Selalu minta Hidayah

🔥 *Selalu minta Hidayah …*

✍Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allâh memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki”. [Al-Qashash/28:56].

Ayat ini turun berkaitan dengan kisah keengganan Abu Tholib paman Nabi untuk mengucapkan kslimat Tauhid di akhir hidupnya, walaupun sudah didakwahi okeh Nabi secara maksimal.
Penggalan kisah ini memberikan pelajaran yang teramat berharga tentang betapa hidayah itu memang murni milik Allâh Azza wa Jalla dan hanya diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makhluk yang paling mulia dan paling dekat dengan Allâh Azza wa Jalla telah berusaha untuk mengusahakan hidayah untuk pamanda, namun takdir berkata lain. Oleh karenanya, hendaknya kita memohon hidayah kepada-Nya.

Kisah ini juga mestinya semakin memotivasi untuk terus bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas anugerahkan hidayah yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan kepada kita dengan menjadikan kita sebagai kaum Muslimin. Namun kita tidak boleh lalai dalam menjaga hidayah ini. Karena berbagai fitnah yang datang silih berganti senantiasa mengancam keberadaan hidayah yang ada di dada kita. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar mewaspadai fitnah yang bisa merusak keimanan dan mengancam keberlangsungan hidayah di dati kaum Muslim. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَادِرُوْا بِالْأَعْمَـالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْـمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُـؤْمِنًـا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.

Bersegeralah mengerjakan amal-amal shalih karena fitnah-fitnah itu seperti potongan malam yang gelap; di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan di sore hari menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan keuntungan duniawi yang sedikit. [HR. Muslim (no. 118 (186)), at-Tirmidzi (no. 2195), Ahmad (II/304, 523), Ibnu Hibban (no. 1868-Mawârid), dan selainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Do’a yang dipanjatkan oleh seorang Muslim memiliki peran penting dalam menggapai hidayah dan juga dalam upaya mempertahankannya. Karena hati yang merupakan wadah bagi hidayah mudah sekali berbolak balik. Dengan do’a yang diiringi dengan usaha untuk mempertahankan hidayah, pasti hati akan istiqamah di atas hidayah. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allâh beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-‘Ankabût/29:69]

Oleh karena itu, hendaklah senantiasa kita bersungguh-sungguh memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar terus diberi hidayah dan agar Allâh Azza wa Jalla memberikan kita kekuatan untuk menjaganya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M dengan sedikit pengeditan]

🍃Repost Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.