Ulama as-Salaf dalam Kejujuran dan Keihlasan (12)

❁ ﷽ ❁
KAJIAN KADANG TEMANGGUNG
💽 Seri : Panduan Akhlak Salaf
📚 Kitab : Aina Nahnu min Akhlaqis-Salaf
🖋 Karya : As-Syaikh Abdul Aziz bin Nashir al Jalil Baha-uddien ‘Aqiel
📓 Materi : Bab 1 | Ulama as-Salaf dalam Kejujuran dan Keihlasan (12)
🗓 Selasa, 30 April 2019 M / 25 Sya’ban 1440 H

🌼 •┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈• 🌼

Yusuf bin Ahmad Asy-Syairaazi menyatakan dalam bukunya ”Arba’inul Buldaan” (kisah di empat puluh negeri) :

Tatkala aku mengembara menemui guru kami, di mana beliau adalah tujuan para penuntut ilmu, ulama hadits pada zamannya, berkunyah Abul Waqti.
(Nama beliau : Abul Waqti Abdul Awwal bin Abu Abdillah Isa bin Sueib As-Sajizi Al-Harawi, seorang imam muhaddits yang zuhud. Beliau lahir pada tahun 458 H)

Di mana Aloh menakdirkan diriku untuk dapat menemuinya di ujung negeri Kirman.
Aku segera memberi salam kepadanya, menciumnya dan duduk di hadapannya.
Beliau lalu bertanya kepadaku : ”Apa tujuanmu datang ke negeri ini?”

Aku menjawab : ”Tujuanku adalah mencarimu, sandaranku setelah Alloh adalah dirimu. Aku telah menulis setiap yang sampai kepadaku dari riwayat-riwayat haditsmu dengan tanganku sendiri, aku datang menemuimu dengan kakiku sendiri; untuk dapat mendapatkan berkah ilmumu dan memperoleh bagian dari ketinggian sanadmu.”

Beliau menanggapi : ”Semoga Alloh mengaruniai taufik kepada kita semua menuju keridhaan-Nya, menjadikan usaha dan tujuan kita hanya kepada-Nya. Senadainya engkau mengetahui kisah diriku yang sebenarnya, niscatya engkau tidak akan memberi salam kepadaku dan tidak akan duduk belajar di hadapanku.”
Lalu beliau menangis lama sekali dan membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya ikut menangis pula.

Kemudian beliau berkata : ”Ya Alloh, tutupilah dosa-dosa kami dengan hijab-Mu yang terbaik, seusai Engkau tutupi dosa-dosa kami, sisakan perbuatan yang membuat-Mu ridha kepada kami.”
Beliau melanjutkan : ”Wahai anakku, kamu tentu tahu, bahwa aku dahulu juga mengembara bersama ayahku dari Harat untuk bertemu dengan Ad-Dawudi di Posang, umurku kala itu belum genap sepuluh tahun. Biasanya ayahku meletakkan dua buah batu di genggaman dua tanganku ini sambil berkata : “Bawalah kedua batu itu.” Saking takutnya, aku membawa batu itu dengan hati-hati sambil berjalan, sementara ayahku terus memantau diriku. Apabila beliau telah melihat diriku kecapian, beliau menyuruhku untuk melemparkannya satu dari dua batu itu. Akupun melemparkannya, sehingga terasa lebih ringan. Aku terus berjalan, hingga terlihat olehnya kelelahanku. Setelah itu beliau bertanya : ”Kamu lelah?” Karena takut, aku menjawab : ”Belum.” Beliau bertanya lagi : “Kalau begitu, kenapa engkau memperlambat jalanmu?” Maka aku segera mempercepat langkahku di depan beliau selama beberapa saat. Setelah itu aku kelelahan. Beliau segera mengambil batu yang satunya dan membuangnya, Aku lalu berjalan hingga tak sanggup lagi. Saat itulah beliau memanggul dan membawaku. Di tengah jalan, kami bertemu dengan sekelompok petani dan lain-lain. Mereka berkata : ”Wahai Syaikh Isa,biarkan kami memboncengkan anakmu itu, bila perlu dengan engkau sekalian menuju Posang.” Beliau menjawab : ”Kami berlindung kepada Alloh untuk berkendaraan dalam mencari hadits-hadits Rosululloh. Biarkan kami berjalan saja, kalau anakku lelah, bairkan aku menggendongnya di atas kepalaku demi memuliakan hadits Rosululloh dan mengharap pahala dari-Nya.” Buah dari keikhlasan bapakku itu adalah : ”Aku memperoleh manfaat dari mempelajari kitab “Ash-Shahih” dan kitab-kitab lainnya. Tidak ada teman seangkatanku yang masih hidup hingga kini. Hanya aku saja yang masih hidup. Sehingga berbagai utusan (penuntut ilmu) mendatangiku dari berbagia penjuru.”
(Ad-Dawudi adalah : Jamalul Islam Abul Hasan Abdur Rohman bin Muhammad, seorang muhaddits , dimana Abul Waqti belajar kitab Ash-Shahih darinya)

Kemudian beliau (Syaikh Abul Waqti) meminta kepada sahabat kami Abdul Baqi bin Abdul Jabbar Al-Harawi untuk menyuguhkan makanan ringan buat kami. Aku segera berkata : “Wahai Tuan, membaca satu juz karya Abul Jahm lebih aku sukai daripada memakan makanan ringan itu.”
Beliau tersenyum seraya berkata : ”Apabila sudah masuk makanannya nanti, akan keluar pembicaraan kita.”
Beliau segera menyuguhkan makanan manis yang berkuah, dan langsung kami santap. Lalu aku mengeluarkan Juz Abul Jahm tersebut dan meminta beliau untuk mengeluarkan naskah aslinya. Beliaupun segera mengeluarkan naskah aslinya. Beliau berkata : ”Jangan khawatir dan jangan terburu nafsu. Sesungguhnya Aku telah banyak melahirkan murid-murid yang kini telah tiada. Mintalah keselamatan kepada Alloh.”

Akupun segera membaca juz tersebut, dan aku sungguh senang sekali. Lalu Alloh memberi kemudahan bagiku untuk mempelajari kitab “Ash-Shahih” dan yang lainnya berkali-kali. Aku terus menemani dan merawat beliau hingga beliau wafat di Baghdad di malam Selasa pada bulan Dzulhijah.

📙 ”Siyaru A’laamin Nubalaa’” XX : 307, 308

🌼 •┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈• 🌼

Donasi Ifthor Jama’i
Kajian Kadang Temanggung

BRI 084201029843532
a/n Sukaemi (+6281317257620)

Official Web :
http://kajiantemanggung.com

Tautan Grup :
https://chat.whatsapp.com/9g0SSnsulteJmspUMurgjN

(Artikel ini boleh untuk disebarluaskan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.