Polemik tentang Orang tua Nabi صلى الله عليه وسلم di neraka …

📒 Polemik tentang Orang tua Nabi صلى الله عليه وسلم di neraka …

✍Polemik seperti ini harus dikembalikan kepada dalil karena ini menyangkut masalah ghoibiyyah, tidak boleh ditakwilkan dengan akal.
Ada yang mengingkari hadits tentang kedua orang tua Nabi صلى الله عليه وسلم di neraka. Padahal itu hadits shohih yang diriwayatkan Imam Muslim.
Dari Anas berkata,
أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِيْ؟ قَالَ: فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
“Bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR. Imam Muslim, 203).

Mereka mengingkari hadits ini ada yang dengan takwil dan dengan tegas menolak hadits ini sekalipun shohih riwayat Muslim.

Ada yang mengingkari dengan takwil.
🔵Katanya Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan itu untuk menghibur musibah sahabat yang bertanya.
🔵Ada juga yang mentakwil bahwa kedua orang tua Nabi itu hidup di masa fatrah, sehingga tidak diazab karena belum diutusnya Rasul kepada mereka.
🔵Ada juga yang mengatakan hadits ini sudah dimansukh dengan hadits Aisyah.
🔵Ada juga yang mentakwil, kedua orang tua Nabi dihidupkan oleh Allah lalu dipertemukan dengan Nabi dan beriman kepadanya.
Ada juga yang mengingkari dengan akalnya, karena pernyataan kedua orang tua Nabi di neraka itu termasuk istihza (pelecehan) kepada Nabi.
Atau pernyataan itu hanya bersifat jawazul aqliyyah (kemungkinan secara akal), maka boleh ditolak atau boleh diterima, sehingga yg lebih condong ya ditolak untuk membersihkan keluarga Nabi.

Maka semua syubhat-syubhat itu jika dikembalikan kepada dalil yang shohih, bahwa kedua orang tua Nabi di neraka karena meninggalnya dslam keadaan musyrik (menyekutukan Allah).
Seandainya alasan diatas diterima niscaya Allah lebih mengetahui kepastian jawaban itu, tatkala Nabi memintakan ampun atas dosa kedua orang tuanya tetapi ditolak oleh Allah. Yang demikian itu tidak lain karena mereka meninggal dalam keadaan kafir.
Dari Abu Huroiroh berkata,
زَارَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ « اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ »
Rasulullah berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian”
(HR. Muslim no.108, 2/671)

Bukankah orang tua Nabi Ibrahim عليه السلام juga meninggal dalam kekafiran?
Tetapi hal itu tidak mengurangi sedikitpun kemulian beliau dengan kekafiran orang tuanya.

Sehingga keyakinan orang tuanya Nabi di neraka itu sesuatu hal yang pasti, dan tidak perlu diingkari.

Wallahu a’lam.

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.💧…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.