Tamak sebab kehinaan

๐Ÿ”ฅ *Tamak sebab kehinaan…*

โœManusia sangat berlebihan dalam mencintai harta. Mereka akan terus senantiasa mencarinya dan mengumpulkannya, dan tidak akan pernah merasa puas dengan yang sedikit, manusia sangat tamak kepada harta dan panjang angan-angan.
Allah berfirman:

ูˆูŽุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ูŽ ุญูุจู‘ู‹ุง ุฌูŽู…ู‘ู‹ุง
Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”(Al-Fajr:20)

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di,
Mencintai sesuatu dengan berlebihan adalah tabiat manusia, apatahlagi kecintaan kepada harta, Allah berfirman : { ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ู„ูŽุดูŽุฏููŠุฏูŒ } ( Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta ) [ Al-‘Adiyat : 8 ] cinta kepada harta adalah tabiat manusia, akan tetapi hal itu tidak boleh menjadi sebab dia mengambil harta itu dengan cara yang tidak benar, atau menghalanginya dari mengeluarkan harta hak orang miskin.
Naluri insan mencintai kekayaan adalah hal biasa dikalangan orang-orang awam, tetapi hal itu dapat membahayakan keimanan dan ketaqwaannya, adapun mencintainya dengan cinta yang biasa-biasa saja dan hal itu tidak menyebabkan dirinya mengambil harta dengan cara yang tidak benar, maka hal itu tidak menjadi masalah yang besar, begitu banyak dikalangan masyarakat pada umumnya, dikarenakan cintanya kepada harta secara berlebihan sehingga menyebabkan hilangnya rasa peduli kepada orang miskin dan anak yatim, maka perkara inilah yang dilarang oleh agama.
(Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… mengingatkan tentang bahayanya tamak terhadap dunia sebagaimana perumpamaan dua serigala yang lapar. Beliau bersabda,

ู…ูŽุง ุฐูุฆู’ุจูŽุงู†ู ุฌูŽุงุฆูุนูŽุงู†ู ุฃูุฑู’ุณูู„ูŽุง ูููŠู’ ุบูŽู†ูŽู…ู ุจูุฃูŽูู’ุณูŽุฏูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูุฑู’ุตู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุฑูŽูู ู„ูุฏููŠู’ู†ูู‡ู
โ€œDua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.โ€(HR At-Tirmidzi, 2376 dishohihkan Al-Albany)

Imam Asy-Syafi’i dalam diwannnya mengingatkan akhir malapetaka yang menimpa orang yang tamak adalah kehinaan dalam kehidupannya.

ู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡:
ู…ุง ุงู„ุฐู„ู‘ู ุฅู„ุงู‘ ููŠ ุงู„ุทู…ุน.
๐Ÿ“šุงู„ุฏูˆุงู†ุŒ ู„ู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุดุงูุนูŠ

Berkata ImamAsy-Syafi’i ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡,
Tidak ada kehinaan kecuali dalam sifat tamak (rakus)
๐Ÿ“šAd-Diwan, Imam Asy-Syafi’i

Wallahu a’lam

๐ŸƒAbu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

โœ๐Ÿ“šโœ’.๐Ÿ’ง…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.