TASHFIYYAH DAN TARBIYYAH

image

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Merupakan hal yang tidak tersembunyi bagi setiap muslim bahwa kaum muslimin sekarang ini dalam keadaan terpuruk di jurang kehinaan di semua segi kehidupan  disebabkan jauhnya mereka dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Tidak diragukan lagi bahwa solusi untuk mengentas kaum muslimin dari keadaan yang hina ini adalah dengan berpegang teguh kepada dua wahyu yang mulia: Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dengan pemahaman salaf sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan sabdanya :

إذا تبايعتم بالعينة  وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم

“ Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘iinah, disibukkan oleh ternak dan tanaman, dan kalian tinggalkan jihad fi sabilillah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian “ (Diriwayatkan oleh Abu dawud dalam Sunannya : 3462, Baihaqy dalam Sunan Kubro 5/316 dan Thobrony dalam Musnad Syamiyyin hal. 464 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Shahihah : 11).

Tetapi… bagaimanakah cara kembali kepada agama? Ternyata kita lihat sekarang ini banyak sekali metode yang ditempuh oleh aktivis-aktivis Islam…
Ada yang melakukan ceramah yang kosong dari ilmu…
Ada yang berkeliling melakukan jaulah…
Ada yang menceburkan diri ke dalam sistem politik kafir…
Ada yang membentuk jaringan-jaringan “ jihad “ rahasia…
Ada yang melakukan revolusi melawan penguasa yang dianggap keluar dari Islam…
Dan masih banyak lagi lainnya… yang sudah muncul maupun yang akan muncul…
Dan hasilnya ??? …

Realita menunjukkan bahwa semua usaha di atas tidak menambah kepada umat kecuali fitnah dan kehancuran, kaum muslimin semakin terpuruk, semakin banyak fitnah, dan semakin banyak darah-darah kaum muslimin yang tidak berdosa ditumpahkan.

Semua ini disebabkan penyimpangan mereka dari Kitab dan Sunnah, terutama firman Allah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. “ (Al-Ahzab : 21).

Merupakan hal yang dimaklumi oleh setiap muslim yang pernah membaca sirah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tidak pernah menempuh satupun dari metode-metode di atas, tetapi Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  memulai perjuangannya dengan mendakwahi orang-orang tertentu yang diduga memiliki kesiapan untuk menerima Al-Haq, kemudian satu persatu dari mereka menjawab seruan dakwah Rasulullah, hingga kemudian kaum muslimin mendapat tantangan yang keras dan siksaan yang berat dari kaum musyrikin di Makkah, kemudian datanglah perintah hijrah yang pertama dan kedua.
Hingga Allah meneguhkan Islam di Madinah, kemudian mulailah terjadi front terbuka antara kaum muslimin dan orang-orang kafir, dan mulailah terjadi peperangan antara kaum muslimin melawan orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi.

Karena itu wajib bagi kita memulai langkah dengan mengajarkan Islam yang haq kepada manusia, sebagaimana jalan yang ditempuh pertama kali oleh Rasulullah, hanya saja sekarang ini tidak boleh bagi kita hanya sekedar mengajarkan Islam saja, karena Islam telah dimasuki hal-hal yang bukan darinya dan yang tidak ada hubungannya sama sekali darinya, dari bid’ah-bid’ah dan hal-hal baru yang merupakan sebab kehancuran bangunan Islam yang kokoh.
Karena inilah wajib bagi setiap da’i untuk memulai langkah dengan mentashfiyyah (memurnikan) Islam dari kotoran-kotoran yang melekat padanya.

Inilah pokok pertama dalam pembahasan kita kali ini, yaitu tashfiyyah.
Adapun pokok yang kedua adalah tarbiyyah , yaitu bersamaan dengan tashfiyyah kita mentarbiyyah (mendidik) setiap pemuda muslim dengan Islam yang telah dimurnikan ini (At-Tahdzir min Fitnatit Takfir oleh Al-Imam Al-Albany hal.81-87 dan Tashfiyyah wa Tarbiyyah oleh Syaikh Ali Al-Halaby hal. 7-9 dengan sedikit perubahan redaksi).

BIDANG-BIDANG TASHFIYYAH

Tashfiyyah memiliki bidang-bidang yang banyak sekali sesuai dengan banyaknya hal-hal yang masuk ke dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya dari bid’ah-bid’ah yang diada-adakan, adat-adat yang menyimpang, dan penyelewengan-penyelewengan.

Adapun bidang-bidang yang terpenting dari tashfiyyah adalah:

1. AQIDAH
Aqidah Islam telah sampai kepada kita lewat Kitab dan Sunnah dalam keadaan bersih dari khurafat, murni dari berbagai macam kotoran, jauh dari kebatilan-kebatilan kesyirikan, dan selamat dari ta’wil-ta’wil yang menyimpang.
Tetapi… ketika kaum muslimin menjauhi metode salaf dalam memahami Kitab dan Sunnah, terjatuhlah mereka ke dalam kesyirikan, ta’thil (menolak) dan tahrif (penyelewengan) makna sifat-sifat Allah, maka jadilah penyelewengan-penyelewengan aqidah yang sangat diingkari oleh salaf hal-hal yang biasa dan diterima begitu saja oleh orang-orang kholaf, bahkan ada di antara mereka ada yang mengatakan:
Setiap dalil yang disangka mentasybih  selewengkanlah, serahkanlah ma’nanya, dan tuntutlah tanzih!!!
Padahal aqidah yang shahih dan wajib diikuti adalah “ mengimani apa saja yang Allah sifati diriNya dalam KitabNya, dan apa yang disifati oleh RasulNya Muhammad, tanpa mentahrif (menyelewengkan makna), tanpa menta’thil (menolak), tanpa mentakyif (menggambarkan kaifiyyat), dan tanpa mentamtsil (membuat permisalan)“
(Aqidah Wasithiyyah hal. 131).
Kalau engkau sekarang bertanya kepada kebanyakan da’i dan politikus Islami – apalagi orang-orang awam – satu soal saja dalam masalah aqidah, seperti pertanyaan: Di mana Allah? Engkau akan mendapatkan jawaban-jawaban yang berbeda-beda dan saling berbenturan, ada yang menjawab: Allah di mana-mana, ada yang menjawab: di dalam hatiku, ada yang menjawab: tidak di atas tidak bawah tidak di utara tidak di selatan tidak di barat tidak di timur tidak di dalam alam dan tidak di luar alam !!!
Sedikit sekali dari mereka yang bisa menjawab soal ini dengan jawaban yang benar, padahal Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah menanyakan soal ini kepada seorang budak perempuan yang masih kecil maka dia menjawab : “Allah di langit” , maka Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam membenarkan jawabannya, bahkan berkata kepada majikannya : “Bebaskanlah dia karena dia adalah seorang wanita yang beriman! “ (Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahihnya : 537).
Dalil-dalil yang menyatakan Allah di langit banyak sekali baik dari Al-Qur’an maupun dari Sunnah Rasulullah, yang dibawakan oleh setiap ulama sunnah dalam kitab-kitab mereka yang membahas masalah aqidah.
Di sisi lain kita mendapatkan banyak manusia yang terjerumus dalam kesyirikan tanpa disadari! Ada yang mengatakan: “Aku bersandar kepada Allah dan kepadamu“ atau “Ini adalah dari Allah dan darimu “ … perkataan-perkataan ini jelas lebih parah dari ucapan seseorang yang berkata kepada Rasulullah: “Apa yang dikehendaki Allah dan yang kamu kehendaki“, mendengar hal itu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “ Kamu jadikan aku sebagai tandingan Allah ? bahkan tetapi apa yang dikehendaki Allah saja “ (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 1/214 dan 224 dan Ibnu Majah dalam Sunannya : 2117 dengan sanad yang hasan).
“Saya katakan: Jika ini komentar Nabi shalallahu alaihi wa sallam terhadap orang yang mengatakan kepadanya : Apa yang dikehendaki Allah dan yang kamu kehendaki! Maka apa komentar Nabi shalallahu alaihi wa sallam terhadap orang yang mengatakan tentangnya:
Maka sesungguhnya dunia dan akhirat bagian dari kemurahanmu
Dan ilmu Lauh dan Qolam bagian dari ilmumu (Dari qoshidah Burdah oleh Bushiry)
Dan yang semisal ini dari kekufuran yang nyata “ (Taisir Azizil Hamid hal. 602)
Karena itulah wajib mentashfiyyah aqidah Islamiyyah dari kotoran-kotoran yang menempel padanya dari kesyirikan, penyelewengan ma’na, dan perubahan-perubahan terhadap hakikat agama ini, agar kembali aqidah Islamiyyah ini bersih dan suci sebagaimana datang di dalam Kitab dan Sunnah.

2. SUNNAH
Sunnah telah sampai kepada kita dengan sanad-sanadnya di dalam kitab-kitab yang masyhur, dan di dalam tulisan-tulisan yang khusus, yang bermacam-macam jenisnya dan berbeda-beda pembagiannya, yang terhitung sampai 50 jenis tulisan ; dari Jawami’, Masanid, Shihah, Fawaid, Ajza’, Amali, Mushtholah, Athraf, ‘Awaali, Zawaid, Musalsalat …
“Maka inilah sebagian bidang-bidang yang digeluti oleh ulama hadits dan atsar, secara tulisan maupun penelitian, yang menunjukkan betapa tinggi cita-cita mereka, dan bahwasanya akal mereka terbuka, cerdas, dan luas cakrawala pandangannya.
Jika suatu ummat berhak merasa bangga dengan pendahulunya, maka umat Islam sepantasnya berbangga dengan para ulama sunnah yang jenius, yang berilmu luas dan bermanfaat, dan yang berakal jernih dan cerdas, di saat selain mereka mencurahkan jerih payah untuk menutup akal, dan mendorong umat kepada kejumudan yang membawa kepada kerusakan dan kebinasaan“. (Makanatu Ahlil Hadits hal. 18 oleh Syaikhuna Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly).
Kalau kita telah memahami apa yang tersebut di atas maka wajib bagi kita untuk mengetahui masalah yang penting sekali, yang berhubungan dengan pembahasan ini, yaitu bahwa “kaidah ulama hadits tentang kitab-kitab mereka bahwasanya seorang ahli hadits jika telah membawakan hadits dengan sanadnya maka tanggungjawabnya telah lepas darinya, dan dia sudah tidak bertanggungjawab dalam periwayatan hadits itu, sepanjang dia sertakan bersamanya sarana yang bisa menunjukkan kepada seorang peneliti kepada shahih dan tidaknya hadits itu, yaitu sanad“ (Muqoddimah Al-Imam Al-Albany terhadap kitab Iqtidho’ Ilmi Al-Amal oleh Al-Khothib Al-Baghdady).
Karena itulah wajib mentashfiyyah riwayat-riwayat hadits dan meneliti sanad-sanad dan matannya sampai bisa dipisahkan antara yang baik dan yang buruk, supaya kita tidak terjerumus ke dalam ancaman Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam shalallahu alaihi wa sallam  bersabda:

من حدث بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين

“Barangsiapa menyampaikan hadits yang dipandang dusta maka dia adalah salah seorang pendusta“ (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqoddimah Shahihnya : 4).

Tidak tersembunyi bagi seorangpun tentang maraknya penyebaran hadits-hadits lemah dan palsu di antara kaum muslimin baik dari kalangan awam maupun kalangan terpelajar, apalagi di antara kalangan penceramah dan penulis, “tetapi Allah (telah menyiapkan untuk hadits-hadits ini sekelompok para imam yang menjelaskan kelemahannya dan menyingkap kecacatannya“. (Silsilah Dha’ifah 1/6).
Di antara permisalan hadits-hadits yang lemah dan palsu yang tersebar di kalangan manusia apa yang dinisbahkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam shalallahu alaihi wa sallam  bahwasanya Allah berfirman : “Bumi dan langit tidak bisa meliputiKu, tetapi yang bisa meliputiku adalah hati hambaku yang beriman“ !!!
Hadits ini adalah hadits yang batil “dibuat oleh kelompok ateis“ (sebagaimana dikatakan oleh Zarkasyi dalam Asrar Marfu’ah hal. 206).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits ini terdapat dalam israiliyyat, dan tidak memiliki sanad yang dikenal dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam“ (Ahaditsul Qushshash hal. 68).
Karena inilah maka wajib bagi kaum muslimin untuk mengerahkan upaya-upaya ilmiyyah dalam mentashfiyyah kitab-kitab Sunnah dari hal-hal yang tidak pantas untuk masuk di dalamnya dari hadits-hadits yang lemah maupun yang palsu, sehingga Sunnah menjadi putih dan bersih sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi shalallahu alaihi wa sallam  .
Dengan mentashfiyyah sunnah maka seorang muslim akan selamat dalam ittiba’ dan terhindar dari kejelekan ibtida’.

3. FIQIH
Ilmu fiqih adalah salah satu gudang yang agung dari ulama-ulama kaum muslimin, ilmu ini menunjukkan keluasan cakrawala pandang, keluasan pemikiran, dan ketelitian pemahaman. Tetapi dia telah dimasuki oleh dua masalah penting yang membawa kepada musykilah yang besar, dua masalah itu adalah:

Pertama: Taqlid
Yaitu mengikuti perkataan orang lain tanpa melihat dalilnya, hal ini batil menurut imam empat; sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Hanifah: “Tidak halal bagi siapapun untuk mengambil perkataan kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya“. (Al-Intiqo’ hal. 145 oleh Ibnu Abdil Barr).
Al-Imam Malik berkata: “Sesungguhnya kami adalah manusia yang kadang benar dan kadang keliru, maka lihatlah pendapatku, setiap yang mencocoki Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak mencocoki Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah“. (Jami’ Bayan Ilmu 2/32 oleh Ibnu Abdil Barr).
Al-Imam Syafi’i berkata: “Setiap yang aku ucapkan jika ada hadits shahih dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam  yang menyelisihi perkataanku, maka hadits Nabi shalallahu alaihi wa sallam  yang didahulukan, janganlah kalian taqlid kepadaku“. (Adab Syafi’i dan Manaqibnya 1/66 oleh Ibnu Abi Hatim).
Al-Imam Ahmad berkata: “Janganlah kamu taqlid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, yang datang dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam  dan sahabatnya ambillah, adapun tabi’in – sesudahnya – maka seseorang boleh memilih“. (Masail Ahmad : 277 oleh Abu Dawud).

Yang Kedua: Menutup pintu ijtihad
“Ketika para pemilik madzhab meremehkan tugas ijtihad dalam masalah-masalah agama, dan memilih berhukum kepada salah satu madzhab tertentu – entah dalilnya kuat atau lemah -, maka mereka menyerukan untuk menutup pintu ijtihad pada pertengahan abad keempat tanpa alasan yang jelas“. (Muqoddimah Sholahuddin Maqbul untuk Irsyadun Nuqod hal. 25).
“Pendapat yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup adalah pendapat yang sangat keliru, merupakan makar terhadap agama, kesesatan, dan kedustaan atas Allah – karena mereka menisbahkan ini kepadaNya- atau merupakan agama baru yang didatangkan oleh mereka dari diri-diri mereka sendiri dan bukan termasuk agama Muhammad shalallahu alaihi wa sallam  sama sekali“ (Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam 4/572 oleh Ibnu Hazm).
Adapun musykilah yang ditimbulkan oleh dua masalah di atas adalah ta’ashshub (fanatik buta).
Kita lihat Abul Hasan Al-Karkhy Asy-Syafi’i mengatakan: “Setiap ayat yang menyelisihi madzhab kami maka dia dita’wil atau dimansukh, dan setiap hadits yang menyelisihi madzhab kami maka juga dita’wil atau dimansukh“ !!! (Tarikh Tasyri’ Islamy hal. 332 oleh Muhammad Al-Khudhary).
Perkataan ini jelas sekali kebatilannya, karena “kebenaran dengan perinciannya mustahil kalau hanya terdapat pada kelompok tertentu, dan orang yang adil adalah orang yang teliti di dalam memandang segala sesuatu dengan seteliti-telitinya“ (Jarh wa Ta’dil hal. 32 oleh Al-Qosimy).
Di lain pihak Muhammad bin Musa Al-Balasaghuny berkata: “Sebaiknya aku memiliki kekuasaan maka sungguh aku akan mengambil jizyah dari kelompok Syafi’iyyah“ !! (Mizan I’tidal 4/51 oleh Adz-Dzahaby).
“Sampai terjadilah banyak kerusakan dan kehancuran di negeri Ashbahan karena banyaknya fitnah dan ta’ashshub antara pengikut madzhab Syafi’i dan madzhab Abu Hanifah, tersulutlah peperangan yang terus menerus antara dua kelompok ini, setiap salah satu kelompok menang mereka merampas rumah-rumah musuhnya, membakarnya, dan merobohkannya, mereka tidak menghormati sama sekali hak Allah dan hak manusia“!!! (Mu’jam Buldan 1/209 oleh Yaqut Al-Hamawy).
Dengan melihat keadaan yang menyedihkan ini wajib bagi kaum muslimin untuk mentashfiyyah Fiqih Islami dari kotoran-kotoran yang melekat seperti ijtihad-ijtihad yang menyelisihi Kitab dan Sunnah, atau hukum-hukum yang bathil tanpa dalil atau alasan.

4. TAFSIR
Tafsir adalah ilmu yang agung yang tidak sepantasnya untuk menggelutinya kecuali ulama-ulama yang mengenal dalail Kitab dan Sunnah, yang faham hakikat bahasa arab, dan yang mengetahui nasikh mansukh, hukum-hukum al-Qur’an dan adab-adabnya.
Tetapi kenyataan yang terjadi pada kitab-kitab tafsir adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:
“Kitab-kitab yang dinamakan oleh kebanyakan orang sebagai kitab-kitab tafsir, di dalamnya banyak sekali yang menukil tafsir-tafsir yang didustakan atas salaf, terdapat perkataan atas Allah dan RasulNya dengan akal semata, bahkan dengan syubhat qiyasiyyah atau syubhat adabiyyah.
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa di dalam kitab tafsir banyak sekali nukilan-nukilan dusta yang disandarkan kepada Ibnu Abbas… maka wajib untuk menshahihkan penukilan agar argumen bisa tegak…“ (Majmu’ Fatawa 6/389).
Sebagai salah satu contoh dari yang dikatakan oleh Syaikhul Islam di atas adalah kisah yang masyhur yang banyak disebut dalam kitab-kitab tafsir, yaitu kisah seorang sahabat yang mulia Tsa’labah bin Hathib, mereka sebutkan bahwa dia adalah seorang sahabat yang berjanji kepada Allah jika dibari harta untuk menginfaqannya di jalan Allah, kemudian Allah memberi harta yang banyak kepadanya, tetapi sahabat ini tidak menunaikan janjinya, bahkan tidak mau menunaikan zakat hartanya, maka dia ini disifati oleh para sahabat yang lainnya sebagai orang yang munafiq, karena Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam shalallahu alaihi wa sallam  tidak mau menerima zakatnya, demikian juga Abu Bakar dan Umar, sampai kemudian dia mati pada masa kekhilafahan Utsman.
Tidak diragukan lagi bahwa kisah ini merupakan tuduhan yang keji kepada seorang sahabat yang menghadiri perang Badar (Lihat Al-Ishobah 1/198 oleh Ibnu Hajar).
Kisah ini dibawakan oleh para ahli tafsir dalam kitab-kitab mereka seperti Zamakhsyary dalam Kasysyaf 2/203, Ibnul Jauzy dalam Zadul Masir 3/472, Ar-Razy dalam Mafatihul Ghaib 16/130, Al-Khazin dalam Tafsirnya 3/126, Baidhawy dalam Anwar Tanzil 3/75, Syihab dalam Khasyiyahnya 4/346, Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 2/373, Suyuthi dalam Durrul Mantsur 3/260, Abu Su’ud dalam Tafsirnya 4/85, dan masih banyak lagi yang lainnya tanpa memperingatkan kepada kebatilannya atau membicarakan kemungkarannya !!.
Kisah ini telah dilemahkan dan diingkari oleh para imam dan ulama, di antara mereka: Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bary 3/266, Al-Hafidz ‘Iraqy dalam Takhrij Ihya’ 3/366, Manawi dalam Faidhul Qadir 4/527, Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 11/207, dan Syaikh Al-Albany dalam Dha’if Jami’ 4/125, dan yang lainnya.
Maka jelaslah bahwa tafsir sangat membutuhkan tashfiyyah dan pembersihan, sehingga tersingkaplah kisah-kisah yang batil seperti ini, dan hal lain yang lebih parah yang mengotori Kalamullah.
Yang juga termasuk bagian tashfiyyah kitab-kitab tafsir adalah bantahan kepada penafsir-penafsir yang menyeleweng dari kebenaran, sebagaimana dilakukan oleh para ulama seperti Syaikh Al-Albany, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Bakr Abu Zaid dan yang lainnya terhadap Muhammad Ali Ash-Shabuny dan tulisan-tulisan tafsirnya yang melenceng dari kebenaran.  
Sebagaimana dilakukan juga oleh Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy terhadap Tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb dalam kitabnya Al-Mawaridu Zilal fi Akhtha’i Zhilal.

PENGERTIAN TARBIYYAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN TASHFIYYAH

“Tarbiyyah yang kita maksudkan dalam pembahasan ini adalah mentarbiyyah (mendidik) generasi Islam atas Islam yang telah ditashfiyyah (dimurnikan) dari hal-hal yang telah kita sebutkan di atas, dengan tarbiyyah yang shahihah sejak jari-jari mereka masih halus, tanpa terpengaruh oleh sistem pendidikan barat yang merusak“ (Silsilah Dha’ifah 2/2 oleh Al-Imam Al-Albany).

Tugas utama Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wa sallam  adalah mentazkiyyah (mensucikan jiwa) manusia dan memberikan ta’lim (menyampaikan ilmu) kepada mereka, sebagaimana disebutkan Allah dalam firmanNya :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. “ (Ar-Ra’du : 11).

Tidak akan sempurna tazkiyyah kecuali dengan tarbiyyah, dan tidak akan sempurna ta’lim kecuali dengan tashfiyyah, maka hubungan antar tashfiyyah dan tarbiyyah adalah hubungan yang sangat erat dan tidak mungkin bisa dipisahkan, barangsiapa yang tidak menyibukkan diri dengan dua pokok ini (tashfiyyah dan tarbiyyah) maka berarti dia telah menyelisih shirathal mustaqim, dan mendapatkan bagian dari cara-cara orang-orang yang dimurkai Allah dan orang-orang yang sesat (Majalah Al-Ashalah 4/84 dengan sedikit perubahan redaksi).
(Pembahasan ini diringkas dari kitab Tashfiyyah wa Tarbiyyah oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby Al-Atsary cetakan kedua tahun 1414 H).
 
PENUTUP

“Untuk meralisasikan tashfiyyah dan tarbiyyah ini membutuhkan usaha yang keras dari setiap muslim yang menginginkan tegaknya masyarakat Islami yang kita impi-impikan, masing-masing bekerja sesuai dengan bidangnya dan spesialisasinya.
Adapun kalau kita merasa cukup dengan keadaan kita sekarang, membanggakan jumlah kita yang banyak, menyandarkan diri kepada kemurahan Allah, atau menunggu keluarnya Imam Mahdi dan Isa bin Maryam, dengan meneriakkan kalimat: Islam adalah dustur kami! dan memastikan akan bisa menegakkan daulah Islam, maka ini semua hal yang mustahil, bahkan kesesatan yang nyata, karena menyelisihi sunnatullah kauniyyah dan syar’iyyah sekaligus, Allah berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah.“ (Ali Imran : 164). 
Semoga kita semua diberi kekuatan Allah untuk merealisasikan kedua pokok ini dalam kehidupun sehingga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat“ (Muqoddimah Silsilah Dha’ifah Jilid 2 oleh Al-Imam Albany dengan sedikit ringkasan).  

والله أعلم بالصواب

image

TANYA JAWAB
1. Apa maksud Penjelasan di atas, “setiap dalil yang disangka mentasybih selewengkanlah…, dan tuntutlah tanzih.”
Jawab:
Maksud kalimat tersebut bahwa orang orang yang menolak sifat Allah berdalih mensucikan Allah di dalam penolakannya terhadap sifat Allah

2. Bagaimana jawaban yang tepat, ringkas, mengena, bagi orang yang mengatakan tidak perlu membahas di mana Allah berada karena masih banyak hal lain yang perlu dibahas?
Jawab:
Orang yang mengatakan bahwa masalah aqidah tidak penting karena dia tidak tahu tujuannya hidup di dunia. Kalau dia tahu tujuan hidup di dunia untuk beribadah kepada Allah tentunya dia akan berusaha ma’rifat(mengenal) Allah Ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.