Rambu dalam fanatisme

🔥Rambu dalam fanatisme …

✍Islam sebagai agama mempunyai ketetapan berupa syari’at yang wajib ditaati dan diikuti oleh pemeluknya, dimana syari’at yang digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui al-Qur’an dan as-Sunnah Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam berbeda dengan syari’at agama lainnya, baik dalam segi ibadah maupun muamalah termasuk tata dan pola dan perilaku kehidupan sehari-hari.

Namun ternyata dewasa ini banyak sekali muncul perilaku umat Islam yang mengekor kepada perilaku umat lain diluar Islam.Gambaran nyata yang disebutkan diatas adalah realita yang tidak dapat dipungkiri, karena ternyata mereka-mereka yang mengaku dirinya sebagai penganut islam penampilannya sudah menyatu dengan penampilan mereka-mereka yang non muslim, dan sudah sulit membedakannya satu sama lainnya.

Setiap muslim yang ingin mengikuti manhaj salaf jika ingin pandai dalam memandang realita yang ada yang semakin rumit dan membutuhkan sandaran yang kuat. Sebab, jika tidak yang terjadi adalah bersikap kaku dalam memahami nash tanpa pandai dalam memandang realita atau sebaliknya terlalu berani dalam mensikapi realita sehingga melanggar batasan batasan dalil syar’i.

📌Ketergelinciran Alim
Adapun terhadap para penuntut ilmu perkara pertama yang harus ia perhatikan adalah bagaimana cara mengetahui ketergelinciran seorang alim?

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Mu’adz bin Jabbal ditanya, “Bagaimana kita mengetahui ketergelincirian seorang alim?” Beliau menjawab, “Apa yang engkau nilai rancu dari perkataan seorang alim, atau apa yang tidak sesuai dengan hati kaum muslimin dan mereka tidak dapat mengerti.”

Begitu pula Salman Al-Farisi ditanya, “Bagaimana engkau mengetahui ketergelinciran seorang alim?” Ia berkata, “Sesungguhnya kebenaran adalah cahaya yang dapat diketahui.” (Ibnu Rajab Al Hambali, Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 342 dan Imam Ath Thabari, Tahzhib al Atsar, hal. 254)

Perkara lain yang perlu diperhatikan adalah bersikap adil terhadap perkataan seorang alim, tidak boleh berlebih-lebihan. Ketika seorang penuntut ilmu mendapati kekeliruan pada gurunya maka ia harus menyadari kekeliruan bisa terjadi pada siapa saja, lalu ia meningalkan pendapat gurunya, sebab perkataan siapapun dapat diterima dan ditolak kecuali perkataan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Sebagaimana ungkapan Mujahid, Imam Malik dan lainnya:

ليس أحد من خلق الله إلا يؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tidak ada seorangpun setelah Nabi صلى الله عليه وسلم, kecuali perkataannya itu ada yang diambil dan ada yang ditinggalkan, kecuali Nabi صلى الله عليه وسلم.“ (Ibnu Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayanil-‘Ilmi wa Fadhlihi juz II, hal. 111-112).

Ketika seorang muslim tetap mengikuti suatu pendapat yang jelas-jelas salah dan bertentangan dengan kebenaran, maka sungguh ia sedang berada kecelakaan. Ibnu Abbas berkata:

ويل للأتباع من عثرات العالم ، قيل : كيف ذلك ؟ قال : يقول العالم شيئا برأيه ، ثم يجد من هو أعلم برسول الله صلى الله عليه وسلم منه; فيترك قوله ثم يمضي الأتباع

“Kecelakaan bagi para pembeo terhadap kesalahan orang yg berilmu. Beliau ditanya; bagaimana itu terjadi? Dia menjawab; “Orang berilmu tersebut mengeluarkan statemen dengan pendapatnya (yang salah) kemudian ia mendapati orang yang lebih faham (lebih benar) apa yang datang dari Nabi yang menyelisihinya. Namun ia mengacuhkan pendapat orang itu dan tetap mengikuti pendapat yang salah.” (Khatib al Baghdadi, al Faqih wal Mutafaqih; 2/213).

Diantara konsekuensi kalimat syahadat yang selalu kita dengung-dengungkan adalah tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya, menghalalkan apa yang Allah halalkan dan mengharamkan apa yang Allah haramkan. Maka sebuah kewajiban bagi semua kaum muslimin untuk selalu mendahulukan firman Allah dan sabda Rasul-Nya dari seluruh ucapan manusia di dunia ini setinggi apapun kedudukannya dan semulia apapun nasabnya. Tidak boleh kita taklid buta kepada seseorang sampai-sampai ketika beliau tergelincir dalam suatu permasalahan, maka kita tetap mengikuti ketergelinciran beliau dan melupakan firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya.

Allah mengingatkan kaum muslimin jangan seperti kaum nasrani dan yahudi,
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (At Taubah : 31)

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memandang kebenaran dan kesalahan berdasarkan mizan (timbangan) syar’i, sebab betapa banyak orang yang menginginkan kebenaran namun melalui jalan yang salah.
Wallahu ‘alam.

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.🔥…💧

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.