Ushul Tsalatsah [Sesi ke-11]: Doa adalah Ibadah

doa

Alhamdulillah kita lanjutkan pembahasan kitab Ushulutstsalaatsah, sampai pada:

وفي الحديث: “الدعاء مخ العبادة” . والدليل قوله تعالى: { وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ }

Dalam sebuah hadits:

الدعاء مخ العبادة
“Do’a itu adalah inti sari ibadah“

Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

{ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ }
” Dan Robbmu berfirman, berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu”. Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”
(QS. Ghafir: 60).

? Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullahuta’aala:

واستدل كذلك بقوله تعالى: { وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ }
فدلت الآية الكريمة على أن الدعاء من العبادة ولولا ذلك ما صح أن يقال:
{ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي }
فمن دعا غير الله عز وجل بشيء لا يقدر عليه إلا الله فهو مشرك كافر سواء كان المدعو حيا أو ميتا.
ومن دعا حيا بما يقدر عليه مثل أن يقول : يا فلان أطعمني، يا فلان اسقني فلا شيء فيه، ومن دعا ميتا أو غائبا بمثل هذا فإنه مشرك لأن الميت أو الغائب لا يمكن أن يقوم بمثل هذا فدعاؤه إياه
يدل على أنه يعتقد أن له تصرفا في الكون فيكون بذلك مشركا.

?[DOA TERMASUK IBADAH]

Ini awal dari dalil-dalil yang disebutkan oleh penulis rahimahullah yang telah diisyaratannya dalam perkataannya, “Macam- macam ibadah yang diperintahkan oleh Alloh contohnya Islam, iman, dan ihsan.

Contoh lain adalah doa dan seterusnya. Beliau rahimahullah mengawali dengan menyebutkan dalil-dalil
tentang doa. Insya Alloh, nanti juga dikemukakan dalil-dalil mengenai Islam, iman, dan ihsan secara terperinci’.
Penulis rahimahullah berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam
bahwa beliau bersabda, “Doa adalah intisari ibadah.”(HR.Tirmidzi, Ia berkata “Hadits Gharib dari sisi ini)

Juga firman Alloh Ta’ala [artinya]:

{ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ }

“Dan Robbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” Sesungguhnya orangorang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (Al-Mu’min: 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa doa merupakan ibadah. Jika tidak, tentu tidak benar untuk dikatakan,
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”. Maka barangsiapa memohon kepada selain Allah sesuatu yang hanya mampu diberikan oleh Alloh, berarti orang tersebur musyrik dan kafir, baik yang dimohonnya itu masih hidup atau mati. Namun barangsiapa meminta kepada orang yang masih hidup, sesuatu yang bisa diberikannya, misalnya mengatakan “Wahai Fulan, berilah aku makan; wahai Fulan, berilah aku minum”Maka ia tidak berdosa.

Jika ia memohon kepada orang yang telah mati atau orang yang berada di kejauhan, dengan permohonan seperti ini, maka ia musyrik, karena mayit atau orang yang berada di kejauhan tidak mungkin memberikan hal semacam itu. Permohonannya itu menunjukkan bahwa ia memiliki keyakinan bahwa yang dimohonnya memiliki kekuatan untuk mengelola alam semesta sekehendaknya, karena itu ia musyrik.

واعلم أن الدعاء نوعان: دعاء مسألة ودعاء عبادة .
فدعاء المسألة هو دعاء الطلب أي طلب الحاجات وهو عبادة إذا كان من العبد لربه، لأنه يتضمن الافتقار إلى الله تعالى واللجوء إليه، واعتقاد أنه قادر كريم واسع الفضل والرحمة. ويجوز إذا صدر من العبد لمثله من المخلوقين إذا كان المدعو يعقل الدعاء ويقدر على الإجابة كما سبق في قول القائل : يا فلان أطعمني.
وأما دعاء العبادة فأن يتعبد به للمدعو طلبا لثوابه وخوفا من عقابه وهذا لا يصح لغير الله وصرفه لغير الله شرك أكبر مخرج عن الملة وعليه يقع الوعيد في قوله تعالى:
{ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ }

?Ketahuilah bahwa doa itu ada dua macam, yaitu doa mas’alah dan doa ibadah.

?Doa mas’alah:

Doa mas’alah adalah: doa untuk meminta kebutuhan. Ia termasuk ibadah, bila dilakukan oleh seorang hamba kepada Robb-nya, karena ia mengandung makna butuh dan bersandarnya seorang hamba kepada Alloh ta’ala serta keyakinan bahwa Dia menyandang sifat Maha Kuasa, pemurah, serta memiliki karunia dan kasih sayang yang luas. Jika permintaan itu dilakukan kepada sesama makhluk, maka diperbolehkan dengan syarat yang dituju adalah orang yang mampu memahami dan memenuhi permintaan tersebut, sebagaimana telah disinggung di
muka mengenai ucapan seseorang, “Wahai Fulan, berilah aku makan!”

☝Doa ibadah:

Adapun doa ibadah adalah: seseorang menggunakan doa tersebut untuk beribadah kepada yang dimohonnya dalam rangka memohon pahalanya dan karena takut terhadap hukumannya. Doa ibadah ini tidak boleh diarahkan kepada selain Allah. Mengarahkannya kepada selain Allah merupakan syirik akbar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari millah Islam. Orang yang melakukannya terkena ancaman Alloh Ta’ala dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
[artinya]:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Al-Mu’min: 60)

?JENIS – JENIS IBADAH :

“KHOUF” (TAKUT)

ودليل الخوف قوله تعالى: { فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ }

Dalil khauf (takut) firman Allah ta’ala:

“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi
takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang
beriman.” (QS. Ali Imran: 175)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullahuta’aala:

الخوف هو الذعر، وهو انفعال يحصل بتوقع ما فيه هلاك أو ضرر أو أذى، وقد نهى الله سبحانه وتعالى عن خوف أولياء الشيطان وأمر بخوفه وحده.
والخوف ثلاثة أنواع :
النوع الأولى: خوف طبيعي كخوف الإنسان من السبع والنار والغرق وهذا لا يلام عليه العبد قال الله تعالى عن موسى عليه الصلاة والسلام: { فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ } لكن إذا كان هذا الخوف
كما ذكر الشيخ رحمه الله سببا لترك واجب أو فعل محرم كان حراما ؛ لأن ما كان سببا لترك واجب أو فعل محرم فهو حرام ودليله قوله تعالى: { فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ } .
والخوف من الله تعالى يكون محمودا، ويكون غير محمود.
فالمحمود ما كانت غايته أن يحول بينك وبين معصية الله بحيث يحملك على فعل الواجبات وترك المحرمات، فإذا حصلت هذه الغاية سكن القلب واطمأن وغلب عليه الفرح بنعمة الله، والرجاء لثوابه. وغير المحمود ما يحمل العبد على اليأس من روح الله والقنوط وحينئذ يتحسر العبد وينكمش وربما يتمادى في المعصية لقوة يأسه.
النوع الثاني: خوف العبادة أن يخاف أحدا يتعبد بالخوف له فهذا لا يكون إلا لله تعالى. وصرفه لغير الله تعالى شرك أكبر.
النوع الثالث: خوف السر كأن يخاف صاحب القبر، أو وليا بعيدا عنه لا يؤثر فيه لكنه يخافه مخافة سر فهذا أيضا ذكره العلماء من الشرك.

?[KHOUF]

Khouf artinya takut, yaitu reaksi emosional yang muncul disebabkan oleh dugaan seseorang tentang adanya kebinasaan, bahaya atau gangguan yang akan menimpa dirinya. Allah telah melarang perasaan takut kepada wali-wali setan dan memerintahkan untuk takut kepada-Nya saja.

Khouf ada tiga macam:

? [1] Khouf thabi’i,

Yaitu perasaan takut yang bersifat naluriah/manusiawi. Misalnya perasaan takut seseorang kepada binatang buas, api dan tenggelam. Seorang hamba yang memiliki rasa takut ini tidak tercela. Alloh Ta’ala, berfirman kepada Musa [artinya]:

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ
“Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya)” (Al-Qoshosh: 18)

Tetapi jika perasaan takut ini, sebagaimana yang disinggung oleh Penulis rahimahullah, menyebabkan ditinggalkannya kewajiban atau dilakukannya perbuatan haram, maka diharamkan; karena apa saja yang menyebabkan ditinggalkannya kewajiban atau dilaksanakannya perbuatan haram, maka diharamkan.
Dalilnya firman Alloh [artinya]:

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Karena itu, janganlah kama takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman” (Ali-‘Imran: 175)

Perasaan takut kepada Alloh ada yang terpuji dan ada yang tidak terpuji. Perasaan takut kepada Alloh yang terpuji adalah jika akhirnya bisa menghalangi diri Anda dari kemaksiatan kepada Alloh, yang mendorong untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan mencegah dari hal-hal yang diharamkan. Jika tujuan ini terwujud, hati akan tenang dan tenteram serta diliputi oleh perasaan gembira oleh nikmat-nikmat Alloh dan harapan kepada pahala-pahala-Nya.

Perasaan takut kepada Alloh yang tidak terpuji adalah yang menjadikan seorang hamba berputus asa dari rahmat Alloh, sehingga ia banyak menyesali diri, patah semangat, dan barangkali bahkan semakin jauh terjerumus dalam kemaksiatan disebabkan oleh kuatnya rasa putus asa.

☝[2] Khouf Ibadah,

Misalnya seseorang takut kepada orang lain dalam rangka beribadah kepadanya. Perasaan takut ini hanya boleh diarahkan kepada Alloh Azza wa Jalla.
Mengarahkannya kepada selain Alloh merupakan syirik akbar.

?[3] Khouf Sirr,

Perasaan takut tersembunyi. Misalnya takutnya seseorang kepada penghuni kubur atau kepada seorang wali yang berjauhan tempat dengannya, yang tidak memberikan pengaruh apapun kepadanya, tetapi ia memiliki perasaan takut yang tersembunyi kepadanya. Ini juga disebut oleh para ulama sebagai salah satu bentuk
syirik.

(IN SYAA ALLAH BERSAMBUNG)

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
? WA Kajian Kadang Temanggung
Simak kajiannya di www.kajiantemanggung.com
? Sunduq dakwah Temanggung
?BRI  0842-01-029843-53-2
atas nama SUKAEMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.