Penyesalan karena teman

🔥 Penyesalan karena teman …

✍Allah berfirman :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Dari Anas bin Malik, Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم : Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai (HR. Muslim/1519)

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Disebutkan dalam Ad Durrul Mantsur juz 5 hal. 68, bahwa Ibnu Mardawaih dan Abu Nu’aim dalam Ad Dalaa’il meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari jalan Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Abu Mu’aith biasa duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah dan tidak menyakitinya. Ia adalah orang yang santun. Oleh karenanya sebagian orang-orang Quraisy apabila duduk bersamanya menyakitinya. Abu Mu’aith memiliki seorang teman yang sedang berada di Syam, lalu orang-orang Quraisy mengatakan, “Abu Mu’aith telah pindah agama,” lalu kawannya datang pada malam hari dari Syam dan bertanya kepada istrinya, “Sudah sampai di mana Muhammad berbuat?” Istrinya berkata, “Perkaranya sudah lebih parah.” Ia bertanya lagi, “Apa yang dilakukan kawanku Abu Mu’aith?” Istrinya menjawab, “Ia telah pindah agama.” Maka semalaman Ia (kawan Abu Mu’aith) merasa gelisah. Ketika tiba pagi harinya, Abu Mu’aith datang lalu mengucapkan salam kepadanya, tetapi salamnya tidak dijawab, maka Abu Mu’aith berkata, “Mengapa engkau tidak menjawab salamku?” Ia menjawab, “Bagaimana aku akan menjawab salammu padahal engkau telah pindah agama?” Ia berkata, “Apakah orang-orang Quraisy berkata seperti itu?” Ia menjawab, “Ya.” Ia bertanya, ”Kalau begitu perbuatan apa yang dapat mengobati dada mereka?” Ia menjawab, “Engkau datangi dia (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) lalu engkau ludahi wajahnya dan engkau caci-maki dengan cacian yang yang terburuk yang engkau ketahui.” Maka Abu Mu’aith melakukannya, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap apa-apa selain mengusap mukanya dari air liur, lalu Beliau menoleh kepadanya sambil berkata, “Jika aku mendapati kamu berada di luar pegunungan Mekah, aku akan memenggal lehermu dengan cara ditahan.” Ketika tiba perang Badar dan kawan-kawannya berangkat, maka ia (Abu Mu’aith) enggan untuk berangkat, lalu kawan-kawannya berkata, “Keluarlah bersama kami.” Ia berkata, “Sungguhnya orang ini (Yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah berjanji kepadaku jika mendapatiku berada di luar pegunungan Mekah akan memenggal leherku dengan cara ditahan.” Mereka berkata, “Engkau akan memperoleh unta merah, (tenang saja) dia tidak akan mendapatkan kamu jika kekalahan menimpanya.” Maka ia keluar bersama mereka, dan ketika Allah mengalahkan kaum musyrik dan untanya jatuh ke tanah lumpur di beberapa jalan (di gunung), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangkapnya dalam 70 orang Quraisy, lalu Abu Mu’aith datang kepada Beliau dan bersabda, “Engkau akan bunuh aku di tengah-tengah mereka ini?” Beliau menjawab, “Ya, karena engkau telah meludahi wajahku.” Maka Allah menurunkan ayat tentang Abu Mu’aith, “Wa yauma ya’addhuzh zhaalimu ‘alaa yadaihi…dst. sampai ayat, “Wa kaanasy syaithaanu lil insaani khadzuulaa.” Syaikh Muqbil berkata, “Kami masih tidak berani menghukumi (kedudukan haditsnya) karena As Suyuthiy rahimahullah agak mudah (menshahihkan).” Menggigit tangan (jari) maksudnya menyesali perbuatannya, berupa syirk, kufur dan mendustakan para rasul.
(Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili)

Berkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar,
Hari dimana setiap orang zalim menggigit tangannya karena menyesal dan meratap itu adalah hari kiamat. Termasuk di dalamnya adalah Uqbah bin Abi Mu’ayth yang masuk Islam kemudian murtadh lagi untuk menyenangkan Ubay bin Khalaf. Dia berkata: “Andai saja aku mengambil jalan menuju hidayah dan kemenangan bersama Muhammad”. Ayat ini diturunkan saat Uqbah bin Mu’ayth mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu dia diperingatkan oleh sahabatnya Ubay bin Khalaf dan berkata: ”Apakah kamu keluar dari kepercayaanmu (menyembah berhala)?”, Lalu Uqbah menjawab: “Tidak”
(Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar)

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.❤..🌾

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.