Syarah Matan Abu Syuja’ (45): BAB WUDLU – Bagian 4

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part fourty five

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

(BAB WUDLU)
MEMBASUH KEDUA TELAPAK TANGAN SEBELUM MEMMASUKKANNYA KE TEMPAT AIR
Yang termasuk kesunahan dalam berwudlu (berikutnya) adalah membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan karena sebuah hadits dari sahabat Utsman bin affan rodliallahu’anhu wa ardlohu, bahwa beliau menuangkan air pada tangan kanannya baru membasuh kedua telapak tangannya tiga kali baru berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung (dan mengeluarkannya) tiga kali
Dan hadits Abdullah bin Zaid rodliallahu’anhu dan hadits Ali bin Abi Tholib rodliallahu’anhu:
كان النبي صلى الله عليه وسلم يغسل يديه قبل الوضوء
Dulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam membasuh kedua telapak tangannya sebelum berwudlu.

Adapun orang yang baru saja bangun dari tidurnya maka makruh hukumnya untuk meletakkan tangannya langsung ke tempat air sehingga dia membasuhnya tiga kali (terlebih dahulu) , akan tetapi jika dia sangat yakin akan adanya najis (pada telapak tangannya) maka tidak boleh baginya untuk (langsung) meletakkan kedua telapak tangannya ke tempat air.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(إذا استيقظ أحدكم من نومه فلا يضع يده في الإناء حتى يغسلهما ثلاثاً)
Jika kalian bangun tidur maka janganlah langsung meletakkan tangannya ke tempat air sampai mencucinya tiga kali.

Larangan ini dipalingkan hukumnya (dari haram) menjadi makruh karena suatu ILLAT yaitu: sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(فإنه لا يدري أين باتت يده)،
Karena dia tidak mengetahui kemana saja tangannya semalam

Maka illatnya adalah bahwa (ada kemungkinan) dia tidak khawatir suatu najis menempel pada kedua telapak tangannya.
Oleh karena itu kita berpendapat hukumnya makruh JIKA TIDAK YAKIN ADANYA NAJIS, adapun jika dia yakin adanya najis maka tidak boleh meletakkan kedua telapak tangannya ke tempat air sampai mencucinya tiga kali.

Karena kalau sampai dia meletakkannya tangannya di tempat air tadi maka airnya akan menjadi najis. Kalau airnya menjadi najis maka haram berwudlu dengannya, tak terkecuali sekalipun dia berada di padang luas dan dia tidak mempunyai air selain itu (tetap hukumnya najis).

KUMUR-KUMUR DAN MEMASUKKAN AIR KE HIDUNG
Dan termasuk dari kesunahan wudlu adalah berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung (lalu mengeluarkannya), dan dalil hukumnya sunnah adalah firman Allah Ta’ala
: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ} [المائدة:6]
Hai orang-orang yang beriman jika kamu hendak melakukan shalat maka basuhlah wajahmu.

(Allah tidak berfirman) berkumur-kumurlah dan masukkanlah air ke hidung (lalu keluarkanlah),

dan terdapat hadits khusus yang memutus kedua perselisihan (fasilun niza’) yaitu dia pada kedudukan penjelas, dan kaidah dikalangan para ulama’ menyebutkan:
: لا يجوز تأخير البيان عن وقت الحاجة
Dilarang mengakhirkan penjelasan pada saat dibutuhkan

Dan itu adalah sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam kepada arab badui:
(توضأ كما أمرك الله فاغسل وجهك)
Berwudlulah sebagaimana yang Allah perintahkan kepadamu dan basuhlah wajahmu

Dan tidak (bersabda) berkumur-kumurlah dan masukkanlah air ke hidung.

Dulu orang tidak mengerti bagaimana shalat dan bagaimana wudlu, maka nabi shallallahu’alaihi wasallam mengajari mereka:
(مضمض واستنشق
Kumur-kumurlah dan masukkanlah air ke hidung (lalu keluarkan).

Dan pendapat yang rojih bahwa hal tersebut adalah benar, akan tetapi perintah di sini menunjukkan hukumnya SUNNAH berdasarkan penggabungan dari dua dalil.

Adapun pendapat yang menyelisihinya adalah:
Bahwa hidung dan mulut itu termasuk bagian dari wajah, maka wajib hukumnya berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung,

Dan jawaban atas pendapt ini adalah:
Bahwa mata juga bagian dari wajah, dan bagi (mata) itu ada bagian luar dan dalam, dan kita berpendapat dengan wajibnya membasuh bagian luar hidung bukan bagian dalamnya (seperti halnya mata). Jika tidak tentu saja (setiap kali membasuh muka) seseorang harus membuka matanya dan harus memasukkan air ke matanya, karena dia termasuk bagian dari wajah yang harus dibasuh. Akan tetapi kita telah sepakat bahwa bagian (dalam mata) tersebut tidak dibasuh bagian dalamnya akan tetapi cukup bagian luarnya saja, DEMIKIAN PULA PADA HIDUNG.

Dan dalam berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung itu ada dua cara:
1)yang pertama kumur-kumur yang terpisah dengan memasukkan air ke hidung, maka memasukkan air ke mulutnya (untuk berkumur-kumur) Dan mengulang-ulangnya tiga kali dengan tiga kali mengambil air, kemudian baru membasuh (memasukkan air ke) hidung setelah berkumur-kumur tiga kali, dan cara seperti ini terdapat dalil dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang dilemahkan oleh imam An-Nawawi rohimahullah, akan tetapi alhafidz ibnu Hajar mensohihkannya, dan kita sependapat dengan pendapat yang mensohihkan dari ibnu Hajar tersebut. Dan hadits yang memisahkan kumur-kumur dari memasukkan air ke hidung itu adalah SOHIH, akan tetapi yang lebih utama dan lebih afdol adalah MENGGABUNGKAN antara kumur-kumur dengan memasukkan air ke hidung dengan satu ambilan air (ditangan) sebanyak tiga kali sebagaimana disebutkan dalam hadits utsman (bin affan) dan hadits Abdullah bin zaid rodliallahu’anhuma

Tentang sifat wudlu nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan cara yang kedua ini adalah cara yang sebagian besar Nabi shallallahu’alaihi wasallam mempraktekannya. Beliau mengambil air dengan tangannya kemudian memasukkan sebagian air ke mulutnya (untuk berkumur-kumur) dan memasukkan sebagian yang lain ke hidungnya (lalu mengelurakannya) beliau melakukan hal ini tiga kali.

KESUNAHAN MENGUSAP SELURUH RAMBUT KETIKA BERWUDLU MENURUT MADZHAN SYAFI’I

Pendapat madzhab syafi’I dalam mengusap kepala ketika berwudlu adalah cukup mengusap minimal tiga helai rambut atau mengusap sebagian (kecil) dari rambut kepala. Dan (pendapat syafi’iyah) ini menyelisihi dalil, dan yang benar adalah: tidak boleh tidak harus menyempurnakan mengusap seluruh bagian kepala.

dan termasuk dari kesunahan wudlu adalah: mengusap kedua telinga, dan kesunahan ini terdapat dalil yang banyak, dan sungguh dulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengusap kedua telinganya dan bersabda:
(الأذنان من الرأس)
Kedua telinga itu adalah bagian dari kepala

Dan termasuk dari kesunahan adalah mengambil air yang baru dari keduanyan, dan dalam hadits yang sohih dalam assunan:
: (أن النبي صلى الله عليه وسلم مسح ظاهر الأذنين وباطن الأذنين)
Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengusap bagian luar telinga dan bagian dalamnya.

Dan cara mengusapnya adalah dengan memasukkan telunjuk ke lubang dua telinga yang terbuka yang sampai pada bagian dalam telinga, kemudian Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidaklah mengusap telinganya kecuali hanyalah SATU KALI, jika ada yang bertanya: apakah telinga itu termasuk bagian dari kepala atau bagian dari wajah?

Mak jawabannya adalah:
Azzuhri rohimahullah berkata: telinga itu termasuk bagian dari wajah, dia berdalil dengan hadits (dalam sujud syukur):
: (سجد وجهي للذي خلقه وصوره وشق سمعه وبصره)
Aku letakkan wajahku (sujud) untuk Dzat yang menciptakannya dan membentuknya dan menjadikannya dua bagian simetris telinganya dan (dua bagian simetris) matanya

Adapun jumhur ulama’ berpendapat: bahwa telinga itu termasuk bagian dari kepala berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(الأذنان من الرأس)
Kedua telinga itu termasuk bagian dari kepala

Dan hadits ini adalah dloif, dan telah disohihkan oleh syaikh Al-albani rohimahullah, sampaipun kalau kita sependapat akan sohihnya hadits ini maka sesungguhnya itu masuk kedalam kesunahan (dalam mengusap telinga), dan tidak wajib, sebagaimana Tahallul ketika ihrom boleh dengan mencukur sebagian kecil rambut atau menggundulnya, dan tidak mengambil sedikitpun bagian dari telinga: dan seorang berkata tentang hal tersebut, yang benar dari makna hadits:
(الأذنان من الرأس)
Kedua telinga itu termasuk bagian dari kepala

Adalah:
Bahwa (hukum mengusap telinga) adalah sebagaimana hukum mengusap kepala, maka jika hukum mengusap kepala itu adalah membasuh maka telingapun hukumnya dibasuh seperti halnya kepala, dan jika kepala itu hukumnya diusap maka kedua telingapun juga diusap sebagaimana kepala. Dan yang sohih dan rojih bahwa termasuk dari kesunahan (berwudlu adalah) megusap kedua telinga.
MENYELA-NYELAI JARI-JARI KETIKA BERWUDLU
Dan termasuk kesunahan dalam berwudlu adalah menyela-nyelai jari-jari tangan dan kaki, Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada laqit bin Sobroh rodliallahu’anhu
] (وخلل الأصابع)
Sela-selailah jari-jari (tangan dan kaki dengan air ketika berwudlu)
Dan perintah ini, secara dzohirnya menunjukkan hukumnya wajib, akan tetapi dipalingkan menjadi hukumnya sunah dengan dalil ayat dan hadits yang lain, maka yang rojih dan sohih adalah bahwa menyela-nyelai jari tangan dan kaki bukanlah wajib akan tetapi hukumnya SUNNAH, dan yang sempurna dari menyela-nyelai itu adalah tiga kali, sehingga yakin dalam meratakan air.

Dan menyela-nyelai yang pertama adalah menyela-nyelai jari-jari sekali
Dan wajib menyela-nyelai jari-jari sehingga dia yakin akan sampainya air, atau jika kuku-kukunya panjang dan dia terdapat sesuatu yang menghalangai sampainya air, maka wajib baginya menyela-nyelai sampai akhirnya air sampai pada bagian sela-sela (tersebut).

MENDAHULUKAN YANG KANAN DARIPADA YANG KIRI
Dan termasuk dari kesunahan (dalam berwudlu) adalah mendahulukan membasuh anggota kanan daripada kiri, dan dalil akan hal ini dari assunnah adalah perbuatan nabi shallallahu’alaihi wasallam yang secara terus menerus, dan sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
: (إذا توضأتم فابدءوا بميامنكم)
Jika kalian berwudlu maka mulailah dari anggota-anggota wudlu yang kanan kalian
Dan hadits ini disohihkan oleh imam an Nawawi, alhafidz ibnu hajar dan syaikh Al-Albani rohimahumullah
Dan juga terdapat hadits ‘aisyah rodliallahu’anha waardloha:
: (أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يحب التيمن في شأنه كله)
Bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam mewajibkan untuk mendahulukan yang kanan dalam segalah hal.

Dan imam 4 madzhab rohimahullah berpendapat bahawa (mendahulukan anggota yang kanan dalam membasuh atau mengusap) itu hukumnya sunnah, lain halnya dengan tujuh ahli fikih madinah mereka sungguh telah berpendapat akan wajibnya memulai dengan yang kanan, artinya: bahwa kalau seseorang berwudlu dan membasuh yang kiri (terlebih dahulu) lalu baru membasuh yang kanan,maka wudlunya TIDAK SAH.

Dan pendapat tujuh ahli fikih madinah tentang wajibnya mendahulukan yang kanan ini sangat kuat, karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
: (إذا توضأتم فابدءوا بالميامن)
Jika kalian berwudlu maka mulailah dari anggota-anggota wudlu yang kanan

Dan perintah ini secara dzohirnya menunjukkan bahwa hukumnya adalah wajib, dan (dalil penguatnya juga) adalah perbuatan nabi yang secara terus menerus, dan juga hadits ‘aisyah rodliallahu’anha waardloha bahwa beliau berkata:
(كان النبي صلى الله عليه وسلم يحب التيمن في شأنه كله في وضوئه وترجله وتنعله).
Dulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam mewajibkan mendahulukan yang kanan dalam segala keadaan (termasuk) dalam wudlu beliau, dalam mengenakan sandal dan dalam menyisir rambut beliau shallallahu’alaihi wasallam.

Akan tetapi imam An-nawawi rohimahullah memalingkan hukum wajib (ini) kepada sunnah dengan sebuah hadits yang disohihkan olehnya dari Ali bin abi tholib rodliallahu’nhu bahwa beliau berwudlu di depan manusia
فابتدأ باليسرى ولم يبتدئ باليمنى، ثم صلى ليظهر للناس أن هذا على الجواز،
Dan memulai dengan membasuh anggota yang kiri dan tidak memulai dengan yang kanan, kemudian shalat untuk menjelaskan kepada orang-orang bahwa perbuatan (mendahulukan yang kiri) ini adalah boleh.

Dan ini adalah pendapat para imam madzhab yang empat rohimahullah, wallahu a’lam.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part fourty six

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.