TANGGUNG JAWAB DAKWAH DI TANGAN SIAPA ?

TANGGUNG JAWAB DAKWAH DI TANGAN SIAPA ?

Segala puji dan syukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan kepada kita berupa kesehatan, untuk memenuhi melaksanakan ketaatan kepadaNya.  Shalawat dan salam kita berikan kepada nabi kita Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam yang telah menuntun umat manusia dari jahiliyah, yang penuh kegelapan menuju Islam yang terang benderang, dan juga kepada para sahabatnya serta para generasi selanjutnya yang memperjuangkan Islam hingga akhir zaman nanti.  
Mari kita sama-sama meningkatkan rasa taqwa kita kepada Allah yang selalu melihat gerak-gerik kita, dengan sebenar-benar takwa, Dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Dalam kesempatan ini, kami ingin membahas sebuah tema yang sangat penting sekali dan dibutuhkan oleh umat Islam yaitu tentang Tanggung Jawab di dalam Dakwah.

PENGERTIAN DAKWAH ILALLAH

Sebelum membicarakan pokok permasalahannya, sebaiknya kita memahami: Apa itu dakwah?, Dakwah secara bahasa adalah berarti seruan, dan ajakan (kamus Ash Shihah 6/2336, kamus  Mujamul Wasith 1/286). Adapun menurut istilah pengertiannya banyak sekali, di antaranya adalah menurut syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan yang dibawa oleh para rasulNya dengan cara membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan (Majmu Fatawa  oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 15/157).

HUKUM DAKWAH ILALLAH

Semua umat Islam sepakat bahwa dakwah adalah amalan yang disyariatkan dan masuk kategori fardhu kifayah. Tidak boleh kategori diabaikan, diacuhkan, dan dikurangi bobot kewajibannya. Hal itu disebabkan terdapat banyak perintah dalam Al-Qur’an dan As Sunah untuk berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, seperti firman Allah:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنْكَرِ “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.”  (Ali Imran:104).
Ayat ini bersifat  umum dan merupakan kewajiban atas setiap individu untuk melaksanakannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Huruf (من) disitu berarti penjelas. Kalau menjadi penjelas maknanya jadilah kamu wahai kaum mukminin sebagai umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah kepada yang mungkar (lihat Jamiul Bayan oleh At-Thabary 4/26). Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, maksud dari ayat ini adalah jadilah kamu sekelompok orang dari umat yang melaksanakan kewajiban dakwah(Lihat  Tafsil Al-Quran Al-Azhim, oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, 1/390). Kewajiban ini wajib atas setiap muslim, sebagaimana hadits shohih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
  “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya, kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman. 

KEUTAMAAN DAKWAH ILALLAH

Keutamaan dakwah ilallah amatlah banyak, tersebutkan dalam Al Quran dan As Sunnah, diantaranya :
a.     Dakwah merupakan salah satu ciri yang hakiki bagi siapa saja yang mengaku mengikuti Nabi shallallaahu alaihi wa sallam. Allah Taala berfirman,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنْ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik (QS. Yusuf : 108). Ibnul Qoyyim berkata, Mengenai ayat, Aku dan orang-orang yang mengikutiku berada di atas bashirah, dijelaskan oleh para ulama bahwasanya orang-orang yang mengikutiku diathafkan (istilah nahwu yang bermakna menghubungkan dengan kata sambung dan, menunjukkan kesetaraan -pent) secara marfu dengan maksud, yaitu aku berdakwah mengajak kepada Allah di atas bashirah, begitu pula dengan orang-orang yang mengikutiku, mereka juga berdakwah mengajak kepada Allah di atas bashirah. Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya orang-orang yang mengikuti beliau shallallaahu alaihi wa sallam, ialah para dai yang menyeru kepada Allah di atas bashirah. Maka barangsiapa yang tidak termasuk diantara mereka, ia bukanlah pengikut Nabi secara hakiki, melainkan hanya sebatas penyandaran dan pengakuan belaka.
b.    Allah Taala memuji para dai yang menyeru kepada kebaikan, dengan istilah tidak ada perkataan yang paling baik dari perkataan mereka. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri? (QS. Fushilat : 33)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya mengenai ayat tersebut, Maka para dai tersebut memberi manfaat kepada dirinya dan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bukanlah termasuk golongan ini orang-orang yang menyeru kepada yang maruf akan tetapi tidak mengerjakannya, atau mencegah dari yang munkar akan tetapi ia sendiri mengerjakannya. Akan tetapi mereka menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan, menyeru al khalqu (makhluq) kepada al khaaliqu (penciptanya) tabaraka wa taala. Seruan ini umum mencakup siapa saja yang menyeru kepada kebaikan, dan memberikan petunjuk kepada orang lain.
Beliau rahimahullah kembali menjelaskan, Berkata Abdurrazzaq, dari Mamar, dari Al Hasan Al Bashri, bahwa beliau membaca ayat tersebut kemudian berkata, Inilah kekasih Allah, inilah wali Allah, inilah manusia pilihan Allah, inilah penduduk bumi yang paling Allah cintai, Allah telah menerima dakwah mereka, dan mereka pun menyeru manusia kepada hal-hal yang Allah ridhai, dan mereka beramal shalih, dan berkata Sesungguhnya kami hanyalah termasuk dari golongan orang-orang muslimin, inilah khalifah Allah
c.     Orang-orang yang berdakwah kepada Allah, mereka adalah golongan yang memperoleh kemenangan dan keberuntungan di hari ketika manusia berkumpul dalam keadaan ada yang bahagia dan ada yang sedih. Allah Taala berfirman, Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr :1-3).
Maka orang-orang yang beruntung ialah mereka yang beriman kepada Allah baik sebagai Rabb Pencipta alam semesta, maupun sebagai Ilah yang berhak diibadahi semata, dan beramal shalih yaitu amal yang dikerjakan ikhlas karena Allah semata, dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, kemudian bersegera dalam menyempurnakan dan memperbaiki orang lain dengan menyeru manusia kepada al haq, yaitu setiap yang disyariatkan oleh Allah, kemudian bersabar di atas al haq tersebut, baik bersabar ketika mengerjakan ketaatan, bersabar dalam menjauhi keburukan, dan bersabar ketika ditimpa musibah.
Kebalikan dari golongan yang beruntung adalah yang merugi, diantara mereka terdapat golongan yang merugi secara mutlaq, yaitu orang kafir, dan ada pula orang-orang yang tingkat kerugiannya berada di bawahnya yaitu orang-orang yang bertauhid namun bermaksiat. Mereka akan diadzab sesuai dengan kadar kemaksiatan yang mereka perbuat. Tidak ada khilaf dalam masalah ini selain golongan Khawarij, Mutazilah, dan Murjiah. (mohon Ustadz tambahkan penjelasan tentang pandangan Khawarij, Mutazilah, dan Murjiah dalam masalah ini)
d.    Pahala dakwah ilallah akan memberi manfaat yang terus menerus, selama Allah berkehendak, dan tidak terputus dengan kematian sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah,
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia mati terputuslah darinya amalnya kecuali tiga hal : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya (HR. Muslim). Maka ilmu yang disebarkan oleh seorang dai dalam rangka menyeru kepada Allah, baik melalui majelis talim, atau ketika bergaul dengan manusia, pahalanya akan senantiasa mengalir dan memberikan manfaat hingga hari kiamat kelak.
e.     Allah Taala menjadikan seluruh makhluq di langit dan bumi, semuanya memohonkan ampun bagi para dai ilallah, sampai ikan-ikan di lautan sekalipun. Inilah ganjaran atas amalan mereka menyebarkan ilmu yang merupakan warisan para Nabi, sesuai dengan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ
“Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi, hingga ikan-ikan di lautan turut memohonkan ampun bagi mereka” ( Sunan Abu Dawud 3/354 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
f. Allah Taala menetapkan pahala bagi para dai ilallah, pahala yang besarnya semisal dengan mereka yang meneladani para dai tersebut dalam kebaikan, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya. Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa yang memelopori suatu kebaikan (yang telah ada contohnya dari Nabi -pent) dalam Islam, baginya pahala semisal dengan orang yang melakukannya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang diperoleh orang yang melakukan tersebut”. ( Shahih Muslim 3/86 ) Dalam hadits lainnya, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan baginya pahala yang semisal dengan orang yang melakukan kebaikan tersebut” ( Shahih Muslim 6/41 ).

DAKWAH ADALAH TANGGUNG JAWAB SELURUH KAUM MUSLIMIN

Ingatlah, wahai kaum muslimin bahwa dakwah Ilallah merupakan kewajiban yang disyariatkan dan menjadi tanggung jawab yang harus dipikul kaum muslimin seluruhnya. Artinya setiap muslim dituntut untuk berdakwah sesuai kemampuannya dan peluang yang dimilikinya. Oleh sebab itu wajiblah bagi kita untuk semangat berpartisipasi dalam berdakwah menyebarkan Islam ke mana saja dan di mana saja kita berada. Dakwah dan amar maruf merupakan prasyarat  khairu ummah. seandainya umat ini tak mau berdakwah, maka akan mengalami kerugian dan kemunduran dalam pelbagai aspek kehidupan. Sebab mulianya umat dengan dakwah, dan kerugiannya akibat meninggalkan dakwah. Allah berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمْ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمْ الْفَاسِقُونَ
”Kamu semua adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”  (Ali Imran: 110).
Jadi dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah akan memberikan predikat yang terbaik kepada umat manusia bila memenuhi tiga syarat yaitu:  1. Menyuruh kepada yang maruf    2. Mencegah dari yang mungkar, dan    3. Mau beriman kepada Allah.  
Dakwah merupakan pekerjaan terbaik, hal itu sesuai dengan firman Allah:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (Fushshilat: 33).
Adapun orang yang berdakwah karena hanya ingin mengharapkan ridha Allah dalam dakwahnya, maka Allah akan memberikan padanya balasan yang setimpal. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :  
 لِأَنْ يَهْدِيَكَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ. (رواه مسلم).
“Sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui engkau (dakwah engkau) maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki onta merah. (Hadits shahih riwayat Muslim dalam kitab  fadhail, no. 2406).

DAKWAH WAJIB MENGIKUTI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

Seorang dai haruslah pandai dalam menyampaikan dakwah. Sebab darinyalah satu sebab dari beberapa sebab umat dapat paham Islam yang benar. Oleh karena itu dakwahnya harus sesuai Al-Quran dan As Sunah serta sesuai dengan manhaj nubuwwah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Sebagaimana hal itu sesuai dengan firman Allah:
( (((((( (((((( ((((((( ((((((( (((((((((((((( (((((((((((((((( (((((((((((( ( (((((((((((( ((((((((( (((( (((((((( ( ((((( (
 Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An-Nahl: 125).
 Seorang dai haruslah selalu introspeksi diri, apakah dakwahnya karena Allah atau karena yang lain: Dalam firman Allah di atas tadi, kata  bil hikmah, Imam Syafii memberi komentar: Setiap hikmah dalam Al-Quran berarti As-Sunnah.
Dan berkaitan dengan kata As-Sunah artinya adalah dakwah itu harus mengikuti sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, bukan berdakwah mengajak orang pada golongan, partai tertentu yang marak hari ini, demokrasi, sekularisme dan lain-lain yang antagonis dengan Islam.
Sesungguhnya yang wajib adalah menempuh jalan bisa mengantarkan kepada al-haq dan menggunakan sarana-sarana yang bermanfaat, tidak bermadharat, mempersatukan, tidak memecahbelah, dan menebarkan dakwah di antara kaum muslimin, serta menjelaskan kepada mereka kewajiban-kewajiban mereka dengan tulisan-tulisan, buku-buku, kaset-kaset yang berfaidah, ceramah-ceramah yang bermanfaat, khutbah-khutbah Jum’at yang yang menjelaskan al-haq dan menyeru kepadanya, menjelaskan kebatilan dan memperingatkan darinya, juga dengan kunjungan-kunjungan yang berfaidah untuk para penguasa dan pihak yang berwenang, saling menasehati dengan tulisan atau secara langsung dengan ucapan dengan kelembutan, hikmah, dan metode yang baik, sebagai pengamalan firman Alloh Azza wa Jalla ketika mensifati NabiNya Muhammad ( :
( فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ (
“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. ( Ali Imran : 159 ), dan firman Alloh Ta’ala kepada Harun dan Musa ketika Alloh mengutus keduanya untuk mendakwahi Fir’aun :
(َفقولا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى(
“ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut” ( Thaha : 44 ) ( Fatawa dan Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 7 Bab Ar-Rabithah Islamiyyah Hiya A’dhamul Wasail Allati Tarbithu Bainal Muslimin ).
Metode yang bagus termasuk di antara sarana paling agung agar kebenaran bisa diterima, sedangkan metode yang jelek dan kasar termasuk di antara sarana paling berbahaya di dalam ditolaknya kebenaran dan tidak diterima, atau dia adalah mencuatkan kegelisahan, kedhaliman, sikap melampaui batas, aksi mogok, dan termasuk di dalam bab ini adalah yang dilakukan oleh sebagian orang dari demonstrasi; yang menyebabkan kejelekan yang besar atas para da’i, maka unjuk rasa di jalan-jalan dan berteriak-teriak ; bukanlah termasuk jalan untuk perbaikan dan dakwah. Jalan yang shahih adalah dengan cara kunjungan, mengirim surat dengan cara yang baik, Engkau nasehati pemimpin, pemerintah, dan kepala suku dengan cara ini, bukan dengan kekerasan dan demonstrasi. Nabi ( tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau tidak pernah menggunakan demonstrasi dan unjuk rasa, beliau tidak pernah mengancam manusia akan merusak harta benda mereka dan menculik mereka. Tidak syak lagi bahwa metode ini memadharatkan da’i dan dakwah, menghalangi tersebarnya dakwah, membawa para pemimpin dan pembesar untuk memusuhi dakwah dan melawannya dengan segala cara. Mereka menghndaki kebaikan dengan metode ini, akan tetapi hasilnya adalah kebalikannya. Maka keberadaan seorang da’i Ilalah menempuh jalan para para rasul dan para pengikut mereka, walaupun butuh waktu yang panjang, adalah lebih utama daripada suatu perbuatan yang memadharatkan dakwah dan mempersempit ruang geraknya, atau memusnahkannya, Wa La Hala Wala Quwwata Illa Billah ( Majalah Buhuts Islamiyyah Edisi 38 hal. 310 ).

URGENSI DAKWAH

Dakwah itu mempunyai urgensi yang banyak sekali, namun intinya kurang lebih adalah tersebarnya kebenaran pada umat manusia (khususnya kaum muslimin), lalu mereka bisa merubah pola pikir hidupnya dari jelek menjadi baik, dari beribadah kepada makhluk berubah menjadi beribadah kepada Khaliq. Lalu mereka membela Islam, mendakwahkan Islam semampunya hingga dengan usaha mereka setelah rahmat Allah manusia masuk Islam secara berbondong-bondong.
Maka alangkah bahayanya kalau dakwah itu sampai tidak berjalan, mogok total tanpa ada yang menjalankan, maka ketika itu adzab Allah akan turun ke bumi menimpa manusia semuanya. Apakah di dalamnya itu orang beriman atau bukan beriman. Firman Allah:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
 “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zhalim di antara kamu, dan ketahuilah Allah amat keras siksanya”.  (Al-Anfal: 25).

PENUTUP

Sebagai penutup maka marilah kita tingkatkan partisipasi kita dalam berdakwah sesuai dengan kemampuan kita, profesi kita, hingga Allah memanggil kita, karena keutamaan umat ada dalam dakwah dan kerugian umat akibat meninggalkan dakwah. Sekali lagi mari kita tingkatkan semangat kita berdakwah sesuai dengan manhaj salafush shalih. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Amin ya Robbal’alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.