Syarah Matan Abu Syuja’ (41): TINGKATAN MEMBASUH WAJAH

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part fourty one

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

TINGKATAN MEMBASUH WAJAH
Membasuh wajah mempunyai beberapa tingkatan:
Yang pertama: yang mencukupi (dianggap cukup atau sah)
yang kedua: yang disukai
yang ketiga: yang sempurna, dan yang (berlebihan) diatas sempurna itu (justru) adalah yang kurang

Dan dalil dari tingkatan yang pertama adalah: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam
(توضأ مرة واحدة)
(pernah) Berwudlu (dalam mengusap setiap anggota) sekali sekali

Disini terdapat keterangan bahwa ini adalah batas minimal diwajibkannya (membasuh) dan di sana ada hadits DLOIF bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam berwudlu sekali, sekali, lalu bersabda: wudlu seperti ini (lah yang benar yang mana) Allah tidak akan menerima shalat (seseorang) kecuali dengannya.

2)tingkatan kedua: adalah disukai, disukai untuk membasuh mukamu (ketika berwudlu) dua kali, dua kali karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah berwudlu dan dalam membasuh anggota wudlu dua kali dua kali,

Adapun tingkatan yang ketiga adalah: sempurna yaitu membasuh wajah tiga kali, tiga kali sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan membasuh lebih dari tiga itu adalah KEKURANGAN sebagaimana perkataan Umar rodliallahu’anhu:
ما اكتمل شيء إلا وعاد إلى النقصان
Sesuatu yang sudah sempurna kalau ditambah malah kembali menjadi kurang (menjadi tidak sempurna)
Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

(فمن زاد فقد أساء وظلم)
Barang siapa yang menambah (membasuh lebih dari tiga kali) sungguh dia telah salah dan dzolim

Maksudnya orang yang menambah (membasuh lebih )dari tiga ( maksudnya empat kali keatas), (lalu) apakah tambahan itu membatalkan wudlu atau tidak?(jawabannya) Tidak membatalkan wudlu akan tetapi pelakunya berdosa karena hal tersebut. Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد)
Barang siapa yang melakukan suatu amalan dalam agama yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut Tertolak
Tambahan Membasuh tersebut ditolak dan asal wudlunya tidak ditolak.

HUKUM MEMBASUH JENGGOT YANG TERURAI KEBAWAH
Jenggot yang terurai kebawah yang (mana) keluar dari (pengertian) wajah, (maka) hukum membasuhnya ada dua pendapat dalam madzhab syafi’i:
1)pendapat yang pertama: disukai membasuhnya dan tidak wajib
dan sisi pendalilan pendapat ini dalam madzhab syafi’I adalah: bahwa jenggot itu ketika wajah menghadap (ke suatu arah), dan dia (tidak ikut) menghadap,akan tetapi dia menjulur di bawah wajah, (sehingga) mereka mengatakan: orang yang berwudlu disunnahkan membsuhnya.

pandapat yang kedua menurut para peneliti seperti: Arrofi’I, dan Annawawi rohimahumallah, mereka mengatakan: wajib membasuhnya.
Dan yang membedakan diantara dua qoul tadi adalah:
Berdasarkan pendapat kedua apabila jenggot yang menjulur ke bawah itu tidak dibasuh maka wudlunya tidak sah, sedangkan berdasarkan pendapat yang pertama wudlunya sah, dan jika DIBASUH maka itu yang lebih tepat.

Dan sisi pendalilan pendapat yang kedua adalah:kaidah ilmiah yang sangat agung yaitu:
أن المجاور يأخذ حكم ما جاوره
Sesuatu yang melewati itu hukumnya berdasarkan yang dilewati
Dan jenggot yang menjulur kebawah hingga di bawah wajah itu bersambung dengannya, maka hukumnya diambil dengan yang pangkal sambungannya (yaitu wajib).

HUKUM MEMBASUH BAGIAN DALAM MATA
Batas wajah adalah dari tempat tumbuhnya rambut kepala sampai janggut, dan wajah itu adalah sesuatu yang menghadap, dan yang bukan termasuk wajah diantaranya adalah: bagian dalam hidung, bagian dalam mulut, dan bagian dalam mata, dan KITA TIDAK MEWAJIBKAN bagi orang yang membasuh wajahnya untuk membasuh (bagian dalam)kedua matanya sebagaimana yang dilakukan sahabat Ibnu Umar rodliallahu’anhuma, dan sungguh para ulama’ mengingkari apa yang dilakukan ibnu Umar rodliallahu’anhuma tadi,
حتى أنه عمي بسبب ذلك.
sehingga dikisahkan dia buta disebabkan hal tersebut.

MEMBASUH KEDUA TANGAN SAMPAI KE SIKU
DALIL KEWAJIBAN MEMBASUH KEDUA TANGAN SAMPAI KE SIKU

Kewajiban yang kedua dari kewajiban wudlu adalah membasuh kedua tangan sampai ke siku, dan kewajiban membasuh tangan sampai ke siku disebutkan dalam dalil dari alkitab, assunnah dan ijma’ para ulama’ ahlus sunnah,

1)(adapun dalil dari al-kitab adalah) Allah Ta’ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} [المائدة:6].
Wahai orang-orang mukmin, jika kalian hendak mendirikan shalat maka basuhlah wajah kalian dan kedua tangan kalian sampai ke siku

2)(yang kedua yang dari sunnah) Dan dalam assunan disebutkan dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam ketika beliau mengetahui berwudlunya seorang arab badui (yang kurang tepat)maka bersabda:
(توضأ كما أمرك الله -ثم فسرها، وقال:- اغسل وجهك ويديك إلى المرفقين)
Berwudlulah seperti yang diperintahkan Allah kepada mu-kemudian menjelaskannya- dan bersabda: basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu samapai siku.

Adupun dalil dari sunnah yang berupa perbuatan: adalah hadits Abdullah bin Zaid rodliallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam
أخذ غرفة وغسل يديه إلى المرفقين
mengambil segayung air dan membasuh kedua tangannya sampai ke siku,

dan (sebuah hadits)dalam sohih muslim menyebutkan dari Abu Huroiroh rodliallahu’anhu wa ardlohu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam
غسل يديه حتى أشرع في العضد

Membasuh kedua tangannya sampai mengarahkan pada lengan atas

dan ummat telah sepakat bahwa wudlu seseorang itu tidak sah sampai dia membasuh kedua tangannya sampai siku

BATAS MEMBASUH KEDUA TANGAN
Batas membasuh kedua tangan adalah dari ujung jari-bukan dari pergelangan tangan- sampai siku Allah Ta’ala berfirman:

{فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} [المائدة:6]،
basuhlah wajah kalian dan kedua tangan kalian sampai ke siku

Dan kata الي (ila)di sini berarti مع (beserta) (sebagaimana lafal ila dalam) firman Allah ta’ala yang mengisahkan tentang nabi ‘Isa alaihis salam: bahwa dia berkata:
{مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ} [آل عمران:52]
Siapakah yang akan menong ku beserta Allah,
Berarti siapa kah yang mau menolongku (berjihad di jalan Allah) beserta Allah? Dan Allah (juga berfirman):
{وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ} [هود:52]
Dan Dia menambah bagi kalian kekuatan bersama kekuatan kalian
Maksudnya bersama kekuatan kalian (Allah menambahnya). Maka di sini terdapat keterangan bahwa kata الي di sini bermakna مع dan firman Allah Ta’ala:
{وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} [المائدة:6]
(basuhlah) kedua tanganmu sampai siku
Berarti (basuhlah kedua tanganmu) bersama (kedua) siku

HUKUM MEMBASUH ANGGOTA TAMBAHAN
Jika ternyata terdapat anggota tambahan pada tangan maka wajib untuk membasuhnya bersama anggota tersebut, misalnya (na’udzu billah) terdapat tambahan jari, maka wajib dibasuh bersama tangan, (lain halnya) apabila tangan terputus (tsumma na’udzu billah) di pergelangan, maka wajib membasuh tangan dari pergelangan sampai siku, jika terputusnya itu sampai siku, maka wajib membasuh siku yang tersisa, dan (dalam pengambilan hukum) gunakanlah kaidah berikut ini:
الميسور لا يسقط بالمعسور
Sesuatu yang mudah (dikerjakan) tidak menjadi gugur dengan adanya kesulitan (di dalamnya)

HUKUM MEMBASUH LENGAN ATAS
Telah cukup orang yang berwudlu itu dengan hanya membasuh kedua tangan satu kali, sebagaimana yang pernah dilakukan Nabi shallallahu’alaihi wasallam berwudlu (dengan membasuhnya) sekali sekali, dan disukai untuk membasuhnya dua kali dua kali, dan yang sempurna adalah membasuhnya tiga kali sebagaimana dijelaskan dalam assohih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan TAMBAHAN DALAM KESUKAAN adalah menambah dalam membasuh SAMPAI lengan atas karena Abu Huroiroh rodliallahu’anhu waardlohu melakukannya dan memberitahukannya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam (dan nabi tidak melarang/ini berarti taqrir), dan ini adalah dalil (akan membasuh tangan sampai lengan atas) yang dari sunnah yang berasal dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

HUKUM MENGGERAK-GERAKKAN CINCIN KETIKA MEMBASUH TANGAN
Cincin itu mempunyai tiga keadaan:
Yang pertama: (terlalu sempit sehingga) sesak
Yang kedua: longgar
Yang ketiga: pertengahan (tidak sempit dan tidak longgar)

1)Jika cincin tersebut sesak maka ketika membasuh tangan atau telapak tangan wajib menggerak-gerakkannya, dan hukum ini berlaku umum bagi wanita maupun laki-laki, maka wajib menggerak-gerakkannya untuk memastikan sampainya air pada jari, maka jika tidak menggerak-gerakkan cincin (yang sesak tadi) maka wudlunya tidak sah, karena air tidak sampai pada bagian dari jari.
2)Dan jika cincin itu pertengahan (tidak sesak dan tidak longgar) maka tidak wajib menggerak-gerakkan akan tetapi sunnah sebab lebih besar kemungginannya air sampai pada jari tersebut (dengan digerak-gerakan).
Adapun jika cincin tersebut longgar maka tidak wajib menggerak-gerakkan sebagaimana sudah jelas (karena air pasti sampai pada jari dengan mudah).

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part fourty two

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.