Serial Kajian Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (003)

Serial Kajian Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (003)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata : “tidaklah Allah menurunkan dari langit, obat yang paling mujarab bagi segala macam penyakit melebihi Al-Qur’an” [Hal.6]

Iya, al-Qur’an adalah obat bagi segala penyakit, baik itu penyakit lahiriyah (medis), maupun batiniyyah, termasuk penyakit kebodohan!

Dalam sebuah hadits riwayat al-Bukhori dan Muslim dalam kitab shohih mereka, dari Abu Sa’id -radhiyallahu anhu-, berkata :

“sekelompok sahabat Nabi pernah melakukan suatu perjalanan, hingga mereka tiba pada sebuah perkampungan arab.. merekapun meminta agar diizinkan sebagai tamu, namun warga kampung tersebut menolak.

Disaat bersamaan, kepala suku kampung tersebut disengat hewan beracun, mereka berusaha mengobatinya namun tidak berhasil… hingga salah seorang diantara mereka berkata, “kenapa kalian tidak datangi saja orang2 yang datang tadi, mungkin diantara mereka ada yang bisa membantu?”

Warga kampung tsb akhirnya menemui para sahabat, seraya berkata, “wahai sekelompok orang, sesungguhnya kepala suku kami disengat hewan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tidak ada hasil! apakah salah seorang diantara kalian ada yang bisa membantu?”

Salah seorang sahabat menjawab, “iya ada, demi Allah saya bisa meruqyah, namun sayang, tadi kami memohon agar dijadikan tamu kalian tapi kalian menolak kami! Maka sekarang aku tidak akan meruqyah kepala suku kalian, kecuali jika kalian berikan kami imbalan”.

Akhirnya disepakati imbalan beberapa ekor kambing, dan sahabat tersebut meniup kepala suku yang sakit dan membacakan surat al-Fatihah… tiba-tiba sang kepala suku yang sakit berdiri dengan tegak, dan berjalan dengan tenang seakan-akan tidak pernah terjadi penyakit pada dirinya… Merekapun memberikan imbalan yang telah disepakati.

Sebagian sahabat yang menerima imbalan tsb berkata, “mari kita bagi”.

Sementara yang meruqyah berkata, “jangan kita bagi sampai kita menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan kita ceritakan hal ini, kemudian kita tunggu apa yang akan diperintahkan beliau terhadap kita”.

Maka sekembalinya mereka, diceritakanlah kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam perkara tersebut. Beliaupun bersabda,

وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمْ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا

“siapa yang memberitahumu bahwa surat al-Fatihah adalah ruqyah?” kemudian beliau berkata, “kalian telah benar, berbagilah dan hitunglah aku sebagai salah seorang diantara kalian..” -Alhadits-

Allahu akbar! Pernahkah terpikir oleh kita ketika sakit berobat dengan surat al-Fatihah sebelum terbesit keinginan minum obat atau pergi ke dokter?

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “dan ini adalah obat termudah dan teringan, sekiranya seorang hamba menekuni pengobatan dirinya dengan surat al-Fatihah, niscaya dia akan dapati pengaruh kesembuhan yang menakjubkan” [Hal. 7]

Mungkin sebagian kita berkata, “saya sudah coba tapi gak ada pengaruhnya!”. Hal ini tidaklah mengherankan karena pengaruh bacaan al-Qur’an membutuhkan keyakinan kuat dari orang yang mengobatinya serta tidak adanya penghalang agar dikabulkan.

Perkaranya sama seperti do’a, dimana do’a adalah sebab terkuat bagi seseorang untuk menolak keburukan dan mendapat kebaikan, namun terkadang do’a tersebut tidak menunjukkan manfaat. Hal ini banyak faktornya, diantaranya :

1. Lemahnya do’a seperti seseorang berdo’a dengan yang dibenci oleh Allah.

2. atau lemahnya hati dengan tidak adanya sikap menerima dan kebersamaan dengan Allah ketika do’a dipanjatkan.

3. atau adanya penghalang terkabulnya do’a, seperti : memakan yang haram, kedholiman, dosa yang bertumpuk-tumpuk didalam hati, serta kondisi dirinya sedang dikuasai oleh kelalaian, syahwat dan tindakan kesia-siaan.

Dalil dari hal tersebut diatas :

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam kondisi yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan menerima do’a dari hati yang lalai lagi lengah” [HR. al-Hakim dan dishohihkan oleh Syekh al-Albani]

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“…Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: Wahai Rabbku, wahai Rabbku.., padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram. Maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan terkabul? [HR. Muslim]

Dari sini kita ketahui, bahwa seseorang yang ingin dijauhkan oleh Allah dari perbuatan kemaksiatan dan segala penyakit lainnya maka hendaknya dia banyak berdoa dan senantiasa mendekatkan diri pada Al-Qur’an.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh : Abu Abbas Aminullah Yasin
Pekalongan, 16 Maret 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.