SIAPAKAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH ?

SIAPAKAH AHLI SUNNAH WAL JAMAAH ?

Sesungguhnya umat ini dalam keadaan dirahmati oleh Alloh pada generasi awalnya, Alloh jaga mereka dari berbagai macam hawa nafsu dan penyelewengan, mereka selalu istiqomah dalam ketaatan kepada Alloh dan RasulNya, mereka adalah para sahabat Nabi ( yang tidak dikenal diri mereka kecuali ittiba kepada Rasulullah ( dan kepada Kitab yang diturunkan oleh Alloh kepadanya.
Demikian juga jejak mereka diikuti oleh generasi penerus mereka dari para tabiin dan para imam yang berada di atas petunjuk semoga Alloh meridhai mereka semuanya -.
Kemudian datanglah sesudah mereka generasi-generasi belakangan yang tidak merasa cukup dengan wahyu dan syariat Alloh, mereka gunakan akal mereka untuk mengoreksi wahyu dari Alloh Dzat Yang Maha Mengetahui, mereka cerai beraikan umat menjadi kelompok-kelompok sempalan yang masing-masing merasa lebih benar dari kelompok yang lainnya, dalam keadaan masing-masing taklid kepada akal-akal mereka yang dangkal, dan pemahaman-pemahaman mereka yang sempit.
Tidak henti-hentinya ahlil bida wal ahwa menyebarkan kesesatan mereka kepada manusia mereka sebarkan pemikiran mereka dengan segala cara, bahkan mereka tidak segan-segan menampakkan kepada umat bahwa mereka adalah ahlul haq, bahkan banyak dari mereka yang mengklaim bahwa merekalah ahli sunnah wal jamaah !.
Dari sinilah dibutuhkan pengertian yang benar terhadap mafhum ahli sunnah agar tidak masuk kepadanya yang di luar ahli sunnah, demikian juga agar tidak dikeluarkan darinya orang-orang yang termasuk di dalamnya.

DEFINISI SUNNAH SECARA BAHASA

Ahli Sunnah adalah setiap orang yang mengikuti Sunnah,dan Sunnah secara bahasa adalah الطريقة ( jalan ) yang baik maupun yang jelek, Rasulullah ( bersabda :
من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء
“ Barangsiapa yang membuat sunnah yang baik dalam Islam maka dia mendapat pahala dari sunnah tersebut dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa yang membuat sunnah yang jelek dalam Islam maka mendapat dosa dan dosa orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun ( Shahih Muslim 2/705 ).
Ibnu Manzhur berkata : Sunnah adalah jalan yang baik atau yang jelek ( Lisanul Arab 17/89 ).

DEFINISI SUNNAH SECARA ISTILAH

Adapun Sunnah menurut istilah ahli hadits maka dia adalah : Apa yang datang dari Nabi ( baik berupa perkataan, atau perbuatan, atau persetujuan, atau sifat fisik, atau perilaku, atau perjalanan hidup, sebelum dan sesudah diangkat menjadi nabi ( Taujihun Nazhar Ila Ushulil Atsar oleh Thahir bin Shalih Ad-Dimasyqy hal. 3 dan As-Sunnah Wa Makanatuha Fit Tasyri oleh As-Sibai hal. 47 ).
Sedangkan dalam istilah ahli ushul maka Sunnah adalah Apa yang dinukil dari Nabi ( secara khusus dari hal-hal yang belum dinashkan dalam Al-Quran, dia dinashkan dari sisi Nabi ( yang merupakan penjelas dari yang ada dalam Al-Kitab ( Al-Muwafaqat oleh Asy-Syathiby 4/3 ).
Sunnah diartikan juga sebagai lawan dari bidah, di saat menyebarnya bidah-bidah dan ahwa, Al-Imam Asy-Syathiby berkata : Dipakai juga ( Lafadz Sunnah ) sebagai lawan dari bidah, dikatakan Fulan di atas Sunnah jika dia beramal sesuai dengan apa yang ditempuh oleh Nabi ( … dan dikatakan Fulan di atas bidah jika dia mengamalkan kebalikannya ( Al-Muwafaqat 4/4 ).
Al-Hafidz Ibnu Rajab berkata : Sunnah adalah jalan yang ditempuh , maka dia adalah berpegang teguh dengan jalan yang ditempuh oleh Nabi ( dan Khulafaur Rasyidin baik berupa keyakinan, perbuatan, dan perkataan, inilah Sunnah yang sempurna, karena inilah maka ulama salaf sejak dulu tidak memakai lafadz sunnah kecuali meliputi semua hal di atas, ini diriwayatkan dari Al-Hasan, Auzai, dan Fudhail bin Iyadh ( Jamiul Ulum wal Hikam hal. 262 ).

DEFINISI AHLI SUNNAH

Al-Imam Ibnu Hazm berkata : Ahli Sunnah yang kami sebutkan adalah ahlil haq, dan yang selain mereka adalah ahli bidah, maka ahli sunnah adalah para sahabat dan setiap yang menempuh jalan mereka dari para tabiin, kemudian ashabul hadits dan orang-orang yang mengikuti mereka dari para fuqaha dari generasi ke generasi berikutnya hingga saat ini, demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan awam di timur bumi dan baratnya semoga Alloh merahmati mereka semuanya ( Al-Fishal fil Milal wal Ahwa wan Nihal 2/271 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Ahli Sunnah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ( dan apa yang disepakati oleh As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik ( Majmu Fatawa 3/375 ).
Beliau juga berkata : Barangsiapa yang mengikuti Kitab dan Sunnah dan Ijma maka dia termasuk ahli sunnah wal jamaah ( Majmu Fatawa 3/346 ).
Yang keluar dari definisi ahli sunnah adalah setiap ahli bidah dan ahwa yang menyeleweng dari Rasulullah ( dan apa yang disepakati oleh As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Maka tidaklah seorang benar-benar dikatakan ahli sunnah sehingga dia berlepas diri dari semua ahli bidah dan pemikiran-pemikiran mereka sebagaimana seorang tidak dikatakan bertauhid hingga dia berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya.
Al-Imam Abdullah bin Mubarak berkata : Asal dari 72 bidah adalah 4 bidah, dari keempat bidah inilah bercabang menjadi 72 kebidahan ( Empat bidah ini adalah ) : Qadariyyah, Murjiah, Syiah, dan Khawarij. Barangsiapa yang mendahulukan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali atas semua sahabat Rasulullah ( dan tidak membicarakan para sahabat kecuali dengan kebaikan, maka dia telah lepas dari bidah syiah dari awal hingga akhir, barangsiapa yang mengatakan iman perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, maka dia telah lepas dari bidah irja dari awal hingga akhir, barangsiapa yang mengatakan sahnya sholat di belakang imam yang baik dan fajir, wajibnya jihad bersama setiap khalifah, tidak memandang bolehnya memberontak kepada penguasa dengan pedang, mendoakan penguasa dengan kebaikan, maka dia telah lepas dari perkataan khawarij dari awal hingga akhir, barangsiapa yang mengatakan : Semua taqdir dari Alloh, yang baik dan yang buruk, Alloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, maka sungguh dia telah lepas dari perkataan qadariyyah dari awal hingga akhir, maka dialah ahli sunnah ( Syarhus Sunnah oleh Barbahari hal. 57 ).

AHLI SUNNAH TIDAK MEMILIKI NAMA DAN JULUKAN KECUALI ISLAM DAN DILALAHNYA

Ahli sunnah memiliki karakteristik yang berbeda dengan ahli bidah dari segi bahwasanya ahli sunnah tidak memiliki nama dan julukan kecuali Islam dan dilalah ( signifikasi ) nya.
Ahli sunnah tidak pernah menisbahkan diri kepada seorangpun dan tidak menjadikan suri tauladan dalam segala sesuatu kecuali kepada Rasulullah ( .
Al-Imam Malik berkata : Ahli sunnah tidak memiliki julukan yang dikenal dengannya, bukan jahmi, tidak juga qadari, dan tidak juga rafidhi ( Al-Intiqa Fi Fadhaili Tsalatsatil Aimmah Fuqaha oleh Ibnu Abdil Barr hal. 35 ).
Para ulama salaf demikian sangat dalam melarang penamaan dan penisbahan selain Islam, Ibnu Abbas berkata : Barangsiapa yang mengakui dan mengikuti nama-nama yang dibuat-buat ini maka sungguh dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya ( Ibanah Shughra oleh Ibnu Baththah hal. 137 ).
Malik bin Mighwal berkata : Jika seseorang menamakan diri dengan selain Islam dan sunnah maka lekatkanlah dia dengan agama mana saja ( Ibanah Shughra oleh Ibnu Baththah hal. 137 ).
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : Di antara tanda-tanda ahli ubudiyyah bahwasanya mereka tidak menisbahkan diri kepada suatu nama, maksudnya mereka tidak dikenal oleh manusia dengan nama-nama yang telah menjadi simbol-simbol bagi para ahli thariqah. Demikian juga mereka tidak dikenal dengan suatu amalan yang nama mereka hanya dikenal dengan amalan tersebut, karena ini adalah penyakit ubudiyyah, karena ubudiyyah ini adalah ubudiyyah yang terbatas. Adapun ubudiyyah yang mutlak maka pelakunya tidak dikenal dengan salah satu dari nama-nama ubudiyyah, karena dia memenuhi setiap panggilan ubudiyyah dengan berbagai macamnya. Dia memiliki bagian bersama setiap pemilik ubudiyyah, maka dia tidak membatasi diri dengan simbol, isyarat, nama, kostum, dan thariqah. Bahkan jika dia ditanya tentang nama mursyidnya dia mengatakan : Rasulullah ( , jika ditanya tentang thariqahnya dia menjawab : Ittiba … Sebagian imam telah ditanya tentang Sunnah maka dia menjawab : Yang tidak punya nama lain kecuali sunnah , maksudnya bahwa ahli sunnah tidak memiliki penisbahan nama selain Sunnah ( Madarijus Salikin 3/174 dan 176 ).
Syaikh Bakr Bin Abdullah Abu Zaid berkata : Ahli sunnah wal jamaah yang berjalan di bawah minhajun nubuwwah tidak pernah lepas walau sedetikpun dari Sunnah, tidak dengan suatu nama dan tidak juga dengan suatu simbol, mereka tidak pernah menisbahkan diri kepada seorangpun kecuali kepada Rasulullah ( dan orang yang mengikuti jejaknya. Mereka tidak memiliki simbol dan metode kecuali manhaj nubuwwah ( yaitu Kitab dan Sunnah ), karena suatu yang asli tidak butuh tanda khusus untuk dikenal, yang butuh nama tertentu adalah yang keluar dari yang asli dari kelompok-kelompok yang menyempal dari yang asli ( yaitu Jamaatul Muslimin ) ( Hukmul Intima Ilal Firaq Wal Ahzab Wal Jamaatil Islamiyyah hal. 28 ).
Dari sini nampaklah kepada kita bahaya yang sangat dari banyaknya kelompok-kelompok dan partai-partai Islam yang memiliki nama-nama, julukan-julukan, metode-metode, dan simbol-simbol yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Jadilah setiap kelompok memiliki juru kampanye, simpatisan, dan anggota, mereka berikan loyalitas mutlak kepada setiap orang yang loyal kepada kelompok mereka dan menisbahkan diri kepada kelompok mereka, di sisi lain mereka menjauhi bahkan memusuhi setiap orang-orang yang menyelisihi kelompok mereka dan tidak bernaung di bawah panji-panji mereka !.
Sampai-sampai sebagian dari mereka memberikan loyalitas kepada para ahli bidah dari rafidhah, khawarij,bathiniyyah, shufiyyah, dan selain mereka karena para ahli bidah ini masuk ke dalam partai dan kelompok mereka, di saat yang sama mereka memusuhi ahli sunnah karena tidak masuk ke dalam partai dan kelompok mereka dan tidak ridha dengan kelakuan mereka !.

NAMA-NAMA AHLI SUNNAH YANG SYARI

Ketika muncul berbagai kelompok bidah dan kesesatan, masing-masing menyeru kepada kelompoknya dalam keadaan mereka menisbahkan diri kepada Islam secara zhahir -, maka ahlil haq para pengikut jalan Rasulullah ( dan para sahabat perlu memiliki nama-nama yang membedakan mereka dari kelompok-kelompok sesat ini, sehingga muncullah saat itu nama-nama ahli sunnah yang syari yang bersumber dari Islam.
Di antara nama-nama mereka adalah : Ahli Sunnah Wal Jamaah, Firqatun Najiyah, Thaifah Manshurah, dan Salaf.
Nama-nama ini tidak bertentangan dengan pembahasan di atas bahwasanya ahli sunnah tidak memiliki nama atau julukan selain Islam dan dilalahnya, karena nama-nama ini termasuk dilalah ( signifikasi ) Islam .
Nama-nama ahli sunnah ini sebagian darinya tsabit dengan nash dari Rasulullah ( dan sebagian yang lainnya diapatkan oleh mereka karena pengamalan mereka terhadap islam dengan pengamalan yang shahih. Hal ini sangat berbeda sekali dengan nama-nama ahli bidah dan julukan-julukan mereka, karena nama-nama ahli bidah adakalanya meruju kepada person seperti jahmiyyah nisbah kepada Jahm bin Shofwan, zaidiyyah nisbah kepada Zaid bin Ali bin Husain, kullabiyyah nisbah kepada Abdullah bin Kullab, karramiyyah nisbah kepada Muhammad bin karram, dan asy’ariyyah nisbah kepada Abul Hasan Al-Asy’ari.
Adakalanya merujuk kepada asal usul kebid’ahan mereka, seperti rafidhah karena mereka رفضوا ( menolak ) Zaid bin Ali atau menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar, qadariyyah karena mereka menolak qadar ( taqdir ), murji’ah karena mereka أرجأوا ( menangguhkan ) amalan dari definisi iman, khawarij karena mereka khuruj ( keluar ) dari ketaatan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, dan mu’tazilah karena mereka i’tizal ( menjauhi ) majelis Hasan Al-Bashri.
Adapun dalil-dalil atas nama-nama ahli Sunnah maka akan kita jelaskan satu persatu :
Ahli Sunnah wal Jamaah.
Nama ini mengandung dua bagian : Ahli Sunnah dan Al-Jamaah.
Adapun lafadz Ahli Sunnah maka yang dimaksud dari lafadz Sunnah di sini adalah Islam secara keseluruhan sebagaimana dalam pembahasan definisi Sunnah secara istilah di atas, Rasulullah ( telah memerintahkan setiap muslim agar berpegang teguh dengan Sunnah sebagaimana dalam sabdanya :
من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة
“Siapa yang hidup lama dari kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang yang baru adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/126, Ad-Darimi dalam Sunannya 1/57 , Tirmidzy dalam Jaminya 5/44, dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/15 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Zhilalul Jannah : 26,34 ).
Hadits ini menjelaskan bahwa seorang muslim yang hakiki adalah seorang muslim yang menegakkan sunnah dan bahwasanya setiap yang keluar dari Sunnah Rasulullah ( dan Sunnah Khulafaur Rasyidin adalah bidah.
Al-Imam Barbahari berkata : Ketahuilah bahwa Islam adalah Sunnah, dan Sunnah adalah Islam, tidak akan mungkin tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya ( Syarhus Sunnah hal. 21 ).
Adapun lafadz Al-Jamaah maka datang dalam hadits Rasulullah ( :
ان هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة يعني الأهواء كلها في النار الا واحدة وهي الجماعة
“Sesungguhnya umat ini akan berpecahbelah menjadi 73 kelompok – yaitu dalam ahwa’ – semua di neraka kecuali satu yaitu Al-Jama’ah“ ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/102, Ad-Darimi dalam Sunannya 2/314 , dan Abu Dawud dalam Sunannya : 4597 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Zhilalul Jannah hal. 33 ).
Firqatun Najiyah ( Kelompok yang selamat ).
Nama ini diambil dari mafhum hadits iftiraqul ummah ( perpecahan umat ) di atas di mana Rasulullah ( meneyebutkan bahwa semua firqah ( kelompok ) di neraka, kecuali satu yang masuk surga, kelompok ini dikatakan الناجية ( selamat ) dari neraka.
Yusuf bin Asbath berkata : “ Pokok-pokok kebid’ahan ada empat cabang : Rawafidh, Khawarij, Qadariyyah, dan Murji’ah, kemudian masing-masing bercabang menjadi 18 kelompok itulah 72 kelompok, dan kelompok yang ke-73 adalah Al-Jamaah yang dikatakan oleh Nabi ( bahwa dia adalah najiyah ( selamat ) ( Asy-Syariah oleh Al-Aajuri hal. 51 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Jika saja sifat Firqatun Najiyah adalah para pengikut jalan sahabat dan itu adalah syiar dari Ahli Sunnah, maka Firqatun Najiyah adalah Ahli Sunnah ( Minhajus Sunnah 3/457 ).
Nama Firqatun Najiyah bagi Ahli Sunnah adalah nama yang masyhur di kalangan umat sampai-sampai ada sebagian ulama yang menjadikannya sebagai judul kitab-kitab mereka yang memaparkan aqidah Ahli Sunnah sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Baththah dalam kitabnya Al-Ibanah An Syariatil Firqatin Najiyah Wa Mujanabatul Firaqil Madzmumah , dan Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Kafiyatusy Syafiyah Fil Intishar Lil Firqatin Najiyah.
Demikian juga banyak para penulis kitab-kitab firaq dan maqalat menyebutkan bahwa Ahli Sunnah adalah Firqatun Najiyah seperti Abu Manshur Al-Baghdady dalam kitabnya Al-Farqu Bainal Firaq hal. 313, Abul Muzhaffar Al-Isfirayini dalam kitabnya At-Tabshir fid Diin hal. 185, dan Syaikh Hafidz Hakami dalam kitabnya Ma’arijul Qabul 1/19.
Ath-Thaifah Al-Manshurah ( Kelompok yang mendapat pertolongan).
Nama ini diambil dari hadits Rasulullah ( :
لن تزال طائفة من أمتي منصورين لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم الساعة
“Tidak henti-hentinya sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan ( dari Alloh ) tidak ada yang bisa membahayakan mereka siapapun yang menelantarkan mereka hingga tegaknya kiamat ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 5/34, Tirmidzi dalam Sunannya 4/485 , dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/5 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah 1/6 , hadits ini Muttafaq Alaih dengan lafadz :
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله ).
Ath-Thaifah Al-Manshurah ini adalah Ahli sunnah sebagaimana dinashkan oleh para imam seperti Al-Imam Bukhari , Al-Imam Ahmad bin Hanbal, dan Qadhi ‘Iyadh ( Lihat Syarah Nawawi atas Muslim 13/66-67 dan Fathul Bari 1/164 ).
Salafiyyun.
Nama ini disandang oleh Ahli Sunnah Wal Jamaah karena ittiba mereka terhadap manhaj Salafush Shalih yaitu para sahabat, tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan dan petunjuk.
Fairuz Abadi berkata : Salaf adalah orang-orang yang mendahuluimu dari nenek moyangmu dan kerabatmu ( Qamusul Muhith 3/153 ).
Rasulullah ( bersabda kepada Fatimah رضي الله عنها di saat beliau sakit keras menjelang wafat :
فاتقي الله واصبري ، فإنه نعم السلف أنا لك
“Bertakwalah kepada Alloh dan bersabarlah, maka sesungguhnya sebaik-baik salaf ( pendahulu ) bagimu adalah aku “ ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 5/2317 dan Shahih Muslim 4/1904 ).
Al-Qalsyani berkata : Salafush Shalih adalah generasi pertama yang mendalam keilmuan mereka , yang mengikuti jalan Nabi ( , yang selalu menjaga sunnah Nabi ( , Alloh pilih mereka sebagai sahabat NabiNya, dan Alloh tugaskan mereka untuk menegakkan agamaNya … ( Tahrirul Maqalah min Syarhi Risalah hal. 36 ).
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : Jika disebut salaf atau salafiyyun atau salafiyyah, maka dia adalah nisbah kepada Salafush Shalih : para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, bukan orang-orang yang cenderung kepada hawa nafsu dari generasi sesudah sahabat dan menyempal dari jalan para sahabat dengan nama atau simbol mereka inilah yang disebut khalafi, nisbah kepada khalaf -, adapun orang-orang yang teguh di atas manhaj kenabian maka mereka menisbahkan diri kepada Salafush Shalih sehingga mereka disebut salaf dan salafiyyun dan nisbah kepada mereka adalah salafi ( Hukmul Intima hal. 90 ).
Syaikh Al-Albani berkata : Adapun orang yang menisbahkan kepada Salafush Shalih maka dia telah menisbahkan diri kepada kemashuman secara umum – , Nabi ( telah menyebut sebagian tanda dari Firqatun Najiyah bahwasanya mereka berpegang teguh dengan jalan Rasulullah ( dan para sahabat. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya maka dia telah berada di atas petunjuk dari Rabbnya dengan yakin … tidak diragukan lagi bahwa penamaan yang jelas dan gamblang adalah dengan mengatakan : Saya seorang muslim yang mengikuti Kitab dan Sunnah dan Manhaj Salafush Shalih, yang dengan ringkas dia mengatakan : Saya salafi ( Majalah Al-Ashalah edisi 9 hal. 87 ).

 

KESIMPULAN

Ahli Sunnah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ( dan apa yang disepakati oleh As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Yang keluar dari definisi ahli sunnah adalah setiap ahli bidah dan ahwa yang menyeleweng dari Rasulullah ( dan apa yang disepakati oleh As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Tidaklah seorang benar-benar dikatakan ahli sunnah sehingga dia berlepas diri dari semua ahli bidah dan pemikiran-pemikiran mereka.
Ahli sunnah memiliki karakteristik yang berbeda dengan ahli bidah dari segi bahwasanya ahli sunnah tidak memiliki nama dan julukan kecuali Islam dan dilalah ( signifikasi ) nya.
Ahli sunnah tidak pernah menisbahkan diri kepada seorangpun dan tidak menjadikan suri tauladan dalam segala sesuatu kecuali kepada Rasulullah ( .
Ketika muncul berbagai kelompok bidah dan kesesatan, maka ahli sunnah perlu memiliki nama-nama yang membedakan mereka dari kelompok-kelompok sesat ini, sehingga muncullah saat itu nama-nama ahli sunnah yang syari yang bersumber dari Islam.Di antara nama-nama mereka adalah : Ahli Sunnah Wal Jamaah, Firqatun Najiyah, Thaifah Manshurah, dan Salaf.

والله أعلم بالصواب

Akhukum Fillah : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

8 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.