STUDI KRITIS ATAS HADITS NABI

STUDI KRITIS ATAS HADITS NABI
Disusun oleh : Abu Ahmad As-Salafi

Di antara buku-buku yang sangat berbahaya yang hingga kini masih terpampang di perpustakaan-perpustakaan dan toko-toko buku di tanah air adalah buku Studi Kritis Atas Hadits Nabi, Antara Pemahaman Tekstual Dan Kontekstual oleh Syaikh Muhammad Al-Ghazali, buku yang judul aslinya As-Sunnah Nabawiyyah Baina Ahli Fiqih wa Ahli Hadits ini diterjemahkan oleh Muhammad Al-Baqir ( seorang Syiah ), dengan pengantar Prof. Dr. Quraisy Syihab, dan diterbitkan oleh Al-Mizan Bandung – yang merupakan penerbit buku-buku Syiah -.
Buku ini telah dibantah oleh para ulama Sunnah seperti Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dalam kitab beliau Kasyfu Mauqif Al-Ghazali minas Sunnah wa Ahliha ( sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Al-Kautsar Jakarta ), Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh ( Menteri Agama Saudi Arabia sekarang ) dalam kitab beliau yang berjudul Al-Miyar Liilmi Al-Ghazali Fi Kitabihi As-Sunnah Nabawiyyah, dan Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini ( seorang ulama dari Mesir ) dalam kitab beliau yang berjudul Samthi La-ali Fi Raddi Ala Syaikh Al-Gazali.
Buku ini sarat dengan syubhat-syubhat yang sangat berbahaya dan celaan-celaan terhadap Sunnah dan Ahlinya, karena itulah maka musuh-musuh Islam dan Sunnah begitu gembira dengannya, sehingga begitu semangat untuk menyebarluaskannya sebagaimana yang dilakukan oleh Penerbit Syiah di atas -. Yang sangat disayangkan ternyata masih banyak dari kaum muslimin yang ikut berperan melariskan syubhat-syubhat yang terkandung di dalam buku ini dalam keadaan sadar dan tidak sadar -, karena itulah kami tergerak untuk memaparkan sebagian kesalahan-kesalahan buku ini sebagai peringatan bagi kita semua dan sekaligus sebagai cahaya penerang dari syubhat-syubhat yang ditaburkan di dalamnya biidznillah -.

CELAAN DAN CACIAN TERHADAP AHLI HADITS

Penulis ( Muhammad Al-Ghazali ) di dalam banyak tulisannya selalu mengajak kepada adab-adab yang baik di dalam diskusi, melarang penggunaan kata-kata yang kasar dalam diskusi ilmiyyah, tetapi ternyata di dalam kitabnya ini dan tulisan-tulisannya dia sendiri terjatuh dalam larangannya ini, dia gunakan kata-kata yang kasar dan menyakitkan di dalam diskusi-diskusinya, bahkan kata-kata tersebut menjadi trade mark di dalam tulisan-tulisannya !.
Dia cela ahli hadits dengan kata-kata yang kasar, seperti : mata mereka letih terhadap Al-Quran , para pemuda yang jelek , mereka terhalang dari perhatian terhadap lafadz-lafadz Al-Quran , para pemilik pemikiran yang dangkal , para pembuat huru-hara , orang-orang yang lalai , orang-orang yang bodoh , dan kata-kata kasar yang lainnya, hingga sebagian orang yang membantahnya membuat sebuah pasal dalam kitab bantahannya yang berjudul Qamus Syataim Al-Ghazali ( kamus cacian-cacian Al-Ghazali ) yang dia susun menurut huruf abjad karena banyaknya !.
Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini berkata dalam kitabnya Thaliah Samthi Laali hal. 7-8 : Di antara hal yang menyakitkanku bahwa sebagian orang-orang yang tsiqah berkata kepadaku : Aku mendengar seseorang yang aku percaya dia sebutkan namanya kepadaku berkata kepada Muhammad Al-Ghazali : Banyak orang-orang yang membantah kitabmu yang terakhir ( Studi Kritis Atas Pemahaman Hadits ) , maka apa jawabanmu ? , maka Al-Ghazali menjawabnya dengan menyitir perkataan seorang penyair :

Seandainya setiap anjing menggonggong aku lempar dengan batu
maka sungguh akan mahal harga batu: satu mitsqal dengan harga satu dinar ! .

PENULIS SANGAT MENDEWAKAN AKALNYA

Penulis begitu percaya diri dengan akalnya, seakan-akan dia sendirilah yang bisa berfikir dan merenung, dan bahwasanya orang-orang yang menyelisihinya meskipun mereka adalah para imam dan para ulama kurang akal dan kurang faham dibandingkan dengan dia.
Dia membantah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah tentang kisah Musa yang menempeleng malaikat maut, dia tolak hadits tersebut dengan mengatakan bahwa dia malul ( ada illahnya ), karena tidak mungkin seorang Nabi membenci kematian. Sesudah menukil pembelaan para ulama seperti Ibnu Khuzaimah, Maziri, Qadhi Iyadh, dan Nawawi terhadap hadits ini maka dia berkata : Semua pembelaan ini tidak berbobot sama sekali, dia adalah pembelaan yang remeh dan tidakk bernilai …, dan illah matan hadits ini diketahui oleh para ahli tahqiq, dan tersembunyi pada para pemilik pemikiran yang dangkal .
Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini berkata : Siapakah ahli tahqiq yang dikatakan tahu illah hadits ini ?! ternyata dia adalah Al-Ghazali sendiri !! dan siapakah para pemilik pemikiran yang dangkal ? mereka adalah para ulama pensyarah Shahih Bukhari yang jumlahnya lebih dari 300 orang, demikian juga para pensyarah Shahih Muslim, yang saya ingat lebih dari 20 ulama… tidak ada satupun yang menyatakan bahwa pada matan hadits ini terdapat kemungkaran atau keghariban, hingga Alloh menguji kita dengan munculnya orang yang disebut Ahli Tahqiq !!.
Al-Ghazali melakukan hal seperti ini di puluhan tempat dalam kitab-kitabnya, yang menjelaskan kepada kita bahwa dia termasuk rombongan orang-orang Asyariyyah yang fanatik, dan bahwasanya dia tidaklah di atas manhaj Salafush Shalih yaitu tiga generasi pertama minimal dalam masalah aqidah.
Sebagai keterangan tambahan bahwa orang-orang Asyariyyah sangat mendewakan akal mereka dan mereka dahulukan atas nash-nash yang shahih ( Thaliah Samthi Laali hal. 8-9 ).

PEMUTARBALIKAN FAKTA

Penulis berkata dalam hal. 19 dari kitabnya ini : Ahli hadits menjadikan diyat wanita separuh diyat laki-laki, ini adalah aib pemikiran dan akhlak, ditolak oleh para fuqaha ahli tahqiq, karena diyat di dalam Al-Quran sama saja antara laki-laki dan wanita. Dan sangkaan bahwa darah wanita lebih murah dan bahwa haknya lebih ringan adalah sangkaan yang dusta yang menyelisihi dhahir Al-Kitab .
Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini berkata : Seandainya Al-Ghazali obyektif, atau berusaha adil, maka dia seharusnya menyebut satu atau lebih dari ulama yang mengatakan itu dari kalangan muhadditsin. Dan jika dia menyebutkan kepada kita satu atau lebih maka tidak boleh juiga baginya mengatakan ahli hadits secara umum. Dan kenyataannya pendapat yang dia lekatkan pada ahli hadits adalah pendapat kebanyakan fuqaha, dan aku cukupkan di sini satu nukilan yang menjelaskan kedustaan Al-Ghazali, dan bantahan yang terperinci di tempatnya yang tersendiri Insya Alloh -.
Al-Imam Ibnu Qudamah berkata dalam kitabnya Al-Mughni 7/797 : Ibnul Mundzir dan Ibnu Abdil Barr berkata : Para ulama sepakat bahwa diyat seorang wanita separuh dari diyat seorang laki-laki. Selain keduanya menghikayatkan dari Ibnu Ulayyah dan Al-Ashomm bahwa keduanya berkata : Diyat seorang wanita seperti diyat seorang laki-laki, berdasarkan sabda Nabi ( : Pada jiwa yang mukmin seratus ekor onta , ini adalah pendapat yang syadz menyelisihi ijma sahabat dan sunnah Nabi ( . Karena sesungguhnya di dalam kitab Amr bin Hazm tertera : Diyat seorang wanita separuh dari diyat seorang laki-laki , kalimat ini lebih khusus dari yang mereka sebutkan, padahal keduanya dalam satu kitab, maka yang baru kita sebutkan adalah penjelas yang mereka sebutkan, dan pengkhususan darinya. Dan diyat para wanita setiap pemeluk suatu agama, adalah separuh dari diyat laki-laki mereka sebagaimana telah terdahulu ( Lihat Thaliah Samthi Laali hal. 19-20 ).

MENOLAK HADITS-HADITS YANG SHAHIH DENGAN AKALNYA

Penulis menolak banyak sekali dari hadits-hadits yang shahih dengan alasan bahwa dia memandang bahwa hadits-hadits tersebut tidak sesuai dengan pemahamannya, di antara hadits-hadits shahih yang dia tolak adalah : hadits Tamim Ad-Dari tentang Dajjal, hadits berbaring setelah sholat 2 rakaat Fajar, hadits tentang sifat Shuroh bagi Alloh, hadits tentang Musa dan Malaikat maut, hadits tentang lalat, dan masih banyak lagi yang lainnya.

KELANCANGAN PENULIS TERHADAP PARA IMAM

Penulis begitu lancang dalam perkataannya kepada para imam dengan sebab sekedar dia tidak faham perkataan-perkataan mereka, dia menukil perkataan Khabbab bin Art ( seorang sahabat yang mulia, termasuk As-Sabiqinal Awwalin : Sesungguhnya setiap muslim mendapatkan pahala dalam setiap yang dia infakkan kecuali pada sesuatu yang dia jadikan pada tanah ini ( Shahih Bukhari 10/127 ), kemudian Al-Ghazali berkata : Perkataan Khabbab ini dipengaruhi oleh sentuhan pesimis yang mengalahkannya dengan sebab penyakitnya yang dia obati dengan kay, padahal tidak boleh kita menganggap bangunan sebagi kehinaan bahkan kadang-kadang bisa menjadi kewajiban ( Sunnah Nabawiyyah hal. 87 ).
Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini berkata : Konteks hadits menunjukkan bahwa Khabbab mengatakan perkataan ini ketika dia dalam keadaan sehat, kemudian sesungguhnya perkataannya ini tidaklah diarahkan – sesuai kondisi – kepada orang yang sedang membangun rumahnya untuk tinggal di dalamnya, tetapi ditujukan pada hal yang lebih dari kebutuhan sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidz dan yang lainnya ( Thaliah Samthi Laali hal. 24 ).
Al-Ghazali mengatakan bahwa Nafi Maula Ibnu Umar adalah seorang yang biasa keliru , binasa , dan tersesat ( hal. 103, 104, dan 105 dari kitabnya ini ), dalam keadaan semua ulama mengakui tentang keutamaan Nafi, dalam keadaan Abdullah bin Umar berkata : Sungguh Alloh telah memberikan nikmat kepada kita dengan Nafi , Al-Imam Malik berkata : Jika aku telah mendengar sebuah hadits dari Ibnu Umar, maka aku tidak peduli kalau tidak mendengarnya dari selain dia , Ibnu Khirasy berkata : tsiqah dan mumpuni , dan Al-Khalili berkata : Nafi termasuk para imam tabiin di Madinah, imam dalam ilmu, disepakati atasnya, riwayatnya shahih, ada yang melebihkannya atas Salim dan adang yang menyamakannya dengannya, tidak diketahui padanya kesalahan pada semua yang dia riwayatkan ( Lihat Jarh wa Tadil 8/451 dan Tahdzibut Tahdzib 10/369 ).
Al-Ghazali berkata dalam hal. 127 dari kitabnya ini : … dan sebagian orang-orang yang terkena penyakit tajsim yang menyebarluaskan riwayat-riwayat ini ( yaitu tentang sifat-sifat Alloh )… dan sesungguhnya seorang muslim yang haq akan merasa malu dari menisbahkan hadits-hadits ini kepada Rasulullah ( .
Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini berkata : Yang menyebarluaskan riwayat-riwayat ini adalah Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Muhammad bin Nashr, dan banyak lagi yang lainnya sebagaimana akan datang apakah mereka ini adalah orang-orang yang terkena penyakit tajsim Ya Ustadz ?! dan sungguh mereka ini demi Alloh lebih tahu tentang Alloh dan RasulNya dibandingkan denganmu.
Inilah contoh-contoh yang disebutkan oleh Al-Ghazali menunjukkan kepada kita adabnya yang …, padahal Rasulullah ( telah bersabda : Bukanlah dari kami orang yang tidak menghormati yang tua, merahmati yang muda, dan mengetahui hak ulama ( Diriwayatkan oleh Ahmad 5/323 dan Al-Hakim 1/211 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami Shagir : 5443 ) ( Thaliah Samthi Laali hal. 35 ).

PENULIS TIDAK ADIL DAN OBYEKTIF DALAM MEMAPARKAN DALIL-DALIL LAWANNYA

Suatu misal di saat penulis membicarakan tentang masalah musik, dia bawakan hadits-hadits yang malul ( ada cacatnya ) seraya menukil ucapan Ibnu Hazm padanya, dan berpaling dari menyebutkan hadits-hadits yang shahih dalam masalah, padahal jumlahnya banyak sekali ( Lihat Thaliah Samthi Laali hal. 36-37 ).

PENULIS BANYAK BERARGUMEN DENGAN HADITS-HADITS LEMAH

Di dalam mendebat ahli hadits penulis banyak berhujjah dengan hadits-hadits yang lemah, dalam keadaan dia sendiri berkata dalam hal. 57 dari kitabnya ini : Orang yang masuk dalam medan agama dalam keadaan bekalnya dalam ilmu hadits sangat sedikit, maka dia ini seperti orang yang masuk pasar dengan membawa uang palsu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri jika dia kemudian ditangkap polisi dan diborgol tangannya ! .
– Penulis berkata dalam hal. 39-49 dari kitabnya ini : Dan yang menunjukkan apa yang kami sebutkan bahwasanya seorang wanita yang dipanggil dengan Ummu Khollad datang kepada Nabi ( dalam keadaan bercadar, dia menanyakan tentang anaknya yang gugur dalam salah satu peperangan. Maka sebagian sahabat bertanya kepada wanita ini : Kamu bertanya tentang anakmu dalam keadaan kamu bercadar ?! , wanita tersebut menjawab : Jika aku bisa merelakan anakku maka aku tidak akan bisa merelakan rasa maluku . Keheranan sahabat terhadap cadar wanita ini menunjukkan bahwa cadar bukanlah bagian dari ibadah .
Hadits yang dibawakan penulis di atas adalah hadits yang lemah lagi mungkar, diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya : 2488, Abu Yala dalam Musnadnya 3/No:1591, dan Baihaqi dalam Sunan Kubro 9/175, dari jalan Faraj bin Fadhalah dari Abdul Khabir bin Qais bin Tsabit dari bapaknya dari kakeknya.
Hadits ini memiliki dua illah :
1. Faraj bin Fadhalah lemah
2. Abdul Khabir bin Qais dikatakan munkarul hadits ( haditsnya mungkar ) oleh Abu Hatim dan Abu Ahmad Al-Hakim ( Lihat Jarh wa Tadil 3/1/38, Al-kamil 5/1985 dan Thaliah Samthi Laali hal. 40 ). Hadits ini dilemahkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dhaif Sunan Abi Dawud hal. 192.
– Penulis dalam hal. 87 membawakan hadits Anas bahwasanya Rasulullah ( bersabda : Infaq semuanya di jalan Alloh kecuali bangunan maka dia tidak ada kebaikan padanya .
Hadits ini adalah hadits yang lemah, diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jaminya : 2482, dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil 3/1087 dari jalan Zafir bin Sulaiman dari Israil dari Syabib bin Bisyr dari Anas bin Malik secara marfu.
Tirmidzi berkata : Hadits ini gharib, Zafir bin Sulaiman dilemahkan oleh Nasai, Abu Zurah, As-Saji, Ibnu Adi, dan Ibnu Hibban, dia ditsiqahkan oleh Ibnu Main dan yang lainnya, Al-Hafidz Ibnu Hajar meringkas perkataan para ulama padanya dengan perkataanya : Shaduq banyak waham( kesalahan )nya. Syabib bin Bisyr lemah pada hafalannya, dikatakan oleh Ibnu Hajar : Shaduq yukhthiu ( biasa berbuat salah ). Hadits ini dilemahkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Dhaifah 3/173.
– Penulis dalam hal. 117-18 dari kitabnya ini membawakan hadits dari Ali bahwasanya Rasulullah ( bersabda : Sesungguhnya akan terjadi fitnah-fitnah ,Ali berkata : Apakah jalan keluarnya wahai Rasulullah? , Rasulullah ( bersabda : Kitabullah Taala di dalamnya terdapat berita tentang yang sebelum kalian … .
Hadits ini sanadnya lemah sekali, diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jaminya : 2906, Ahmad dalam Musnadnya 1/91, dan Darimi dalam Sunannya 2/527 dari jalan Harits Al-Awar dari Ali.
Harits Al-Awar dikatakan pendusta oleh Syabi dan Abu Khaitsamah, ditinggalkan riwayatnya oleh Ibnu Mahdi, dan dilemahkan oleh Ibnu Main, Abu Hatim, Abu Zurah,Ibnu Sad, dan Nasai. Hadits ini dikatakan : Dhaif Jiddan ( lemah sekali ) oleh Syaikh Al-Albani dalam Dhaiful Jami : 2081.

PENUTUP

Kami akhiri bahasan ini dengan sebuah pembahasan tentang pengertian ahli hadits dan keutamaan mereka, karena Al-Ghazali menjadikan kitabnya ini sebagai ajang celaan terhadap ahli hadits dan bahwasanya mereka jauh dari fiqih, dan cukuplah sebagai bantahannya bahwa Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafii, dan Al-Imam Ahmad digolongkan oleh para ulama sebagai fuqahaul muhadditsin ( ahli fiqihnya ahli hadits ).
Siapakah Ahli Hadits ? Istilah ahli hadits diletakkan pada setiap orang yang menjaga dan menghafal hadits Nabi ( , memahaminya secara lahir dan batin, ittiba terhadapnya secara lahir dan batin, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu Fatawa 4/95 : Karakter minimal pada mereka ini yaitu ahli hadits adalah : kecintaan terhadap Al-Quran dan Al-Hadits, mempelajari keduanya dan mempelajari makna-makna keduanya, serta beramal dengan apa yang mereka ketahui dari kandungan keduanya. Maka fuqaha ahli hadits lebih tahu tentang Rasulullah ( dibandingkan dengan fuqaha selain mereka .
Al-Imam Asy-Syafii berkata : Wajib atas kalian mengikuti ashabul hadits karena mereka adalah manusia yang paling banyak kebenarannya .
Beliau juga berkata : Jika aku melihat seseorang dari ashabul hadits seakan-akan aku melihat seorang dari sahabat Rasulullah ( ( Bidayah wa Nihayah 10/212 ).
Banyak sekali perkataan-perkataan para ulama tentang keutamaan ahli hadits yang bisa dilihat dalam kitab Syaraf Ashabil Hadits oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dan kitab Makanatu Ahlil Hadits wa Ma-atsiruhum wa Aatsaruhum Al-Hamidah oleh Syaikh Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali.
Semoga Alloh menjadikan kita termasuk orang-orang yang menempuh jalan Ahli Hadits dan menjauhkan kita dari semua jalan kesesatan. Amin.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.