STUDI KRITIS TERHADAP BUKU TARBIYATUL AULAD FIL ISLAM ( PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM )

STUDI KRITIS TERHADAP BUKU TARBIYATUL AULAD FIL ISLAM ( PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM )

Disusun oleh : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad
Kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam – Edisi Indonesia : Pendidikan Anak Dalam Islam oleh Dr. Abdullah Nasih Ulwan adalah buku yang sangat populer di kalangan kaum muslimin di seluruh dunia tidak terkecuali di Indonesia, bahkan telah dicetak ulang beberapa kali di Indonesia. Buku ini begitu populer dan disukai oleh para pendidik dan orang tua yang memiliki perhatian lebih kepada pertumbuhan generasi penerus mereka, bahkan buku ini tidak asing lagi di banyak kalangan civitas akademis di Indonesia dengan salah satu bukti bahwasanya Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya telah memberikan kata pengantar terhadap kitab ini dalam terbitan Pustaka Amani Jakarta cetakan ketiga, di antara isi kata pengantarnya : Buku Pendidikan Anak Dalam Islam ini kiranya dapat dijadikan salah satu rujukan yang sangat tepat bagi segala macam kebutuhan yang berkaitan dengan bimbingan kependidikan anak dan generasi muda … .
Dengan kehendak Alloh telah sampai kepada kami sebuah kitab yang mengkritisi kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam di atas, kitab tersebut berjudul Kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam Li Abdullah Ulwan fi Mizani Naqd Ilmi, ditulis oleh Ihsan bin Muhamad bin Ayisy Al-Utaibi, dengan kata pengantar Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Ihsan bin Muhamad bin Ayisy Al-Utaibi dalam kitabnya di atas membeberkan tentang kesalahan-kesalahan ilmiyyah dalam kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam dalam berbagai aspek : aqidah, manhaj, fiqih, hadits, dan yang lainnya dengan argumen-argumen yang ilmiyyah, kami memandang bahwa studi beliau terhadap kitab Tarbiyatul Aulad ini mengandung faidah dan manfaat yang besar bagi setiap muslim yang memiliki kepedulian terhadap agamanya.
Dalam pembahasan kali ini kami akan menyampaikan cuplikan dari kritikan-kritikan terhadap kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam dengan harapan bisa memberikan rambu-rambu syari terhadap para pembaca kitab ini secara khusus dan kaum muslimin secara umum.

PENULIS KITAB TARBIYATUL AULAD FIL ISLAM :

Beliau adalah Dr. Abdullah Nasih Ulwan, dilahirkan pada tahun 1928 M di kota Halab Suria, semasa mudanya beliau masuk dalam jamaah Ikhwanul Muslimin, beliau belajar di Universitas Al-Azhar Kairo dan mendapatkan ijazah sepesialisai pendidikan pada tahun 1954 M. Beliau meninggal di Jeddah pada 15 Muharram 1408 H bertepatan dengan 29 Desember 1987 M.

KESALAHAN KITAB INI DALAM MASALAH AQIDAH

Membolehkan Tabarruk dengan orang yang shalih :
Penulis ( Abdullah Ulwan ) berkata ( hal. 61 dari kitab asli ): Merupakan hal yang diutamakan hendaknya yang melakukan tahnik adalah orang yang taqwa dan sholeh untuk mengharap berkahnya .
Kami katakan : Tabarruk dengan dzat seseorang tidaklah disyariatkan samasekali, kecuali dari dzat Nabi ( , tidak ada dalil satupun yang membolehkan tabarruk dengan selain Nabi ( ( Lihat Qaulul Mufid oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 1/191 ).
Mengkafirkan pelaku dosa besar :
Penulis berkata ( hal. 547 ) : Di antara bahaya zina di akhirat bahwasanya seorang pezina ketika berzina maka dia lepas dari ikatan Islam. Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Nabi ( bahwasanya beliau bersabda :
لا يزني الزاني حين يزني و هو مؤمن
“Tidaklah berzina seorang pezina ketika berzina dalam keadaan beriman .
Kami katakan : Madzhab Khawarij adalah mengkafirkan para pelaku dosa besar, berbeda dengan ahli Sunnah yang tidak mengkafirkan para pelaku dosa besar, tetapi mengatakan dia tetap beriman meskipun sangat lemah imannya.
Adapun tentang hadits yang dibawakan oleh penulis maka dijelaskan oleh Al-Imam Nawawi dengan mengatakan : Hadits ini termasuk yang diperselisihkan oleh para ulama tentang maknanya, maka pendapat yang shahih yang dikatakan oleh para ahli tahqiq bahwasanya maknanya tidaklah melakukan kemashiyatan ini orang yang dalam keadaan sempurna imannya. Ini termasuk lafadz-lafadz yang dimutlakan untuk menafikan sesuatu dan yang dimaksud adalah menafikan kesempurnaannya. Sebagaimana dikatakan : Tidaklah ilmu kecuali yang bermanfaat, tidaklah ada harta kecuali onta, dan tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat. Sesungguhnya kami bawa maknanya kepada makna yang di atas dengan dasar hadits Abu Dzar dan yang lainnya bahwasanya Nabi ( bersabda :
ما من عبد قال لا إله إلا الله ثم مات على ذلك إلا دخل الجنة وإن زنى وإن سرق
“Tidaklah seorang hamba mengucapkan La Ilaha Illallah kemudian mati ats hal itu melainkan ia akan masuk surga meskipun berzina dan meskipun mencuri “ ( Muttafaq Alaih, Bukhari 10/349 dan Muslim 2/94 ) ( Syarah Nawawi 2/42 ).
Memuji Bushiri dengan qashidah Burdahnya :
Penulis berkata ( hal. 647 ) : Semoga Alloh merahmati Bushiri tatkala berkata :
Tinggalkanlah apa yang didakwakan orang-orang Nashara pada nabi mereka
Dan berbuatlah pujian pada Nabi ( semaumu dan berhukumlah padanya
Bait yang dibawakan penulis di atas adalah potongan dari qashidah Burdah yang di dalamnya terdapat kesyirikan dan kekufuran yang nyata, di antara bait yang lain dari qashidah tersebut adalah:
Dari kemurahanmu wahai Nabi ( dunia dan akhirat
Dan dari ilmumu ilmu lauh dan qalam
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mngomentari perkataan Bushiri di atas dengan berkata : Ini termasuk kesyirikan yang terbesar, karena menjadikan dunia dan akhirat berasal dari Nabi ( , yang konsekwensinya bahwasanya Alloh sama sekali tidak punya peran ( Qaulul Mufid 1/218 ).
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang qashidah Burdah ini silahkan melihat Majalah Al-Furqon Tahun ke-5 Edisi 8 Rubrik Kitab .

KESALAHAN DALAM MASALAH DAKWAH DAN TARBIYAH

Memandang bahwa menegakkan daulah Islamiyah adalah tujuan utama:
Penulis berkata ( hal. 10 ): Karena inilah maka wajib atas kaum muslimin merealisasikan hukum Alloh dan menegakkan daulah Islam, kalau tidak maka mereka berdosa .
Penulis juga berkata ( hal. 12 ) : …Berusaha menegakkan hukum Alloh di muka bumi … adalah puncak dari segala tujuan .
Kami katakan : Menegakkan hukum Alloh di muka bumi dan menegakkan daulah Islam keduanya adalah sarana untuk mewujudkan tujuan penciptaan manusia, yaitu mentauhidkan Alloh dalam ibadah, Alloh ( berfirman :
(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. “ ( Adz-Dzariyyat : 56 ).
Realita yang ada sekarang ini banyak aktivis-aktivis dakwah yang menjadikan daulah Islam sebagai tujuan utama, mereka korbankan syariat Islam dan mereka biarkan kesyirikan dalam rangka mendirikan daulah Islam ! ( Untuk melihat pembahasan yang lebih mendetail dalam masalah ini lihat Daulah Bukan Tujuan Dakwah dalam Majalah Al-Furqon Tahun ke-3 Edisi 12 Rubrik Manhaj ).
Memandang bahwa tujuan pendidikan anak adalah untuk menegakkan daulah :
Penulis begitu memaksakan kalimat menegakkan daulah Islam pada tempat-tempat yang tidak semestinya, sebagaimana dia berkata dalam hal. 567 : Itulah wahai para pendidik hal-hal terpenting dari wawasan-wawasan Islam yang wajib diajarkan kepada seorang anak ketika mencapai usia tamyiz, hingga ketika sudah sempurna acara peminangan dan masuk ke pintu pernikahan maka dia akan mengetahui bahwa hubungan seksual adalah sarana untuk mewujudkan tujuan yang agung yaitu menegakkan daulah Islam ! .
Penulis berkata : Bukankah merupakan hal yang sangat disesalkan jika para pemuda kita mencapai usia taklif dalam keadaan tidak mengetahui bahwasanya Islam adalah agama dan daulah, mushhaf dan pedang, serta ibadah dan politik ! .
Kami katakan : Bukankah merupakan hal yang sangat disesalkan jika para pemuda kita mencapai usia taklif dalam keadaan tidak tahu tatacara shalat yang benar !
Bukankah merupakan hal yang sangat disesalkan jika para pemuda kita mencapai usia taklif dalam keadaan tidak bisa membedakan antara kesyirikan dan tauhid, dan antara sunnah dan bidah !
Bukankah merupakan hal yang sangat disesalkan jika para pemuda kita mencapai usia taklif dalam keadaan tidak tahu bahwa menghafal Al-Quran lebih baik daripada menghafal nasyid !
Bukankah merupakan hal yang sangat disesalkan jika para pemuda kita mencapai usia taklif dalam keadaan tidak tahu bahwa menuntut ilmu lebih baik daripada demonstrasi dan unjuk rasa !
Bukankah merupakan hal yang sangat disesalkan jika para pemuda kita mencapai usia taklif dalam keadaan tidak tahu tatacara shalat yang benar !
Hal-hal inilah yang seharusnya disesalkan, bukan hal-hal lain yang disebutkan oleh para hizbiyyun yang tidak bermanfaat samasekali dalam dunia dan agama !.

KESALAHAN DALAM MASALAH MANHAJ

Penulis banyak memuji kelompok shufi dan para imam mereka:
Penulis mengatakan bahwa kelompok shufiyyah menegakkan al-haq dan berjihad fi sabilillah ( hal. 853 ), menyebarkan Islam ke seluruh dunia dan berjihad melawan Kristenisasi di Afrika ( hal. 855 ), mereka yang berjuang melawan para penjajah ( hal. 858 ), memuji thariqah Qadiriyyah, Syadzaliyah, Tijaniyyah, dan Sanusiyyah ( hal. 856 ), memuji Al-Ghazali dan Ihyanya ( hal. 160 ), .
Kami katakan : Shufiyyah tidaklah menyebarkan kecuali bidah dan khurafat, lihatlah persaksian para ulama tentang mereka :
Syaikh Abdurrahman Al-Wakil berkata : Mereka menyangka bahwasanya shufiyyah berjihad sehingga menyebarkan Islam di banyak tempat sedangkan Engkau mengetahui apakah agama Shufiyyah ?! mereka tidaklah menyebarkan kecuali dongeng-dongeng orang-orang dungu, khurafat-khurafat dusta, bidah-bidah yang mencoreng muka, tidaklah mereka menyebarkan kecuali paganisme terhadap bebatuan dan penyembahan kepada kuburan, tidaklah mereka menyebarkan agama mereka melainkan di balik perlindungan para penjajah dan mentaati hawa nafsu para penjajah. Musuh-musuh Islam meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwasanya kebidahan-kebidahan adalah sarana yang sangat ampuh untuk kepentingan-kepentingan mereka, agar mereka bisa menghancurkan Islam dan para pemeluknya …Lihatlah sejarah kalian tunjukkan satu orang shufi saja yang berjihad fi sabilillah dengan sesungguhnya … Ibnu Arabi dan Ibnul Faridh dua gembong shufiyyah yang terkenal keduanya hidup pada masa perang salib, kita tidak pernah mendengar seorang pun dari keduanya ikut serta dalam peperangan, atau mengajak untuk berperang, atau merekam dalam bait syair atau prosa satupun perasaan kesedihan akan musibah yang menimpa kaum muslimin, keduanya mengajarkan kepada para manusia bahwasanya Alloh adalah hakikat segala sesuatu, maka hendaknya kaum muslimin membiarkan para pasukan salib, tidaklah mereka kecuali dzat Ilahiyyah yang menjelma dalam perwujudan mereka ( Hadzihi Hiya Shufiyyah hal. 170 ).
Syaikh Muhammad Ahmad Lauh berkata : Adapun aqidah Wihdatul wujud yang yang diserukan oleh para ahli tashawwuf, maka tujuannya adalah membuang hukum-hukum syari di bawah naungan persatuan agama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Adapun tingkatan ketiga dari Shufiyyah : Tidak boleh mempersaksikan ketaatan dan kemashiyatan, karena memandang bahwasanya semua wujud adalah satu, menurut mereka inilah puncak perealisasian dan perwalian bagi Alloh, karena sesungguhnya orang yang sudah mencapai tingkatan ini menjadikan orang-orang Yahudi, Nashara, dan semua orang-orang kafir sebagai teman-teman setia .
Inilah realita yang ada, karena seorang shufi jika semakin dalam tashawwufnya maka akan semakin berkurang ghirahnya terhadap agamanya ( Shufiyyah fil Islam hal. 87 ).
Penulis banyak menganjurkan para pembaca agar mengkonsumsi kitab-kitab sesat dan bidah :
Di antara kitab-kitab bidah dan sesat yang dianjurkan oleh penulis agar dikonsumsi adalah kitab Ihya Ulumuddin oleh Al-Ghazali, kitab Al-Aqaid oleh Hasan Al-Banna ( hal. 164 ), Kubra Yaqiniyat Kauniyyah oleh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, Alloh Jalla Jalaluh oleh Said Hawa ( hal. 165 ), Maqalat Kautsari ( hal. 283 ), kitab-kitab Ibnu Sina failosuf yang mulhid ( hal. 761 ), kitab-kitab Ibnu Arabi ( hal. 853 ), Fi Zhilalil Quran oleh Sayyid Quthb ( hal. 1056 ), dan Adabul Mutaallimin oleh Nashirul Kufr Ath-Thusi ( hal. 1076 ).

BANYAK MEMBAWAKAN HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU

Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi telah meneliti sebagian hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Tarbiyyatul Aulad fil Islam dan mengumpulkannya dalam sebuah risalah yang berjudul : Tadzkiratul Anam fi Bayan Ahadits Dhaifah wal Maudhuah fi Kitab Tarbiyatil Aulad fil Islam, tertanggal 9 Ramadhan 1405 H ( sebagaimana dalam muqaddimah kitab Kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam fi Mizan Naqd Ilmi ), dan Syaikh Ihsan bin Muhammad Al-Utaibi telah mengumpulkan hadits-hadts lemah dan palsu dalam kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam yang beliau letakkan dalam akhir pembahasan beliau terhadap kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam, jumlah hadits-hadits tersebut ada 1099 hadits.
Di antara hadits-hadits palsu yang dibawakan oleh Syaikh Abdullah Nasih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad fil Islam adalah:
Janganlah Engaku menikahi kerabat karena anak yang dilahirkan akan lemah ( hal. 39 ).
Barangsiapa yang mendapatkan kelahiran bayi kemudian mengadzani di telinga kananya, dan mengucapkan iqamah di telinga kirinya maka dia tidak akan diganggu oleh Ummu Shibyan ( hal 70 ).
Sungguh seorang yang mendidik anaknya lebih baik dibandingkan dengan shadaqah satu sha ( hal. 142 ).
Menuntut ilmu di waktu kcil seperti mengukir di atas batu ( hal. 267 ).
Kisah Alqamah ( hal. 385 ).
Sesungguhnya Alloh membenci mengeraskan suara dalam menguap dan bersin .

BADAL KITAB INI

Setelah melihat banyaknya kesalahan yang terdapat dalam kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam oleh Abdullah Nasih Ulwan maka kami memandang bahwa kitab ini tidak layak dijadikan rujukan dalam pembahasan pendidikan anak, kami menganjurkan agar para orang tua dan pendidik memilih kitab-kitab pendidikan anak yang mengacu kepada manhaj Nabi ( , di antara kitab-kitab yang kami anjurkan untuk dikonsumsi adalah :
Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Li Thifl oleh Muhammad Nur bin Abdul Hafidz Suwaid, cetakan Daru Thayyibah.
Tarbiyatul Athfal fi Rahabil Islam oleh Muhammad Hamid An-Nashir, cetakan Maktabah Sawadi.
Kaifa Yurabbil Muslim Waladahu oleh Muhammad Sa’id Maulawi, cetakan Daru Ramadi.
Kaifa Nurabbi Auladana oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
Fiqh Tarbiyatul Abna’ oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, cetakan Daru Majid ‘Asiri, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
والله أعلم بالصواب

2 comments

  • Maulana Syarief Ikhwan

    Assalamualaikum, Artikel yang sangat bagus, kepada penulis, saya Maulana Syarief, sedang membutuhkan bantuan penulis, saya sangat membutuhkan kitab ini, Kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam Li Abdullah Ulwan fi Mizani Naqd Ilmi, ditulis oleh Ihsan bin Muhamad bin Ayisy Al-Utaibi. yang berisi tentang kritikan terhadap kitab Tarbiyatyul Aulad karya Dr. abdullah Nashih Ulwan.. adakah kontak yang bisa di hubungi, seperti nomer WA atau yang lain, karena saya sangat membutuhkan kitab ini. terima kasih
    ini nomer Hp saya 085770729460

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.