Syarah Matan Abi Syuja’ (35): ADAB MENGGUNAKAN SIKAT GIGI/SIWAK

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :thirty five

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

ADAB MENGGUNAKAN SIKAT GIGI/SIWAK
1)(adab yang pertama) Disukai/disunnahkan menggunakan alat gosok gigi dari kayu Arok
2)(Adab yang kedua) disunnahkan menggunakan siwak dengan tangan kanan karena kemutlakan hadits ‘aisyah rodliallahu’anha wa ardloha:
(كان النبي صلى الله عليه وسلم يحب التيامن في كل شيء في ترجله، وتنعله وفي شأنه كله)
Nabi shallallahu’alaihi wasallam senang mendahulukan yang kanan dalam segala sesuatu (seperti) dalam menyisir rambut, mengenakan sandal, dan dalam segala keadaan.
Dan pada lafal:
، فقولها: (وفي شأنه كله)
Dalam segala keadaan,
Dan keumuman hadits ini menunjukkan sunnahnya bergosok gigi dengan tangan kanan, dan sebagian ulama’ berkata: disukai (bergosok gigi) dengan tangan kiri jika (dengannya) bisa membersihkan mulut yaitu ketika bangun tidur, dan setelah makan, karena (dengan demikian) dapat menjadikan Allah ridlo, akan tetapi yang lebih utama adalah dengan tangan kanan, seperti ketika hendak melakukan shalat.
ومن الآداب عند استعمال السواك: أن يكون للسان طولاً، وأن يكون للأسنان عرضاً، وهذا يستنبط من حديث أبي موسى
3)(adab yang ketiga)Dan termasuk adab bergosok gigi adalah: dalam menggosok lidah memanjang, dan dalam menggosok gigi melebar, hal ini diambil dari hadits Abu Musa (al-asy’ari) rodliallahu’anhu:
(أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم والسواك على طرف لسانه وهو يستاك ويقول: أع، أع، كأنه يتهوع).
Beliau melihat nabi shallallahu’alaihi wasallam dan siwak berada pada tepi lidah beliau, (beliau) membersihkan dengannya seakan-akan seperti muntah berkata: “a’ a’)

4)(adab yang ke-4) Dan termasuk dari adab bergosok gigi adalah dengan memulai pada sisi kanan gigi karena kemutlakan hadits ‘aisyah rodliallahu’anha bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam menyukai mendahulukan yang kanan dalam segala keadaan.

5) (adab yang ke-5) Dan termasuk adab (ketika bergosok gigi) adalah melicinkan/melembutnya (dengan air) ketika bergosok gigi, dan jangan menggosok gigi dalam keadaan kering sehingga membahayakan dirinya (merusak gusi), melicinkan siwak dengan air atau dengan gigi-giginya, hal ini disebutkan dalam hadits riwayat imam Abu Daud rohimahullah bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam ketika hendak bergosok gigi maka ‘aisyah rodliallahu’anha mengambil siwak dan membasahinya dan memberikan kepada nabi shallallahu’alaihi wasallam
Dan dalam hadits Abdurrahman bin Abu Bakr rodliallahu’anhuma yang disebutkan dalam kitab assohih, bahwa beliau (‘aisyah rodliallahu’anha) mengambil siwak dari Abdurrahman, dan beliau membasahinya untuk nabi shallallahu’alaihi wasallam

6) (adab yang ke-6)Dan termasuk adab dalam bergosok gigi adalah tidak menyakiti anak lidah

HUKUM MEMINJAM SIKAT GIGI/SIWAK

DIPERBOLEHKAN meminjam siwak dan menggunakannya dari mulut (yang satu) ke mulut (yang lain), akan tetapi pada hal ini ada adab-adabnya. Dan dalil meminjam siwak adalah:
1)(yang pertama) hadits ‘Aisyah bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang ketika itu berada pada pangkuannya, dan melihat siwak yang ada pada tangan Abdurrahman (bin abu abu bakar rodliallahu’anhuma), maka ‘Aisyah mengambilnya darinya, dan membasahinya dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam menggunakannya.

2)(yang kedua) dalil lain bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bergosok gigi, kemudian memberikannya kepada ‘Aisyah dan (‘Aisyah) bergosok gigi setelah beliau, dan (ibunda ‘Aisyah rodliallahu’anha) mendapatkan darinya berkah ludah nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Jadi intinya: seseorang DIPERBOLEHKAN meminjam siwak dari temannya, dan sebaiknya dia membasahinya dengan air sebelum menggunakannya dan setelah menggunakannya, dan ini dalam rangka saling menolong dalam kebaikan dan takwa, dan barang siapa yang meminjam siwak pada saudaranya dan menjadikan dia bisa beramal dengan sunnah, maka kebaikannya menyebar kepada yang lainnya (yang punya siwak) dan dia mempunyai pahala yang berlipat.

(DALAM MEMINJAMKAN SIWAK DAHULUKAN MANAKAH) APAKAH ANAK KECIL YANG DISEBELAH KANANNYA ATAUKAH (DAHULUKAN) ORANG DEWASA YANG DISEBELAH KIRINYA?

Jika engkau akan meminjamkan siwak pada anak kecil yang disebelah kanan mu dan orang dewasa di sebelah kirimu, maka kepada siapa engkau pinjamkan terlebih dahulu?

Ada sebuah hadits bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam duduk, dan Abu Bakar rodliallahu’anhu waardlohu disamping kiri beliau, dan disebelah kanan beliau adalah (Abdullah) Ibnu Abbas (yang ketika itu masih anak-anak), lalu datang seseorang memberikan minuman untuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam meminumnya, kemudian sisa minuman tersebut diberikan kepada (Abdullah) ibnu Abbas rodliallahu’anhuma.
Lalu Umar bin Alkhottob rodliallahu’anhu berkata: wahai Rosulullah ini adalah Abu Bakar, maksudnya: jangan engkau berikan (sisa minum engkau itu) kepada (Abdullah) ibnu Abbas yang masih anak-anak, sebab kalau demikian engkau tidak memberikannya kepada pemimpin kaum (muslimin) setelah Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada Abdullah bin ‘Abbas rodliallahu’anhuma:
(أتأذن للشيخ؟
Apakah engkau ijinkan minuman ini aku berikan kepada orang yang sepuh (Abu Bakar)?
Maka Abdullah bin Abbas rodliallahu’anhuma menjawab: tidak aku ijinkan.

Berdasarkan hadits ini para ulama’ mengambil kesimpulan bahwa: (mendahulukan) memberikan bekas minuman kepada yang lebih dekat hukumnya MAKRUH, Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam mendahulukan yang berada di kanan, walaupun dia anak kecil, dan ini dikuatkan dengan hadits ‘Aisyah rodliallahu’anha wa ardloha:
: (وكان يحب التيامن في شأنه كله)
(Nabi shallallahu’alaihi wasallam) menyukai mendahulukan yang kanan dalam segala keadaan.

(AKAN TETAPI) dalam hadits Al-qisamah Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(كبر، كبر)
Dahulukan yang sepuh, dahulukan yang sepuh

Dan dalam sebuah hadits disebutkan: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bermimpi dan beliau memegang siwak, kemudian beliau ingin meminjamkannya kepada anak kecil, kemudian seorang malaikat berkata:
(كبر كبر)
Dahulukan yang sepuh, dahulukan yang sepuh
Dan ini adalah NAS bahwa engkau jika ingin meminjamkan siwak (kepada dua orang atau lebih) maka dahulukanlah yang lebih sepuh.

Dan sepuh di sini maksudnya bukan sepuh secara umur saja, akan tetapi maksudnya sepuh secara ilmu, sepuh dalam kedudukan, sepuh dalam berhadapan, dan sepuh secara ilmu didahulukan daripada sepuh secara umur, dan (secara umur) Nabi shallallahu’alaihi wasallam hanya tiga tahun lebih sepuh daripada Abu Bakar rodliallahu’anhu

Dan yang ROJIH dalam masalah ini: bahwa (disunnahkan) mendahulukan yang kanan dalam segala sesuatu, (seperti) minum, berpakaian, dan dalam mengucapkan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh, karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam menyukai mendahulukan yang kanan, AKAN TETAPI KHUSUS dalam masalah SIWAK dahulukan yang lebih sepuh bukan dahulukan yang disebelah kanan.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part thirty six

4 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.