Syarah Matan Abi Syuja’ (37): SYARAT-SYARAT WUDLU

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :thirty seven

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

SYARAT-SYARAT WUDLU

1)yang pertama yang Termasuk dari syarat-syarat wudlu adalah Islam, dalil akan hal tersebut bahwa Allah yang maha perkasa dalam ketinggiannya bersabda:
{وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ} [النساء:124].
Dan barang siapa yang beramal kebaikan baik laki-laki ataupun perempuan sedangkan dia adalah ORANG BERIMAN
(seseorang harus) beriman agar amal sholihnya diterima, dan nabi shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa islam atau iman itu adalah syarat dari diterimanya amal, sebagaimana disebutkan dalam assohih dari ‘Aisyah rodliallahu’anha waardloha bahwa dia bertanya kepada beliau shallallahu’alaihi wasallam tentang Abdullah bin zaid bin jad’an, (‘Aisyah menyebutkan bahwa dia itu orang yang gemar memuliakan tamu, menolong yang membutuhkan, suka berderma dan memuliakan orang, kemudian bertanya:
يا رسول الله! ما له عند الله جل في علاه؟
Wahai Rosulullah, apa yang diperolehnya di sisi Allah (dari balasan amal baiknya)? Beliau shallallahu’alaihi wasallam menjawab:
(لا شيء له، إنه ما قال يوماً: رب اغفر لي خطيئتي يوم الدين)
Dia tidak mendapatkan (balasan kebaikan) sedikitpun, (sebab) hari ini (ketika dia masih di dunia) dia tidak berdoa: ya Robb ampunilah kesalahanku pada hari kiamat
Maka segala kebaikan yang dilakukannya itu pahalanya DISEGERAKAN DI DUNIA dan dia TIDAK MENDAPATKAN APA-APA di sisi Allah kelak (na’udzu billah) karena dia menghadap (Allah) bukan dalam keadaan Islam, Allah Ta’ala berfirman:
{وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ} [التوبة:54]
Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya
Jadi, kekafiran itu menjadi sekat dan penghalang dari diterimana amal

2)Syarat yang kedua yaitu Tamyiz (telah pandai/telah berakal) bukan baligh (telah mimpi basah), karena nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(علموا أولادكم الصلاة لسبع)
Ajarkan anak-anak kalian shalat pada umur tujuh tahun
Dan umur tujuh tahun ini adalah umur tamyiz (bisa memahami yang baik dan yang buruk ketika diajari), dan sebagian ulama’ beristimbath (mengambil kesimpulan hukum) dari hal ini bahwa awal usia tamyiz adalah tujuh tahun, jadi perintah shalat dimulai pada umur tujuh tahun, dan tidak mungkin disuruh shalat terkecuali jika telah terpenuhi syaratnya, dan termasuk dari syarat tersebut adalah TAMYIZ, karena sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(علموا أولادكم الصلاة لسبع واضربوهم عليها لعشر)
Ajari anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah ketika umur sepuluh tahun (tetapi tidak mau shalat=pukulan di sini bukan pukulan had, tapi pukulan ta’zir yaitu pukulan untuk menakut-nakuti tidak sampai melukai kulit dan menyakiti fisik)

3)Syarat yang ketiga: adanya air mutlak, dan air mutlak adalah air yang terbebas dari segala batasan, dia adalah air yang tohur yaitu air yang suci pada dirinya dan mensucikan yang lainnya (look part fourteen) Allah ta’ala berfirman:
{وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا} [الفرقان:48]
Dan Kami menurunkan air dari langit itu yang bersifat suci mensucikan
Jadi: syarat SAH nya wudlu adalah: tidak berwudlu dengan air yang bercampur dengan (dengan sesuatu yang suci) air tohir (air suci tidak mensucikan), karena berwudlu dengan air yang tohir (suci tidak mensucikan) tidak SAH wudlunya, jadi termasuk dari syarat wudlu adalah berwudlu dengan air mutlak, yitu air yang bebas dari batasan, yaitu air yang sifatnya sesuai dengan ketika diciptakan,
4)syarat yang ke empat: mengetahui tatacara berwudlu, sebagaimana dulu ( cucu Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam) hasan dan husain mengajari seorang tatacara berwudlu

5) Syarat yang ke lima: tidak adanya PENGHALANG dan kebanyakan yang melakukannya adalah perempuan, dan tidak adanya penghalang ini maksud kami adalah: kitek/cat pada kuku, dan simpul/ikatan pada rambut, dan demikian pula tato dan yang semisalnya, maka jika ada sesuatu yang menutupi (yang menghalanig sampainya air) pada tangan maka itu juga menjadi penghalang, tidak sah wudlunya karena adanya hal tersebut,
(contoh kasus) misalnya seorang wanita bercerita: dia berwudlu untuk shalat subuh, lalu shalat dan membaca alquran dan duduk di majlis, atau di masjid dan berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit kemudian masuk waktu dzuhur lalu berwudlu dan shalat, kemudian masuk waktu asar lalu shalat, kemudian masuk waktu maghrib kemudian ketika aku berwudlu (bersamanya) aku melihat ada kitek pada kuku-kukunya maka apa yang harus kulakukan?
Kita telah mempelajari dalam ilmu fikih bahwa wudlu yang SAH itu harus terpenuhi segala syarat-syaratnya, dan termasuk dari syarat tersebut sehingga sah wudlunya adalah: TIDAK ADANYA PENGHALANG, dan sungguh terdapat penghalang berupa kitek, itu menghalangi dari sampainya air pada albasyaroh (bagian badan/kulit terluar/termasuk kuku/kulit dibawah kuku),dan jelaslah bahwa lewatnya air pada bagian tersebut ada penghalang, oleh karena itu HILANGNYA syarat dari syarat-syarat wudlu tersebut, menjadikan wudlunya TIDAK SAH
6)syarat yang ke enam, mengalirnya air pada anggota tubuh walaupun tidak dengan ADDULK (pengusapan untuk meratakan air pada kulit), lain halnya ulama’ malikiyyah (yang mengharuskan addulk, berarti kalau seorang berdiri dan berkata: aku ingin berwudlu dan yang lain (juga) berdiri dan mengajarinya dengan berkata: basuh kedua tanganmu tiga kali, dan berkumur lalu masukkan air ke hidung lalu keluarkan tiga kali, dan basuh mukamu tiga kali, dan basuh kedua kakimu, dan melakukan hal tersebut di depannya dan melakukannya dengan meratakan, dan membasuh kedua tangannya sampai siku tiga kali, dan mengusap sebagian kepala tiga kali MENURUT MADZHAB SYAFI’I dan akan kita jelaskan tentang mengusap kepala tiga kali itu bagian dari sunnah, kemudian membasuh kedua kaki tiga kali, lalu orang tadi berdiri maka wudlu ini SAH
Demikian pula kalau terdapat air jatuh dari kran lalu mengalir kebawah dan air tersebut mengalir ke wajah, dan dia tidak meletakkan kedua tangannya padanya, lalu menjadikan air mengalir pada kedua tangannya, juga mengalir pada kepalanya dan mengusap pada kepalanya sehingga menjadi mengusap bukan membasuh, kemudian meletakkan kakinya yang kanan dan menjadikan air mengalir pada kakinya tanpa meratakan (dengan tangannya) kemudian berdiri melakukan shalat
Dan mengalirnya air pada anggota badan ini adalah syarat dari syaratnya wudlu, maka jika terpenuhi hal tersebut maka wudlunya SAH
Jadi yang benar adalah: menglirnya air pada anggota badan sehingga penuh prasangkaan anda bahwa air itu (benar-benar) telah sampai ke albasyaroh (permukann kulit terluar)
7) Dan juga termasuk syarat wudlu (yang ke tujuh) adalah: tidak adanya sesuatu yang menghalangi: maka harus terpenuhi syarat dan hilangnya penghalang, dan termasuk penghalang yang menghalangi sahnya wudlu adalah: janabah/junub (keluar mani baik dengan sengaja maupun melalui mimpi), haid, dan nifas, atau seseorang yang mandi, lalu setelah mandi ingin berwudlu lalu menyentuh kemaluannya

8) syarat yang ke delapan adalah tidak adanya yang memalingkan, maka tidak boleh tidak (harus) menghadirkan NIAT atau SELALU BERNIAT ketika akan berwudlu
9) Syarat yang ke Sembilan-syarat ini dikhususkan untuk orang yang punya udzur/masalah- seperti 1)orang yang mempunyai penyakit salasil baul (penyakit keluar air pipis keluar sedikit-sedikit setiap saat secara terus tanpa dapat di tahan) atau 2)penyakit infilatirrih (tidak dapat menahan buang angin, sebentar-sebentar buang angin) atau 3)perempuan yang keluar darah penyakit/ istihadhah yang mana darah keluar terus menerus, dan termasuk syarat sahnya wudlu (bagi mereka) adalah dia tidak berwudlu kecuali SETELAH MASUKNYA WAKTU SHALAT
Adapun sebelum itu tidak boleh tidak harus membasuh tempat, maksudnya beristinja’ (cebok) tidak boleh tidak harus membasuh tempat dengan (penuh) perhatian, dan termasuk syarat yang khusus bagi orang yang mempunyai alasan/udzur adalah 1)beristinja’ kemudian 2)berwudlu setelah itu secara langsung sampai wudlunya sah, maka ketika datang seorang wanita dan (kita) mendengarnya berkata: aku ini orang yang sedang keluar darah istihadzoh (darah penyakit), maksudnya keluar dariku darah secara terus-terusan dan tidak berhenti, apa yang harus aku lakukan (agar aku bisa melakukan shalat)?
Maka jawabannya adalah: engkau harus berwudlu dan menghilangkan hadatsmu, hal itu dengan menunggu waktu (masuknya shalat) kemudian engkau bersihkan tempatnya (keluar darah) kemudian engkau balut, baru wudlulah dan shalat setelah itu dan shalat sunah setelahnya, dan ini berlaku setiap kali shalat,
Jadi orang yang mempunyai alasan/udzur mereka mempunyai SYARAT KHUSUS yaitu: TIDAK BERWUDLU KECUALI SETELAH MASUK WAKTU SHALAT, dan sebelum berwudlu harus beristinja’ terlebih dahulu dan juga membalutnya atau mengenakan penghalang yang menutupi kemaluan, baru berwudlu dengan dengan muwalah (secara langsung) baru setelah itu melakukan shalat

PENGERTIAN SYARAT DAN CONTOH-CONTOH APLIKASINYA
Syarat adalah: apa yang harus ada dari sesuatu (perbuatan), maksudnya berkatian dengan (suatu perbuatan tersebut) dan bukan di dalam diri perbuatan itu, (sedangkan pengertian syarat) menurut ulama’ ahli ushul fikih adalah adalah:
ما يلزم من عدمه العدم، ولا يلزم من وجوده الوجود،
Sesuatu yang mengharuskan TIDAK DIANGGAPNYA (suatu ibadah/suatu perbuatan) apabila tidak adanya (syarat), dan (sesuatu yang) TIDAK MENGHALANGI (sahnya suatu ibadah/perbuatan ) (dengan) adanya (syarat) tersebut
Jika seseorang berkata: saya telah berwudlu, maka (kita katakan) shalatnya sah, jika dia berkata: saya belum berwudlu, maka (kita katakan) shalatnya batal,
maka kita tidak bisa menghukumi batalnya shalat secara langsung, karena dia terkadang telah membuang hajatnya di kamar mandi, kemudian berwudlu di dalam kamar mandi
Dan tema yang dimaksud (pada pembahasan kali ini) adalah: bahwa WUDLU ITU ADALAH SYARAT DI DALAM SHALAT, maka apabila shalat tanpa wudlu maka sungguh telah luput satu syarat dari syarat-syarat sahnya shalat, sehingga shalatnya TIDAK ADA, maksudnya dia ada dalam gerakan, akan tetapi tidak diterima dan tidak mencukupi sehingga wajib baginya mengulanginya
Jadi: makna kaidah ini:
ما يلزم من عدمه العدم، ومعنى: ولا يلزم من وجوده الوجود:
Seakan-akan seseorang berkata: sungguh saya mendengar Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda-demi bapakku dia dan ibuku- berkata:
(لا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن)
Tidaklah orang yang selalu menjaga wudlu kecuali dialah orang yang beriman
Oleh karena itu engkau tidak mendapatiku setiap saat kecuali dalam keadaan wudlu, maka dia pergi dan berwudlu, maka tidak mengharuskan kita untuk mengatakan: jika sudah punya wudlu maka tidak bisa tidak (harus/baru BOLEH) ada shalat, karena (tidak menghalangi sahnya shalat) (dengan) adanya (wudlu tersebut), akan tetapi dia harus berwudlu dan berbaring dari termpat tidurnya dalam keadaan wudlu, dan pada hal tersebut tidak ada masalah
Jadi pengertian syarat adalah:

لا يلزم من وجوده الوجود، لكن يلزم من عدمه العدم
(sesuatu yang) TIDAK MENGHALANGI (sahnya suatu ibadah/perbuatan ) (dengan) adanya (syarat) tersebut, akan tetapi mengharuskan TIDAK DIANGGAPNYA (suatu ibadah/suatu perbuatan) apabila tidak adanya (syarat)
(mohon maaf apabila terjemahan agak sulit dipahami)

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah to be continued to part thirty eight

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.