PENDEWAAN KEPADA AKAL SUMBER KERUSAKAN AGAMA

PENDEWAAN KEPADA AKAL SUMBER KERUSAKAN AGAMA

Pengkultusan kepada akal adalah sumber semua kerusakan di alam semesta, akal dijadikan sebagai hakim bagi semua perkara, jika datang syariat yang tidak difahami oleh akal maka syariat itu ditolak.
Dengan pengkultusan kepada akal inilah maka manusia menentang seruan para Rasul, karena para Rasul mengajak manusia untuk mendahulukan wahyu di atas semua akal dan pemikiran, maka terjadilah pertarungan di antara para pengikut Rasul dan para penentangnya.
Para pengikut Rasul mendahulukan wahyu di atas semua akal dan pemikiran, adapun para pengikut Iblis maka mereka mendahulukan akal di atas wahyu !.

Karakter yang paling nampak dari Jaringan Islam Liberal yang sekarang menamakan diri dengan Islam Nusantara adalah pendewaan mereka kepada akal sebagaimana dinyatakan oleh mantan koordinator JIL di dalam website resmi mereka :

” Ilmu Tuhan adalah penjumlahan dari seluruh kebenaran yang tertera dalam setiap lembaran Kitab Suci atau Kitab-Tak-Suci, lembaran-lembaran pengetahuan yang dihasilkan akal manusia
Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi; wahyu terus bekerja dan turun kepada manusia. Wahyu verbal memang telah selesai dalam Quran, tetapi wahyu nonverbal dalam bentuk ijtihad akal manusia terus berlangsung. ” ( Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam oleh Ulil Abshar Abdalla dari islamlib.com yang asalnya sebuah artikel yang dimuat di harian Kompas , 18 November 2002 ).

Ulil Abshar Abdalla tidaklah pertama kali mengungkapkan pendewaan kepada akal ini, dia telah didahului oleh Iblis yang mengandalkan akalnya yang memandang bahwa api lebih mulia dari tanah sehingga menolak perintah syari dari Alloh untuk sujud kepada Adam. Kemudian diikuti oleh para penerusnya seperti Kelompok Mutazilah yang menjadikan akal sebagai hakim secara mutlak, mereka promosikan akal setinggi-tingginya, mereka mengatakan :
Akal diciptakan dengan tujuan untuk mengetahui segala sesuatu, dia mampu mengetahui segala sesuatu, yang terlihat dan yang tidak terlihat ( ?! ), mereka jadikan akal sebagi penentu keyakinan mereka di semua segi kehidupan mereka. Mereka jadikan dalil-dalil akal di atas dalil-dalil syari, mereka dustakan hadits-hadits yang tidak sesuai dengan akal, walaupun hadits-hadits itu shahih !, mereka takwil ayat-ayat yang tidak mencocoki pemikiran mereka, meskipun ayat-ayat itu sangat jelas !, bahkan mereka berusaha menyeret ibarat-ibarat dan tafsir-tafsir Al-Quran kepada pemikiran-pemikiran mereka ( Manhaj Madrasah Aqliyyah Hadiitsah fi Tafsir oleh Fahd Ar-Rumy hal. 53-54 ).

Adapun Salafush Shalih maka mereka memahami dengan yakin bahwasanya agama adalah ketundukan dan kepasrahan, tanpa membantahnya dengan akal, karena akal yang sebenarnya adalah yang membawa pemiliknya untuk menerima Sunnah, adapun yang membawa pemiliknya untuk membatalkan Sunnah maka dia adalah kejahilan, dan bukanlah akal ( Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/509 ).
Kita katakan kepada seluruh kaum rasionalis pendewa akal selama mereka masih mengaku muslim :
Apa logikanya sholat Maghrib tiga rakaat, sedangkan sholat Isya empat rakaat, padahal keduanya sama-sama dilaksanakan di malam hari ?!
Apa logikanya perpindahan qiblat dai Baitul Maqdis ke Masjidil Haram ?!
Kenapa thowaf harus di kabah ?!
Kenapa thowaf harus tujuh putaran ?!
Kami katakan :
Tidak ada jalan bagi akal dalam hal-hal seperti ini kecuali mengimani dan melaksanakannya dengan keimanan yang sempurna, dan kepasrahan yang mutlak sebagimana dalam firman Alloh ( :
( ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู…ูุคู’ู…ูู†ู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุฉู ุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุถูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฃูŽู…ู’ุฑู‹ุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู ุงู„ู’ุฎููŠูŽุฑูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุตู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุถูŽู„ู‘ูŽ ุถูŽู„ูŽุงู„ู‹ุง ู…ูุจููŠู†ู‹ุง(
โ€œDan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. ( Al-Ahzab: 36 ).
Al-Imam Abul Qasim Al-Ashabahani berkata Ketahuilah bahwasanya pemisah antara ahli sunnah dan ahli bidah adalah masalah akal:
Ahli bidah menjadikan landasan agamanya adalah akal, dan mereka jadikan ittiba dan atsar sebagai pengikut akal.
Adapun ahli sunnah mengatakan bahwa landasan agama adalah ittiba, sedangan akal sebagi pengikutnya, seandainya agama didasarkan pada akal, maka sungguh para makhluk tidak butuh kepada wahyu, tidak butuh kepada para nabi, hilanglah makna perintah dan larangan , dan setiap orang akan mengatakan apa saja yang dia mau.
Jika kita mendengar sesuatu dari perkara-perkara agama, kemudian kita bisa memahaminya dengan akal kita, maka kita bersyukur kepada Alloh atas taufiqNya, jika akal kita belum sampai kepadanya, maka kita beriman dan membenarkannya…
Maka kita memohon taufiq dan keteguhan kepada Alloh, semoga Alloh mewafatkan kita di atas agama Rasulullah ( dengan anugerah dan kemurahanNya ( Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 1/347 – tahqiq Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali terbitan Daru Rayah 1419 H – ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.