Syarah Matan Abu Syuja’ (42): BAB WUDLU – Bagian 1

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part fourty two

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

(BAB WUDLU)

MENDAHULUKAN MEMBASUH ANGGOTA KANAN SEBELUM YANG KIRI
Dalam membasuh kedua tangan dimulai dari yang kanan sebelum yang kiri, dan dalil akan hal tersebut adalah: perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wasallam ketika beliau berwudlu selalu memulai dengan anggota yang kanan, bahkan beliau bersabda:
: (أبدأ بما بدأ الله به)
Aku memulai dengan sesuatu yang Allah memulai dengannya
Dan sisi pendalilannya adalah dengan KEUMUMAN LAFAL (dengan sesuatu yang Allah memulai dengannya ) BUKAN DENGAN KHUSUSNYA SEBAB.

MENGUSAP KEPALA
DALIL WAJIBNYA MENGUSAP KEPALA
Kewajiban dalam wudlu yang ketiga adalah: mengusap kepala, dan telah terdapat keterangan tentangnya dalam al-quran, assunnah dan konsensus para ulama’ ahlus sunnah, dan dalil sunnah di sini ada yang berupa perkataan dan perbuatan. (dan dalil dari alquran) Allah ta’ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ} [المائدة:6].
Hai orang-orang yang beriman jika kalian hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu sampai siku dan usaplah kepala kalian.
(dan dalil dari hadits) diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid rodliallahu’anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(أنه مسح بيده رأسه فأقبل بهما وأدبر)
Bahwa beliau shallallahu’alaihi wasallam mengusap kepala dengan tangannya lalu mengembalikan kedua tangannya ke depan dan (memutar jari) pada telinganya.

Dan dari hadits utsman bin affan rodliallahu’anhu waardlohu
(أنه مسح رأسه)
bahwa beliau shallallahu’alaihi wasallam mengusap kepalanya,
dan ini dalil dari perbuatan, adapun dalil yang berupa perkataan, sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
: (توضأ كما أمرك الله ثم قال: وامسح رأسك)
Berwudlulah sebagaimana yang Allah perintahkan kepada mu kemudian bersabda: dan usaplah kepalamu
Dan ini adalah perintah dari nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan para ulama’ sepakat bahwa mengusap kepala termasuk dari kewajiban-kewajiban wudlu.

HUKUM MENGUSAP SEBAGIAN KEPALA
Dalam madzhab syafi’I mengusap kepala dianggap sah meskipun hanya sehelai atau tiga helai rambut, mengusap kepala dianggap sah dengan batas minimal yang diusap. Mereka berdalil akan hal tersebut dengan al-quran dan hadits, adapun dalil dari alquran adalah:
{وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ} [المائدة:6]
Dan usaplah kepalamu
Mereka berpendapat: huruf ba’ (pada lafal biruusikum) ini mempunyai fungsi littab’id (menunjukkan sebagian) dan dalil bahwa hal tersebut adalah littab’id bahwa nabi shallallau’alaihi wasallam-sebagaimana disebutkan dalam hadits almughiroh dalam assohih-mengusap pada bagian depan kepala kemudian menyempurnakannya dengan mengusap pada serban (yang melilit di kepala).
Oleh karena itu dalam madzhab syafi’i: tidak boleh mengusap serban kecuali disertai mengusap bagian dari kepala seperti bagian depan kepala.

Mereka mengatakan: maka cukupkanlah hal ini dengan mengusap. Dan dalam pendalilan ini menunjukkan bahwa huruf ba’ (pada lafal bi ruusikum) adalah mempunyai fungsi littab’id.

Sedangkan YANG BENAR ADALAH: pendapat yang berlainan dengan syafi’iyyah yaitu: tidak mencukupi dalam mengusap kepala kecuali mengusap SELURUH BAGIAN KEPALA, sampai-sampai kalau kita katakan- huruf ba’ itu fungsinya menunjukkan sebagian sekalipun, karena sesungguhnya perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wasallam (dalam mengusap kepala) menunjukkan penjelasan yang harus dilakukan. Dan kaidah di kalangan para ulama berbunyi:
: بيان الواجب واجب
Menjelaskan sesuatu yang wajib (dilakukan) itu hukumnya wajib.
Jadi yang rojih dan benar adalah pendapat yang bertentangan dengan madzhab syafi’I, dan aku (penulis) katakan:
: لن أخرج عن المذهب إلا إذا خالف الدليل
Aku tidak akan pernah keluar dari madzhab syafi’I kecuali jika bertentangan dengan dalil.

Sedangkan dalilnya adalah sohih dan secara terang, hal ini menunjukkan bahwa tidak mencukupi mengusap kepala kecuali seluruhnya, maka barang siapa yang mengusap tiga helai rambut atau mengusap sebagian kepala maka tidak mencukupi wudlunya. Dan wudlu (mengusap kepala seluruhnya sohih meskipun) ini bertentangan dengan pendapat syafi’iyyah.

URUTAN MENGUSAP KEPALA
Yang benar mengusap kepala itu ada urutannya:
1)urutan yang pertama: mengusap sekali,
dan dalam madzhab syafi’I boleh mengusap kepala tiga kali, bahkan (juga) termasuk dari sunnah mengusap kepala tiga kali berdasarkan sebuah hadits dari Utsman bin Affan rodliallahu’anhu diluar riwayat bukhori muslim:
(أن النبي عليه الصلاة والسلام مسح رأسه ثلاثاً)
Bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam mengusap kepalanya tiga kali, disohihkan oleh Al-Albani rohimahullah.
Dan juga hadits riwayat Ali bin Abi Tholib
أنه توضأ ورفع الوضوء إلى النبي صلى الله عليه وسلم ومسح رأسه ثلاثاً
bahwa dia berwudlu, lalu dia mengangkat ember berisi air untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam: lalu Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengusap kepalanya tiga kali.

Dan kita menempatkan dalil sebagaimana tempatnya.
Sungguh terdapat dalil riwayat Utsman dan Ali Rodliallahu’anhuma (dan kaidah dalam ilmu mustolahul hadits berbunyi)
، وزيادة الثقة مقبولة
Dan ada tambahan (riwayat) dari yang tsiqoh (terpercaya) itu diterima riwayatnya.

HUKUM MENGUSAP SERBAN (‘IMAMAH)
Serban pada zaman salafus sholih dikenakan melingkar (mengikat) dijadikan sebagiannanya dibawah dagunya maka mereka mengenakan serban seperti ini, maka barang siapa yang ingin melepaskan serban setiap kali berwudlu maka sungguh merepotkan. dan dalam madzhab syafi’I diperbolehkan mengusap imamah, dengan syarat: mengusap pada bagian depan kepala (terlebih dahulu).

Dan dalil akan hal tersebut adalah hadits almughiroh bin syu’bah rodliallahu’anhu waardlohu bahwawa Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
مسح على مقدم الرأس ثم أكمل على العمامة
Mengusap bagian depan kepala kemudian menyempurnakannya pada serbannya

kita tidak menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama’ syafi’I tentang hukum ini.

HUKUM MENGUSAP KERUDUNG (KHIMAR) WANITA
Apakah mengusap serban (pada laki-laki) itu berlaku bagi kerudung bagi wanita ataukah tidak?
Dalam madzhab syafi’I terdapat dua pendapat
1)pendapat yang pertama: (dalam hukum mengusap kepala) bahwa kerudung itu menempati kedudukan serban, maka bagi seorang wanita boleh mengusap bagian depan kepala lalu menyelesaikannya dengan mengusap kerudungnya.

2)pendapat yang kedua dalam madzhab syafi’I adalah: (di dalam hukum mengusap kepala) kerudung tidak bisa menempati kedudukan serban.

Dan yang rojih dan sohih adalah: bahwa kerudung itu TIDAK BISA menempati kedudukan serban, dan inilah yang ditetapkan Allah dengannya.
1)Karena tidak terdapat kesuliatan bagi seorang perempuan untuk melepaskan kerudungnya. Adapun serban itu menyulitkan bagi laki-laki untuk melepasnya kemudian memakainya lagi dalam setiap kali wudlu.
2)Dan (alas an kedua) hukum asal bagi wanita adalah mereka berada di dalam rumahnya, maka yang benar Bahwa (dalam mengusap kepala) kerudung tidak bisa menempati kedudukan serban,

dan kaidah di kalangan para ulama’ berbunyi:
: أن ما خرج عن القياس فغيره لا يقاس عليه
Bahwa sesuatu yang keluar dari qiyas, lalu merubahnya maka tidak boleh ditetapkan qiyas padanya
أما غسل الرأس بدل مسحه فلا يصح؛ لأنه يعتبر زيادة وإساءة، والمسح بدل الغسل هو المشروع.
Adapun membasuh kepala sebagai pengganti mengusap itu tidak sah, karena denganya berarti terdapat tambahan dan pengrusakan, sedangkan mengusap sebagai pengganti membasuh (membasuh sambil meratakan) itu disayareatkan.

MEMBASUH KEDUA KAKI
DALIL KEWAJIBAN MEMBASUH KEDUA KAKI
Kewajiban wudlu yang keempat adalah: membasuh kedua kaki sampai mata kaki, dan dalil bahwa hal tersebut adalah salah satu rukun dari rukun-rukun wudlu adalah alquran, assunnah dan ijma’ ahlus sunnah.
(adapun dalil dari alquran) Allah ta’ala berfirman:
{وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ} [المائدة:6]
Dan usaplah kepalamu dan (basuhlah) kedua kakimu sampai kedua mata kaki

Dan kata ‘Arjulakum’ itu atof (ikut) kepada kata maghsul (memabsuh) bukan mamsuh (mengusap) ini adalah dalil dari alquran.
Adapun dalil dari assunnah bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(توضأ كما أمرك الله) ثم قال: (اغسل رجليك إلى الكعبين)
Berwudlulah sebagaimana yang Allah perintahkan kepadamu lalu bersabda: basuhlah kedua kakimu sampai kedua mata kaki

Dan dulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam jika berwudlu beliau membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki. Dan utsman rodliallahu’anhu berkata:
: (توضأ النبي صلى الله عليه وسلم نحو وضوئي هذا)
Wudlunya nabi shallallahu’alaihi wasallam seperti wudluku ini

Demikian pula riwayat dari Abdullah bin Zaid dan hadits Ali bin Abi Tholib rodliallahu’anhuma sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas.
Dan ummat sepakat bahwa membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki itu termasuk salah satu dari kewajiban wudlu, dan tidak ada perbedaan pendapat para ulama’ syafi’iyyah dalam masalah ini sebagaimana hal tersebut disebutkan oleh Annawawi rohimahullah.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah to be continued to part fourty three

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.