Syarah Matan Abi Syuja’ (38): RUKUN-RUKUN WUDLU

Nama Kitab : Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli : www.islam.net
Part : thirty eight

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

RUKUN-RUKUN WUDLU

Rukun-rukun wudlu-dan kewajiban-kewajiban wudlu- yang disebutkan penulis ada empat, padahal yang benar ada lima, bahkan sebagian ulama’ berkata: hal itu ada tujuh dengan menjadikan air mutlak sebagai rukun, dan yang benar adalah: bahwa dia (air mutlak) termasuk syarat bukan rukun
Dan kewajiban-kewajiban wudlu adalah:
1)NIAT, ini adalah yang rojih dalam madzhab (syafi’i), dan
2)membasuh wajah,
3)membasuh kedua tangan sampai siku maksudnya bersama membasuh kedua siku sebagaimana yang akan kita jelaskan, dan
4)mengusap kepala, dan
5)berurutan menurut yang sohih dan rojih

PENGERTIAN RUKUN
Rukun adalah: sesuatu yang masuk putaran, maksudnya yang masuk bagian dari sesuatu (perbuatan/ibadah), dia adalah:
ما يلزم من وجوده الوجود، ويلزم من عدمه العدم.
Sesuatu yang mengharuskan adanya (perbuatan/ibadah) dengan adanya rukun (tersebut),dan sesuatu yang mengharuskan tidak adanya (perbuatan/ibadah) dengan tidak adanya rukun (tersebut)
Misalnya dua kali sujud adalah salah satu dari rukun-rukun shalat: seseorang berdiri menghadap kiblat lalu takbirotul ihrom membaca alfatihah, dan membaca surah, ruku’ dan bangkit dari rukuk dan sujud pertama kemudian langsung berdiri tanpa melakukan sujud yang kedua, maka dengan begitu hilanglah satu rukun yaitu sujud sehingga
يلزم من عدمه العدم،
mengharuskan tidak adanya (tidak dianggapnya perbuatan/ibadah) dengan tidak adanya (salah satu) rukun
dan rukun juga berarti
يلزم من وجوده الوجو
mengharuskan adanya (dianggap sah perbuatan/ibadah) dengan adanya rukun

Maksudnya, anggap saya menginginkan shalat, lalu menghadap kiblat, lalu membaca (bacaan yang harus dibaca), rukuk,(bangkit dri rukuk lalu) sujud, kemudian duduk diantara dua sujud kemudian sujud, kemudian berdiri, maka sujud adalah salah satu rukun dari rukun-rukun shalat, dan (dalam rokaat ini) telah terpenuhi (rukun rukun tadi) sehingga:
يلزم من وجوده الوجود
mengharuskan adanya (sahnya perbuatan/ibadah shalat) dengan adanya rukun (tersebut)
Dan ini adalah “qot’an mujzi’” /sarat tercukupinya (untuk sahnya sebuah ibadah/perbuatan), sehingga rokaat di anggap SAH

Dan rukun-rukun wudlu ini, atau kewajiban-kewajiban (wudlu ini) menurut jumhur ulama’ engkau boleh mengistilahkannya sebagai: kewajiban-kewajiban wudlu,
1)lain halnya dengan para ulama’ madzhab hanafi (yang membedakan antara rukun dengan kewajiban-kewajiban) kecuali dalam (satu ibadah) yaitu ibandah haji (mereka menyamakannya)
,2)karena pada madzhab imam asy-syafi’I terjadi pembedaan antara istilah rukun dan kewajiban-kewajiban di dalam ibadah haji, atau (membedakan) antara kefardluan dan kewajiban
3)(demikian pula) para ulama’ madzhab hanafi yang membedakan antara kefardluan dan kewajiban

RUKUN YANG PERTAMA YAITU NIAT
PENGERTIAN NIAT SECARA BAHASA DAN ISTILAH
Niat secara bahasa adalah: alqosdu/maksud, atau irodah/keinginan dan ‘azm/hasrat
Dan pengertian niat menurut istilah adalah:
القصد المقترن بالفعل
Maksud yang dibarengi dengan perbuatan

Misalnya: seorang berdiri untuk shalat dzuhur, maka bersamaan dengan berdiri tersebut dibarengi dengan hasrat hati dan keinginan (melakukan shalat dzuhur), dia melakukan shalat dzuhur, maka dia berdiri dan menghadap kiblat, kemudian mengangkat kedua tangan bersamaan dengan itu dia meniatkan di dalam hatinya untuk melaksanakan shalat dzuhur,
Jadi secara istilah niat adalah
عزم القلب المقترن بالفعل
Hasrat hati yang dibarengi dengan melakukan perbuatan

TEMPAT NIAT
Tempat niat adalah di hati (pengertian hati secara fisik di sini adalah JANTUNG bukan lever)
Imam almawardi rohimahullah berpandangan bahwa tempatnya niat adalah di hati dan lisan sehingga menurutnya tidak cukup seseorang hanya meniatkan dalam hati saja kecuali harus dibarengi dengan melafalkan pada lisannya, jika seseorang berdiri dan ingin shalat dzuhur, maka dia berwudlu dan menghadap kiblat lalu berdiri dan shalat, dan di hatinya dia meniatkan shalat dzuhur dengan makmum maka dia mengucapkan: Allahu akbar, lalu shalat empat rakaat, maka menurut imam almawardi rohimahullah shalat yang seperti ini tidak sah, karena dia belum melafalkan niatnya

Beliau berpandangan bahwa niat itu tidak sah sehingga tidak boleh tidak (harus) meniatkan dalam hati dan melafalkannya dengan lisan, dan kemungkinan mereka berdalil dengan sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(ما لم تعمل أو تتكلم)
(sesungguhnya Allah tidak menganggap sebagai dosa terhadap keburukan yang terbisik dalam hati umatku) Selagi dia belum melakukannya atau mengucapkannya

Dan pendapat ini adalah syadz* di dalam madzhab (syafi’i)

*syadz adalah pendapat yang menyendiri yang bersebrangan dengan pendapat mayoritas yang lebih rojih

Dan yang benar adalah dalam madzhab syafi’I tempat niat itu berada di hati dan dalil akan hal tersebut adalah
(إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى)
Sesungguhnya dalam setiap perbuatan itu PASTI SUDAH ADA NIATNYA SECARA OTOMATIS (dalam hati), dan sesungguhnya setiap perbuatan seseorang itu (baik buruknya) tergantung pada niatnya

Maka niat itu tempatnya di hati karena niat adalah maksud hati atau perbuatan hati, dan niat adalah hasrat, dan hasrat termasuk salah satu dari perbuatan hati, dan Allah Ta’ala bersabda:
{بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ} [البقرة:225]
(Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu.
Dan perbuatan hati inilah yang KARENANYA SESEORANG DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN (oleh Allah Ta’ala).

Dan yang benar adalah tempatnya niat itu berada di hati, akan tetapi madzhab syafi’I MENYUKAI untuk melafalkan niat, maka barang siapa berwudlu, mengambil siwak kemudian bergosok gigi dan membaca bismillahirrohmanirrohim kemudian berkata:
نويت أن أتوضأ رفعاً للحدث، أو نويت أن أتوضأ لصلاة الظهر
Aku berniat wudlu untuk mengangkat hadats, atau aku niat berwudlu untuk melakukan shalat dzuhur,
Mereka mengatakan: hal tersebut DISUKAI,
Dan apabila dia berdiri untuk shalat maghrib dan berkata:
نويت أن أصلي المغرب ثلاث ركعات
Aku berniat shalat maghrib tiga rokaat
Lalu takbirotul ihrom hal ini DISUKAI dalam madzhab syafi’I, dan mereka menyandarkan hal ini pada imam asy-syafi’I rohimahullah, karena beliau ketika itu ditanya: bagaimana caranya seseorang itu memulai shalat? Beliau rohimahullah menjawab: DENGAN DZIKIR

Dan (mereka memahaimi bahwa) dzikir yang pertama adalah dengan melafalkan niat
Adapun yang BENAR DAN ROJIH dalam hal ini adalah: bahwa kita menempatkan sesuatu pada syariat kita sesuai pada tempatnya, bahwa sesungguhnya TIDAK ADA DALIL TENTANG MELAFALKAN NIAT, (adapun pendalilan mereka tentang melafalkan niat) dengan perkataan imam asy-syafi’I rohimahullah, bahwa shalat itu dimulai dengan dzikir, sesungguhnya (yang dimaksud imam syafi’I dengan perkataan tersebut) adalah TAKBIROTUL IHROM BUKAN MELAFALKAN NIAT, jika tidak maka tentu rosulullah shallallahu’alaihi wasallam sudah menjelaskannya di depan para sahabatnya, yang mana kesempatan tersedia dan para sahabat pun berkeinginan keras belajar, dan para sahabat rodliallahu’anhu melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam

Maka tidak ada (sama sekali walaupun riwayat) yang terpencil/sangat asing dan TIDAK ADA (sama sekali riwayat) yang datang, dan tidak pula riwayat tunggal, juga tidak (ditemukan sama sekali) riwayat yang syadz (sekalipun bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam) melakukanya baik dari mimpi (beliau) maupun dalam keadaan terjaga KECUALI mereka (para sahabat rodliallahu’anhum) telah meriwayatkan untuk kita, SEANDAINYA Nabi shallallahu’alaihi wasallam melafalkan niat pada waktu shalat niscaya para sahabat sudah meriwayatkan kepada kita, dan kalau hal itu adalah kebaikan niscaya Abu Bakar rodliallahu’anhu sudah melakukannya, dan kalau hal itu baik niscaya Umar rodlilallahu’anhu sudah melakukannya, dan kalau hal itu baik niscaya Utsman rodliallahu’anhu sudah melakukannya, kalau hal itu baik niscaya mereka rodliallahu’anhum sudah mendahului kita melakukannya

Maka ketika tidak ada riwayat yang sampai pada kita dari para sahabat rodliallahu’anhum, atau setidaknya dari perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wasallam maka kita berpendapat:
(melafalkan niat) BUKAN SUNNAH DAN TIDAK DISUKAI dan yang benar BAHWA NIAT ITU TEMPATNYA DI HATI tidak dengan melafalkannya.

MENURUT PENDAPAT YANG BENAR BAHWA KELUARNYA SESEORANG DARI RUMAHNYA MENUJU MASJID UNTUK MELAKUKAN SHALAT ITULAH NIAT SHALAT
Kita katakan: jika seseorang keluar dari rumahnya (menuju masjid ingin shalat) dan duduk di masjid, maka dia sudah OTOMATIS melakukan niat, dan kita tidak mempermasalahkan, kita (tidak berpendapat): bahwa ketika melakukan takbir harus menghadirkan niat (tidak), akan tatapi yang benar adalah kita katakan: jika seseorang telah keluar dari rumahnya dan BERMAKSUD DAN BERHASRAT untuk shalat (maka dia sudah melakukan niat).

WAKTU-WAKTU NIAT
Waktu pada niat itu ada tiga
1)yang pertama waktu ijza’ (mencukupi)
2)yang kedua waktu disukai
3)yang ketiga waktu yang diperdebatkan, yang para ulama’ berselisih tentangnya

1)adapun waktu ijza’ ini adalah yang PALING PENTING: maka niat DIANGGAP TIDAK SAH KECUALI (MAKSIMAL) KETIKA MEMBASUH RUKUN YANG PERTAMA DARI RUKUN-RUKUN WUDLU, dalam madzhab syafi’I rukun pertama dalam wudlu adalah: membasuh wajah berdasarkan firman Allah ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ} [المائدة:6]،
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu …
Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(إذا قمت إلى الصلاة فتوضأ كما أمرك الله).
Jika engkau hendak melakukan shalat maka berwudlulah sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu
Dan dalam riwayat lain dengan sanad yang sohih (rosulullah shallallahu’alaihi wasallam) bersabda
(توضأ كما أمرك الله، فاغسل وجهك)
Berwudlulah seperti yang diperintahkan Allah kepadamu, dan basuhlah wajahmu

Sehingga rukun yang pertama adalah: membasuh wajah, jadi waktu niat yang dianggap sah yang mana wudlu sudah bisa dikatakan SAH (maksimal) adalah (berniat) ketika mengambil air dengan kedua tangan dan membasuhkannya ke wajah, maka kalau membasuh kedua telapak tangan dan belum berniat, dan berkumur-kumur belum niat, dan memasukkan air ke hidung dalam keadaan belum niat, akan tetapi ketika mengambil air dan membasuh wajahnya (maksimal) dia harus NIAT WUDLU untuk menghilangkan hadats, atau niat untuk pembolehann shalat

Maka kita katakan: ini adalah waktu yang dianggap sah, (wudlu kamu) dianggap sah apabila meniatkannya (maksimal) ketika melakukan rukun yang pertama dari wudlu yaitu membasuh wajah.

2)Waktu yang kedua adalah waktu yang disukai, yaitu ketika membasuh kedua telapak tangan, maka ketika dia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali dan berniat untuk menghilangkan hadats atau berniat untuk pembolehan shalat maka kita katakan: ini adalah waktu yang disukai untuk niat.

3)Waktu yang ketiga adalah waktu yang diperedebatkan para ulama’yaitu berniat pada saat berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, kemudian ketika membasuh wajah dia belum berniat, atau kita katakan: belum berniat (sampai) ketika membasuh wajah. Dan itulah dan sudah diketahui bahwa berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung menurut madzhab syafi’I hukumnya adalah sunnah,

1)sebagian yang lain mengatakan: bahwa hidung dan mulut itu termasuk bagian dari wajah, dan itu masuk dalam (awal rukun) yaitu ketika membasuh sebagian wajah (bersamaan dengan itu) berniat, maka sah wudlunya, atau dianggap sah karena dia berniat bersamaan dengan melakkukan rukun (yang pertama)

2)Pendapat yang kedua sesungguhnya (niat berwudlu bersamaan dengan ketika berkumur dan memasukkan air ke hidung) itu dianggap tidak sah, karena (maksimal) dia tidak meniatkannya pada saat rukun (yang peratama). Yang benar adalah: hal tersebut TIDAK SAH, bahkan (kalau mau sah wudlunya) tidak boleh tidak (harus) berniat (maksimal) ketika memabasuh rukun yang pertama dari rukun-rukun wudlu,

atau kita katakan: ini jika niat itu (setelah membasuh wajah/saat berkumur), adapun jika niat itu (sebelum membasuh wajah) seperti (pain) yang pertama yang disukai maka hal tersebut SAH

Kita katakan: seseorang membasuh kedua telapak tangannya dan belum berniat, maka ketika dia berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dia berniat, dan sebelum membasuh wajah belum niat dan langsung membasuh wajah, kedua tangan dan mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki, maka dia belum berniat ketika membasuh rukun yang pertama maka para ulama’ sungguh telah berbeda pendapat akan hal ini:

1)diantara mereka ada yang mengatakan: sesungguhnya dia berniat ketika membasuh sebagian rukun (yang pertama) yaitu hidung jadi wudlunya dianggap SAH,
2)dan yang lain berpendapat (wudlunya) dianggap TIDAK SAH karena dia belum berniat ketika membasuh rukun (yang pertama) dan ini lah yang lebih tepat dan lebih benar.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah to be continued

4 comments

  • Toto - Bekasi

    Ustadz saya pernah mendengar bahwa tidak sah wudhu seseorang tanpa diawali dengan membaca bismillah
    Shahihkah ini ?

    Lalu bagaimana jika kita wudhu di kamar mandi yg ada jambannya sedangkan ada larangan membaca ayat al Qur’an ditempat tersebut

    Syukron ustadz

    • Ustadz Hindra Kurniawan

      bismillahirrohmanirrohim. alhamdulillah washallallah ‘ala nabiyyina muhammad.
      untuk kesohehan hadits nanti saya carikan keterangannya insya Allah krn ini sdng di jalan.

      saya pernah diajari guru saya untuk menyiasatinya adalah:
      1)ketika mau masuk kamar mandi baca bismillah dan wudlu di dalam dngn bismillah dibaca diluar, atau
      2)ambil air segayung dan wudlu diluar kamar mandi

      • Toto - Bekasi

        Bagaimana kalo dibaca dalam hati saja?

        • Ustadz Hindra Kurniawan

          Bismillahirrohmanirrohim, Alhamdulillah washallallahu’ala nabiyyina muhaammad.
          Maaf agak terlambat jawabannya karena pulang malam:
          Syaikh rohimahullah menyebutkan:

          MEMBACA BISMILLAHIRROHMANIRROHIM KETIKA BERWUDLU
          Dan termasuk KESUNATAN dalam berwudlu adalah: membaca bismillahirrohmanirrohim ketika membasuh kedua telapak tangan, dan banyak dalil-dalil tentangnya diantaranya:
          1) adalah hadits nabi shallallahu’alaihi wasallam ketika kesulitan air, lalu meminta wadah yang berisi sedikit air, lalu meletakkan kedua tangan beliau pada air lalu keluar air dari jari-jemari Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu bersabda:
          (توضئوا باسم الله)
          berwudlulah kalian dengan membaca bismillahirrohmanirrohim

          2)Demikian pula hadits yang didloifkan oleh syaikh Al-Albani rohimahullah akan tetapi disohihkan oleh sebagian ahli hadits yaitu hadits:
          (كل أمر ذي بال لم يذكر فيه اسم الله فهو أقطع)،
          segala urusan yang dilakukan ketika tidak disebutkan padanya nama Allah maka akan terputus (dari keberkahan).

          3)Juga hadits sorih bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
          (لا صلاة لمن لا وضوء له، ولا ضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه)
          tidak ada shalat orang yang tidak berwudlu, dan tidak ada wudlu orang yang tidak membaca bismillahirrohmanirrohim padanya.
          dan hadits ini para ulama’ berbeda pendapat (tentang kesohihannya) dan syaikh Al-Albani dan yang lainnya mensohihkannya.

          Dan yang dimaksud dengan sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam
          (لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه)
          tidak ada wudlu orang yang tidak membaca bismillahirrohmanirrohim padanya
          maksudnya WUDLUNYA TIDAK SEMPURNA, dan tidak mungkin sesuatu yang negative itu disandarkan pada hal yang ada (wujud), karena seseorang itu membasahi anggota wudlu, dan tidak disandarkan pada keabsahannya, karena Allah yang maha perkasa dalam ketinggiannya berfirman:

          {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ} [المائدة:6]
          wahai orang-orang yang beriman: jika kamu hendak melasanakan shalat (maka basuhlah mukamu) (QS.Almaidah:6)

          (padanya) tidak meyebutkan bacalah bismillahirrohmanirrohim, dan nabi shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam assunan bersabda kepada seorang arab pegunungan,
          (توضأ كما أمرك الله)
          berwudlulah kamu sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu,

          dan (Allah TIDAK berfirman):
          سم الله جل في علاه
          bacalah bismillahirrohmanirrohim/sebutlah nama Allah yang maha perkasa dalam ketinggiannya(ketika berwudlu)

          (aplikasi dalil)

          1)Maka jika seseorang berwudlu dan lupa ternyata tidak membaca bismillahirrohmanirrohim setelah membasuh kedua telapak tangannya dan wajahnya maka kita berpendapat sebagai berikut: lakukan sebagaimana yang kamu lakukan dalam makanan, jika kamu lupa membaca bismillahirrohmanirrohim maka bacalah
          باسم الله أوله وآخره.
          dengan nama Allah pada awal dan akhirnya

          2)Adapun jika setelah selesai membasuh kaki, maka tidak perlu membaca bismillahirrohmanirrohim, lain halnya makanan, karena membaca bismillahirrohmanirrohim setelah selesai makan menjadikan syetan memuntahkan makanannya, adapun (pada wudlu) di sini tidak terdapat akar masalah/illat ini (sehingga tidak perlu membaca bismillahirrohmanirrohim).

          3)Dan al ghozali beserta sebagian besar ulama’ syafi’iyyah rohimahumullah menyebutkan, doa membaca setiap (membasuh) anggota wudlu, padahal tidak ada dalil tentangnya, sedangkan dasar dari ibadah adalah tauqifi (bersumber pada dalil alquran dan hadits, ini menunjukkan bahwa membaca doa setiap membasuh anggota itu tidak dibenarkan)

          (kesimpulan saya)
          (1)(hukum membaca bismillahirrohmanirrohim dalam berwudlu itu masuk kesunatan yang menjadikan wudlunya sempurna, dan apabila ditinggalkan maka wudlunya sah walaupun tidak sempurna)
          (2)(apabila berwudlu di dalam kamar mandi maka tidak perlu membaca bismillahirrohmanirrohim karena tidak boleh berdizikir di kamar mandi, kalau mau membaca maka membacanya dilura, apabila dia membacanya di dalam, maka dia berdosa karena melanggar larangan, meskipun wudlunya sah).
          (3)(yang namanya membaca itu bukan membatin, arti membaca adalah mulutnya bergerak dan keluar suara, jadi membaca bismillahirrohmanirrohim itu dengan suara walaupun lirih terdengar telinga sendiri)
          (wallahu a’lam)

Tinggalkan Balasan ke Ustadz Hindra Kurniawan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.