PERISAI SUNNAH DARI SYUBHAT-SYUBHAT SYI’AH

بِسْــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــمِ

PERISAI SUNNAH DARI SYUBHAT-SYUBHAT SYI’AH
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa Syi’ah adalah sekte yang sangat berbahaya dan paling merusak, mereka adalah musuh bebuyutan bagi kaum muslimin sejak dulu hingga sekarang, jika mereka memiliki kesempatan mereka bantai kaum muslimin, ketika mereka tidak memiliki kekuatan maka mereka menyusun gerakan-gerakan rahasia untuk melawan kaum muslimin.
Ketika mereka menguasai Bahrain maka mereka sebarkan berbagai macam kerusakan-kerusakan ke negeri-negeri kaum muslimin. Ketika mereka sampai di Makkah di saat haji, mereka membunuh orang-orang haji, mereka tebas leher-leher mereka seperti menebas pohon-pohon dan mereka lemparkan mayat-mayat orang-orang haji tersebut ke dalam sumur zamzam, sebagian dari mayat-mayat ini mereka kubur di dalam masjidil Haram dan yang lainnya mereka biarkan berserakan. Kemudian mereka mencongkel Hajar Aswad dan mereka bawa ke tempat mereka ( Lihat Bidayah wa Nihayah 11/135 ).
Mereka selalu berada di belakang musuh-musuh kaum muslimin, pada waktu perang salib mereka adalah sekutu setia orang-orang Nashara, tidaklah para salibis menguasai pantai-pantai utara Syam melainkan dengan bantuan mereka.
Tidaklah orang-orang Tartar masuk ke negeri kaum muslimin melainkan dengan sebab pertolongan mereka.Ketika pasukan Tartar masuk ke Baghdad Nashir Ath-Thusi seorang gembong kelompok Syiah mengisyaratkan kepada pasukan Tartar agar membunuh Khalifah Mustashim Billah khalifah terakhir Bani Abbasiyah dan puluhan ribu kaum muslimin, mereka hancurkan rumah-rumah, mereka bunuh para wanita dan anak-anak, dan mereka tenggelamkan kitab-kitab yang banyak ke dalam sungai Dajlah hingga berubah warna airnya menjadi biru tinta.
Hal yang sangat disesalkan bahwa banyak dari kaum muslimin yang terpedaya dengan mereka, dan bahkan membela mereka. Maka kami memandang pentingnya sebuah bahasan yang menampilkan syubhat-syubhat yang paling sering mereka lontarkan dan jawaban-jawaban atas syubhat-syubhat tersebut.

SYIAH MENCINTAI AHLI BAIT NABI  ?

Mereka menamakan diri mereka dengan nama Syi’atu Ali atau Syi’atu Ahlil Bait, benarkah klaim ini ?.
Berikut ini akan kami singkap kedok mereka dan kami tunjukkan hakikat sikap orang-orang Syi’ah terhadap Ahlul Bait, dan bahwa klaim kecintaan mereka terhadap Ahlul Bait hanyalah kedustaan dan kebohongan, hanyalah sekedar sebagai kedok untuk menutupi makar-makar mereka terhadap kaum muslimin dan aqidah-aqidah mereka .

SIAPAKAH AHLUL BAIT ?

Ahlul Bait berasal dari dua kata (الأهل والبيت ) : ” al-ahl ” dan ” al-bait “.
Al-Khalil berkata:
أهل الرجل زوجه، والتأهل التزوج وأهل الرجل أخص الناس به وأهل البيت سكانه وأهل الإسلام من يدين به
” “ahl ar-rajul”, adalah “istrinya”, “at-taahhul” berarti menikah. “Ahl ar-rajul”, berarti orang yang paling khusus dengannya, “ahlul bait” adalah penghuni rumah, “ahlu al-Islam ” adalah orang-orang yang beragama dengannya ” ( Mu’jam Maqayis Lughah oleh Ibnu Faris 1/150 )
Kemudian juga di dalam ayat 32-33 dalam surat al-Ahzab :
ﭽ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﭼ
“Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. al-Ahzab: 32-33)
Hadîts-hadîts shahîh telah menetapkan kejelasan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan urusan istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- secara khusus bukan selain mereka, dari Ibnu ‘Abbas tentang tafsir ayat :
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ
Dia berkata: “Turun kepada Istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- secara khusus. Kemudian berkatalah Ikrimah: Bahwasannya ayat tersebut turun berkenaan dengan istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- secara khusus. ( Diriwayatkan oleh Al-Hafiz Ibnu Asakir di dalam Târîkh Dimasyq 69/150 dan dikatakan oleh al-Imâm Adz-Dzahabî di dalam Siyar Alâm an Nubalâ` 2/221 : Sanadnya shalih, dan konteks ayat telah menunjukkannya. ).
Maka kesimpulannya bahwa Ahlul Bait pada asalnya adalah para istri Nabi, kemudian masuk juga di dalamnya para keturunannya dan para kerabatnya seperti paman-pamannya dan anak-anak pamannya.
Kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencintai ahlul bait sesuai dengan wasiat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya.
أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى
” Aku mengingatkan kalian pada ahli baitku, Aku mengingatkan kalian pada ahli baitku, Aku mengingatkan kalian pada ahli baitku “. ( Dikeluarkan oleh Muslim 5 Juz 15, hal 180 Nawawy, Ahmad 4/366-367 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab As-Sunnah No. 629).

SYI’AH MENGELUARKAN ISTRI-ISTRI NABI, PUTRI-PUTRI NABI, DAN KETURUNAN-KETURUNAN NABI DARI AHLUL BAIT

Syiah telah menzhalimi para ahlul bait dengan mengeluarkan hampir semua dari mereka dari sebutan Ahlul Bait, mereka menyelewengkan pengertian Ahlul Bait dengan membatasi ahlul bait Rasul hanya pada empat orang : Ali, Fathimah, Hasan dan Husain saja dan mengeluarkan yang selain empat orang ini dari sebutan Ahlul Bait, demikian juga mereka hanya membatasi keturunan Husain saja sebagai Ahlul Bait sedangkan keturunan Hasan bin Ali tidak termasuk Ahlul Bait ( Lihat Syi’ah wa Ahlul Bait hal. 14 ).

TIKAMAN SYI’AH TERHADAPI ISTRI-ISTRI NABI

Syi’ah telah melampaui batas hingga menyerang Ummahatul Mukminin. Berkata Jafar Murtadho dalam bukunya Hadits al-Ifk (hal 17), ((Sesungguhnya kami meyakini, sebagaimana (keyakinan) para ulama-ulama besar kami pakar pemikiran dan penelitian, bahwa isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun berpeluang untuk kafir sebagaimana istri Nuh dan istri Luth)), dan yang dimaksud istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam di sini adalah Aisyah. Hasyim al-Bahrany berkata dalam tafsirnya al-Burhan 4/ 358 surat at-Tahrim, ((Berkata Syarafuddin an-Najafy, Diriwayatkan dari Abu Abdillah alaihis salam bahwa dia berkata dalam firman Allah subhanahu wa taala:
ﭽ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗﮘ ﭼ
“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir.” (QS. At Tahrim: 10)
Perumpamaan ini Allah buat untuk Aisyah dan Hafshah, karena keduanya demo terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membuka rahasianya)).
Ali bin Ibrahim al-Qummy berkata, ((Lantas Allah membuat perumpamaan untuk Aisyah dan Hafshah dan berkata, Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba-hamba kami, lalu kedua istri itu berkhianat. Demi Allah yang dimaksud dengan berkhianat tidak lain hanyalah berzina (naudzubillah). Niscaya akan dilakukan hukum had atas fulanah (yang dia maksud adalah Aisyah) atas apa yang dikerjakannya di jalan Bashrah. Dikisahkan bahwa fulan (yang dia maksud Thalhah) mencintai Aisyah. Tatkala Aisyah akan safar ke Bashrah, berkatalah Thalhah, Kamu itu tidak boleh safar kecuali dengan mahram. Lantas Aisyah mengawinkan dirinya dengan fulan, dalam suatu naskah disebutkan dengan Thalhah)).

TIKAMAN SYI’AH TERHADAP ALI BIN ABI THALIB

Syi’ah telah menghinakan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu dengan mensifatinya dengan segala kejelekan, dan mereka katakan bahwa dia adalah seorang yang faqir lagi bangkrut sehingga Fathimah sempat menolak lamarannya, Al-Qummi berkata di dalam Tafsirnya 2/336 :
فلما أراد – رسول الله – صلى الله عليه وسلم – – أن يزوجها عن علي أسر إليها، فقالت … إن نساء قريش تحدثني عنه أنه رجل دحداح البطن، طويل الذراعين ضخم الكراديس، أنزع، عظيم العينين، لمنكبيه مشاشاً كمشاش البعير، ضاحك السن، لا مال له
” Tatkala Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam hendak menikahkan Fathimah dengan Ali maka beliau membisikinya, maka Fathimah berkata : ‘ Sesungguhnya para wanita Quraisy menceritakan kepadaku bahwa Ali adalah seorang laki-laki yang pendek gemuk perutnya, panjang lengannya, tebal kakinya, yang tersingkap bagian depan rambutnya, besar kedua matanya, di kedua pundaknya terdapat tulang lunak seperti kepunyaan onta, jarang-jarang giginya, dan tidak punya harta “.
Demikian juga orang-orang Syi’ah telah menuduh Ali sebagai penakut, pengecut, dan ambisi kekuasaan ( Lihat Kitab Sulaim bin Qais hal. 82-89 ).

TIKAMAN SYI’AH TERHADAP FATHIMAH RADHIYALLOHU ANHA

Syi’ah telah membuat kedustaan yang keji atas Fathimah putri Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam penghulu wanita ahli surga, berkata Muhaddits Syi’ah Ibnul Fital An-Naisaburi :
أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – غرس لعليّ حديقة، فباعها علي، وقسم كل ما أخذ منها إلى فقراء المدينة ومساكينها حتى لم يبق درهم واحد. فلما أتى المنزل قالت له فاطمة عليها السلام: يا ابن عم! بعت الحائط الذى غرسه والدي؟ قال: نعم! بخير منه عاجلاً أو آجلاً، قالت: فأين الثمن؟ قال: دفعته إلى أعين استحييت أن أذلها بذل المسألة، قالت فاطمة: أنا جائعة، وابناي جائعان، ولا شك أنك مثلنا في الجوع، لم يكن منه لنا درهم، وأخذت بطرف ثوب علي (ع) فقال علي: يا فاطمة! خلني، فقالت: لا والله! أو يحكم بيني وبينك أبي، فهبط جبريل على رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا محمد! الله يقرؤك السلام ويقول: اقرأ علياً مني السلام، وقل لفاطمة: ليس لك أن تضربي على يديه

” Bahwa Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam menanamkan Ali sebuah kebun, kemudian Ali menjualnya dan membagikan semua hasil penjualannya kepada orang-orang faqir dan orang-orang miskin Madinah hingga tidak tersisa satu dirham pun. Ketika Ali sampai di rumah maka Fathimah berkata kepadanya : ‘ Wahai Anak paman apakah Engkau telah menjual kebun yang ditanam oleh orang tuaku ? ‘, Ali menjawab : ‘ Ya, dengan kebaikan darinya segera atai nanti ‘, Fathimah berkata : ” Mana uang penjualannya ? ‘, Ali berkata : ‘ Telah aku serahkan kepada orang-orang yang saya malu untuk menghinakannya kehinaan permintaan ‘, Fathimah berkata : ‘ Saya lapar, kedua anakku juga lapar, tidak syak lagi bahwa Engkau juga lapar seperti kami, sedangkan kita tidak mengambil satu dirham pun darinya ‘, maka Fathimah memegang ujung pakaian Ali, Ali berkata : ‘ Wahai Fathimah lepaskan aku ‘, Fathimah berkata : ‘ Tidak atau akan menghukumi di antara kita ayahku ‘, maka turunlah Jibril kepada Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam seraya berkata : ‘ Wahai Muhammad sesungguhnya Alloh menitipkan salam untukmu dan berfirman : Sampaikan salamku untuk Ali, dan katakan kepada Fathimah : Engkau tidak boleh memukul di hadapannya ” ( Raudhatul Waa’izhin 1/125 ).
Demikian juga Syi’ah menceritakan bahwa Fathimah masuk di dalam peperangan-peperangan dengan khalifah-khalifah hingga dibakar rumahnya, dipukul lambungnya, pecah tulang rusuknya, gugur janinnya, dan meninggal karenanya ( Kitab Sulaim bin Qais hal. 84, 85 ).

TIKAMAN SYI’AH TERHADAP HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB

Syi’ah telah menghinakan Hasan bin Ali dengan penghinaan yang sangat, Al-Kisysyi menyebutkan dari Abu Ja’far bahwasanya dia berkata :
جاء رجل من أصحاب الحسن عليه السلام يقال له سفيان بن أبي ليلى وهو على راحلة له، فدخل على الحسن عليه السلام وهو محتب في فناء داره، فقال له: السلام عليك يا مذل المؤمنين! قال وما علمك بذلك؟ قال: عمدت إلى أمر الأمة فخلعته من عنقك وقلدته هذه الطاغية يحكم بغير ما أنزل الله
” Datang seorang laki-laki dari sahabat Hasan Alaihis Salam yang bernama Sufyan bin Abi Laila yang mengendarai binatang tunggangannya, kemudian dia masuk kepada Hasan Alaihi Salam yang sedang berada di halaman rumahnya, maka orang tersebut berkata kepada Hasan : ‘ Assalamu Alaika wahai Yang menghinakan orang-orang yang beriman ! ‘, maka Hasan berkata : ‘ Apa yang Engkau ketahui tentang hal itu ? ‘, orang tersebut berkata : ‘ Engkau memikul pemerintahan umat kemudian Engkau lepas dari lehermu dan Engkau kalungkan kepada thaghut ini yang menghukumi dengan selain yang diturunkan Alloh ” ( Rijal Al-Kisysyi hal. 103 ).
Ketika Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu terbunuh oleh Ibnu Muljam (seorang khowarij yang tadinya termasuk syiah Ali namun mengkafirkan beliau setelah itu), Al Hasan Radhiyallahu anhu dibaiat menjadi khalifah, dan beliau yakin tidak dapat berhasil perang melawan Muawiyah. Terutama setelah sebelumnya sebagian pengikutnya di Iraq telah meninggalkan ayahnya. Tetapi para para pengikut mereka di Iraq kembali meminta Al Hasan untuk memerangi Muawiyah dan penduduk Syam, padahal jelas-jelas sebenarnya Al Hasan berkeinginan menyatukan kaum muslimin saat itu, karena beliau faham sekali tentang kelakuan orang-orang syiah di Iraq ini yang beliau sendiri membuktikan hal tersebut, Ketika beliau menyetujui mereka (orang-orang syiah di Iraq) dan beliau mengirimkan pasukannya serta mengirim Qais bin Ubadah di bagian terdepan untuk memimpin dua belas ribu tentaranya, dan singgah di Maskan, ketika Al Hasan sedang berada di Al Madain tiba-tiba salah seorang penduduk Iraq berteriak bahwa Qais telah terbunuh. Mulailah terjadi kekacauan di dalam pasukan, para maka orang-orang syiah Iraq kembali para tabiat mereka yang asli (berkhianat), mereka tidak sabar dan mulai menyerang kemah Al Hasan serta merampas barang-barangnya, bahkan mereka sampai melepas karpet yang ada dibawahnya, mereka menikamnya dan melukainya. Dari sinilah salah seorang penduduk Syiah Iraq, Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi merencanakan sesuatu yang jahat, yaitu mengikat Al Hasan bin Ali dan menyerahkan kepadanya, karena ketamakannya dalam harta dan kedudukan. Pamannya yang bernama Saad bin Masud Ats Tsaqafi telah datang, dia adalah salah seorang wali dari Madain dari kelompok Ali. Dia (Mukhtar bin Abi Ubaid) bertanya kepadanya, Apakah engkau menginginkan harta dan kedudukan? Dia berkata, Apakah itu? Dia Menjawab,Al Hasan kamu ikat lalu kamu serahkan kepada Muawiyah Kemudian pamannya berkata Allah akan melaknatmu, berikan kepadaku anak putrinya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia memperhatikannya lalu mengatakan, kamu adalah sejelek-jelek manusia ( Lihat Tarikh Ath Thabari, 5/195. Al Alam Al Islami fi Ashri Al Umawi. Hal 101. ).

TIKAMAN SYI’AH TERHADAP HUSAIN BIN ALI BIN ABI THALIB

Husain bin Ali juga mengalami nasib yang sama dengan kedua orang tuanya dan saudaranya di dalam penghinaan Syi’ah terhadap mereka, Al-Kulaini berkata di dalam kitabnya Ushul Al-Kafi yang kedudukannya menurut Syi’ah sebanding dengan Shahih Bukhari – :
عن جعفر أنه قال: جاء جبريل إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال: إن فاطمة عليها السلام ستلد غلاماً تقتله أمتك من بعدك، فلما حملت فاطمة بالحسين عليه السلام كرهت حمله، وحين وضعته كرهت وضعه، ثم قال أبو عبد الله عليه السلام: لم تر في الدنيا أم تلد غلاماً تكره، ولكنها كرهته لما علمت أنه سيقتل، قال: وفيه نزلت هذه الآية : { ووصينا الإنسان بوالديه حسناً حملته أمه كرهاً ووضعته كرهاً }
” Dari Abu Ja’far bahwasanya dia berkata : Datang Jibril kepada Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam seraya berkata : ‘ Sesungguhnya Fathimah Alaiha Salam akan melahirkan seorang anak yang akan dibunuh oleh umatmu sepeninggalmu ‘, tatkala Fathimah mengandung Husain Alaihi Salam maka dia membenci kandungannya, dan ketika dia melahirkannya maka dia membenci kelahirannya, kemudian Abu Abdillah alaihi Salam berkata : ‘ Tidak pernah dilihat seorang ibu yang benci kepada seorang anak yang dia lahirkan, akan tetapi Fathimah membencinya karena dia mengetahui bahwa Husain akan dibunuh ‘, kemudian Abu Abdillah berkata : Dan pada Husain turunlah ayat ini :
ﭽ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚﭛ ﭼ
” Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). ” ( Al-Ahqaaf : 15 ) ( Al-Ushul Min Al-Kaafi 1/464 ).

TIKAMAN SYIAH TERHADAP PARA SAHABAT NABI

Penulis Buku Putih Mazhab Syiah mengatakan bahwa di antara sahabat ada yang munafik, sebagaimana di dalam hal. 52 : Al-Quran bercerita tentang kaum munafik yang notabene adalah orang Muslim yang hidup pada waktu hidup Nabidan, karena itu, dalam definisi umum yang berlaku, dapat disebut sebagai sahabatdan mengecam mereka dengan keras .
Kami katakan : Demikianlah penulis mencela para sahabat Rasulullah ( dengan menyatakan bahwa di antara sahabat ada yang munafik padahal orang-orang munafik berada di kerak paling dalam dari neraka, ini menunjukkan kebodohan yang sangat dari tim penulis terhadap para sahabat. Para ulama telah menjelaskan tentang siapakah yang dimaksud dengan para sahabat Nabi :
Al-Imam Bukhari berkata tentang definisi sahabat :
من صحب النبي صلى الله عليه وسلم أو رآه من المسلمين
” Orang yang bersahabat dengan Nabi ( atau yang melihat beliau dari kaum muslimin ” ( Shahih Bukhari 4/188 ).
Al-Imam Ali bin Madini berkata :
من صحب النبي صلى الله عليه وسلم أو رآه ولو ساعة من نهار
” Orang yang bersahabat dengan Nabi ( atau melihat beliau walau hanya sesaat dari siang ” ( Lihat Thabaqah Hanabilah 1/243, Fathul Baari 7/5, dan Fathul Mughits 3/86 ).
Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :
كل من صحبه سنةً أو شهراً أو يوماً أو ساعةً أو رآه .له من الصحبة على قدر ما صحبه وكانت سابقته معه ،وسمع منه، ونظر إليه .
” Setiap orang yang bersahabat dengan Nabi ( selama satu tahun atau satu bulan atau satu hari atau satu saat atau yang melihat beliau. Dia memiliki kedudukan sahabat sesuai dengan kadar pertemuannya dengan beliau, dan pernah bersama dengan beliau, mendengar dari beliau dan melihat kepada beliau ( Lihat kitab Tahqiiqir Rutbah Liman Tsabata Lahu Syarafush Shuhbah hal. 30-31 dan Al-Kifayah hal. 51 ).
Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata :
وأجمعوا على أن الخيار بعد العشرة في أهل بدر من المهاجرين والأنصار على قدر الهجرة والسابقة ، وعلى أن كل من صحب النبي صلى الله عليه وسلم ولو ساعة ، أو رآه ولو مرةً مع إيمانه به وبما دعا إليه أفضل من التابعين بذلك
” Para salaf telah sepakat bahwa orang-orang yang terbaik sesudah sepuluh orang sahabat yang terbaik pada Ahli Badar dari kaum Muhajirin dan Anshor sesuai dengan kadar hijrah dahulunya keislamannya, dan sepakat atas bahwa setiap orang yang bersahabat dengan Nabi ( walau sesaat, atau melihat beliau walaupun hanya sekali dengan mengimani beliau dan apa yang beliau dakwahkan, adalah lebih afdhol dengan hal itu dibandingkan dengan para tabi’in ” ( Risalah Ila Ahli Tsaghr hal. 171 ).
Definisi-definisi di atas membantah kebohongan tim penulis buku hitam Syiah ini yang menyatakan bahwa di antara para sahabat ada yang munafik, bahkan para sahabat semuanya adalah mulia dengan pemuliaan Alloh dan RasulNya, Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdady menyebutkan ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan para sahabat di antaranya :
( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُِ (
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. ( At-Taubah : 100 ).
Kemudian beliau berkata : Hadits-hadits yang semana dengan hal ini banyak sekali, semuanya sesuai dengan apa yang datang dalam nash Al-Quran, yang semuanya menunjukkan pada kesucian para sahabat dan pemastian atas keadilan mereka, mereka tidak butuh rekomendasi kepada siapapun setelah rekomendasi Allah kepada mereka, Allah Dzat Yang Maha Mengetahui isi hati mereka… Ini adalah madzhab seluruh ulama dan yang dianggap perkataaannya dari fuqaha ( Al-Kifayah hal. 96 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Di antara pokok-pokok ahli sunnah adalah : selamatnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah ( sebagaimana pensifatan Allah ( dalam firmanNya :
( وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. ( Al-Hasyr : 10).
Sikap ahli sunnah ini adalah merupakan ketaatan kepada Rasulullah ( terhadap sabdanya : Janganlah kalian mencaci para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku di tanganNya; seandainya seorang di antara kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud tidaklah itu mencapai satu mud infaq seorang dari mereka dan tidak juga mencapai separuhnya ( Muttafaq Alaih, Bukhary : 3673 dan Muslim : 2540 ).
Maka ahli sunnah menerima apa saja yang yang datang dalam Kitab, Sunnah, dan Ijma tentang keutamaan-keutamaan dan tingkatan-tingkatan mereka, ahli sunnah berlepas diri dari cara orang-orang rafidhah yang membenci dan mencaci para sahabat, dan berlepas diri dari cara orang-orang nawashib yang menyakiti ahlil bait dengan perkataan atau perbuatan ( Aqidah Wasithiyyah hal. 142-151 ).
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ciri khas agama Syi’ah yang batil adalah celaan mereka terhadap para sahabat Nabi !.

ABDULLAH BIN SABA TOKOH FIKTIF ?

Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, MA berkata di dalam bukunya Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan ! Mungkinkah ? Kajian Atas Konsep Ajaran Dan Pemikiran.: hal. 65 : ” Tidak sedikit pakar menilai bahwa pribadi Abdullah bin Saba’ sama sekali tidak pernah ada. Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syi’ah. Ia ( Abdullah bin Saba’ ) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan “.
Kami katakan : Klaim yang mengatakan Abdullah bin Saba itu adalah tokoh fiktif, selalu diusung oleh orang Syiah zaman ini dan orang-orang orentalis, agar mereka bisa diterima ditengah-temgah masyarakat. Dakwaan seperti ini bagaikan orang yang mengingkari cahaya matahari ditengah siang bolong lagi cerah. Marilah kita lihat apa pengakuan orang syiah terdahulu terhadap keberadaan Abdullah bin Saba, sebagai bukti yang konkrit atas keberadaannya :
1) An Nasyi Al Akbar ( meninggal 293 H) mencantumkan tantang Ibnu Saba, dan golongan As Sabaiyah, yang teksnya : “Dan suatu golongan yang mereka mendakwahkan bahwa Ali alaihi salam masih hidup dan tidak pernah mati, dan ia tidak akan mati sampai ia menghalau (mengumpulkan) orang arab dengan tongkatnya, orang ini adalah As Sabaiyah, pengikut Abdullah bin Saba. Dan adalah Abdullah bin Saba seorang laki-laki dari penduduk Sana, seorang yahudi, telah masuk Islam lewat tangan Ali dan bermukim di Al Madain….” ( Masailul Imaamah Wa Muqtathofaat minil kitabil Ausath fil Maqalat ditahqiq oleh Yusuf Faan As, (Bairut 1971) hal : 22, 23 ).
2) Al Qummi (301 H), menyebutkan : “Sesungguhnya Abdullah bin Saba adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu. Dan sesungguhnya Taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Alipun menanyakannya akan hal itu, maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintah untuk membunuhnya, lalu orang-orang berteriak dari setiap penjuru : “Wahai Amirul Mukminin apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak kepada setia kepadamu dan berlepas diri dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke Al Madain” ( Al Maqaalat wal Firaq, hal : 20. Diedit dan dikomenteri serta kata pengantar oleh Dr. Muhammad Jawad Masykur, diterbitkan oleh Muasasah Mathbuati athani, Teheran 1963 ).
3) An Naubakhti (310H) menyetujui Al Qummi dalam memperkuat barita-berita tentang Abdullah bin Saba, lalau ia menyebutkan satu contoh, yaitu bahwasanya tatkala sampai kepada Abdullah bin Saba berita kematian Ali di Madain, maka ia berkata kepada orang yang membawa berita itu : “Kamu telah berdusta kalau seandainya kamu datang kepada kami dengan otaknya sebanyak tujuh puluh kantong, dan kamu mendatangkan tujuhpuluh saksi atas kematiannya,maka sungguh kami telah mengetahui sesungguhnya dia belum mati, dan tidak terbunuh, dan tidak akan mati sampai ia memiliki bumi” ( Firaqus Syiah hal. 23 oleh Abu Muhammad Al Hasan bin Musa An Naubakhti, ditashhih oleh H. Raiter, Istambul, percetakan Ad Daulah, 1931 ).
Ini adalah sebagian kecil dari nash-nash yang dikandung oleh buku-buku syiah dan riwayat-riwayat mereka tentang Abdullah bin Saba, nash-nash itu boleh dikatakan adalah dokumen-dokumen tertulis yang membantah orang-orang dari kalangan syiah belakangan ini yang berusaha untuk mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba dan meragukan kabar beritanya.
Demikian juga para ulama jarh wa ta’dil sepakat menyebut biografi Abdullah bin Saba’, seperti : Ibnu Hibban dalam Al Majruhiin 1/208 dan 2/253, Adz Dzahabi dalam Al Mughni fi Duafaa 1/399 dan di Mizanul Itidal 2/426 dan Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan 3/290.
Dengan demikian dapatlah kita memastikan bahwa Abdullah bin Saba, bukanlah tokoh fiktif akan tetapi adalah tokoh yang ada realitanya, dan terbukti ia itu ada. Hal itu telah disaksikan sendiri oleh buku-buku syiah terdahulu yang menjadi pegangan mereka. Dan sesungguhnya orang yang berusaha mengkaburkan dan mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba, sama dengan orang yang mengingkari cahaya matahari pada siang bolong yang terang benderang. Dan sama dengan orang yang mengingkari keberadaan Khumaini yang celaka yang telah meninggal ( Lihat Abdullah bin Saba’ Haqiqah La Khayalah oleh Dr. Sa’di Al-Hasyimi ).
Agama Syiah adalah suatu agama yang dicetuskan oleh seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba, dia lakukan kemunafikan dengan menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Dia merasa geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Persia sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropa. Ibnu Saba ingin menghadang langkah Islam supaya tidak mendunia dengan merencanakan makar bersama orang-orang Yahudi Sana (Yaman) untuk mengacaukan Islam dan ummatnya. Mereka menyebarkan orang-orangnya termasuk Ibnu Saba sendiri ke berbagai wilayah Islam termasuk ibukota Khalifah, Madinah Nabawiyah. Mereka mulai menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang lugu dan berhati sakit untuk menentang Khalifah Utsman. Pada waktu itu juga memperlihatkan rasa cinta kepada Ali bin Abi Thalib Rhadhiallahu anhu. Mereka mengaku dan mendukung kelompok Ali, padahal Ali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Fitnah ini terus menggelinding. Mereka mencampur pemikiran mereka dengan aqidah-aqidah yang rusak. Dan mereka menyebut diri sebagai Syiah Ali (pendukung Ali), padahal Ali membenci mereka bahkan Ali sendiri telah menghukum mereka dengan siksaan yang pedih, begitu pula putra-putra dari keturunan Ali membenci dan melaknat mereka, akan tetapi kenyataan ini ditutup-tutupi serta kemudian diganti secara lici dan keji ( Lihat pengakuan tokoh-tokoh besar Syiah tentang Abdullah bin Saba di dalam kitab Abdullah bin Saba Haqiqah La Khayalah edisi Indonesia : Abdulah bin Saba Bukan Tokoh Fiktif – oleh Syaikh Dr. Sadi Al-Hasyimi ).
Yang sangat mengherankan bahwa sekarang ini ada sebagian orang-orang Syiah yang mengingkari eksistensi Abdullah bin Saba dengan tujuan supaya tidak terbongkar kebusukan mereka, dan agar manusia melupakan peran Yahudi di dalam menelorkan agama Syiah. Padahal begitu banyak kemiripan antara Syiah dan Yahudi yang menunjukkan bahwa dua agama ini memiliki hubungan yang sangat erat ( Lihat kitab Badzl Al-Majhud fi Itsbat Musyabahah Ar-Rafidhah li Al-Yahud, oleh Syaikh Abdullah Al-Jamili ).

PENUTUP

Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari sebagian penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat Syiah, sebetulnya masih banyak syubhat-syubhat lainnya belum kami bahas mengingat keterbatasan waktu .
Akhirnya semoga Alloh selalu menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya para nabi, para Shiddiqin, Syuhada’, dan Shalihin dan menjauhkan kita semua dari jalan-jalan kesesatan dan kekufuran. Amin.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.