TARBIYAH IMANIYYAH JIBRIL

TARBIYAH IMANIYYAH JIBRIL

عَنْ أمير المؤمنين أبي حفص عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ( قَالَ :” بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ “
“Dari Amiiril Mu’miniin Abi Hafsh Umar bin Khoththob ( bahwasanya dia berkata : Ketika kami duduk dekat Rasulullah ( pada suatu hari maka sekonyong-konyong nampaklah kepada kami seorang laki-laki yang memakai pakaian sangat putih dan berambut sangat hitam, tak terlihat padanya bekas perjalanan dan tak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya, maka duduklah ia di hadapan Nabi ( , lalu disandarkan lututnya pada lutut Nabi ( ,dan meletakkan tangannya di atas pahanya, kemudian berkata: Hai Muhammad terangkan kepadaku tentang Islam ! Maka jawab Rasulullah ( : Islam itu hendaklah Engkau menyaksikan bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, hendaklah Engkau mendirikan sholat, dan menunaikan zakat dan hendaklah Engkau berpuasa pada bulan Romadlon dan hendaklah Engkau mengerjakan haji ke Baitullah jika Engkau kuasa menjalaninya.Berkatalah orang itu : Benar . Maka kami heran ia bertanya dan ia pula yang membenarkan. Maka berkata lagi orang itu: Maka terangkanlah padaku tentang Iman.Jawab Nabi ( : Hendaklah Engkau beriman kepada Allah, kepada MalaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada Rasul-rasulNya, kepada Hari Kiamat, dan hendaklah Engkau beriman kepada Taqdir yang baik dan yang buruk. Berkatalah orang tadi: Benar. Bertanya lagi orang itu: Maka beritahukan kepadaku tentang Ihsan.Jawab Nabi ( : Hendaklah Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat kepadaNya, maka jika Engkau tak dapat melihatNya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau. Tanya orang itu lagi: Beritahukanlah aku tentang Hari Kiamat. Jawab Nabi ( : Orang yang ditanya tentang itu tidak lebih mengetahui daripada si penanya sendiri . Tanya orang itu selanjutnya: Beritahukanlah aku tentang tanda-tandanya. Jawab Nabi: Di antaranya jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, dan jika engkau melihat orang yang tadinya miskin papa, berbaju compang-camping, sebagai penggembala kambing, sudah menjadi mampu hingga berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan. Kemudian pergilah orang tadi. Aku diam tenang beberapa waktu kemudian Nabi ( berkata kepadaku: Wahai Umar tahukah engkau siapa yang bertanya tadi ? . Jawabku : Allah dan RasulNya lebih mengetahui. Kata Nabi ( : Dia itu adalah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian .

BIOGRAFI PERAWI HADITS
Beliau adalah Amiirul Muminiin Abu Hafsh Umar bin Khoththob ( khalifah yang kedua dari deretan Khulafaur Rasyidin , manusia terbaik dari ummat ini setelah Abu Bakar Ash-Shiddiiq ( , salah seorang dari sepuluh orang yang diberi khabar gembira masuk surga , masuk Islam ketika jumlah muslimin baru sekitar empatpuluh orang, mengikuti perang Badar dan yang sesudahnya bersama Rasulullah (, meninggal dalam keadaan syahid pada tahun 23 H dan dikuburkan di samping Rasulullah ( dan Abu Bakar Ash-Shiddiiq ( (Lihat Al-Ishobah : 4/588 dan Thobaqoh Kubro: 3/265-376 )

TAKHRIJ HADITS

Hadits dengan lafadz ini dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shohihnya (1/135-144) dari jalan Kahmas dari Abdullah bin Buraidah dari Yahya bin Yamar dari Ibnu Umar ( dari Umar bin Khoththob (.
Kemudian Al-Imam Muslim menyebutkan perowi dari Ibnu Umar selain Yahya bin Yamar adalah Humaid bin Abdurrahman (Shohih Muslim 1/144-145), sedangkan perowi dari Abdulloh bin Buraidah selain Kahmas adalah Mathor Al-Warroq, Utsman bin Ghiyats, dan Sulaiman At-Taimy (Shohih Muslim 1/144-146) dan beliau menjelaskan bahwa di dalam hadits-hadits mereka ada penambahan dan pengurangan dari lafadznya dibandingkan dengan lafadz hadits Kahmas di atas.
Hadits ini datang juga dari riwayat Abu Hurairoh yang dikeluarkan oleh Al-Imam Bukhory dalam Shohihnya (1/140) dan Al-Imam Muslim dalam Shohihnya (1/146-148).
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Muslim mengeluarkan jalan-jalan ini tanpa membawakan matannya kecuali jalan yang pertama, dan merujukkan matan jalan-jalan yang lain kepada matan jalan yang pertama.Dan di antara lafadz-lafadznya terdapat banyak perbedaan yang akan kita isyaratkan sebagiannya.
Adapun riwayat Mathor maka dikeluarkan oleh Abu Awanah dalam Shohihnya (4/51), riwayat Sulaiman At-Taimy dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya (1/3) ( demikian juga Ibnu Hibban dalam Shohihnya no. 173 ), dan riwayat Utsman bin Ghiyats dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (1/27).
Para perowi ini diselisihi oleh Sulaiman bin Buraidah saudara Abdulloh bin Buraidah, karena dia meriwayatkan hadits ini dari Yahya bin Yamar dari Abdulloh bin Umar bahwasanya dia berkata : Ketika kami di sisi Nabi ( , dia jadikan hadits ini dalam musnad Ibnu Umar bukan dari riwayat Ibnu Umar ( dari Umar bin Khoththob ( . Riwayat ini dikeluarkan juga oleh Ahmad (1/52) . Diriwayatkan juga oleh Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (5/207) dari jalan Atho Al-Khurosaany dari Yahya bin Yamar, demikian juga diriwayatkan dari jalan Atho bin Abi Robaah dari Abdullah bin Umar, dikeluarkan oleh Thobroony ( dalam Mujam Kabiir sebagaimana dalam Majma Zawaaid 1/40-41).
Hadits ini datang juga dari hadits Anas yang dikeluarkan oleh Al-Bazzaar ( Majma Zawaaid 1/40)dan Bukhory dalam Kholqu Afaalil Ibaad (hal. 57) dan sanadnya hasan. Datang juga dari hadits Jarir Al-Bajaly yang dikeluarkan oleh Abu Awanah dalam Shohihnya (1/3/b), hanya saja dalam sanadnya terdapat Kholid bin Yazid yaitu Al-Umary ( Dia dikatakan pendusta oleh Ibnu Main dan Abu Hatim , lihat Lisanul Mizan 2/389 )yang haditsnya tidak pantas diletakkan dalam kitab Shohih . Datang juga dari hadits Ibnu Abbas dan Abu Amir Al-Asyary, kedua haditsnya dikeluarkan oleh Ahmad (1/319 dan 4/129) dengan sanad yang hasan. ( Lihat Fathul Baary 1/142 , Ittihaaful Maharoh 4/56 dan 12/272, dan Maktabah Al-Alfiyyah vol. 1,5)

SYARAH HADITS

Hadits ini adalah hadits yang agung, mengandung penjelasan agama secara keseluruhan, karena inilah maka Rasulullah ( mengakhiri hadits ini dengan sabdanya : Dia itu adalah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian , setelah sebelumnya beliau menjelaskan derajat Islam, Iman, dan Ihsan, yang beliau katakan bahwa semuanya itu adalah diin.
Adapun Islam maka ditafsirkan oleh Nabi ( dengan amalan-amalan anggota tubuh yang nampak baik berupa ucapan maupun perbuatan, diawali dengan dua kalimah syahadat yang merupakan amalan lisan, kemudian menegakkan sholat, menunaikan zakat, puasa Romadlon dan haji ke Baitullah bagi yang mampu melaksanakannya.
Di dalam riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah Rasulullah ( menambahkan atas yang lima tersebut amalan-amalan yang lain, yaitu : umroh, mandi janabat, dan menyempurnakan wudlu, hal ini menjelaskan bahwa seluruh kewajiban-kewajiban yang dhohir(nampak) masuk dalam penamaan Islam.
Hanya saja dalam hadits ini Rasulullah ( hanya menyebutkan pokok-pokok amalan Islam yang merupakan dasar bangunan Islam sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah ( bersabda:
” بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ “
“ Islam dibangun atas lima perkara: Persaksian bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, Mendirikan sholat, Menunaikan zakat, Mengerjakan haji ke Baitullah, dan Puasa Romadlon ( HR Bukhory: 7 dan Muslim: 20)
Di dalam sebagian riwayat hadits Jibril ini: berkata seseorang: Jika aku melakukan hal itu maka apakah aku dikatakan Muslim ? Rasulullah ( menjawab : Ya (Shohih Ibnu Khuzaimah 1/3 ). Hal ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang sempurna dalam menjalankan dasar-dasar Islam yang lima, maka dia telah menjadi seorang muslim yang sebenarnya, adapun orang yang mengikrarkan dua kalimah syahadat maka dia telah menjadi seorang muslim secara hukum, kalau dia masuk ke dalam Islam, maka dia diwajibkan melakukan kewajiban-kewajiban Islam yang lainnya.
Termasuk kewajiban-kewajiban Islam adalah mengikhlashkan agama semata-mata hanya kepada Allah, menunaikan nasehat kepada Allah dan para hamba, bersihnya hati dari iri dan dengki, dan yang lainnya.
Adapun Iman maka dalam hadits ini Rasulullah ( menafsirkannya dengan Itiqod-Itiqod batin dengan sabdanya: Hendaklah Engkau beriman kepada Allah, kepada MalaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada Rasul-rasulNya, kepada Hari Kiamat, dan hendaklah Engkau beriman kepada Taqdir yang baik dan yang buruk.
Kalau ada yang bertanya: Di dalam hadits ini Rasulullah ( membedakan antara Islam dan Iman padahal banyak sekali nash-nash yang memasukkan amalan-amalan anggota tubuh ke dalam penamaan Iman sebagaimana firman Allah :
(إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(2)الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ(3)أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا (الأنفال : 2-4
“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb sajalah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang menegakkan sholat dan menginfaqkan sebagian dari rizqi yang Kami berikan kepada mereka. Merekalah orang-orang yang benar-benar beriman. QS Al-Anfaal: 2-4
Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Bukhory dalam Shohihnya (2/7) dan Muslim dalam Shohihnya (1/167) dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah ( berkata kepada wafd (utusan) qobilah Abdul Qois :
” آمُرُكُمْ بِأَرْبَعٍ آمُرُكُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ , وَهَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ ؟ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَتُعْطُوا مِنَ الْمَغْنَمِ الْخُمُسَ “
“ Aku perintahkan kalian agar melakukan empat perkara: Iman kepada Allah, Tahukah kalian tentang Iman kepada Allah ? (Yaitu) Syahadat An Laa Ilaaha Illalloh , menegakkan sholat, menunaikan zakat, puasa Romadlon, dan menunaikan Al-Khumus dari rampasan perang
Maka jawabannya adalah bahwa Islam dan Iman adalah dua nama yang jika disebut salah satunya dalam satu konteks kalimat maka mengandung mana keduanya, dan jika disebutkan bersamaan dalam satu konteks kalimat maka masing-masing mempunyai mana yang tersendiri, sebagaimana kalimat faqiir dan miskiin.
Al-Imam Abu Bakr Al-Ismaaiily berkata : Sebagian besar ulama Ahli Sunnah berkata : Sesungguhnya Iman adalah perkataan dan perbuatan, dan Islam adalah apa yang diwajibkan bagi seseorang untuk mengamalkannya, jika dua nama ini disebut secara bersamaan maka dikehendaki dari masing-masing mana yang tidak dimiliki yang lainnya, dan jika salah satu disebutkan tanpa dengan yang lainnya maka mananya meliputi mana keduanya ( Risalah Abu Bakr Al-Ismaaiily ilaa Ahlil Jabal sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rojab dalam Jamiul Ulum wal Hikam 1/79 ).
Di antara hal yang menjadi bukti kebenaran pendapat Ahli Sunnah dalam hal ini adalah bahwasanya Nabi ( menafsirkan mana Iman yang disebut sendirian dalam hadits wafd Abdul Qois di atas dengan mana Islam di dalam hadits Jibril, sedangkan di dalam hadits Jibril Islam dan Iman disebutkan secara bersamaan dalam satu konteks kalimat.
Para ulama berkata : Setiap mumin adalah muslim, karena orang yang telah merealisasikan keimanannya, sehingga iman benar-benar meresap ke dalam hatinya, maka pasti dia akan melakukan amalan-amalan Islam, sebagaimana sabda Rasulullah ( : “Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasad seluruhnya, dan jika ia rusak, rusaklah jasad seluruhnya. Ingatlah, itu adalah hati. ( HR Bukhory 1/153 dan Muslim 3/1219 ) jika iman telah terealisasi dalam hati maka bangkitlah seluruh anggota tubuh melaksanakan amalan Islam. Sebaliknya tidak semua muslim adalah mumin, karena bisa jadi imannya lemah, sehingga tidak terealisasi secara sempurna dalam hati, walaupun anggota tubyhnya melaksanakan amalan Islam, maka dia adalah seoarang muslim sesuai dengan amalannya, tetapi bukan seorang mu’min yang sempurna, sebagaimana dalam firman Allah ( 🙁 قَالَتِ الْأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ( : “ Orang-orang Arab Badwi itu berkata : “Kami telah beriman”,katakanlah (kepada mereka) : “Kalian belum beriman, tetapi katakanlah : Kami telah berislam, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian “ ( Al-Hujuraat : 14 )

Adapun Ihsan maka dia adalah tingkatan tertinggi dalam Diinul Islam setelah tingkatan Islam dan Iman, dan Ihsan ditafsirkan oleh Rasulullah ( dengan sabdanya :
” أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك”
“ Hendaklah Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat kepadaNya, maka jika Engkau tak dapat melihatNya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau”
Sabda Rasulullah ( : “ Hendaklah Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat kepadaNya merupakan isyarat bahwa hendaknya seorang hamba beribadah kepada Allah dalam keadaan seperti ini , yaitu merasakan kedekatan Allah pada dirinya, dan bahwasanya dia di hadapan Allah sehingga seakan-akan melihatNya, hal ini akan menghadirkan rasa takut , segan, dan mengagungkanNya. Demikian juga akan menjadikan dia mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk memperbagus dan menyempurnakan ibadahnya.
Dan sabda Rasulullah ( : maka jika Engkau tak dapat melihatNya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau merupakan isyarat bahwa orang yang merasa berat beribadah kepada Allah seakan-akan melihatNya, maka hendaknya dia beribadah kepada Allah dengan merasakan bahwa sesungguhnya Allah selalu melihat dan menelaah kepadanya, sehingga dia merasa malu dengan penglihatan Allah kepadanya.
Sebagian ulama salaf mengatakan : Barangsiapa yang beramal bagi Allah atas musyahadah ( merasakan melihat Allah ) maka dia adalah seorang yang aarif (telah mengenal Allah), dan barangsiapa yang beramal atas musyahadah(penglihatan) Allah kepadanya maka dia adalah seorang yang mukhlish (ikhlas dalam amalannya).
Perkataan ini mengisyaratkan kepada dua maqom (derajat atau kedudukan):
1. Maqom Ikhlash, yaitu seseorang beramal dengan merasakan penglihatan Allah kepadanya, dan penelaahan Allah kepadanya, serta kedekatan Allah kepadanya. Jikalau seorang hamba telah sampai pada maqom ini maka dia adalah orang ikhlas dalam amalannya, karena perasaan bahwa Allah selalu melihatnya akan menghalanginya dari meniatkan amalan kepada selain Allah.
2. Maqom Musyahadah, yaitu seseorang beramal atas musyahadah(penglihatan) dia kepada Allah dengan hatinya, yaitu dengan memenuhi hatinya dengan cahaya keimanan dan memperkuat marifat dia kepada Allah sehingga hal-hal yang ghaib seakan-akan menjadi hal yang nampak oleh mata.
Dua maqom ini adalah hakekat maqom ihsan yang diisyaratkan dalam hadits Jibril ini, dan manusia berbeda-beda tingkatannya dalam maqom ini sesuai dengan marifatnya kepada Allah (.

Kemudian dalam akhir hadits ini Jibril bertanya kepada Rasulullah ( tentang waktu Hari Kiamat maka Rasulullah ( menjawab : ” ما المسئول عنها بأعلم من السائل” :“ Orang yang ditanya tentang itu tidak lebih mengetahui daripada si penanya sendiri “ yaitu bahwa semua makhluq tidak ada yang mengetahui waktu hari kiamat, karena Allah sendirilah yang mengetahuinya sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah ( bersabda: Kunci-kunci yang ghaib ada lima tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah kemudian Rasulullah ( membaca ayat 🙁 إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ ( “ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan hari Kiamat ; dan Dialah yang menurunkan hujan … “ (QS Luqman : 34) ( Diriwayatkan oleh Bukhory dalam Shohihnya No : 4405).
Kemudian Jibril berkata : “Beritahukanlah aku tentang tanda-tandanya” yaitu tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Hari Kiamat sudah dekat. Maka Rasulullah ( menyebutkan dua tanda :
1. أن تلد الأمة ربتها” “ : “ jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya “. Hal ini merupakan isyarat kepada banyaknya negeri yang ditaklukkan oleh kaum muslimin, sehingga banyak budak-budak wanita yang banyak melahirkan anak dari kaum muslimin, maka jadilah seorang ibu menjadi budak bagi anaknya, karena anak-anak tersebut sama kedudukannya dengan bapak-bapak mereka dari orang-orang merdeka.
2. “أن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان” : : “jika engkau melihat orang yang tadinya miskin papa, berbaju compang-camping, sebagai penggembala kambing, sudah menjadi mampu hingga berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan”. Maksudnya orang-orang yang rendah di antara kalangan manusia menjadi pemimpin-pemimpin mereka, dan harta mereka menjadi banyak sehingga berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan dan menghiasnya.
Dan inti dari tanda-tanda kiamat yang disebutkan oleh Rasulullah ( dalam hadits ini kembali kepada gambaran suatu keadaan jika segala urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, sebagaimana sabda Rasulullah ( kepada orang yang bertanya tentang hari kiamat : Jika semua urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kedatangan hari kiamat ( Diriwayatkan oleh Bukhory dalam Shohihnya 1/142 ), karena jika orang-orang yang tadinya miskin papa, berbaju compang-camping, sebagai penggembala kambing, – yang mereka adalah orang-orang yang bodoh dan kasar menjadi pemimpin-pemimpin manusia dan menjadi kaya sehingga berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan, maka rusaklah tatanan agama dan dunia, karena jika orang yang faqir menjadi pemimpin maka hampir-hampir dia tidak akan memberikan hak-hak rakyatnya, bahkan akan menyimpan sendiri harta yang dikuasainya. Dan kalau bersamaan dengan ini dia dalah seorang yang jahil dan kasar maka rusaklah agama karenanya, karena tidak ada niatan sama sekali pada dirinya untuk memperbaiki agama atau mengajarkannya kepada manusia, bahkan cita-citanya adalah memungut harta dan menyimpannya, tanpa memperdulikan rusaknya agama dan terlantarnya manusia.
Dan jika para penguasa dan pemimpin manusia demikian ini keadaannya, maka terbaliklah semua keadaan, orang yang pendusta dianggap jujur, orang yang jujur didustakan, pengkhianat dianggap memegang amanat, orang yang amanat dianggap pengkhianat, orang yang bodoh berbicara, dan orang yang berilmu diam atau bahkan tidak ada sama sekali sebagaimana dalam hadits Anas bahwasanya Rasulullah ( : Termasuk tanda-tanda kiamat adalah hilangnya ilmu dan nampaknya kebodohan ( HR Bukhory 1/178 dan Muslim : 2671).Dan Rasulullah ( mengkhabarkan bahwasanya Allah akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama, sampai jika tidak tersisa orang yang berilmu jadilah manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, jika mereka ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan ( HR Bukhory 1/194 dan Muslim : 2673 ).
Hal ini semua menunjukkan terbaliknya semua keadaan di akhir zaman. (Lihat Jam’iul Ulum wal Hikam 1/66-121)

KESIMPULAN

1. Islam adalah nama yang mencakup amalan-amalan anggota tubuh yang nampak baik berupa ucapan maupun perbuatan.
2. Iman adalah nama yang mencakup keyakinan-keyakinan batin.
3. Islam dan Iman adalah dua nama yang jika disebut salah satunya dalam satu konteks kalimat maka mengandung mana keduanya, dan jika disebutkan bersamaan dalam satu konteks kalimat maka masing-masing mempunyai mana yang tersendiri.
4. Ihsan adalah nama yang mencakup dua maqom :
a. maqom ikhlash yaitu hendaknya seorang hamba beribadah dengan merasakan penglihatan Allah kepadanya sehingga dia merasa malu kepada Allah dan tidak meniatkan suatu ibadah melainkan hanya kepada Allah semata.
b. maqom musyahadah yaitu hendaknya seorang hamba beramal atas musyahadah(penglihatan) dia kepada Allah dengan hatinya, hal ini akan menghadirkan rasa takut , segan, dan mengagungkanNya.
5. Semua makhluq tidak ada yang mengetahui waktu hari kiamat, karena Allah sendirilah yang mengetahuinya.
6. Di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya dan jika orang yang tadinya miskin papa, berbaju compang-camping, sebagai penggembala kambing, sudah menjadi mampu hingga berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.
7. Inti dari tanda-tanda kiamat yang disebutkan oleh Rasulullah ( dalam beberapa haditsnya adalah gambaran suatu keadaan jika segala urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya.
والله أعلم بالصواب

Akhukum Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.