Rasa takut dan ma’rifatulloh

💧 *Rasa takut dan ma’rifatulloh …*

✍Kuatnya rasa takut kepada Allah itu tergantung dengan kadar ma’rifat (keilmuan) seseorang kepada Allah.
Mengenal Allah adalah ilmu yang pertama yang harus dipelajari seorang muslim.
Seorang Muslim wajib mengenal Allah. Bahkan mengenal Allah, menjadi kewajiban pertama yang harus dilakukannya sebelum menjalankan kewajiban Islam lainnya. Terdapat beberapa dalil dari Al-Qur’an yang menjelaskan kewajiban tersebut. Mengenal bukan sekadar mengetahui, tetapi juga mengetahui sekaligus mengakui keberadaan-Nya. Orang yang hanya mengetahui Allah tetapi tidak mengakui, maka belum dianggap beriman.
(Al-I’tiqod, Imam Al-Baihaqi)

Allah memerintahkan dengan tegas agar hambanya yang beriman mengenal diri-Nya.
Allah berfirman,

فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ
“Ketahuilah bahwa tiada tuhan selain Allah.” (Muhammad: 19)

Allah berfirman,

فَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَىٰكُمۡۚ
“Ketahuilah bahwa Allah adalah tuhan kalian.” (Al-Anfal: 40)

Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله,
Apabila ditanyakan kepadamu, “Apa Al-Ushul As-Tsalatsah (tiga hal mendasar) yang wajib diketahui oleh tiap-tiap Muslim?”
Maka, jawablah, “Seorang hamba mengenal Tuhannya, agamanya, dan Nabinya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
(Al-Ushul Ats-Tsalatsah, Syaikh Muhammah bin Abdul Wahhab)

Hanya orang yang mengenal Allah yang akan memiliki rasa takut kepada-Nya
Sebagaimana firman
Allah,

إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ
“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu saja.” (Fathir: 28)

Al-Imam Ibnul Qayyim رحمه الله tatkala menjelaskan ayat ini beliau berkata,
“…Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka. Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut….”
(Thariq al-Hijratain, dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini artinya, setiap orang yang semakin berilmu tentang Allah niscaya dialah orang yang lebih banyak takut kepada-Nya. Sementara rasa takutnya kepada Allah itu pasti akan memunculkan sikap menahan diri dari kemaksiatan-kemaksiatan serta bersiap-siap untuk berjumpa dengan sosok yang ditakutinya (Allah). Ini merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, karena ia merupakan pendorong menuju rasa takut kepada Allah. Orang-orang yang senantiasa merasa takut kepada-Nya, itulah yang akan meraih kemuliaan dari-Nya…” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 756)

Mengenal Allah merupakan sebuah kenikmatan tiada tara yang banyak tidak dirasakan oleh manusia. Sebagian ulama salaf berkata, “Orang-orang yang malang di antara penduduk dunia ini adalah mereka yang keluar darinya -dari dunia- dan tidak sempat mencicipi kenikmatan paling lezat di dalamnya.” Lantas ada yang bertanya, “Apakah kenikmatan paling lezat yang ada di dalamnya?”. Dia menjawab, “Mengenal Allah, mencintai-Nya dan merasa tentram dengan mendekatkan diri kepada-Nya serta rindu untuk berjumpa dengan-Nya.” (Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 21, Syaikh DR. Abdur Rozzaq Al-Badr)

Berkata Imam Fudhoil bin Iyadh رحمه الله,

رهبة المرء من الله تعالى على قدر علمه بالله تعالى.
📚أدب الدنيا والدين، ص. 113.

Rasa takutnya seseorang kepada Allah tergantung kadar ma’rifat (keilmuannya) tentang Allah.
📚Adab Ad-Dunya wa Ad-Din, h.113

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.✨ ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.