PENYELEWENGAN-PENYELEWENGAN SYAR’I DARI TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN

PENYELEWENGAN-PENYELEWENGAN SYAR’I DARI TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN

Tafsir Fi Zhilalil Qur’an ( Di bawah Naungan al-Qur’an ) oleh Sayyid Quthb adalah tafsir yang sangat populer di kalangan kaum muslimin di Indonesia, terutama di kalangan aktivis pergerakan, bahkan tafsir Fi Zhilalil Qur’an ini pernah ditayangkan kajiannya secara berseri di sebuah stasiun televisi swasta Nasional dengan pemateri seorang da’i terkenal.
Tafsir ini juga digemari oleh orang-orang yang memiliki perhatian kepada bidang sastra Arab karena kebetulan penulisnya adalah seorang satrawan dan bukan seorang ulama sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan , Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, dan Syaikh Shalih Al-Luhaidan .
Penulis tafsir ini yaitu Sayyid Quthb banyak mendapatkan kritikan oleh para ulama dari segi aqidahnya, manhajnya, dan pemikiran-pemikirannya . Demikian juga tafsir ini secara khusus telah diteliti dan dijelaskan kesalahan-kesalahannya oleh sebagian ulama seperti Syaikh Abdullah bin Muhammad Ad-Duwaisy – Rahimahullah -di dalam kitabnya Al-Maurid Zillal fi Tanbih ala Akhta’i Zhilal terbitan Daru Ulayyan Buraidah Al-Qashim Saudi Arabia setebal 325 halaman ditambah lampiran penjelasan dari Lajnah Daimah sebanyak 6 halaman ( kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ) dan Syaikh Abdullah Al-Maghrawi di dalam kitabnya Al-Mufassirun Baina Ta’wil wal Itsbat fi Ayati Shifat.
Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas kesalahan-kesalahan tafsir ini ditinjau dari syar’iat Islam dengan merujuk kepada kitab Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy di atas dan buletin Maktabah Al-Furqan Uni Emirat Arab yang berjudul Shuwarun min Ghazwil Fikri : Inhirafat Sayyid Quthb Al-Aqadiyyah.

MENGIDENTIKKAN KALAMULLAH DENGAN MUSIK DAN LAGU

1. Penulis ( Sayyid Quthb ) berkata dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an cetakan ke-25 ( ! ) tahun 1417 H dalam tafsir surat An-Najm 6/3404 : “ Surat ini secara umum seperti susunan lagu yang indah membawa alunan nada dalam kalimat-kalimatnya sebagaimana melantunkan ketukan-ketukan irama di dalam potongan-potongan ayatnya “.
2. Penulis berkata dalam tafsir surat An-Nazi’at 6/3811 : “ Alloh membawakannya dalam alunan nada musik “.
3. Penulis berkata dalam tafsir surat Al-‘Adiyat 6/3957 : “ Alunan nada di dalamnya keras dan bergoncang “.
4. Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 5/3018 : “ Sesungguhnya Dawud seorang raja dan nabi, selalu mengkhususkan sebagian waktunya untuk urusan kerajaan, memutuskan hukum di antara manusia, dan mengkhususkan waktunya yang lain untuk menyepi, ibadah, dan melantunkan nasyid untuk mensucikan Alloh di dalam mihrab “.

MENGATAKAN BAHWA AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK

1. Penulis berkata dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an 1/38 tentang Al-Qur’an : “ Keadaan mukjizat ini seperti keadaan makhluk Alloh semuanya, dan dia adalah seperti buatan Alloh di dalam segala sesuatu dan seperti buatan manusia “.
2. Penulis berkata dalam tafsir surat Shad 5/3006 : “ Huruf shad ini Alloh bersumpah dengannya, sebagaimana bersumpah dengan Al-Qur’an yang memiliki peringatan, huruf ini termasuk buatan Alloh Dialah yang mengadakanya, mengadakannya sebagai sebuah suara di dalam tenggorokan manusia “.
Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy mengomentari perkataan ini dengan mengatakan : “ Perkataan Sayyid Quthb ‘ huruf ini termasuk buatan Alloh Dialah yang mengadakanya ‘ : adalah perkataan kelompok Jahmiyyah dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, adapun ahli Sunnah maka mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan dariNya dan bukan makhluk “ ( Al-Maurid Zillal fi Tanbih ala Akhta’i Zhilal hal. 180 ).
3. Penulis berkata dalam Zhilalnya 4/2328 : “ Sesungguhnya Al-Qur’an adalah penampakan alam semesta seperti langit dan bumi “.

MEYAKINI AQIDAH WIHDATUL WUJUD

Penulis berkata dalam tafsir surat Al-Ikhlash 6/4002 : “ Inilah keesaan wujud, tidak ada di sana hakekat kecuali hakekatNya, tidak ada di sana wujud yang hakiki kecuali wujudNya, setiap wujud yang lain maka dia mengambil wujudnya dari wujud yang hakiki … “
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : “ Aku telah membaca tafsir Sayyid Quthb terhadap surat Al-Ikhlash, sungguh dia telah mengatakan perkataan yang berbahaya yang menyelisihi aqidah ahli sunnah wal jama’ah, di mana tafsirnya terhadap surat ini menunjukkan bahwa dia mengikuti keyakinan Wihdatul Wujud, demikian juga dia menyelewengkan tafsir istiwa’ dengan menguasai “ ( Majalah Dakwah edisi 1591 tanggal 9/1/1418 H ).

MENAFSIRKAN ISTIWA’ DENGAN MENGUASAI

Penulis berkata dalam tafsirnya terhadap surat Thaha 4/2328 ketika menafsirkan firman Alloh ( :
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“ Alloh. yang bersemayam di atas ‘Arsy “ ( Thaha : 5 ) : “ Dialah yang menguasai alam semesta semuanya … istiwa’ ( bersemayam ) di atas ‘Arsy adalah kiasan dari puncak penguasaan “.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata : “ Makna ucapan ini adalah mengingkari istiwa’ yang sudah dikenal yaitu meninggi di atas ‘arsy, ini adalah batil, dan menunjukkan bahwa Sayyid Quthb miskin tidak tahu tentang tafsir “ ( Dari kaset dars Syailh Ibnu Baz di kediaman beliau di Riyadh tahun 1413, Tasjilat Minhajus Sunnah Riyadh sebagaimana dalam kitab Bara’ah Ulamail Ummah hal. 15 ).

MENSIFATI ALLOH BAHWA DIA MENOLEH

Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 6/3936 : “ Sesungguhnya Alloh yang Maha Agung yang Mahaperkasa, yang Maha Menguasai, yang Maha memiliki segala keagungan, rajadiraja, telah berkenan dalam kedudukannya yang tinggi sehingga menoleh kepada makhluk yang dinamakan manusia ini “.

MENOLAK HADITS AHAD DALAM MASALAH AQIDAH

Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 6/4008 : “ Dan hadits-hadits ahad tidak boleh dijadikan landasan dalam perkara aqidah, dan rujukan yang dipakai adalah Al-Qur’an “

MENGKAFIRKAN MASYARAKAT ISLAM

1. Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 4/2122 : “ Sesungguhnya tidak ada Daulah Islam satupun di muka bumi sekarang ini dan tidak ada masyarakat muslim yang kaidah mu’amalahnya adalah syari’at Alloh dan fiqih Islami “ . Perkataan ini mengandung makna bahwa Negeri Haramain ( Makkah dan Madinah ) yang berhukum dengan syari’at Alloh bukanlah Daulah Islam !!.
2. Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 3/1634 : “ Sesungguhnya kaum muslimin sekarang tidak berjihad ! dikarenakan kaum muslimin sekarang tidak ada wujudnya ! .. Sesungguhnya masalah eksistensi Islam dan eksistensi kaum muslimin adalah masalah yang butuh terapi saat ini “.
3. Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 2/1057 : “ Sesungguhnya zaman telah berputar kembali sebagaimana keadaannya ketika datang agama Islam ini kepada manusia tanpa adanya kalimat لا إله إلا الله , manusia telah murtad menuju kepada peribadahan terhadap para hamba dan kepada agama-agama yang rusak dan berbalik dari kalimat لا إله إلا الله meskipun ada sekelompok darinya yang mengulang-ulang kalimat لا إله إلا الله di atas menara-menara adzan …“.
4. Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 4/2009 : “ Sesungguhnya masyarakat jahiliyah yang sekarang kita hidup di dalamnya bukanlah masyarakat Islam “.

MENYELEWENGKAN MAKNA لا إله إلا الله

Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 5/2707 dalam tafsir surat Al-Qashash ketika menafsirkan firman Alloh ( :
( و هو الله لا إله إلا هو (
“ Dan Dialah Alloh yang tidak ada sesembahan yang berhak di sembah kecuali Dia “ : “ Maksudanya tidak ada sekutu bagiNya di dalam menciptakan dan memilih “.
Maka penulis menfsirkan makna kalimat لا إله إلا الله dengan tauhid Rububiyyah dan meninggalkan tafsir yang seharusnya yaitu tauhid Uluhiyyah.

MENJADIKAN KHILAF ADALAH MASALAH TAUHID RUBUBIYYAH

Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 4/1846 dalam tafsir surat Hud : “ Masalah Tauhid Uluhiyyah tidak pernah menjadi perselisihan ( antara para rasul dengan kaumnya ) !, sesungguhnya tauhid Rububiyyah-lah yang dihadapai oleh para rasul, dan dialah yang dihadapi oleh rasul yang terakhir “.

MENDIDIK UMAT UNTUK MELAKUKAN KUDETA DAN REVOLUSI

Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 3/1451 : “ Menegakkan pemerintahan berlandaskan atas pondasi-pondasi Islam di tempatnya … tugas ini … tugas mengadakan kudeta Islami yang menyeluruh tidaklah terbatas pada daerah yang satu tanpa mengaitkan daerah yang lainnya, bhakan dia adalah yang dikehendaki oleh Islam dan meletakkannya di hadapan matanya, hendaknya diadakan kudeta yang menyeluruh ini di seluruh tempat ramai, inilah puncaknya yang tertinggi dan tujuannya yang agung, yang selalu dia harapkan, hanya saja tidak ada pelebaran sayap dari kaum muslimin atau para anggota partai-partai Islam dari memulai tugas mereka untuk mengadakan kudeta yang diharapkan dan berusaha di balik pengubahan hukum di negeri-negeri tempat mereka tinggal “.

MEMBOLEHKAN KEBEBASAN BERAGAMA

Penulis berkata dalam tafsir Zhilalnya 1/291 : “ Sesungguhnya kebebasan beraqidah adalah hak manusia yang pertama yang dia sandang sebagai seorang manusia. Maka siapa saja yang merampas kebebasan beraqidah dari seorang manusia sesungguhnya dia telah merampas dari awal sifat kemanusiaannya … dan bersama dengan kebebasan beraqidah adalah kebebasan mendakwahkan aqidah … “.
Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata : “ Yang nampak bahwasanya Sayyid Quthb memandang tidak dilarang di dalam daulahnya setiap pemilik agama untuk mendakwahkan agamanya dengan penuh kebebasan, yang sekaligus bolehnya kaum muslimin sendiri mendakwahkan kepada diri-dri mereka kepada agama-agama ini yang telah diberi kebebasan oleh Sayyid Quthb untuk berdakwah kepada agama-agama mereka “ ( Al-‘Awashim hal. 60 ).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : “ Sesungguhnya orang yang berkeyakinan bahwasanya dibolehkan bagi seseorang untuk beragama sesuai dengan yang dia kehendaki dan bahwasanya dia bebas di dalam dia beragama, maka sungguh orang berkeyakinan seperti ini telah kafir kepada Alloh Azza wa Jalla karena Alloh ( berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنْ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. “ ( Ali Imran : 85 ) dan Alloh ( berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلاَمُ
“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. “ ( Ali Imran : 19 )
Maka tidak dibolehkan bagi seorang pun untuk meyakini bahwa ada agama selain Islam yang dibolehkan bagi seorang manusia untuk beribadah dengannya, bahkan jika ada seorang muslim yang berkeyakinan seperti ini maka para ulama menyatakan bahwa dia telah kafir dengan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam “ ( Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnul Utsaimin 3/99 no : 459 ).

PENUTUP

Kami akhiri bahasan ini dengan nasehat dari Syaikhuna Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad : “ Kitab Fi Zhilalil Qur’an oleh Sayyid Quthb tergolong tafsir-tafsir kontemporer yang menyandarkan pada ra’yi ( pemikiran ) dan bukan atas naql, bukan atas atsar …Seseorang yang belum begitu faham dam belum dalam ilmunya hendaknya tidak merujuk kepada kitab ini, tetapi hendaknya merujuk kepada kitab-kitab para ulama yang diakui keilmuan mereka seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Jarir, dan seperti tafsir Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dari ulama mutaakhirin, inilah tafsir-tafsir para ulama “ ( Dari kaset dars Sunan Nasai di Masjid Nabawi tanggal 7/11/1414 H ).
والله أعلم بالصواب

Akhukum Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.