Syarah matan Abu Syuja’ (39): BERBAGAI PERSOALAN YANG DIPAHAMI DARI WAKTU-WAKTU NIAT DALAM MADZHAB SYAFI’I

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :thirty nine

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

BERBAGAI PERSOALAN YANG DIPAHAMI DARI WAKTU-WAKTU NIAT DALAM MADZHAB SYAFI’I

jika kita berkata: ini adalah waktu niat maka wajib bagi kita untuk menggambarkan secara ilmu fikih dan menetapkannya,
1)(contoh yang pertama) seseorang berwudlu lalu membasuh kedua telapak tangannya sebelum berniat lalu berkumur-kumur tiga kali dan belum berniat, kemudian memasukkan air ke hidung baru berniat, kemudian menyempurnakan wudlunya, maka bagaimana hukum wudlunya? Dan masuk kategori mana waktu niat baginya? Apakah waktu mencukupi (ijza’), waktu disukai, ataukah yang diperselisihkan?
Jawabnya adalah: bukan waktu yang diperselisihkan karena dia memulai berniat pada waktu disukai yaitu ketika memasukkan air ke dalam hidung

2) (contoh yang kedua) Seseorang berwudlu dan ketika membasuh kedua telapak tangan pada basuhan yang pertama belum berniat,yang kedua (juga) belum berniat, dan yang ketiga baru berniat untuk mengangkat hadats, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, kemudian membasuh wajahnya kemudian menyempurnakan wudlu apakah wudlunya dianggap sah apa tidak?
Jawabanyya: wudlunya dianggap sah, karena waktu niatnya adalah waktu yang disukai.

3)(contoh yang ketiga) Seseorang membasuh kedua telapak tangannya dan belum berniat, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dan belum berniat, kemudian dia lupa, lalu membasuh wajah dan berniat, apakah wudlunya sah apa tidak?
Jawabannya: jika niat menghilangkan hadats atau pembolehan shalat tersebut ketika membasuh wajah, lalu menyempurnakan wudlunya maka sah karena itu adalah wakutu yang mencukupi/dianggap sah (ijza’).

4) (contoh yang keempat) Seseorang berwudlu lalu membasuh kedua telapak tangannya dan belum berniat, kemudian kumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dan belum berniat, kemudian membasuh wajah dan belum berniat, kemudian membasuh kedua tangan sampai siku, kemudian berkata: niat adalah salah satu rukun dari rukun-rukun wudlu, lalau mengusap kepalanya dan berniat, kemudian membasuh kedua kakinya bagaimana hukum wudlunya?
Jawabnya itu tidak bisa disebut wudlu, karena niatnya tidak berada pada waktu yang mencukupi, dan bukan pada waktu yang disukai, dan bukan pula pada waktu yang diperdebatkan, maka wudlu ini tidak sah, wajib baginya mengulangi maka orang ini bersih hatinya dan bukan bersih wudlunya.

LAFAL NIAT DAN CONTOHNYA
Niat (dalam berwudlu) itu mempunyai dua sifat (makna):
1)yang pertama: mengangkat hadats,
2)yang kedua pembolehan melakukan shalat

1)Adapun niat mengangkat hadats seperti seorang yang buang air kecil kemudian cebok lalu kita berkata padanya: jika kamu berwudlu maka niatkanlah untuk menghilangkan hadats.
Adapun sifat yang kedua yaitu pembolehan shalat, dan gambarannya seperti: (seseorang) bewudlu setelah buang angin dan hendak melakukan shalat lalu berwudlu, kita katakan padanya: jika engkau niatkan untuk pembolehan shalat maka sungguh (Secara otmatis) hadats terangkat, dan kaitan antara dua sifat tadi adalah hubungan TANAZUL, atau kita katakana UMUM DAN KHUSUS

Atau ini mecakup yang ini, maka ketika berniat untuk pembolehan shalat sudah otomatis mencakup mengangkat hadats, karena tidak mungkin shalatnya mencukupi tanpa terangkatnya hadats berdasarkan sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam
(لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ)
Allah tidak menerima shalat salah seorang kalian yang berhadats sehingga dia berwudlu

Maka diterimanya shalat tidak bisa tidak padanya pasti harus terangkat hadats (nya), dan niat pembolehan shalat mencakup (pula) mengangkat hadats, dan terangkatnya hadats mewajibkan pembolehan shalat, adapun jika hadatsnya terangkat maka sesungguhnya shalatnya dengan sifat ini adalah sah karena hadits tersebut.
*

PENGGOLONGAN MANUSIA DALAM SIFAT NIAT
Menurut sifat niat ini manusia terbagi menjadi tiga pembagian:
1)yang pertama: orang yang tidak mendapat keringanan (sama sekali) yaitu orang yang disembuhkan dari penyakit.
2)yang kedua: orang yang mengambil keringanan seperti memakai dua khuf * dan mengusap keduanya.

*((khuf adalah alas kaki yang dipakai orang pada zaman nabi shallallahu’alaihi wasallam, pada zaman ini boleh kita qiaskan dengan sepatu atua kaus kaki), mengusap kedua khuf termasuk keringanan dalam berwudlu sebagai ganti membasuh kedua kaki, diantara syarat mengusap kedua khuf diantaranya: ketika memakai khuf dalam keadaan suci, untuk musafir 3×24 jam, untuk mukim 1×24 jam, khusus bagi orang yang berhadats kecil bukan hadats besar (junub), yang diusap punggung kaki bukan telapak kaki, ketika shalat khufnya tidak dilepas.)

3)Yang ketiga: adalah orang yang mempunyai udzur/memiliki alasan syar’i

1)orang yang pertama: umumnya manusia yang tidak mengambil keringanan, dan mereka adalah orang yang Allah sembuhkan dari penyakit, maka mencukupi bagi mereka berniat pembolehan shalat atau niat mengangkat hadats.

(contohnya)jika seseorang berdiri, lalu berwudlu dan niatnya untuk mengangkat hadats, lalu shalat, (maka) shalatnya sah, wudlunya sah, dan niat dalam hal itu adalah mencukupi, maka jika dia termasuk orang yang menjima’ istrinya (berhubungan suami istri) sehingga dia junub, maka dia masuk (menjima’) lalu mandi dan berniat untuk pembolehan shalat, maka niat ini mencukupinya, dan shalatnya sah.

Jadi orang yang disembuhkan dari penyakit, diperbolehkan adakalanya berniat untuk pembolehan shalat, atau (berniat) mengangkat hadats, jika dia berniat mengangkat hadats maka mencukupinya, dan jika berniat untuk pembolehan shalat maka juga mencukupinya.
Niat mana saja dari keduanya dia boleh shalat dengannya, karena sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(إن الله لا يقبل صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ)
Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat salah seorang kalian yang berhadats sehingga dia berwudlu
Dan firman Allah ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا} [المائدة:6]
Wahai orang-orang yang beriman jika engkau hendak melakukan shalat maka basuhlah (wajahmu)

Maksudnya jika kamu berkeinginan untuk diperbolehkan melakukan shalat, maka (basuhlah) maksudnya berwudlulah, dan niat di sini adalah untuk PEMBOLEHAN melakukan shalat.

2) pembagian yang kedua: adalah orang yang mengusap dua khuf, pada masalah ini bagi para ulama’ madzhab syafi’I ada dua qoul,

1)qoul yang pertama: tidak mencukupi baginya niat mengangkat hadats, akan tetapi harus berniat pembolehan shalat, berarti: jika seseorang berdiri pada (tempat yang ber) suhu dingin menusuk (berkeinginan) melakukan shalat subuh, dia berdiri dalam keadaan memakai kedua khufnya, dan ketika memakainya (Khuf tersebut) dalam keadaan suci, lalu berwudlu dan mengusap kedua khufnya (sebagai ganti membasuh kaki) AKAN TETAPI niatnya adalah mengangkat hadats lalu shalat, ketika ditanya (bagaimana hukumnya)?
banyak dari para ulama madzhab syafi’I berkata padanya:shalat kamu tidak sah karena niat kamu tidak mencukupi dalam hal ini, karena mengusap kedua khuf itu TIDAK BISA mengangkat hadats.

2)dan qoul yang kedua dalam madzhab syafi’I dan ini yang ROJIH DAN SOHIH adalah: bahwa MENGUSAP DUA KHUF BISA MENGANGKAT HADATS, maka dia bisa berniat pembolehan shalat atau berniat mengangkat hadats, dan ini adalah pendapat yang dirojihkan oleh imam Nawawi, jadi dalam madzhab syafi’I bahwa qoul yang pertama itu dhoif, jadi yang benar dalam madzhab syafi’I :bahwa jika dia mengusap dua khufnya dan berniat untuk pembolehan shalat atau mengangkat hadats maka shalatnya sah dan wudlunya pun menjadi sah

3) adapun yang ketiga adalah: mereka orang yang sakit yang mempunyai udzur/alasan syar’I, seperti orang yang menderita salasil baul (buang air kecil terus), dan istihadhoh (keluar darah terus bagi wanita), dan infilatir rih (buang angin terus), maka ulama’ syafi’I dalam hal ini mempunyai tiga qoul:

1)Qoul yang pertama: mencukupi jika dia berniat pembolehan shalat, contohnya: seorang wanita mengeluarkan darah (istihadzoh) secara terus, dan ketika ditanya maka kita jawab: kamu adalah orang yang menderita istihadzoh, dan darah yang keluar ini adalah darah keringat (atau) darah rusak, darah penyebab masalah (illat) bukan darah haidh, maka ketika engkau hendak melakukan shalat, maka engkau bertanya: bagaimana (cara) niatku?
Maka jawabnya adalah: engkau berniat pembolehan shalat
2)Qoul yang kedua: mencukupi baginya berniat mengangkat hadats dan pembolehan shalat, maka jika engkau niat pembolehan shalat ini telah cukup, dan jika engkau berniat mengangkat hadats (juga) telah cukup, dan DISUKAI apabila berniat dengan dua niat tadi,

contohnya: seorang laki-laki dia menderita salasil baul (buang air terus), maka ketika telah cebok dia membalutkan (kain) pada kemaluannya, lalu berwudlu dan berniat mengangkat hadats maka berdasarkan qoul yang kedua ini telah cukup (sah), jika berniat pembolehan shalat juga telah mencukupi, dan kita berpendapat: DISUKAI–agar keluar dari perbedaan madzhab—sekiranya engkau menggabungkan dua niat yaitu: mengangkat hadats dan pembolehan shalat.

3)Qoul yang ketiga: mewajibkan menggabungkan dua niat, niat mengangkat hadats dan niat pembolehan shalat,

Dan yang ROJIH dalam madzhab syafi’I (ini) adalah qoul yang PERTAMA: CUKUP BERNIAT PEMBOLEHAN SHALAT, karena hadatsnya terus berjalan (disebabkan penyakit), dan darah tidak berhenti, dan air seni (pun)terus memercik.
*

(CONTOH) BERBAGAI KASUS DALAM PENGGOLONGAN MANUSIA DALAM SIFAT NIAT

1)Seorang laki-laki berkata: saya orang yang mengenakan dua khuf, dan saya ingin melakukan shalat, maka aku berwudlu, maka ketika (membasuh kaki aku menggantinya dengan) mengusap dua khuf (ku), dan aku berniat pembolehan shalat lalu aku shalat, maka niat (ku)ini mencukupi (bagiku)ataukah tidak?
Jawabnya adalah hal itu mencukupi baginya

2)Dan contoh yang lain: seorang laki-laki berwudlu dan mengusap dua khufnya, dan ketika awal berwudlu berniat mengangkat hadats, maka apakah niat ini mencukupi?
Maka jawabnya: menurut pendapat yang rojih hal ini MENCUKUPI (baginya) karena mengusap dua khuf bisa mengangkat hadats,

3)Contoh lain: seorang wanita yang menderita istihadzoh (keluar darah terus) (ketika masuk waktu shalat) dia membersihkan tempat keluar darah lalu membalutnya, kemudian berwudlu dan berniat dalam wudlu ku ini untuk mengangkat hadats, lalu aku shalat dzuhur, maka apakah niat (mengangkat hadats) ini mencukupi (bagiku)?

Maka jawabnya: berdasarkan qoul yang pertama dan ketiga tidak mencukupi, akan tetapi berdasarkan qoul yang kedua mencukupi (baginya).

Dan semoga shalatwat Allah dan keselamatan (dari-Nya) atas nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabat seluruhnya, amin.
Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thank you for your attention, Insya Allah to be continued to part fourty

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.