SYARAH HADITS ARBA’IN ANNAWAWIYYAH: Hadits ke-9

? SYARAH HADITS KE 9
ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

بشرح و تعليق : الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Ditulis : Imam An-Nawawy
Syarah : Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

? Hadits Ke 9 :

عن أبي هريرة عبدالرحمن بن صخر رضي الله عنه، قال: سمعت رسول الله  يقول: { ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم، فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم }.

[رواه البخاري، ومسلم].
Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shahr radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apa-apa yang aku larang, maka jauhilah. Dan apa-apa yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyak bertanya dan penyelisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

شرح ؛

{ ما } في قوله: { ما نهيتكم } وفي قوله: { ما أمرتكم } شرطية يعني الشيء الذي أنهاكم عنه اجتنبوه كله ولا تفعلوا منه شيئاً، لأن الاجتناب أسهل من الفعل كل يدركه، وأما المأمور فقال: { وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم } لأن المأمور فعل وقد يشق على الإنسان، ولذلك قيده النبي  بقوله: { فأتوا منه ما استطعتم }.

Penjelasan:

Dalam sabda beliau: (مَا) dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apa-apa yang aku larang”, dan di dalam sabdanya, “Apa-apa yang aku perintahkan” adalah (مَا) syarthiyah (kata syarat), yakni: apapun yang telah dilarang dari kalian, maka jauhilah hal itu seluruhnya, dan janganlah kalian melakukannya sedikit pun juga, karena menjauhi perbuatan tersebut lebih mudah daripada mengerjakannya, semua orang telah mengetahui hal tersebut. Adapun perkara yang diperintahkan, beliau bersabda, “Dan apa-apa yang aku perintahkan, kerjakanlah semampu kalian.” Karena perkara yang diperintahkan adalah perbuatan dan terkadang hal itu memberatkan manusia. Oleh karena itu, Nabi telah membatasi hal itu dengan sabdanya, (maka kerjakanlah semampu kalian).
فيستفاد من هذا الحديث فوائد: وجوب اجتناب ما نهى عنه الرسول  وكذلك ما نهى الله عنه من باب أولى. وهذا ما لم يدل دليل على أن النهي للكراهة.

ومن فوائد هذا الحديث: أنه لا يجوز فعل بعض المنهي عنه بل يجب اجتنابه كله ومحل ذلك ما لم يكن هناك ضرورة تبيح فعله.

ومن فوائد الحديث: وجوب فعل ما أمر به ومحل ذلك ما لم يقم دليل على أن الأمر للاستحباب.

ومن فوائده: أنه لا يجب على الإنسان أكثر مما يستطيع.

ومن فوائده: سهولة هذا الدين الإسلامي حيث لم يجب على المرء إلا ما يستطيعه.

ومن فوائده: أن من عجز عن بعض المأمور كفاه بما قدر عليه منه فمن لم يستطع الصلاة قائماً صلى قاعداً ومن لم يستطع قاعداً صلى على جنب ومن أمكنه أن يركع فليركع ومن لا يمكنه فليومئ بالركوع، وهكذا بقية العبادات يأتي الإنسان منها بما يستطيع.

ومن فوائد هذا الحديث: أنه لا ينبغي للإنسان كثرة المسائل لأن كثرة المسائل ولا سيما في زمن الوحي ربما يوجب تحريم شيء لم يحرم أو إيجاب شيء لم يجب، وإنما يقتصر الإنسان في السؤال على ما يحتاج إليه فقط.

ومن فوائد الحديث: أن كثرة المسائل والاختلاف على الأنبياء من أسباب الهلاك كما هلك بذلك من كان قبلنا.

ومن فوائد الحديث: التحذير من كثرة المسائل والاختلاف، لأن ذلك أهلك من كان قبلنا، فإذا فعلناه، فإنه يوشك أن نهلك كما هلكوا ..

Di antara faedah hadits ini adalah:

1. Wajibnya menjauhi apa-apa yang telah dilarang oleh Rasulullah, lebih-lebih lagi apa yang telah dilarang oleh Allah. Ini berlaku, jika tidak ada dalil lain yang menunjukkan bahwa larangan itu untuk menunjukkan hukum makruh saja.

2. Tidak boleh melakukan perbuatan yang dilarang, bahkan yang wajib adalah menjauhi hal itu seluruhnya, dan itu berlaku jika hal itu tidak dalam keadaan darurat (terjepit/kepepet) yang membolehkannya dilakukan perkara tersebut dalam keadaan seperti ini.

4. Wajibnya mengerjakan apa-apa yang telah diperintahkan, dan hal ini berlaku selama tidak ada dalil apapun yang menunjukkan bahwa perintah tersebut untuk istihbab (sunnah) saja.

5. Tidak wajib bagi seseorang untuk melakukan lebih banyak dari apa yang ia mampu.

6. Mudahnya agama Islam, yang mana agama ini tidak melimpahkan kewajiban atas seseorang kecuali apa-apa yang ia mampu.

7. Barangsiapa tidak mampu mengerjakan sebagian hal-hal yang diperintahkan, maka cukuplah baginya untuk mengerjakan sesuai dengan kesanggupannya. Oleh karena itu, orang yang tidak sanggup shalat dengan berdiri, bisa shalat dengan duduk; orang yang tidak sanggup shalat dengan duduk, bisa shalat dengan berbaring. Jika bisa ruku’, maka hendaknya dia ruku’, jika ia tidak sanggup, maka ia bisa menggunakan isyarat ketika ruku’, demikian juga dengan ibadah-ibadah lainnya. Seseorang mengerjakannya sesuai dengan kesanggupannya.

8. Seseorang tidak sepatutnya banyak bertanya karena banyak bertanya –terlebih lagi pada zaman turunnya wahyu- akan mendatangkan pengharaman terhadap (sesuatu) yang sebenarnya tidak diharamkan, atau diwajibkannya sesuatu yang tidak diwajibkan. Akan tetapi, seseorang bertanya sebatas apa-apa yang ia perlukan.

9. Banyak bertanya dan menyelisihi para nabi adalah di antara sebab-sebab kebinasaan, dan sebab itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kita.

10. Peringatan agar tidak banyak bertanya dan tidak menyelisihi para nabi. Karena kedua hal tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kita. Jika kita melakukan hal-hal di atas, maka kita nyaris binasa sebagaimana mereka pun binasa.

(In Syaa Allah, bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.