Syarah Matan Abi Syuja’ (36): PASAL KEWAJIBAN-KEWAJIBAN WUDLU DAN KESUNAHAN-KESUNAHANNYA

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :thirty six

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

PASAL KEWAJIBAN-KEWAJIBAN WUDLU DAN KESUNAHAN-KESUNAHANNYA

Termasuk dari salah satu syarat sahnya shalat adalah: wudlu, dan wudlu itu mempunyai syarat-asyarat, kewajiban-kewajiban dan kesunahan-kesunahan yang dikenal di kalangan para ulama’, yang mana sebagiannya mereka berbeda pendapat. Dan termasuk kewajiban-kewajiban wudlu adalah: niat, dan niat itu tempatnya di hati, dan dia mempunyai waktu dan sifat, yang mana (hal tersebut) berbeda berdasarkan keadaan manusia ketika sehat, sakit dan yang semisalnya.

HUKUM-HUKUM WUDLU
إن الحمد لله نحمده، ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران:102].
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء:1].
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب:70 – 71].
أما بعد: فإن أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
penulis (abu syuja’ rohimahullah) berkata: pasal kewajiban-kewajiban wudlu dan kesunahan-kesunahannya, dan kewajiban-kewajiban wudlu itu ada enam hal:
1) niat ketika membasuh wajah,
2) membasuh wajah,
3)membasuh kedua tangan sampai ke siku,
4)mengusap sebagian kepala,
5)memabasuh kedua kaki sampai mata kaki,
6)berurutan dari yang yang sudah kita sebutkan tadi.

PENGERTIAN WUDLU
Kata wudlu berasal dari isim masdar: tawaddloa yatawadlou WUDLUAN wawadluan, dan kata alwadlu (dengan huruf wau difathah) adalah nama dari air yang dipakai, atau air mutlak yan digunakan untuk bersuci menghilangkan hadats, atau pembolehan shalat, atau menghilangkan najis
Dan kata al wudlu (huruf wau di dlommah) adalah isim fi’il yang berarti: membasuh kedua tangan membasuh wajah mengusap kepala sampai akhir perbuatan atau (akhir) rukun wudlu atau (akhir) kesunahan-kesunahan wudlu. Ini adalah pengertian wudlu.

HAL-HAL YANG MEWAJIBKAN WUDLU
Hal-hal yang mewajibkan wudlu itu ada tiga:
Sebab yang menyebabkan (seseorang harus ber) wudlu
Telah disebutkan oleh al khotib asysarbiny rohimahullah penulis kitab al-iqna’ dan menyebutkan diantaranya:
1)hadats
2)Ingin mengerjakan shalat
3)Keduanya (dari no1 dan 2)

1)Adapun hadats masuk dalam hal yang mewajiban wudlu kita berdalil dengan hadits dalam assohih dari abu hurairah rodliallahu’anhu waardlohu berkata rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(إن الله لا يقبل صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ).
Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat salah seorang kalian yang berhadats sehingga dia berwudlu
Jadi orang yang buang angin, atau buang air (besar), atau buang air (kecil) kemudian dia beristinja/cebok, maka dia telah mewajibkan dirinya untuk berwudlu jika dia hendak melaksanakan shalat, dan kewajiban (berwudlu disini) dibatasi ketika dia hendak melakukan shalat, dan kewajiban tersebut diluaskan (tidak harus dilakukan) jika belum masuk waktu shalat.

2)Adapun hal yang mewajibkan wudlu yang kedua adalah: ingin melakukan shalat, jika masuk waktu shalat maka kita katakan: wajib atas kalian berwudlu karena Allah yang maha perkasa dalam ketinggiannya berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} [المائدة:6]
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku (Sampai akhir ayat)

dan ini juga termasuk yang mewajibkan wudlu, karena seseorang tidak bisa berdiri di depan Tuhannya kecuali dalam keadaan suci, shalat dalam keadaan suci yang utuh dan sempurna, jika seseorang berhadats lalu (langsung) melakukan shalat dan dia mengetahui bahwa dia shalat tanpa wudlu maka orang ini adalah orang yang main-main, bahkan para ulama’ madzhab hanafi mendudukkan (orang tersebut) pada kedudukan yang sulit, mereka mengatakan: orang ini kafir, karena dia menghina Allah yang maha perkasa dalam ketinggian-Nya, dan pada perkataan ini ada kelemahan.

Dan yang dimaksud adalah: bahwa termasuk dari hal-hal yang mewajibkan wudlu yaitu ketika engkau akan menghadap Tuhanmu yang maha perkasa dalam ketinggian-Nya dalam shalat, dan engkau menghadap kiblat, maka engkau wajib berwudlu, dalam rangka memenuhi seruan Allah ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} [المائدة:6].
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, *

WUDLU ADALAH IBADAH
Kaidah yang ditetapkan para ulama’ berbunyi:
إن أي عبادة توفرت فيها الشروط وانتفت عنها الموانع فهي صحيحة.
Sesungguhnya ibadah apa saja yang memenuhi semua syarat-syaratnya, dan tercabut semua penghalang-penghalangnya, maka ibadah tersebut adalah SAH
(Allah Ta’ala berfirman: )
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا} [المائدة:6]
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah

Sungguh Allah telah memerintahkan berwudlu, dan Allah tidaklah memerintahkan sesuatu kecuali yang Dicintai-Nya, dan sesuatu yang Allah cintai turun pada kesempurnaan ibadah, demikian (pula terdapat contoh) bahwa Allah tidak akan menerima wudlu kecuali dengan niat, dan niat adalah satu syarat bisa diterimannya suatu ibadah, dan Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(الطهور شطر الإيمان)
kesucian diri adalah bagian dari iman,

dan yang paling jelas (penjelasannya) dari itu semua adalah firman Allah Ta’ala:
{إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ} [البقرة:222]
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.
Dan wudlu masuk dalam keumuman Ayat tersebut.

Jadi kesimpulannya: segala ibadah itu ( termasuk wudlu dikatakan sah jika) mempunyai syarat-syarat (dua syarat) yaitu:terpenuhinya segala syarat, dan hilangnya penghalang.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part thirty seven

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.