Perumpamaan manusia yang menerima islam…

🔥Perumpamaan manusia yang menerima islam…

✍Perumpamaan wahyu yang Allah turunkan kepada manusia dalam menerimanya seperti air hujan dan tanah. Wahyu ibarat air hujan dan tanah seperti ibarat hati-hati manusia

Ada sebuah perumpamaan yang dibuat oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan manusia dalam menghadapi hidayah ini.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مثل ما بعثني اله به من الهدى والعلم كمثل الغيث الكثير أصاب أرضاً ، فكان منها نقية قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير ، وكانت منها أجادب أمسكت الماء ، فنفع الله بها الناس فشربوا وسقوا وزرعوا ، وأصاب منها طائفة أخرى إنما هي قيعان لا تمسك ماءً ولا تنبت الكلأ فذلك مثل من فقه في دين الله ونفعه ما بعثني الله به فعلم وعلم ، ومثل من لم يرفع بذلك رأساً ، ولم يقبل هدى الله الذي أرسلت به

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya seperti air hujan yang turun ke bumi. Ada tanah yang dapat menyerap air, kemudian menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Ada juga bagian tanah yang dapat menampung air, manusia dapat minum, memberi minum hewan ternak dan menyiram tanaman. Ada juga tanah yang tandus, tidak menampung air, tidak juga menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang-orang yang faham dalam agama Allah, yang dapat mengambil manfaat dari petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya, dan perumpamaan orang yang tidak memiliki perhatian terhadapnya, tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR Bukhari, 175 dan Muslim, 2282 )

Hidayah itu turun untuk semua manusia, tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian pula hujan ketika turun di suatu tempat, ia tidak milih-milih.
Agama islam diibaratkan seperti hujan yang turun ke atas bumi, ada tiga macam manusia di dalam menghadapi cahaya agama; sama seperti bumi yang menghadapi hujan yang turun.
Pertama adalah manusia yang sanggup untuk menerima cahaya agama; dia pelajari agama, suka mengaji, suka shalat, suka berpuasa, suka silaturrahim, suka menuntut ilmu, kemudian sesudah dia punya ilmu, dia ajarkan kepada saudara-saudarnya, itu ibarat tanah yang subur ketika hujan turun dia menyerap air hujan kemudian ia tumbuhkan tumbuh-tumbuhan itu ibarat manusia yang mau menuntut ilmu, kemudian sesudah memiliki ilmu dia mengajarkannya.
Kedua, ada juga macam tanah yang tidak bisa menyerap air tetapi ia bisa menahan, nah tanah tersebut ada yang besar dan kecil, ada yang disebut danau, laut, kolam. inilah manusia yang kedua, ia tidak bisa menyerap air, tetapi bisa menahan air, sehingga bisa bermanfaat bagi orang lain. Ini orang yang bermanfaat bagi orang lain, memerintah orang kepada kebaikan tetapi ia sendiri tidak mengerjakannnya.
Ketiga, ada tanah yang keras, yang air tidak bisa diserap, atau seperti batu yang tidak bisa menyerap air seperti puncak gunung, itulah model manusia ketiga, walapun sering dikasih tahu dan ajar tetap tidak ada manfaatnya, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Dari hadis tersebut, perumpamaan orang yang memiliki ilmu sekalipun mengaji sedikit, tapi kemudian itu dimanfaatkan untuk orang lain. Itulah orang-orang yang benar mulia di sisi Allah.

Syaikhul Islam berkata,
“Dalam hadis ini Rasulullah membuat perumpamaan tentang ajaran yang dibawanya dengan air yang turun ke bumi. Beliau memperumpamakan hati-hati manusia dengan tanah, dan memperumpamakan petunjuk dan ilmu dengan air yang Allah turunkan ke bumi. Manusia pun terbagi menjadi tiga:
(1) orang-orang yang mendengar, faham dan mendapat ilmu,
(2) orang-orang yang menghapalnya dan menyampaikannya kepada orang lain sehingga mereka mendapat manfaat darinya,
(3) orang-orang yang tidak ini dan juga itu.” (Jaami’ al Masaa`il, hal. 255 – 256)

Ilmu Allah berupa wahyu yang bersumber dari al Qur`an atau Sunnah, sangat membutuhkan hati yang lapang, kuat dalam iman serta bersih dari pengaruh hawa nafsu.
Itulah ilmu yang akan bermanfaat.
Hati yang sempit, ragu dan lemah dalam keimanan akan menyerap sedikit ilmu. Ilmu yang bercampur dengan syahwat dan syubhat juga tidak akan bermanfaat, ilmu seperti itu justru akan menyesatkan.
Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa membersihkan hati dari hawa nafsu ketika mencari ilmu, menghadirkan terus keikhlasan dan keinginan untuk mendapatkan kebenaran dan meniti jalan keselamatan dengannya.
Wallohu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.🎋..💧

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.