Syarah Matan Abi Syuja’ (34): WAKTU-WAKTU DISUNNAHKAN BERGOSOK GIGI

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :thirty four

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

WAKTU-WAKTU DISUNNAHKAN BERGOSOK GIGI

Disunnahkan bergosok gigi dalam segala keadaan, akan tetapi ada waktu-waktu yang lebih ditekankan untuk bergosok gigi di dalamnya. Termasuk dari waktu-waktu tersebut adalah:

1)ketika hendak melakukan shalat, maka sebelun takbirotul ihrom hendaknya bersiwak.
Sungguh terdapat hadits yang banyak yang menerangkan keutamaan bergosok gigi, (bagaimana bisa ada) para penuntut ilmu, para ulama’ fikih, mereka tidak bergosok gigi! Sungguh meruginya hamba-hamba Allah (yang tidak bergosok gigi), dan ditekankan bergosok gigi ketika hendak shalat, dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah memerintahkan seorang sahabat yang mulia untuk bergosok gigi dengan bersabda:
(لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك)
Seandainya tidak memberatkan ummatku niscaya akan kuperintah mereka untuk bergosok gigi (setiap kali hendak shalat).
Dan dalam Assunan disebutkan: bahwa sebagian sohabat rodliallahu’anhum menaruh siwak pada telinga tempat menaruh pena, sehingga mereka tidaklah masuk ke dalam shalat kecuali siwak bersama mereka, karena begitu sungguh-sungguhnya terhadap sunnah nabi ini, dan siwak/bergosok gigi masuk dalam keumuman firman Allah Ta’ala:
{يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ} [الأعراف:31]
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid*, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih- lebihan
*(Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling Ka’bah atau ibadat-ibadat yang lain.)

Manusia jika mengunjungi orang penting, dia ingin tampil terbaik, dan termasuk dari penampilan yang baik adalah bergosok gigi, maka manusia ketika berdiri di depan Tuhannya untuk shalat, dia berdiri di tempat yang agung, maka seyogyanya dia dalam keadaan yang terbaik, dan termasuk keadaan terbaik adalah bergosok gigi, Ibnu Daqiq Al-‘Id rohimahullah berkata: “Barangkali perintah nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk menggunakan siwak ketika akan shalat itu karena orang yang shalat akan membaca Al-Quran, dan akan mendekatkan diri kepada sang raja, oleh karena itu nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang untuk meludah ke kanannya atau mencium wajahnya”.
Jadi waktu pertama ditekannya bergosok gigi adalah ketika hendak melakukan shalat,

2) dan waktu yang kedua yang mana ditekankan di dalamnya untuk bergosok gigi adalah ketika akan berwudlu, para ulama’ berkata: tempatnya ketika membaca tasmiyyah (bismillahirrohmanirrohim), dan pendapat yang lain: tempatnya ketika membasuh kedua tangan, maka dia menggosok gigi, kemudian melanjutkan setelah itu dengan mencuci mulut, dan (dalam) persoalan (ini) ada keluasan. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda dalam assunan:
(لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل وضوء)
Seandainya (saya) tidak (Khawatir) membertakan umatku niscaya akan ku perintahkan mereka untuk bergosok gigi setiap kali wudlu
Hadits ini secara sorih menyebutkan kesunnahan bergosok gigi ketika berwudlu.

3)Waktu yang ketiga: yang ditekankan untuk bergosok gigi adalah ketika bangun tidur, atau setelah makan, atau setelah diam yang lama, atau setelah berbicara panjang, karena hal-hal tersebut dapat merubah aroma mulut (menjadi bau tidak sedap) dan dalam hadits ‘Aisyah rodliallahu’anha wa ardloha nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(السواك مطهرة للفم)
Bergosok gigi itu dapat membersihkan mulut.

Dan dalam Assohih disebutkan dari Abu Musa Al-Asy’ari rodliallahu’anhu wa ardlohu berkata:
(دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم والسواك على طرف لسانه)
Saya mendatangi nabi shallallahu’alaihi wasallam dan ketika itu siwak berada di tepi lidahnya
Dan pada hadits tersebut terdapat keterangan-sebagaimana dijelaskan oleh alhafidz ibnu hajar rohimahullah- bahwa penggunaan siwak tidak terbatas pada gigi saja bisa juga untuk membersihkan anak lidah dan lidah, beliau berkata:
(دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم فوجدت السواك على طرف لسانه يستاك به كأنه يتهوع يقول: أع، أع).
Saya mendatangi nabi shallallahu’alaihi wasallam dan aku mendapatkan siwak pada tepi lidah beliau, (beliau) membersihkan dengannya seakan-akan seperti muntah berkata: “a’ a’)

Dan dalam assohih disebutkan dari Khudzaifah rodliallahu’anhu wa ardlohu berkata:
(كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام من الليل يشوص فاه بالسواك)
Dulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam ketika hendak berdiri qiyamul lail, menggosok mulut beliau dengan siwak
Karena tidur menyebabkan berubahnya aroma mulut, demikian pula ketika makan, atau lama berdiam, atau lama berbicara semua itu bisa merubah aroma mulut (menjadi tidak sedap), dan sunnah nabi ini tidak boleh tidak seseorang (harus) mengamalkannya, dan saya akan bertanya pada para penuntut ilmu, Apakah ada diantara kalian yang mempersiapkan siwak di sisinya ketika akan tidur (agar nanti) ketika terbangun langsung menggunakan siwak? Ini adalah sunnah nabi shallallahu’alaihi wasallam, jika engkau melakukannya dengan niat beribadah maka engkau akan diberi pahala, dan juga engkau diridloi tuhanmu dan mulutmu jadi bersih.
Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan sunnah ini sama sekali, sehingga beliau menjelang sakaratul mautpun tidak meninggalkan siwak.

4)Dan termasuk waktu yang ditekankan untuk bergosok gigi (yang keempat) adalah: ketika masuk ke dalam rumah, kita disyareatkan untuk tidak meninggalkannya selamanya, dan betapa indahnya syareat ini, dan termasuk dari keindahan syareat kita adalah firman Allah ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا} [النساء:19]،
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa *1 dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata*2 Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

*1 Ayat ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. Menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. Janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi.
*2 Maksudnya; berzina atau membangkang perintah.
Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(خيركم خيركم لأهله، وأنا خيركم لأهله)
Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya diantara kalian.

Dan ‘Aisyah rodliallahu’anha wa ardloha ditanya: apa yang pertama kali dilakukan Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika masuk ke dalam rumah? Beliau menjawab:
: (كان يتسوك)
Beliau menggosok gigi

Dan bergosok gigi mempunyai kandungan hukum yang besar, dan bau mulut yang wangi menyenangkan (memikat) perempuan, dan bergosok gigi menambah kelembutan (keharmonisan) antara laki-laki dan istrinya, dan bau mulut yang tidak enak menyakiti pada salah satu antara laki-laki atau istrinya, dan nabi shallallahu’alaihi wasallam sangat bersungguh-sungguh untuk tidak tercium dari beliau Kecuali bau yang wangi.

(karena cemburu yang bergejolak pada diri beliau, maka) ibunda ‘Aisyah rodliallahu’anha hendak mencegah Nabi shallallahu’alaihi wasallam agar meninggalkan (agar tidak mendatangi) tempat duduk ibunda zainab rodliallahu’anha setelah shalat asar, ketika itu beliau shallallahu’alaihi wasallam baru saja meminum madu di sana (di sisi ibunda ‘aisyah), kemudian berkata: wahai rosulullah, aku mendapatkan bau getah pohon maghofir (yang tidak enak) dari (mulut) mu, maka beliau mengharamkan untuk diri beliau madu (yang tadi diminum di sisi ibunda ‘aisyah), dan Allah menegurnya (dengan firman-Nya):

(يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (1)
(Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang *(qs.attahrim:1)
*imam Bukhari dan imam Muslim rohimahumallah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam pernah mengharamkan dirinya minum madu untuk menyenangkan hati isteri-isterinya. Maka turunlah ayat teguran ini kepada Nabi.)

Dan nabi shallallahu’alaihi wasallam gemar untuk mengenakan bau wewangian, dan ini adalah kebiasaan orang-orang solih, dan nabi shallallahu’alaihi wasallam memakai wangi-wangian sebelum berkawan dengan seseorang, sesungguhnya dia adalah kawannya jibril ‘alaihis salam yang (mana dia) banyak menjumpainya.
5)Dan juga termasuk waktu yang ditekannkan untuk bersiwak (yang ke-5) adalah ketika akan membaca Al-Quran, dan membaca Al-Quran adalah dzikir yang paling utama, (yang mana) makanan ruh adalah dzikir kepada Alah yang maha perkasa dalam ketinggian-Nya, dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(لا يزال لسانك رطباً بذكر الله)
Tidak henti-hentinya lisanmu basah karena dzikir kepada Alah

Bacalah Al-Quran, karena bagi kalian setiap huruf itu ada satu kebaikan, saya tidak berkata alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.

Jika seseorang memabca Al-Quran maka seorang malaikat akan mendatanginya dan mendekat pada orang yang membaca Al-Quran, duhai BETAPA BESARNYA keutamaannya, malaikat tersebut mendekat sehingga MELETAKKAN MULUTNYA pada mulut si pembaca (agar Al-Quran yang penuh berkah masuk pada tubuh malaikat tadi).

Maka seyogyanya bersungguh-sungguh agar mulut pembaca Al-Quran itu bau wangi, karena malaikat meletakkan mulutnya pada mulut anak adam, dan dalam hadits disebutkan:
(إن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنو آدم).
Sesungguhnya malaikat itu (juga merasa) tersakiti dengan (bebauan yang tidak enak) yang menyakiti anak adam.

6)Dan termasuk dari tempat yang disunnahkan bergosok gigi (yang ke-6)adalah ketika berkumpul dengan manusia, ketika seseorang berdekatan dengan sahabatnya, kemudian saling bercakap-cakap, maka ketika bau mulutnya itu wangi maka membahagiakan hati (sahabatnya), (sebaliknya) ketika bau mulutnya tidak enak, maka sebagian orang akan menjauh (darinya) atau (tidak menjauh tapi menahan diri karena menjaga perasaan) dan merasa tersakiti karenanya.

7)Dan termasuk dari tempat yang disunnahkan bergosok gigi (yang ke-7)adalah ketika sakit yang membawa kematian (sakarotul maut) Sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan beliau (sedang) berada pada pangkuan ‘Aisyah rodliallahu’anha, meminta siwak, dan beliau shallallahu’alaihi wasallam bersiwak.

Al imam alkhotib asy-syarbini menyebutkan faidah yang banyak sekali dari bergosok gigi ketika sakit yang membawa kematian, Diantaranya adalah: memudahkan keluarnya ruh, menetapkan masuk ke surga-surga, memudahkan menyebut kalimat Lailahaillallah
Dan tidak ada orang yang memanjangkan akan kalimat ini,

Dan kita selalu menggunakan dalil sebagaimana yang dimaksud dalil (dengan sebenarnya), dan (dalam menetapkan hukum) kita mencukupkan dengan perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang bergosok gigi ketika (beliau) sakit yang membawa kematian, sehingga disunnahkan bagi orang yang sakit yang membawa pada kematian (sakarotul maut) untuk bergosok gigi atau orang yang di dekatnya membantunya (bergosok gigi).
HUKUM BERGOSOK GIGI SETELAH ZAWAL BAGI ORANG YANG BERPUASA
Menurut para ulama’ syafi’iyyah dan hambali-yang mana mereka tidak sependapat dengan jumhur- berpendapat: termasuk waktu yang dimakruhkan untuk bergosok gigi adalah setelah zawal bagi orang yang berpuasa, dan batasan yang pertama adalah:
1)orang yang berpuasa, dan batasan
2)yang kedua setelah zawal ( makna zawal adalah masuknya waktu dzuhur yang mana bayang-bayang benda sudah bergeser ke timur/matahari tepat di atas kepala dan sedikit kebarat),

1)(yang pertama) mereka berdalil dengan dalil yang banyak diantaranya: sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك)
Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi dari pada minyak kasturi

Dan pada hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas sekali bahwa bau mulut orang yang berpuasa adalah hasil dari (lamanya waktu puasa) itu di sisi Alah lebih wangi daripada minyak kasturi, mereka berkata: dan bau ini adalah bau yang harum disisi Allah dan dimakruhkan menghilangkan bau yang harum di sisi Allah yang maha perkasa dalam ketinggian-Nya tersebut.

2)(yang kedua)Mereka juga berdalil dengan perkataan Umar bin Alkhottob rodliallahu’anhu:
[يكره للصائم أن يستخدم السواك بعد الزوال]
Dimakruhkan bagi orang yang berpuasa untuk menggunakan siwak setelah zawal.

3)(yang ketiga) mereka juga berdalil dengan dalil-dalil yang lain diantaranya hadits:
(إذا يبست شفة الصائم تكون له نوراً يوم القيامة)
keringnya bibir orang yang berpuasa itu akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat kelak.
Dan hadits ini sangat doif yang tidak boleh berdalil dengannya.
.
4)(yang ke empat) Mereka juga berdalil dengan Nadzor: bahwa bau mulut orang yang berpuasa itu adalah bekas/tanda orang yang sedang beribadah, dan sungguh dijelaskan dalam syareat bahwa bekas ibadah itu MAKRUH untuk dihilangkan, oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wasallam selesai mandi (janabah), beliau diberi handuk kecil (untuk mengusapnya) beliau menolak dan tidak mengambilnya, dan para ulama’ berdalil dengannya bahwa bekas dari ibadah itu makruh dihilangkan, (MESKIPUN) dari pendalilan ini ADA YANG PERLU DIKRITISI, akan tetapi (mereka) berdalil (lagi) bahwa syareat memerintahkan untuk mengubur jenazah orang yang mati syahid* bersama darah dan pakaiannya (tanpa dimandikan dan dikafani). Dan ini adalah dalil bahwa bekas dari ibadah itu makruh untuk dihilangkan. Mereka berkata:
وخلوف فم الصائم هو أثر الصوم، فيكره إزالته باستخدام السواك،
Dan bau (tidak sedap dari) mulut orang yang berpuasa itu adalah bekas dari puasa, maka makruh untuk dihilangkan dengan bergosok gigi,

(Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain syafi’iyyah lain pula jumhur) Sedangkan jumhur ulama’ berpendapat akan KEMUTLAKAN (SUNNAHNYA) bergosok gigi (MESKIPUN) bagi orang yang sedang berpuasa (baik) SEBELUM MAUPUN SESUDAH ZAWAL, dan dalam setiap waktunya. Dan para peneliti dari madzhab (syafi’i) SEPAKAT dengan pendapat jumhur (INI), seperti misalnya: imam An-nawawi dan ibnu abdis salam al muzani (rohimahumallah), mereka berdua berpandangan bahwa kesunahan bergosok gigi adalah MUTLAK,

1)(yang pertama) mereka berdalil dengan keumuman dalil seperti hadits nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة)
Seandainya (aku tidak khawatir) akan memberatkan umatku niscaya akan kuperintahkan mereka bergosok gigi setiap kali akan shalat.

Sisi pendalilannya adalah KEUMUMAN DALIL, sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam
(كل صلاة
“setiap kali akan shalat”
masuk di dalamnya shalat dzuhur, asar,

2)(yang kedua mereka juga berdalil dengan) keumuman hadits ‘Aisyar rodliallahu’anha wa ardloha berkata: Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(السواك مطهرة للفم مرضاة للرب)
Gosok gigi itu dapat membersihkan mulut dan dapat meyebabkan Allah Ta’ala Ridlo
Dan padanya (dapat dipahami) SECARA UMUM, sama (SAJA DALAM KESUNAHAN) baik sebelum zawal ataupun setelahnya, bagi orang yang berpuasa maupun tidak berpuasa,

3)(yang ketiga) mereka juga bedalil dengan hadits dloif dari Umar bin Robi’ah rodliallahu’anha berkata:
: (أكثر ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يستخدم السواك وهو صائم)
Kebanyakan aku melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam bergosok gigi adalah pada saat beliau berpuasa
Dan keumuman hadits-hadits tadi (yang pertama dan yang kedua yang) telah lalu (sudah cukup kuat yang mana) tidak butuhnya dari ini (hadits yang ketiga yang dloif tadi),

4)(yang keempat) mereka berdalil dengan Annadzor: mereka berkata:
السواك مرضاة للرب، فاستخدامه فيه رضا الرب جل في علاه حتى لو كان فيه إزالة أثر عبادة.
Bergosok gigi itu menjadi penyebab ridlo Allah, dengan melakukannya (dalam perbuatan tersebut) terdapat ridlo Allah yang maha perkasa dalam ketinggian-Nya, bahkan misalnya harus dengan menghilangkan bekas ibadah (sekalipun).

Sedangkan para ulama’ syafi’iyyah rohimahumullah BERPEGANG TEGUH terhadap MAKRUHNYA (bergosok gigi bagi orang puasa setelah zawal) dengan hadits:
(لخلوف فم الصائم عند الله أطيب من رائحة المسك)
Sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi dari minyak kasturi

DAN BANTAHAN KEPADA MEREKA DARI DUA JALAN
1)Yang pertama:
Bahwa hadits (bau mulut orang yang puasa) ini adalah (hadits) MUJMAL*1 sedangkan hadits kami (seandainya tidak takut memberatkan niscaya akan memerintahkan bergosok gigi setiap kali wudlu) yang umum adalah (hadits) MUHKAM*2 yaitu: menjadikan sebab bersihnya mulut dan menjadi sebab keridloan Allah, dan demikian pula hadits “pada setiap kali akan melakukan shalat” maka hadits umum ini adalah muhkam, dan hadits umum ini kita tidak bisa untuk dikhususkan (karena hadits tersebut adalah hadits muhkam)

2)Dan bantahan yang kedua yang mana ini LEBIH KUAT (bantahannya yaitu) bau mulut ini muncul karena LAMANYA WAKTU Dan bergosok gigi bisa menghilangkan bau tersebut.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part threty five

—–

End note

(*1 MUJMAL: menurut syaikh utsaimin rohimahullah dalam kitabnya al ushul min ‘ilmi ushul, kata MUJMAL secara bahasa berarti: mubham/ sesuatu yang belum jelas/sesuatu yang masih samar; dan almajmu’/sesuatu kumpulan; adapun secara istilah MUJMAL berarti: suatu kata yang hanya bisa dipahami dengan kata yang lainnya adakalanya dengan ta’yin/penjelasan, atau bayan/keterangan, atau sifat, atau jumlah,

1)contoh (yang pertama)penjelasan makna Quru’ dalam surat albaqarah ayat 228
{وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ}[البقرة: من الآية228]
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ *.
*lafal Quru’ bisa berarti suci atau haidh, sehingga Kata quru’ masih MUJMAL, Maka untuk mengetahui makna yang benar dibutuhkan dalil/ta’yin apakah maknanya itu mengarah pada makna suci ataukah haid.

2)Contoh (yang kedua):penjelasan tata cara shalat dalam perintah Allah “dan dirikanlah oleh kalian shalat”(Qs.Albaqarah:43); tata cara shalat masih MUJMAL sehingga dijelaskan dengan dalil dalam hadits “shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”

3)Contoh (yang ketiga) “dan bayarlah zakat oleh kalian” besarnya nilai harta yang harus dibayarkan sebagai zakat masih MUJMAL sehingga dijelaskan dalam dalil hadits yang intinya 1/40 untuk zakat mal, 1/10 untuk zakat tanaman yang tidak memakai biaya pengairan, 1/20 untuk zakat tanaman yang menggunakan biaya pengairan dst.)
(*2 MUHKAM; untuk memahami kata muhkam mari kita membaca surah ali imran ayat 7 Berikut ini
هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ (7)
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang MUHKAMAT*1, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ada ayat-ayat) MUTASYABIHAAT*2. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
—-
1*Ayat yang MUHKAMAT ialah ayat-ayat yang TERANG DAN TEGAS maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
2*Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat adalah: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan TIDAK DAPAT DITENTUKAN ARTI MANA YANG DIMAKSUD KECUALI SESUDAH DISELIDIKI SECARA MENDALAM; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.