Syarah Matan Abu Syuja’ (40): KEWAJIBAN-KEWAJIBAN WUDLU DAN KESUNAHAN-KESUNAHANNYA

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part fourty

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN WUDLU DAN KESUNAHAN-KESUNAHANNYA
Seoran g muslim wajib berwudu sesuai dengan yang diperintahkan Allah Ta’ala, dan sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah menjelaskan dengan sunnahnya yang berupa ucapan dan perbuatan, para ulama’ fikih memisahkan hukum-hukum wudu dan menjelaskan kewajiban-kewajibannya dan berbagai masalah yang berkaitan dengannya.

MEMBASUH WAJAH DALAM WUDLU
DALIL WAJIBNYA MEMBASUH WAJAH
Kewajiban pertama berwudlu adalah membasuh wajah, atau mengalirkan air pada wajah, dan kewajiban membasuh wajah dalam berwudlu di tunjukkan dalam dalil Al-Kitab/Al-Quran, as-sunnah dan konsensus para ulama’ ahlussunnah.
1)Adapn dalil dari Al-Quran adalah firman Allah Ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ} [المائدة:6]
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajahmu
Ini adalah perintah, dan dzohir dari perintah (pada keumumannya)berarti hukumnya adalah wajib.
2)Dan dalil atsar-atsar berupa perkataan, perbuatan dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, sebagaimana hadits al a’robi, dia berkata:
(إذا قمت إلى الصلاة فتوضأ كما أمرك الله)
Jika engkau hendak berdiri melakukan shalat maka berwudlu lah seperti yang diperintahkan Allah kepadamu
Dan dalam riwayat yang lain secara penafsiran berbunyi:
(توضأ كما أمرك الله فاغسل وجهك)
Berwudlulah seperti yang dipertintahkan Allah kepada mu dan basuhlah wajahmu

Ini adalah dalil yang dari ucapan,
Adapun dalil yang dari perbuatan, adalah hadits Abdullah bin zaid dan Abdullah bin Abbas dan hadits Ali bin Abi Tholib dan hadits Abu Hurairah rodliallahu’anhum, semuanya menunjukkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam
غرف غرفة وأخذ الماء وغسل به وجهه بأبي هو وأمي
demi bapakku dia dan ibuku beliau mengambil gayung lalu mengambil air dan membasuh wajahnya

3)Dan ulama’ sepakat bahwa membasuh wajah itu termasuk Rukun wudlu, maka barang siapa berwudlu dan belum terpenuhi membasuh wajah maka wudlunya tidak sah dan shalatnya batal, karena wudlunya tidak sempurna.

BATAS MEMBASUH WAJAH
Batas membasuh wajah adalah: dari tempat tumbuhnya rambut kepala sampai dagu (adziqnu) dan dagu adalah tempat bertemunya dua lihyah (jenggot) Dan batasnya secara melebar adalah dari mulai telinga kanan sampai telinga kiri, dan pengertian wajah adalah
كل ما واجه به
semua (bagian) yang dengannya (digunakan) menghadap.

APAKAH TELINGA MASUK DALAM PENGERTIAN WAJAH?
Apakah telinga mausuk dalam bagian wajah?
1)Dalam satu pendapat iya masuk bagian wajah, dan
2)dalam pendapat yang lain tidak termasuk wajah,

dan sebelum kita mentarjih yang terkuat dari dua pendapat ini kita harus mengetahui apa faidah dari membicarakan dua pendapat ini? Fidahnya adalah:
1)jika dia termasuk dari wajah maka wajib dibasuh. jika tidak dibasuh wudlunya tidak sah.
1)Dan madzhab syafi’I mengatakan bahwa telinga bukan bagian dari wajah berdasarkan dalil dari hadits dan (berdasar) pengertian secara bahasa:
1)adapun dalil dari hadits adalah hadits yang diperbincangkan para ulama’ dan disohihkan oleh syaikh Al-Albani rohimahullah bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(الأذنان من الرأس)
Kedua telinga itu bagian dari kepala.
Dan beliau shallallahu’alaihi wasallam TIDAK BERSABDA BAGIAN DARI WAJAH, maka hukumnya adalah HUKUM MENGUSAP KEPALA,
2)adapun dalil secara bahasa adalah bahwa wajah itu adalah SESUATU YANG MENGHADAP, sedangkan telinga bukanlah yang menghadap.

2)(pendapat kedua datang) dari Azzuhri rohimahullah berkata: telinga itu bagian dari wajah. (lalu) apakah dalilnya bahwa dia termasuk bagian dari wajah?
Yaitu dalil bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersujud dan berdoa:
(سجد وجهي للذي خلقه وشق سمعه وبصره)
Aku bersujud meletakkan wajahku untuk Dzat yang menciptakannya dan memisahkan (dengan sujud itu dari kedua) Pendengarannya dan (kedua)penglihatannya

(dalam dalil tadi) telinga dan mata dikaitkan (dalam satu kata di dalam doa) sehingga masuk dalam pengertian wajah.

(TARJIH)
Akan tetapi dalam penelitian yang cermat bahwa kedua telinga itu BUKAN BAGIAN DARI WAJAH karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
(الأذنان من الرأس)
Kedua telinga itu bagian dari kepala

Seandainya masuk bagian wajah tentu beliau akan bersabda dua telinga itu bagian dari wajah.

Dan dalil yang sudah kita sebutkan (dalam sujud ) tadi bukan lah menunjukkan akan bagian ini, akan tetapi
menunjukkan pada Rububiyyah Allah yang maha perkasa dalam ketinggiannya,
dan kekuasaan Allah, bahwa Allah ketika menciptakan wajah (simetris) sebelah baginya (terdapat) pendengaran sebelah bagiannya (terdapat) penglihatan. Dan nabi shallallahu’alaihi wasallam berdoa kepada Allah dan menjelaskan secara jelas akan rububiyyah Allah dan kekuasaan (Nya).

HUKUM MEMBASUH RAMBUT YANG TUMBUH DI WAJAH
Rambut yang tumbuh di wajah adalah rambut yang menghalangi (kulit wajah), kumis, rambut yang tumbuh di bawah bibir (anfaqoh),dan idzar/jambang (rambut yang tumbuh di sisi pipi di hadapan telinga) yang di dasar wajah yang dekat dari dasar telinga. Kita katakan: rambut-rambut ini wajib dibasuh baik yang luar maupun yang dalam, maksudnya harus meratakan (air ke) bagian kulit terluar (wajah) ketika membasuh, kalau membasuhnya ada bagian (kulit) terluar (wajah) yang terlewat maka wudlunya tidak sah, maka wajib membasuh wajahmu dan meratakan/menggosok sehingga kelihatan (kulit) bagian terluar dari bawah rambut ini basah, karena Allah yang maha perkasa dalam ketinggiannya berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا} [المائدة:6]
Wahai orang-orang yang beriman jika kamu hendak melakukan shalat maka basuhlah (wajahmu..)

Dan pengertian membasuh adalah: membasahi yang luar dan dalam kecuali jika terdapat keterangan yang menjelaskan perkecualiannya (seperti pada jenggot yang lebat).
Dan juga nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(الصعيد الطيب طهور المسلم وإن لم يجد الماء عشر سنين، فإذا وجد الماء فليمسه بشرته)،
Jika tidak ada air (walaupun sampai) sepuluh tahun (maka), Debu yang baik itu (bisa sebagai) alat bersucinya orang islam, dan jika mendapatkan air maka ratakanlah (kulit) bagian terluar (anggota wudlu).

Maka tidak boleh tidak harus sampainya air pada bagian kulit terluar (anggota wudlu).

Adapun (tentang membasuh) lihyah (jenggot) seseorang dibagi menjadi tiga:
Haliq (laki-laki yang mencukur jenggot) para ulama’ menyebutnya amrod (laki-laki yang memang tidak tumbuh jenggotnya) bukan haliq sehingga tidak membaca demikian, maka mereka mengatakan: pembagian seorang berdasarkan lihyahnya dibagi menjadi tiga:
1)Yang pertama: amrod, dan amrod adalah orang (laki-laki) yang tidak tumbuh rambut wajahnya (termasuk jenggot).
2)Yang kedua orang yang memiliki lihyah/jenggot tipis
3)Yang ketiga orang yang memiliki lihyah/jenggot tebal

1)Adapun amrod, maka para ulama’ sepakat bahwa harus meratakan bagian (kulit) terluar karena dalil yang telah berlalu
2)Sedangkan orang yang memiliki lihyah/jenggot tipis mereka berpendapat: wajib membasuh lihyah ini secara luar dalam, dan hukum menyela-nyelai adalah wajib.
Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengambil segenggam air dan menyela-nyelai lihyahnya dan berkata:
(هكذا أمرني ربي)
(wudlu) seperti ini yang diperintahkan Tuhanku kepadaku
Sebagaimana disebutkan dalam sunan abu daud,
Menyela-nyelai lihyahnya (dengan air) itu ada dua keadaan,
1)jika jenggotnya tipis maka wajib menyela-nyelai, karena termasuk dari menyempurnakan meratakan bagian kulit terluar,
2)dan jika jenggotnya tebal maka tidak wajib menyelanyelai akan tetapi disukai/sunnah,

Jika jika ada yang mengkritik tentang jenggot yang tebal (yang tidak wajib disela-selai): (kalau tidak wajib menyela-nyelai berarti bisa terjadi kemungkinan) tidak meratanya dalam membasuh dan meratakan bagian kulit terluar wajah sedangkan Allah berfirman: maka basuhlah, dan membasuh itu luar dan dalam (bagaimana penjelasannya)?
(maka jawabnya)
Dan diriwayatkan dalam hadits abu huroiroh rodliallahu’anhu waardlohu, bahwa mereka shalat dibelakang nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam shalat yang bacaannya sir (dzuhur atau asar) kita mengetahui bacaan beliau (yang sir) shallallahu’alaihi wasallam dari gerakan jenggot beliau, dengan (dalil)ini kita mengetahui bahwa JENGGOT BELIAU ADALAH LEBAT.
Dan diriwayatkan dalam albukhori bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam berwudlu

توضأ مرة مرة، ومرتين مرتين، وثلاثاً ثلاثاً
(cara membasuhnya) sekali sekali, dua kali dua kali, tiga kali tiga kali).
Dan sungguh nabi shallallahu’alaihi wasallam (pernah)berwudlu dengan membasuhnya sekali, DAN MEMBASUH SEKALI ITU TIDAK MUNGKIN BISA MERATAKAN DALAM MEMBASUH BAGIAN KULIT TERLUAR DIBAWAH JENGGOT, hal ini menunjukkan KESUNAHAN menyela-nyelai jenggot yang tebal dan tidak wajib menyela-nyelainya, (dan kaidah fikih mengatakan)
والمشقة تجلب التيسير
Dimana ada kesulitan maka di situ terdapat hukum yang mudah
وكلما جاء العسر جاء اليسر.
Dan setiap ada kesulitan maka disitu terdapat hukum yang dipermudah.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part fourty one

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.