ala,
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
(Al-Fatihah: 4)

Di sini Alloh Ta’ala, mendahulukan ma’mul Iyyaka, sedangkan kaidah bahasa Arab menyebutkan bahwa
didahulukannya sesuatu yang seharusnya diakhirkan memberikan arti pembatasan dan pengkhususan.
Berdasarkan alasan ini, maka menunjukkan isti’anah yang semacam ini kepada selain Alloh merupakan kesyirikan yang mengeluarkan seseorang dari millah.

Kedua:
Permintaan tolong kepada makhluk dalam perkara yang mampu dilaksanakannya. Hukum mengenai isti’anah semacam ini tergantung kepada apa yang dimintakan pertolongan itu. Jika permintaan tolong tersebur dalam
rangka pelaksanaan kebajikan, maka hukumnya boleh bagi yang meminta tolong, diperintahkan bagi yang dimintai pertolongan.

Firman Alloh Ta’ala,
“Dan tolong- menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (Al-Maa’idah: 2)
Jika permintaan tolong tersebut dalam rangka pelaksanaan sesuatu yang mubah, maka hukumnya boleh
bagi yang meminta pertolongan dan yang memberi pertolongan, tetapi bisa jadi pemberi pertolongan
mendapatkan pahala atas perbuatan baiknya kepada orang lain. Karena itu, pertolongan ini merupakan
tindakan yang diperintahkan baginya, berdasarkan firman Alloh Ta’ala [artinya]
“Dan berbuat baiklah, karena sesunguhnya Alloh neryukai orang-orang yang berbuat baik.”
(Al-Baqoroh: 195)

Ketiga:
Permintaan tolong kepada makhluk yang hidup dan ada di hadapan, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk menolong, maka tindakan ini hanyalah permainan dan senda gurau yang tidak berguna, misalnya seseorang minta pertolongan dari orang yang lemah untuk mengangkat beban yang berat.

Keempat:
Permintaan tolong kepada orang mati secara mutlak atau kepada orang-orang yang hidup untuk melakukan suatu perkara gaib yang tidak mampu mereka laksanakan, maka ini merupakan perbuatan syirik, karena perbuatan ini tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang berkeyakinan bahwa ia mempunyai kekuatan tersembunyi untuk mengatur alam semesta ini.

Kelima:
Permintaan tolong dengan perantaran amal-amal dan keadaan-keadaan yang dicintai oleh Alloh Ta’ala. Ini
merupakan tindakan yang diperintahkan berdasarkan firman Alloh [artinya],
“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu” (Al-Baqoroh: 153)
Penulis rahimahullah mengemukakan dalil tentang isti’anah jenis pertama dengan firman Alloh,
“Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan”
(Al-Fatihah: 4)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
“Apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah”
(HR. Imam Ahmad, dan Tirmidzi)

Wallahua’lam.

(IN SYAA ALLAH BERSAMBUNG)

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
? WA Kajian Kadang Temanggung
Simak kajiannya di www.kajiantemanggung.com
? Sunduq dakwah Temanggung
?BRI 0842-01-029843-53-2
atas nama SUKAEMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.