Syarah Matan Abu Syuja’ (44): BAB WUDLU – Bagian 3

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part fourty four

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

(BAB WUDLU)

PENGERTIAN MUWALAH DALAM BERWUDLU
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران:102].
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء:1].
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب:70 – 71].
أما بعد: فإن أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
ثم أما بعد:

MUWALAH artinya diantara membasuh anggota wudlu (yang satu dengan yang lain) tidak diselingi dengan waktu yang lama. Dan tanda penjelas akan hal ini adalah SELAMA ANGGOTA YANG DIBASUH TERSEBUT BELUM MENGERING. Jika percampurannya tidak berubah karena dia dalam keadaan marah terkadang anggota yang dibasuh akan mengering dengan cepat. Dan juga tidak berubah pada suhu yang sangat panas

HUKUM MUWALAH
Dalam madzhab imam asy-syafi’I terdapat dua qoul dalam hukum muwalah.
1.QOUL YANG PERTAMA: adalah qoul qodim yaitu seperti qoul para ulama’ madzhab hambali, bahwa muwalah TERMASUK SYARAT SAH wudlu.
Maka jika seseorang berwudlu dan membasuh wajahnya lalu berhenti dalam waktu yang lama sehingga wajahnya mengering kemudian baru membasuh kedua tanganya kemudian mengusap kepalanya kemudian membasuh kedua kakinya kemudian melakukan shalat, maka shalatnya batal, karena tidak terdapatnya salah satu syarat dari syarat-syaratnya wudlu yaitu muwalah.

2.QOUL YANG KEDUA adalah: qoul jadid, bahwa muwalah itu hukumnya sunnah, artinya jika seseorang melakukan hal yang di atas (membasuh tangan setelah wajah mengering) maka sungguh bertentangan dengan yang utama, dan shalatnya tetap sah.
Dan ini adalah dua qoul dalam madzhab syafi’I rohimahullah,
pengertian qoul qodim adalah pendapat syafi’iyyah sebelum (imam asy-syafi’I rohimahullah) masuk ke negri mesir dan qoul jadid adalah setelah beliau masuk ke negeri mesir.

Adapun “wajah” dalam madzhab syafi’I wajah itu bukan qoul , (wajah) adalah pendapat dari salah satu sahabat dari sahabat-sahabatnya imam asy-syafi’I, wajah ini terkadang berbeda dari apa yang dikemukakan imam asy-syafi’I, (akan tetapi berlandaskan dengan metode nya beliau rohimahullah).

(DALIL QOUL PERTAMA)
Dalil syafi’iyyah dalam qoul qodim (tentang wajibnya muwalah):
1.Dalil dari atsar adalah firman Allah Ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} [المائدة:6]،
Hai orang-orang yang beriman jika kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah wajah kalian dan kedua tangan kalian sampai ke siku
Kata “fahghsilu” merupakan perintah, dan sisi luar dari perintah adalah menunjukkan hukumnya wajib, dan (perintah) ini menunjukkan FAURIYAH (sesuatu yang harus dilakukan dengan sesegera mungkin).
Dan fauriyah itu artinya: bersegera.
Bersegera artinya: kita tidak menyelingi antara keduanya dalam waktu yang lama.

2.mereka juga berdalil dengan perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin Zaid, dan hadits Utsman bin Affan, hadits Ali bin Abi tholib dan hadits ibnu Umar rodliallahu’anhum
(أن النبي صلى الله عليه وسلم توضأ ووالى بين أعضائه)
Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam berwudlu dan bersegera membasuh diantara dua anggota (yang dibasuh).
Dan perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa hukumnya adalah wajib, dan kaidah di kalangan para ulama’ berbunyi:
أن بيان الواجب واجب
Bahwa menjelaskan yang wajib itu hukumnya wajib

Dan dalam hadits kholid bin mi’dan menyebutkan: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam melihat seorang laki-laki yang berwudlu dan pada kakinya terdapat lingkaran sebesar koin (tanda belum terbasuh) dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam menegurnya:
(توضأ وأعد الصلاة)
Berwudlulah (lagi) dan ulangi lah shalat (mu)

Tentang hadits ini ada yang harus dikritisi, karena hadits ini kholid bin mi’dan memursalkan dari sebagian istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan hadits MURSAL*1 menurut para ulama’ adalah termasuk hadits DLOIF.

Juga dalam sanad hadits tersebut terdapat baqiyah bin alwalid, dia adalah seorang yang gemar MENTADLIS*2 dengan tadlis yang paling buruk: tadlis adalah penyamaan: dan sungguh dikatakan tentangnya:
: أحاديث بقية ليست نقية، فكن منها على تقية.
Hadits-hadits Baqiyah (bin alwalid) bukan haditas yang bersih/baik, maka jadilah kamu bertaqiyyah atasnya (menyembunyikan yang sebenarnya).

Sisi pendalilan dalam hadits ini bahwa dia berwudlu dan anggota wudlu mengering dan melakukan shalat: maka ketika Nabi shallallahu’alaihi wasallam melihat sebesar koin (di kaki yang belum terbasuh) beliau memerintahkan untuk mengulangi wudlu, dan pendalilan ini menunjukkan bahwa muwalah itu satu syarat dari syarat-syarat wudlu.
3.Dan mereka juga berdalil dengan annadzor yaitu: mereka mengkiaskan wudlu dengan shalat, mereka mengatakan: sebagaimana muwalah adalah salah satu syarat sah shalat yang itu adalah ibadah, dan wudlu merupakan syarat dari ibadah ini (shalat), maka muwalah (juga) menjadi satu dari syarat sah nya (wudlu).

Sisi kesamaan antara wudlu dan shalat adalah: bahwa wudlu bisa dirusak dengan hadats demikian pula shalat, maka barang siapa yang melakukan shalat dalam keadaan hadats, dia harus berwudlu (lagi) dan mengulangi shalatnya, dan tidaklah dibangun akan yang lalu,

dan ini adalah yang rojih dan sohih, kalau seorang berwudlu dan berkumur-kumur lalu memasukkan air ke hidung (dan mengeluarkannya) kemudian membasuh wajah dan membasuh kedua tangan lalu mengusap kepala kemudian sebelum membasuh kedua kaki lalu keluar angin maka rusaklah wudlunya dan dia (harus) mengulanginya dari awal.

Dan muwalah itu merupakan salah satu syarat dari syarat-syarat shalat, kalau seorang bangkit dari ruku’ maka tidak boleh tidak (dia harus) turun (untuk sujud) setelah dia (menyelesaikan) doa dan dzikir (pada saat I’tidal tadi), andaikan dia melama-lamakan kemudian ada seorang yang melihatnya bahwa itu bukan bagian dari shalat, maka shalatnya batal.

Mereka mengatakan: maka jika muwalah merupakan rukun dari rukun-rukun shalat sedangkan dia adalah ibadah, maka wudlu juga merupakan ibadah seperti shalat, maka muwalah (dalam wudlu) juga menjadi wajib.
(DALIL QOUL KEDUA)
1.Dan dalil dari qoul yang kedua yaitu qoul jadid, menyebutkan bahwa muwalah bukan termasuk dari syarat dalam berwudlu berdasarkan firman Allah Ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ) [المائدة:6]
Hai orang-orang yang beriman jika kalian hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajah kalian dan kedua tangan kalian sampai siku dan usaplah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai kedua mata kaki.

Dan ayat tadi tidak secara jelas menjelaskan tentang muwalah adalah syarat, dan ini adalah dalil bahwa muwalah bukanlah syarat.

2.Dan mereka juga berdalil dengan assunnah dengan atsar dari ibnu Umar rodliallahu’anhuma waardlohuma, bahwa beliau berwudlu di pasar dan tidak mengusap khufnya sehingga beliau pergi ke masjid (HR.Baihaqi dengan sanad sohih).
Dan pada hadits tersebut terdapat lafal
حتى جف العضو
Sehingga anggota yang dibasuh itu mengering
Dan dengan wudlu yang seperti itu, beliau masuk ke masjid lalu mendapatkan jenazah orang-orang ingin mensholatinya, demikian pula ibnu umar ingin ikut shalat lalu berkata:
: ائتوني بماء
Berikan aku air
Kemudian diberikan air lalu beliu mengusap kedua khufnya setelah anggota wudlu yang lain kering, dan atsar ini sohih dari ibnu umar rodliallahu’anhuma dan beliau berpendapat bahwa muwalah itu bukan syarat dalam wudlu. Dan tidak ada seorangpun sahabat rodliallahu’anhum yang mengingkarinya.
(TARJIH)
Dan yang sohih dan rojih menurut para peneliti dari ulama’ syafi’iyyah: adalah qoul jadid,

akan tetapi ketika kita mengambil kaidah yang ditetapkan imam asy-syafi’I rohimahullah:
إذا صح الحديث فهو مذهبي
Jika ada hadits yang sohih maka itu adalah madzhabku

Maka kita katakan: yang YANG BENAR DAN ROJIH ADALAH QOUL QODIM, tak terkecuali akan kesohihan hadits kholid bin mi’dan, jelas dan sorihnya hadits tersebut dalam sebagian riwayat. Adapun bahwa (beliau) memursalkan hadits dari sebagian istri-istri nabi shallallahu’alaihi wasallam ini tidak menjadikan hadits tersebut menjadi dloif karena (akidah ahlussunnah mengatakan)
كل الصحابة عدول لا سيما المؤمنات الفضليات أزواج النبي صلى الله عليه وسلم
sahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam rodliallahu’anhum SELURUHNYA ADIL tak terkecuali para wanitanya yang utama dari istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Maka yang benar dan rojih adalah: bahwa muwalah itu merupakan syarat (wudlu) dan bukan kesunatan wudlu. Karena dalilnya sangat jelas sekali Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda
(توضأ وأعد الصلاة)
Berwudlulah (lagi) dan ulangi shalat (mu)!
*

KESUNAHAN-KESUNAHAN WUDLU

BERGOSOK GIGI
Yang termasuk dari kesunahan wudlu adalah bergosok gigi sebelum berwudlu atau ketika berwudlu, dan dalil akan hal tersebut adalah sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل وضوء)
Seandainya tidak karena aku khawatir memberatkan ummatku niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bergosok gigi setiap kali melakukan wudlu

Jika tidak mendapatkan sikat gigi dan engkau mempunyai sapu tangan, maka bisa saja kamu menggunakannya (untuk bergosok gigi) dan dia menempati posisi siwak dalam pembersihan gigi, dan boleh juga engkau membersihkan gigimu dengan menggerak-gerakkan sebagian jarimu, walaupun hadits tentangnya adalah dloif.
MEMBACA BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
Dan termasuk KESUNATAN dalam berwudlu adalah: membaca bismillahirrohmanirrohim ketika membasuh kedua telapak tangan, dan banyak dalil-dalil tentangnya diantaranya:
1) adalah hadits nabi shallallahu’alaihi wasallam ketika kesulitan air, lalu meminta wadah yang berisi sedikit air, lalu meletakkan kedua tangan beliau pada air lalu keluar (mukjizat) air dari jari-jemari Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu bersabda:
(توضئوا باسم الله)
berwudlulah kalian dengan membaca bismillahirrohmanirrohim

2)Demikian pula hadits yang didloifkan oleh syaikh Al-Albani rohimahullah akan tetapi disohihkan oleh sebagian ahli hadits yaitu hadits:
(كل أمر ذي بال لم يذكر فيه اسم الله فهو أقطع)،
segala urusan yang dilakukan ketika tidak disebutkan padanya nama Allah maka akan terputus (dari keberkahan).

3)Juga hadits sorih bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(لا صلاة لمن لا وضوء له، ولا ضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه)
tidak ada shalat orang yang tidak berwudlu, dan tidak ada wudlu orang yang tidak membaca bismillahirrohmanirrohim padanya.
dan hadits ini para ulama’ berbeda pendapat (tentang kesohihannya) dan syaikh Al-Albani dan yang lainnya mensohihkannya.

Dan yang dimaksud dengan sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam
(لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه)
tidak ada wudlu orang yang tidak membaca bismillahirrohmanirrohim padanya

maksudnya WUDLUNYA TIDAK SEMPURNA, dan TIAK MUNGKIN sesuatu yang negative (sesuatu yang tidak wujud) itu disandarkan pada hal yang ada (wujud), karena seseorang itu membasahi anggota wudlu, dan tidak disandarkan pada keabsahannya, karena Allah yang maha perkasa dalam ketinggiannya berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ} [المائدة:6]
wahai orang-orang yang beriman: jika kamu hendak melaksanakan shalat (maka basuhlah mukamu) (QS.Almaidah:6)

(padanya) tidak meyebutkan bacalah bismillahirrohmanirrohim, dan nabi shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam assunan bersabda kepada seorang arab pegunungan,
(توضأ كما أمرك الله)
berwudlulah kamu sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu,

dan (Allah TIDAK berfirman):
سم الله جل في علاه
bacalah bismillahirrohmanirrohim/sebutlah nama Allah yang maha perkasa dalam ketinggiannya(ketika berwudlu)

(PENERAPAN DALIL)
1)Maka jika seseorang berwudlu dan lupa ternyata tidak membaca bismillahirrohmanirrohim setelah membasuh kedua telapak tangannya dan wajahnya maka kita berpendapat sebagai berikut: lakukan sebagaimana yang kamu lakukan dalam makanan, jika kamu lupa membaca bismillahirrohmanirrohim maka bacalah
باسم الله أوله وآخره.
dengan nama Allah pada awal dan akhirnya

2)Adapun jika setelah selesai membasuh kaki, maka tidak perlu membaca bismillahirrohmanirrohim, lain halnya makanan, karena membaca bismillahirrohmanirrohim setelah selesai makan menjadikan syetan memuntahkan makanannya, adapun (pada wudlu) di sini tidak terdapat akar masalah/illat ini (sehingga tidak perlu membaca bismillahirrohmanirrohim).

3)Dan al ghozali beserta sebagian besar ulama’ syafi’iyyah rohimahumullah menyebutkan, doa membaca setiap (membasuh) anggota wudlu, padahal tidak ada dalil tentangnya, sedangkan dasar dari ibadah adalah tauqifi (bersumber pada dalil alquran dan hadits, ini menunjukkan bahwa membaca doa setiap membasuh anggota itu tidak dibenarkan)

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part fourty five
—————————–

*1. Hadits mursal: hadits mursal adalah hadits yang sanadnya putus pada akhir rowinya orang setelah tabi’in. tabi’in adalah orang yang bertemu sahabat rodliallahu’anhu, beriman pada nabi shallallahu’alaihi wasallam dan meninggal dalam keadaan muslim. Gambaran contohnya: seorang tabi’in berkata rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda demikian demikian…(tidak menyebutkan dari sahabat).
*2. Tadlis: adalah menyembunyikan cacat pada sanad dan menampakkan secara dzohirnya baik. Contoh gambarannya: seorang perawi meriwayatkan hadits dari seseorang yang telah mendengar darinya suatu hadits yang belum pernah didengar darinya tanpa menyebutkan, bahwa perawi tersebut mendengar darinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.