SYARAH HADITS ARBA’IN ANNAWAWIYYAH: Hadits ke-17

? SYARAH HADITS KE 17
ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

الحديث السابع عشر
بشرح و تعليق : الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Ditulis : Imam An-Nawawy
Syarah : Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

? Hadits Ke 17:

عـن أبي يعـلى شـداد بـن أوس رضي الله عـنه، عـن الـرسـول صلى الله عـليه وسلم قـال: { إن الله كتب الإحـسـان عـلى كــل شيء، فـإذا قـتـلـتم فـأحسـنوا القـتـلة، وإذا ذبـحـتم فـأحسنوا الذبحة، وليحد أحـدكم شـفـرتـه، ولـيـرح ذبـيـحـته }.

[رواه مسلم].

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan (berbuat baik) terhadap segala sesuatu. Karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya salah seorang dari kalian menajamkan goloknya dan melegakan sembelihannya.” (Shahih, H.R Muslim).

الشرح

{ الإحسان } ضد الإساءة وهو معروف. { كتب } بمعنى شرع، وقوله: { على كل شيء } الذي يظهر أنها بمعنى في كل شيء، يعني أن الإحسان ليس خاصاً في بني آدم بل هو عام في كل شيء { فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته } وهذا من الإحسان.

Penjelasan:

Ihsan (berbuat baik) adalah lawan isa’ah (berbuat jelek), dan itu sudah dikenal.
(كَتَبَ ) maknanya adalah ( شرع ) (mensyari’atkan).

Dan sabdanya عَلَى كُلِّ شَيْءٍ) secara zhahir maknanya adalah pada segala sesuatu, yakni bahwa berbuat baik tidak khusus terhadap bani adam (manusia saja), akan tetapi sifatnya umum pada segala sesuatu. (Jika kalian membunuh. ) dan ini adalah di antara perbuatan baik.

وقوله: { إذا قتلتم } هذا حين القتل من بني آدم أو مما يباح قتله أو يسنُ من الحيوانات من وحوش وغيرها.

Dan sabdanya, “Jika kamu membunuh.” Ini adalah ketika membunuh, baik ketika membunuh manusia, membunuh makhluk lain yang dibolehkan untuk dibunuh, atau membunuh binatang-binatang yang disunnahkan untuk dibunuh, seperti: binatang buas atau yang lainnya.

وقوله: { فأحسنوا القتلة } أن يسلك أقرب الطرق إلى حصول المقصود بغيرأذية لكن يرد على هذا ما ثبت من رجم الزاني المحصن والجواب عنه أن قال: إنه مستثنى من الحديث وإما أن يقال: المراد { فأحسنوا القتلة } موافقة الشرع وقتل المحصن بالرجم موافق للشرع.

Dan sabda beliau, “Maka sembelihlah dengan cara yang baik.”
Yakni dengan menempuh jalan yang paling dekat untuk pencapaian tujuan tanpa menyakiti, akan tetapi terbantah dengan riwayat yang tetap daripada hukuman rajam bagi pelaku zina muhshan, maka jawabannya dikatakan: bahwa hal itu merupakan bentuk pengecualian dari hadits ini, atau bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “dan bunuhlah dengan cara yang baik”, yakni mencocoki syari’at dan membunuh pezina muhshan dengan cara merajamnya adalah tindakan yang mencocoki syari’at.

وأما قوله: { فأحسنوا الذبحة } والمراد به المذبوح من الحيوان الذي يكون ذبحه ذكاة له مثل الأنعام والصيد وغير ذلك .. فإن الإنسان يسلك أقرب الطرق التي يحصل بها المقصود الشرعي من الذكاة،

Adapun sabdanya, “dan sembelihlah dengan cara yang baik”, yang dimaksudkan dengannya ialah sembelihan dari hewan yang penyembelihannya sebagai pengorbanan bagi orangnya, seperti hewan ternak dan buruan, serta selain itu.., maka seseorang hendaknya menempuh jalan yang paling dekat yang akan diperoleh dengannya maksud atau tujuan syari’at, yaitu penyembelihan.

ولهذا قال: { وليحد أحدكم شفرته } أي سكِّينه، { وليرح ذبيحته } أي يفعل ما به راحتها.

Karena itu, beliau bersabda, “Maka hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan goloknya dan melegakan hewan sembelihannya.” Yakni, melakukan apa-apa yang akan membuatnya senang (tidak tersiksa).

ومن فوائد هذا الحديث: أن الله سبحانه وتعالى جعل الإحسان في كل شيء حتى إزهاق القتلة،

Fa’idah-fa’idah yang dapat dipetik dari hadits ini:

1. Allah Azza wa Jalla telah menjadikan perbuatan baik pada segala sesuatu sampai pada hal pembunuhan.

وذلك بأن يسلك أسهل الطرق لإرهاق الروح ووجوب إحسان الذُبحة كذلك بأن يسلك أقرب الطرق لإزهاق الروح ولكن على الوجه المشروع.

2. Wajibnya membunuh dengan cara yang baik. Hal itu dilakukan dengan menempuh jalan yang paling mudah untuk membunuh jiwa, dan wajibnya berbuat baik kepada hewan yang disembelih.
Demikian pula, hendaknya ia menempuh jalan terdekat untuk membunuhnya, dan hendaknya dilakukan sesuai dengan cara yang disyari’atkan.

ومن فوائد هذا الحديث: طلب تفقد آلات الذبح لقوله عليه الصلاة والسلام: { وليحد أحدكم شفرته }.

3. Menyiapkan alat (yang tajam) yang akan digunakan untuk menyembelih, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Dan hendaknya salah seorang dari kalian menajamkan goloknya.”

ومن فوائد هذا الحديث: طلب راحة الذبيحة عند الذبح ومن ذلك أن يضجعها برفق دون أن تتعسف في إضجاعها

4. Diperintahkan untuk membuat hewan yang disembelihnya tenang (tidak menyiksa) ketika penyembelihan itu dilakukan, di antaranya adalah hendaknya ia membaringkan hewan tersebut dengan lemah lembut, tidak kasar ketika membaringkannya.

ومن ذلك أيضاً أن يضع رجله على عُنقها ويدع  قوائمها الأربعة اليدين والرجلين بدون إمساك، لأن ذلك أبلغ في إراحتها وحريتها في الحركة، ولأن ذلك أبلغ في خروج الدم عنها فكان أولى.

Di antaranya juga adalah hendaknya ia (orang yang menyembelih) menginjakkan kakinya di atas lehernya dan membiarkan kedua tangan dan kakinya tanpa memegangnya, karena hal itu lebih membuatnya santai dan lebih leluasa untuk bergerak.
Dan lebih mudah terpancarnya darah dari hewan yang disembelih, sehingga yang demikian itu lebih baik.

(In Syaa Allah Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.