SYARAH HADITS ARBA’IN ANNAWAWIYYAH: Hadits ke-21

? SYARAH HADITS KE 21
ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

الحديث الحادي والعشرون
بشرح و تعليق : الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Ditulis : Imam An-Nawawy
Syarah : Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

? Hadits Ke 21:

عن أبي عمرو، وقيل: أبي عمرة ؛ سفيان بن عبد الله الثقفي رضي الله عنه، قال: قلت: يا رسول الله ! قـل لي في الإسـلام قـولاً لا أسـأل عـنه أحــداً غـيـرك، قـال: {قُــل آمـنـت بالله، ثـم اسـتـقم }.

[رواه مسلم].

Dari Abu ‘Amr (disebut juga) Abu Amrah Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi radhiyallahu’anhu. Dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada seorang pun selainmu”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”
(HR. Muslim)

الشرح :

الحديث الحادي والعشرون من الأربعين النووية عن أبي عمرو وقيل: أبي عمرة سفيان بن عبدالله الثقفي
قال: قلت يا رسول الله، قل لي في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً غيرك، قال: { قل آمنت بالله ثم استقم } يعني قولاً يكون جامعاً واضحاً بيّناً لا أسأل أحداً غيرك فيه، فقال له النبي : { قل آمنت بالله ثم استقم } آمنت بالله هذا بالقلب، والاستقامة تكون بالعمل، فأعطاه النبي كلمتين تتضمنان الدين كله فآمنت بالله يشمل إيماناً بكل ما أخبر الله به عزوجل عن نفسه وعن اليوم الآخر وعن رسله وعن كل ما أرسل به، وتتضمن أيضاً الانقياد

Penjelasan:

Hadits ke 21 dari hadits Arba’in Nawawi ini dari Abu ‘Amr, ada juga yang menyebutnya Abu Amrah Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi, dia berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada seorang pun selainmu”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah. Yakni, ucapan simpel tapi jelas lagi terang, sehingga aku tidak bertanya kepada seorang pun selainmu tentang perkara tersebut, maka Nabi bersabda kepadanya, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah.” Ini adalah di dalam hati. Sedangkan istiqamah dilakuakn dengan perbuatan. Lalu Nabi memberikan kepadanya dua kalimat yang memuat seluruh ajaran agama, “Beriman kepada Allah”, kata ini mencakup keimanan kepada seluruh apa yang telah Allah beritakan, baik tentang dirinya, hari akhir, para rasulNya, dan pada ajaran yang dibawa oleh mereka, dan terkandung juga di dalamnya ketundukan.

ولهذا قال: { ثم استقم } وهو مبني على الإيمان ومن ثم أتي بـ { ثم } الدالة على الترتيب والاستقامة ولزوم الصراط المستقيم صراط الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، ومتى بنى الإنسان حياته على هاتين الكلمتين فهو سعيد في الدنيا وفي الآخرة.

Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kemudian istiqamahlah.” Keistiqamahan ini dibangun di atas keimanan. Pada kalimat di atas disebutkan lafazh tsumma (kemudian) yang menunjukkan urutan.

Istiqamah adalah menetapi shiratal mustaqin (jalan yang lurus), yaitu jalannya orang-orang yang Allah berikan kenikmatan kepada mereka dari kalangan para nabi, para shadiqin, para syuhada, dan orang-orang yang shaleh. Kapan pun seseorang membangun kehidupannya di atas kedua kalimat ini, maka dia akan hidup bahagia di dunia dan akhirat.

في هذا الحديث من فوائد: حرص الصحابة رضي الله عنهم على السؤال عما ينفعهم في دينهم ودنياهم.

Dari hadits ini dapat dipetik faedah:

1. Antusias para sahabat untuk bertanya tentang hal-hal yang dapat memberikan manfaat kepada mereka dalam perkara agama dan dunia mereka.

ومنها عقل أبي عمرو أو أبي عمرة، حيث سأل هذا السؤال العظيم الذي في النهاية ويستغني عن سؤال أي أحد، حيث قال: { قل لي في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً غيرك }.

2. Pemahaman yang dimiliki Abu ‘Amr atau Abu Amrah yang mana ia bertanya dengan pertanyaan yang begitu agung ini, yang di dalamnya terkandung kesudahan, dan tidak perlu lagi bertanya kepada seorang pun juga, yang mana dia bertanya, “Katakanlah tentang Islam suatu ucapan yang aku tidak akan bertanya tentangnya, kepada seorang pun selainmu.”

ومنها أنه أجمع وصية وأنفع وصية ما تضمنه هذا الحديث، الإيمان بالله ثم الاستقامةعلى ذلك بقوله: { آمنت بالله ثم استقم }.

3. Wasiat yang paling lengkap dan bermanfaat adalah apa yang dikandung dalam hadits ini, yaitu: Beriman kepada Allah, kemudian istiqamah di atasnya, berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”

ومن فوائد هذا الحديث: أن الإيمان بالله لا يكفي عن الاستقامة، بل لا بد من إيمان بالله واستقامة على دينه.

4. Keimanan kepada Allah membutuhkan keistiqamahan. Oleh karena itu, mau tidak mau seseorang harus beriman kepada Allah dan istiqamah di atas agamaNya.

ومن فوائد هذا الحديث: أن الدين الإسلامي مبني على هذين الأمرين، الإيمان ومحله القلب ،والاستقامة ومحلها الجوارح، وإن كان للقلب منها نصيب لكن الأصل أنها في الجوارح. والله أعلم.

5. Agama Islam dibangun di atas kedua hal ini, yaitu keimanan yang letaknya di hati, dan istiqamah yang letaknya pada anggota badan. Sekalipun hati memiliki bagian dari hal tersebut, akan tetapi secara asalnya, isitqamah terletak pada anggota badan. Wallahu a’lam.

(In Syaa Allah Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.