URGENSI ILMU DAN ULAMA

URGENSI ILMU DAN ULAMA

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Sesungguhnya ilmu adalah agama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Sirin ( Shahih Muslim 1/78 ), Abdullah bin Aun ( Al-Faqih wal Mutafaqqih : 1134 ), dan Al-Imam Malik ( At-Tamhid 1/67 ).
Adapun menuntut ilmu maka dia adalah kewajiban yang paling agung dari kewajiban-kewajiban agama, ilmu yang wajib diketahui seorang muslim adalah ilmu yang bisa membenarkan aqidahnya, membenarkan ibadahnya, dan membenarkan amalan kesehariannya, menuntut ilmu wajib atas orang-orang yang bodoh dan atas para penuntut ilmu pemula dan senior, bahkan wajib pula atas ulama. Maka yang wajib atas seorang muslim adalah hendaknya dia menjadi penuntut ilmu, dan tetap dalam keadaan menuntut ilmu sampai ajal menjemput ( Nubdzah Ilmiyyah fi Manhajis Salaf fil Ilmi wal Ulama terbitan Markaz Al-Imam Al-Albani tahun 1422 H ).

KEUTAMAAN ILMU DAN ULAMA

Ilmu memiliki keutamaan yang agung , dan sungguh Allah telah meninggikan derajat para ulama yang mengamalkan agamanya, Allah ( berfirman :
( يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ (
“ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat “ ( Al-Mujadilah : 10 )
dan Allah berfirman : ( قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (
“ Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. “ ( Az-Zumar : 9 )
dan Allah berfirman : ( شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ(
“Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersaksi yang demikian itu). “ ( Ali Imran : 18 ) di dalam ayat ini Allah mengikatkan persaksian para ulama dengan persaksianNya dan persaksian para malaikatNya “ ( Jama’ah Wahidah hal. 18 oleh Syaikhuna Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly حفظه الله ).
Rasulullah ( bersabda :
إن العلماء ورثة الأنبياء إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر
“ Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak ( Diriwayatkan oleh Tirmidy dalam Jaminya 5/48, Abu Dawud dalam Sunannya 3/317, dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/81, dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/83 dan Syaikh Al-Albany dalam Shahih Targhib 1/105 ).
Dan bersabda :
ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا
“ Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dari kami, menyayangi yang muda dari kami, dan mengerti hak ulama kami “ ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 5/323 dan Al-Hakim dalam Mustadraknya 1/122, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Targhib 1/117 ).
Karena inilah maka Ali bin Abi Thalib ( berkata : Kecintaan kepada ulama adalah agama ( Dikeluarkan oleh Al-Khothib dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/182 sebagaimana dalam Al-Iqna hal. 129 oleh Syaikhuna Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly حفظه الله ).
Sufyan bin Uyainah berkata : “ Manusia yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah yang menjadi perantara antara Allah dan hamba-hambaNya, yaitu para nabi dan ulama “ ( Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim hal. 35 oleh Ibnu Juma’ah Al-Kinany ).

MEMBANTAH AHLI BIDAH TERMASUK BAGIAN DARI JIHAD FI SABILILLAH

Merupakan hal yang perlu diketahui bahwa membantah ahli bidah dalam pokok-pokok kesesatan mereka adalah satu bagian dari jihad, berjihad dengan pedang dan berjihad dengan ilmu dan hujjah adalah seperti dua saudara kandung dan seperti dua sahabat yang selalu dekat, karena keperwiraan ada dua : keperwiraan ilmu dan penjelasan, dan keperwiraan senjata dan kekuatan.
Adalah para sahabat Nabi ( makhluk yang paling sempurna dalam dua keperwiraan ini, mereka buka hati-hati manusia dengan hujjah dan penjelasan, dan mereka taklukkan negeri-negeri dengan pedang dan persenjataan.
Dan tidaklah manusia melainkan dua kelompok ini, adapun selain keduanya jika tidak termasuk pendukung dan pembela keduanya maka dia adalah beban yang memberatkan jenis manusia.
Dan Allah ( telah memerintahkan RasulNya ( agar membantah orang-orang kafir dan munafiq, dan menggempur musuh-musuh yang menentang dan memerangi, maka ilmu membantah hujjah musuh dan menggempur musuh adalah ilmu yang paling penting dan paling bermanfaat bagi para hamba di dalam kehidupan mereka di dunia dan akhirat, tidak ada yang bisa membandingi tinta ulama kecuali darah para syuhada, kemuliaan dan kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat adalah milik dua kelompok ini, adapun manusia selain mereka adalah bawahan mereka, dan patuh kepada pemuka-pemuka kedua kelompok ini ( Al-Furusiyyah hal. 156-157 ).
Karena inilah maka banyak para shahabat dan tabiin yang menafsirkan ( أولي الأمر ) dalam firman Allah ( :
( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم ْ(
“ Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu “ ( An-Nisa’ : 59 ) ;
bahwasanya mereka ( أولي الأمر ) ini adalah para ulama, sebagaimana dinukil pendapat ini dari Jabir bin Abdullah, Mujahid, Atho’, Al-Hasan, dan Abul’Aliyah ( Tafsir Ath-Thobary : 5/149 ).
Tidak diragukan lagi bahwa ulama robbaniyyin memiliki kekuasaan atas orang-orang yang di bawah mereka ; disebabkan ilmu yang diberikan Allah ke dalam hati mereka, dan karena tanda-tanda yang nampak pada mereka dari khosyah dan tazkiyyah.
Ibnul Qoyyim berkata : Pada hakikatnya para penguasai ditaati jika mereka memerintah dengan landasan ilmu, maka ketaatan kepada mereka mengikut kepada ketaatan kepada ulama, karena ketaatan adalah pada hal yang maruf dan apa yang diwajibkan oleh ilmu, sebagaimana ketaatan kepada ulama mengikut kepada ketaatan kepada Rasul ; maka ketaatan kepada penguasa mengikut kepada ketaatan kepada ulama ( Ilamul Muwaqqiin 1/10 ).

SIAPAKAH ULAMA YANG WAJIB DIIKUTI ?

Yang harus diperhatikan bahwa para ulama bertingkat-tingkat, jika ilmu datang dari ulama-ulama yang tua maka ummat berada dalam kebaikan, Ibnu Masud ( berkata : Sesungguhnya kalian selalu dalam kebaikan selama ilmu berada pada orang-orang yang tua dari kalian, jika ilmu berada pada yang muda dari kalian maka yang muda akan membodohkan yang tua ( Dikeluarkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd : 815 dan Abdur Rozzaq dalam Mushonnafnya 11/246 dengan sanad yang shohih ).
Bahkan kebaikan dan kerusakan agama tergantung dari hal ini, sebagaimana dikatakan oleh Umar ( bahwasanya dia berkata : Kerusakan agama adalah jika ilmu datang dari orang yang muda; karena dia akan ditentang oleh yang tua, dan kebaikan manusia jika ilmu datang dari orang yang tua; karena dia akan diikuti oleh yang muda ( Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil Ilmi : 1055 dan 1056 dengan sanad yang hasan ).
Ibnu Qutaibah berkata : Tidak henti-hentinya manusia dalam kebaikan di saat ulama mereka orang-orang tua, dan bukan anak-anak muda, karena orang yang sudah tua sudah hilang darinya darah muda, telah hilang darinya sifat keras, tergesa-gesa, dan kedunguan, dia telah banyak pengetahuan dan pengalaman; sehingga tidak masuk syubhat dalam ilmunya, tidak dikalahkan oleh hawa nafsu, tidak terpengaruh oleh ketamakan, tidak mudah digelincirkan oleh syaithan sebagaimana anak muda, dengan tambahnya usia maka tumbuhlah keagungan dan kewibawaan, adapun orang-orang yang muda akan lebih mudah terkena hal-hal di atas, kalau hal itu masuk padanya dan dia berfatwa, maka dia akan binasa dan membinasakan ( Mukhtashor Nashihat Ahlil Hadits oleh Al-Khothib Al-Baghdady hal. 93 sebagaimana dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah hal. 84 ).
Maka para ulama yang tua wajib dicintai lahir dan batin, dan yang layak dimintai fatwa tentang perkara-perkara insidental dan masalah-masalah yang sifatnya umum, di saat terjadi kegoncangan dan permasalahan wajib mengikuti pendapat mereka dan segera kembali kepada perintah mereka.
Menentukan prioritas permasalahan, menyibukkan diri sesuai dengan keharusan keadaan, menentukan mana yang mashlahat dan mana yang mafsadah dan kadarnya- terutama di zaman fitnah semuanya itu adalah urusan mereka.
Ketika orang-orang hizbiyyin berusaha menutup kekosongan yang timbul karena lenyapnya para ulama robbaniyyin, maka jatuhlah umat ke dalam kejelekan yang menyebar, dan kerusakan yang berbahaya, karena orang-orang hizbiyyin ini hanya memperhatikan keuntungan pribadi dan hawa nafsu belaka, membela nama-nama dan label-label mereka tanpa memperhatikan perintah-perintah Allah ( .
Para manusia secara keseluruhan para ulama, para penuntut ilmu yang senior, para penuntut ilmu yang pemula dan orang-orang awam selayaknya terjadi hubungan di antara mereka yang sifatnya saling melengkapi dan bukan malah saling memakan, mereka semua hendaknya menegakkan loyalitas keimanan di antara mereka, dari saling menasehati dalam haq dan kesabaran, saling memerintah kepada yang maruf, saling melarang dari kemungkaran, melandaskan cinta dan benci, wala dan bara atas agama, bukan atas nama-nama dan label-label.
Kebahagiaan umat dan kembalinya kemuliaan mereka yang hilang tidak akan terealisasi pada akhir ummat ini melainkan dengan apa yang dilakukan pendahulunya, yaitu dengan berkumpul di sekitar ulama, bukan di sekitar orang-orang awam yang tidak jelas, dari pemuka-pemuka kesesatan, yang berbicara tentang agama tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan…
Karena inilah maka para ulama robbaniyyin adalah pemuka jamaah yang kita diperintahka untuk berpegang teguh dengannya, kita diperingatkan dari berpisah dengannya, mereka inilah tidak henti-hentinya- thoifah manshuroh yang tidak terpengaruh dengan siapa saja yang menelantarkannya sampai datang Allah dengan urusannya.
Al-Imam Bukhari berkata : Thoifah manshuroh ini adalah para ulama .
Al-Imam Ahmad berkata : Kalau mereka ini bukan Ahlul Hadits maka aku tidak tahu lagi siapa mereka !.
Al-Qodhy Iyadh berkta mengomentari perkataan Al-Imam Ahmad ini – : Ahmad memaksudkan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan orang yang meyakini madzhab Ahlul Hadits ( Lihat Syarh Nawawi 13/67, Syaraf Ashabil Hadits hal.26, dan Syarhus Sunnah 1/216 ).
Karena inilah maka ketika Ibnul Mubarak ditanya : Siapakah jamaah yang wajib diikuti ?, dia menjawab : Abu Bakar, Umar,… – dia terus menyebutkan nama-nama sampai berhenti kepada Muhammad bin Tsabit dan Hasan bin Waqid -.
Dikatakan kepadanya : Mereka ini sudah meninggal, maka siapakah dari mereka yang masih hidup ?
Dia menjawab : Abu Hamzah As-Sukary ( Lihat Jami Tirmidzy : 2167, Tarikh Abu Zurah Ad-Dimasyqy hal. 208, dan Al-Itishom 3/302-303 ).
Para ulama adalah Robbaniyyun, yang dikenal dengan ketegaran dan kekokohan langkah mereka di atas gelombang syubhat dan fitnah, yang saat itu melencenglah pemahaman-pemahaman, tidak ada yang selamat kecuali yang dirahmati Allah ( .
Ibnul Qoyyim berkata : Seorang yang kokoh dalam ilmu adalah jika datang syubhat-syubhat kepadanya yang sebanyak ombak lautan tidak akan menggoyahkan keyakinannya, dan sama sekali tidak menimbulkan keraguan sedikitpun pada hatinya; karena jika seorang telah kokoh dalam ilmu maka tidak akan digoyahkan oleh syubhat, bahkan jika datang syubhat kepadanya maka akan ditolak oleh penjaga ilmu dan pasukannya, sehingga syubhat itu akan kalah dan terbelenggu ( Miftah Daris Saadah 1/140 ).
Para ulama inilah yang dikenal dengan jihad dan dawah mereka kepada Allah ( , selalu mencurahkan waktu dan kesungguhan di jalan Allah, dikenal dengan ibadah dan rasa takut mereka kepada Allah, maka mereka inilah rujukan umat dan pemuka-pemukanya, dengan berkumpul di sekitar mereka, dan taat kepada mereka dengan landasan agama dan taqorrub kepada Allah maka ummat akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan.

KELOMPOK-KELOMPOK YANG DIANGGAP ULAMA PADAHAL MEREKA BUKANLAH ULAMA

Yang perlu diperhatikan dan diwaspadai bahwa di sana ada orang-orang yang dianggap ulama padahal mereka tidak termasuk golongan ulama, mereka-mereka ini adalah :
Para khothib dan tukang pidato, tidak selalu orang yang pandai berkhotbah dan ceramah adalah termasuk ulama, walaupun dia selalu dikerumuni oleh ribuan orang-orang awam, yang benar mereka ini hanya sebatas tukang cerita dan tukang omong, mereka ini bisa bermanfaat bagi umat sebatas kadar kebenaran aqidah dan manhaj mereka, kalau tidak benar aqidah dan manhaj mereka maka mereka ini adalah yang disinyalir oleh perkataan Mujahid : Para ulama telah pergi, tidak tersisa kecuali orang-orang yang pandai bicara ( Dikeluarkan oleh abu Khoitsamah dalam Al-Ilm hal. 69 ).
Sekedar adanya kemampuan berkhotbah pada seseorang tidak selalu mengharuskan ada padanya akal yang ilmiyyah dan landasan-landasan fiqih, Ibnul Jauzy telah menyebutkan bahwa ketrampilan ceramah pada zamannya dimasuki oleh orang-orang jahil, sehingga orang-orang yang teliti berpaling dari mereka, dan lekatlah kepada mereka orang-orang awam dan para wanita ( Talbis Iblis hal. 127 ), ini adalah keadaan pada zaman Ibnul Jauzy, maka bagaimana komentar Ibnul Jauzy terhadap keadaan sekarang ini ?!.
Telah datang dari Ibnu Masud bahwasanya dia berkata : Sesungguhnya kalian sekarang ini pada zaman yang masuh banyak ulamanya, sedikit tukang ceramahnya, dan sesungguhnya setelah kalian akan datang suatu zaman, yang banyak tukang ceramahnya dan sedikit ulamanya ( Dikeluarkan oleh Bukhary dalam Adabul Mufrad : 789 dan Abu Khoitsamah dalam Al-Ilm hal. 109 dengan sanad yang shahih ).
2. Para pemikir dan ahli wawasan Islam , mereka ini bukanlah ulama meskipun mereka memiliki telaah dalam masalah-masalah global yang ada hubungannya dengan gambaran umum tentang syariat, seperti pandangan tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, pengetahuan tentang ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran kontemporer, bersamaan dengan telaah masalah-masalah yang terhitung persimpangan jalan antara Islam dan seluruh ajaran-ajaran buatan manusia yang mereka namakan pada saat ini Fiqh waqi ( Pemahaman Realita ) !!, mereka memiliki semangat pembelaan Islam, tetapi tidak layak untuk bicara tentang hukum-hukum syari dalam kasus-kasus insidental dan perkara-perkara baru, apakah itu dalam masalah siyasah ( politik ), ekonomi, atau yang lainnya, lebih-lebih jika latar belakang keilmuan mereka adalah ilmu-ilmu praktis atau sosial kemanusiaan, maka jelas persepsi mereka tidak terarah, bercampur dengan kekaburan dan ketimpangan… kecuali yang diberi rahmat oleh Allah dari mereka.
3. Orang-orang rasionalis ( pendewa akal ), para reporter media massa, para penyiar, dan pemilik pemikiran-pemikiran bathil, mereka semua ini bukanlah ulama, terutama golongan dari kelompok ini yang banyak bicara ngelantur, dan nampak kejelekan pemikirannya di koran-koran dan majalah-majalah, seperti Sayid Quthub, Hasan Al-Banna, Yusuf Qordhowy, Muhammad Al-Ghazaly, Abdurrahman Al-Baghdady dan orang-orang yang semodel mereka.
Alangkah mulianya Ibnu Rojab yang mengatakan : Banyak dari orang-orang belakangan yang terfitnah dengan hal ini, mereka menyangka bahwa orang yang banyak bicaranya, banyak perdebatannya, dan banyak dialognya dalam masalah agama, maka dia lebih berilmu dibanding orang-orang yang tidak seperti itu, sangkaan seperti ini adalah kejahilan yang nyata !, lihatlah kepada pembesar-pembesar sahabat dan para ulama mereka seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Muadz, Ibnu Masud, dan Zaid bin Tsabit, bagaimana mereka ?!, perkataan mereka lebih sedikit dibanding perkataan Ibnu Abbas, padahal mereka lebih berilmu dibanding Ibnu Abbas, demikian juga perkataan tabiin lebih banyak dibanding perkataan sahabat, padahal sahabat lebih berilmu dibanding para tabiin, demikian juga tabiit tabiin, perkataan mereka lebih banyak dibanding perkataan tabiin, padahal para tabiin lebih berilmu dibanding mereka .
Dan dia berkata : Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, tidak juga dengan banyaknya omongan, tetapi dia adalah cahaya yang terpancar ke dalam hati, yang dengannya seorang hamba bisa memahami al-haqq, dan memisahkan antara yang haq dengan yang bathil, dan mengungkapkan hal itu dengan ibarat yang singkat tetapi memenuhi apa yang dimaksudkan ( Fadlu Ilmi Salaf hal. 57-58 ).

AHLU BIDAH BUKANLAH ULAMA

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata : Telah sepakat para ahli fiqh dan atsar dari seluruh penjuru negeri bahwasanya ahli kalam, ahli bidah dan kesesatan, mereka semua tidak termasuk golongan ulama, karena ulama hanyalah ahli fiqh dan atsar, mereka bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan mereka dalam keahlian, ketelitian, dan pemahaman ( Jami Bayanil Ilmi 2/96 ).
Karena inilah tanda yang paling menonjol dari orang yang dijadikan Allah memberi manfaat kepada manusia adalah ilmu yaitu agama Allah sebagaimana telah terdahulu -; ilmu adalah maksud mereka yang tertinggi, karena itulah mereka berikan perhatikan dan waktu mereka sepenuhnya kepada ilmu, ilmu adalah yang selalu menyibukkan mereka, mereka beramal sesuai dengan pokok-pokok ilmu, nash-nashnya, dan kaidah-kaidahnya, mereka berjihad terhadap jiwa-jiwa mereka agar selalu melaksanakan apa yang ada pada ilmu dari kebenaran dan keadilan, sehingga tercetaklah pada jiwa-jiwa mereka fiqh syariat, ketelitian hukum-hukumnya, dan mengikatnya dengan kuat; dengan ini semua mereka gabungkan apa yang tidak ada nashnya dengan ang ada nashnya, karena syariat adalah kaidah-kaidah yang sifatnya umum, dan masalah-masalah di dalam semua hukum-hukum agama ( dari thoharoh sampai politik ) memiliki bandingan-bandingan dan keserupaan-keserupaan , barangsiapa yang mahir dalam masalah-masalah yang ada nashnya maka dia akan mampu dan mahir dalam menempatkan segala sesuatu yang belum dinashkan pada tempat-tempatnya yang sesuai.
Adapun selain para ulama dari golongan yang setengah-setengah ke bawah, maka mereka menyangka bahwa diri-diri mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya ; tetapi dari buah usaha mereka Engkau akan tahu siapa mereka , kenyataan telah bisa dilihat dan diraba, dan kejelekan telah nampak dan terasa, wala haula wala quwwata illa billah .

MENCELA ULAMA ADALAH TANDA-TANDA AHLI BIDAH

Jelaslah dari apa yang terdahulu bahwa celaan pada ulama adalah salah satu dari tanda-tanda ahli bidah, lebih-lebih perkataan mereka yang masyhur : Ulama hanya faham masalah haidh dan nifas !! ( Ungkapan keji ini terlontar dari mulut hizbiyyin sebagaimana diceritakan oleh Syaikh Ali bin Nashir Faqiihi dalam Nashrul Aziz hal. 38, dan sungguh disesalkan ucapan ini terlontar juga dari mulut seorang tokoh yang tidak asing lagi di kalangan jamiyyah-jamiyyah khoiriyyah di dalam kitabnya yang berjudul Khuthuth Roisiyyah hal. 40 sebagaimana dalam Jamaah Wahidah hal. 40 )
Bahkan ibarat ini telah terucap pada zaman dahulu yang sejalan dengan mananya, modelnya, dan asasnya dari mulut sebagian orang-orang yang kotor sebagaimana dinukil oleh Al-Imam Syathiby di dalam Kitabnya Al-Itishom sebuah perkataan dari Amr bin Ubaid ( pemuka mutazilah ) yang berkata : Tidakkah kalian mendengar ! tidaklah perkataan Al-Hasan dan Ibnu Sirin melainkan gombal haidh yang dibuang !! , kemudian Al-Imam Syathiby mengomentarinya dengan berkata :
Dan diriwayatkan bahwa salah seorang gembong dari gembong-gembong ahli bidah ingin mengunggulkan ilmu kalam di atas fiqh, dia mengatakan : Sesungguhnya ilmu Syafii dan Abu Hanifah semuanya tidak keluar dari celana wanita Al-Imam Syathiby mengomentari perkataan ini dengan ucapannya : Inilah omongan orang-orang yang menyeleweng ini, semoga Allah membinasakan mereka ! ( Al-Itishom 3/248 ).
Dan kami akhiri pembahasan ini dengan kalimat yang agung dari Al-Imam Abu Jafar Ath-Thohawi yang sering dibawakan oleh Syaikhuna Al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad di dalam majelisnya di Masjid Nabawi :
و علماء السلف من السابقين , و من بعدهم من التابعين – أهل الخبر و الأثر , و أهل الفقه و النظر – لا يذكرون إلا بالجميل , و من ذكرهم بسوء فهو على غير سبيل
“ Dan ulama salaf yang terdahulu, dan pengikut-pengikut mereka sesudahnya ahli khobar dan atsar, dan ahli fiqh dan nadhor tidak boleh disebut melainkan dengan kebaikan, dan barangsiapa yang menyebut mereka dengan kejelekan maka tidaklah dia di atas jalan yang lurus ( Al-Aqidah Thohawiyyah hal. 492 ).

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.