NYANYIAN DAN MUSIK DALAM TINJAUAN SYAR’I

NYANYIAN DAN MUSIK DALAM TINJAUAN SYAR’I

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Islam Bicara Seni.
Di dalam kata pengantar dari buku ini disebutkan bahwa buku ini dimaksudkan untuk memberikan sikap proporsional Islam terhadap seni sebagai jawaban atas kontroversi di kalangan para aktivis Islam tentang seni..
Setelah kami telaah buku ini ternyata banyak hal-hal yang perlu diluruskan dan syubhat-syubhat yang perlu dijelaskan kerancuan-kerancuannya.
Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin maka dengan memohon pertolongan kepada Alloh akan kami paparkan studi kritis atas buku ini agar menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi kita semua.

MENOLAK HADITS SHAHIH BUKHARI YANG MENGHARAMKAN MUSIK

Penulis berkata di dalam halaman 45 dari bukunya ini : ” Mereka mengemukakan alasan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari secara muallaq ( dengan membuang sanad ), dari Abu Malik atau Abu Amir Al-Asyari perawi ragu-ragu dari Nabi saw beliau bersabda,
ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
“ Sungguh akan terjadi pada suatu kaum dari umatku yang menganggap halal perzinaan, sutera, khamr, dan alat-alat musik “
Walaupun hadits tersebut terdapat di dalam Shahih Bukhari, namun hadits itu diriwayatkan dengan cara muallaq ( tanpa menyebut sanadnya ), bukan dengan sanad yang bersambung. Karena ituIbn Hazm menolak hadits ini sebab sanadnya terputus. Di samping hadits itu muallaq, para ulama hadits juga mengatakan bahwa sanad dan matannya tidak terlepas dari idhtirab ( kerancuan ) … “.
Kami katakan : Demikianlah penulis mengikuti jejak Ibnu Hazm yang melemahkan hadits Shahih Bukhari tersebut di atas.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari di dalam Shahihnya di dalam Kitabul Asyribah 10/51/no. 5590 :
وقال هشام بن عمار: حدثنا صدقة بن خالد: حدثنا عبد الرحمن بن يزيد بن جابر: حدثنا عطية بن قيس الكلابي: حدثني عبد الرحمن بن غنم الأشعري قال: حدثني أبو عامر أو أبو مالك الأشعري – والله ما كذبني – سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول: ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
“ Dan berkata Hisyam bin ‘Ammar : telah menceritakan kepada kami Shadaqoh bin Kholid : telah menceritkan kepada kami Abdurrahman bin Yazid bin Jabir : telah menceritakan kepada kami Athiyyah bin Qais Al-Kilabi : telah mencerikatakan kepadaku Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy’ari dia berkata : telah menceritakan kepadaku Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari – demi Alloh dia tidak berdusta kepadaku – dia mendengar Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
“ Sungguh akan terjadi pada suatu kaum dari umatku yang menganggap halal perzinaan, sutera, khamr, dan alat-alat musik “.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Dan alat-alat musil telah shahih tentangnya apa yang diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Shahihnya secara muallaq jazam, masuk di dalam syaratnya ( Al-Istiqomah 1/294 ).
Demikianlah bahwa hadits ini dishahihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Ibnu Hazm menganggap bahwa hadits ini munqathi’ (terputus sanad atau jalan periwayatannya), tidak bersambung antara Bukhari dan Shidqah bin Khalid [Al-Muhalla, karya Ibnu Hazm 9:59, dengan tahqiq Ahmad Syakir, Mansyurat Al-Maktab At-Tijari, Beirut].
Anggapan Ibnu Hazm ini disanggah oleh Al-Imam Ibnul Qayyim, dan beliau menjelaskan bahwa pendapat Ibnu Hazm itu batal dari enam segi :
[1] Bahwa Bukhari telah bertemu Hisyam bin Ammar dan mendengar hadits darinya. Apabila beliau meriwayatkan hadits darinya secara mu’an’an (dengan menggunakan perkataan ‘an /dari) maka hal itu telah disepakati sebagai muttashil karena antara Bukhari dan Hisyam adalah sezaman dan beliau mendengar darinya. Apabila beliau (Bukhari) berkata : “Telah berkata Hisyam” maka hal itu sama sekali tidak berbeda dengan kalau beliau berkata, “dari Hisyam …..”
[2] Bahwa orang-orang kepercayaan telah meriwayatkannya dari Hisyam secara maushul. Al-Ismaili berkata di dalam shahihnya, “Al-Hasan telah memberitahu-kan kepadaku, (ia berkata) : Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepada kami” dengan isnadnya dan matannya.
[3] Hadits ini telah diriwayatkan secara shah melalui jalan selain Hisyam. Al-Ismaili dan Utsman bin Abi Syaibah meriwayatkan dengan dua sanad yang lain dari Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu.
[4] Bahwa seandainya Bukhari tidak bertemu dan tidak mendengar dari Hisyam, maka beliau memasukkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya menunjukkan bahwa hadits ini menurut beliau telah sah dari Hisyam dengan tidak menyebut perantara antara beliau dengan Hisyam. Hal ini dimungkinkan karena telah demikian masyhur perantara-perantara tersebut atau karena banyaknya jumlah mereka. Dengan demikian hadits tersebut sudah terkenal dan termasyhur dari Hisyam.
[5] Apabila Bukhari berkata dalam Shahih-nya, “Telah berkata si Fulan”, maka hadits tersebut adalah shahih menurut beliau.
[6] Bukhari menyebutkan hadits ini dalam Shahih-nya dan berhujjah dengannya, tidak sekedar menjadikannya syahid (saksi atau pendukung terhadap hadits lain yang semakna), dengan demikian maka hadits tersebut adalah shahih tanpa diragukan lagi ( Lihat Tahdzib As-Sunan 5/270-272 ).
Al-Imam Ibnu Sholah berkata : ” Tidak perlu dihiraukan pendapat Abu Muhammad bin Hazm Az-Zhahiri Al-Hafizh yang menolak hadits Bukhari dari Abu Amir atau dari Abu Malik”. Lalu beliau menyebutkan hadits tersebut, kemudian berkata. “Hadits tersebut sudah terkenal dari orang-orang kepercayaan dari orang-orang yang digantungkan oleh Bukhari itu. Dan kadang-kadang beliau berbuat demikian karena beliau telah meyebutkannya pada tempat lain dalam kitab beliau dengan sanadnya yang bersambung. Dan adakalanya beliau berbuat demikian karena alasan-alasan lain yang tidak laik dikatakan haditsnya munqathi’. Wallahu a’lam . ( Muqaddimah Ibnush Shalah Fii ‘Ulumil Hadits, halaman 32 ).
Syaikh Al-Albani menyebutkan 12 imam ahli hadits yang menshahihkan hadits ini, mereka adalah : Al-Bukhari, Ibnu Hibban, Al-Ismaili, Ibnu Sholah, An-Nawawi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, Ibnul Wazir, As-Sakhowi, dan Ash-Shonani ( Lihat Tahrim Alati Ath-Tharb hal. 89 ).

MENTAHRIF MAKNA HADITS SHAHIH BUKHARI YANG MENGHARAMKAN MUSIK

Penulis berkata di dalam hal. 46 dari bukunya ini : Di samping ketsabatan hadits yang masih dibicarakan ini, ternyata kandungannya masih perlu dikomentari. Kata al-maazif belum disepakati makna persisnya. Ada yang mengartikannya dengan hiburan ( dalam pengertian global ), ada pula yang mengartikannya dengan alat-alat musik.
Katakanlah kita menerima bahwa ia berarti alat-alat hiburan, atau dikenal juga dengan alat-alat musik, maka redaksi hadits muallaq yang terdapat dalam Bukhari tadi tidak menunjukkan secara jelas hukum haramnya alat-alat musik itu.
Kata yastahilluha menurut pendapat Ibnul Arabi mempunyai dua pengertian. Pertama, mereka menganggapnya halal. Kedua, sebagai kiasan tentang ketakterkendalian mereka dalam menggunakan alat-alat tersebut. Sebab kalau kata yastahilluha itu dipahami dengan arti sebenarnya ( bukan kiasan ), niscaya perbuatan itu termasuk perilaku kekufuran. Karena penghalalan sesuatu yang sudah diketahui berhukum haram, seperti khamr dan zina, adalah perbuatan kufur. Demikian menurut kesepakatan para ulama.
Seandainya kita menerima bahwa hadits ini menunjukkan haram, maka tersisa pertanyaan : apakah pengharaman itu atas keseluruhannya sekaligus ( zina, sutra, khamr, dan alat-alat musik ), ataukah atas tiap butir secara terpisah ? Menurut hemat saya, pendapat pertamalah yang kuat.
Kami katakan : Demikianlah penulis menolak makna hadits Bukhari di atas dengan beberapa dalih :
Syubhat Pertama : Kata Al-Maazif belum disepakati makna persisnya.
Jawaban terhadap syubhat ini adalah : Para ulama lughah telah sepakat bahwa arti al-maazif adalah alat-alat musik semuanya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim di dalam Ighotsatu Lahfan 1/260.
Al-Imam Ibnul Atsir berkata di dalam kitab An-Nihayah Fi Gharibil Haditsi wal Atsar 3/457 : Al-Maazif adalah rebana dan yang sejenisnya yang dipukul .
Syubhat Kedua : Redaksi hadits Bukhari di atas tidak menunjukkan secara jelas hukum haramnya alat-alat musik itu.
Jawaban atas syubhat ini adalah : Lafazh yastahilluna sangat jelas menunjukkan bahwa hal-hal yang disebutkan di dalam hadits tidaklah halal secara syari, termasuk di dalamnya al-maazif ( alat-alat musik ), di dalam kitab Al-Mujam Al-Wasith dan kamus-kamus yang lainnya disebutkan bahwa istahalla asy-syaia artinya adalah addahu halalan ( menganggapnya sebagai hal yang halal ).
Karena itulah AlAllamah Ali Al-Qari berkata di dalam Al-Mirqat 5/106 : Makna hadits ini bahwa mereka menganggap hal-hal yang diharamkan ini adalah hal-hal yang halal dengan membawakan syubhat-syubhat dan dalih-dalih yang lemah .
Syubhat Ketiga : Pengharaman tersebut atas keseluruhannya sekaligus ( zina, sutra, khamr, dan alat-alat musik ), bukan atas tiap butir secara terpisah, jadi alat-alat musik tidak haram kecuali jika bersamaan dengan perzinaan, sutra, dan khamr !!!.
Jawaban atas syubhat ini adalah apa yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim di dalam kitab Ighatsatu Lahfan 1/260-261 : Segi pendalilan hadits ini bahwa al-maazif adalah alat-alat musik semuanya, tidak ada perbedaan di antara ahli lughah di dalam hal itu, seandainya dia adalah halal maka tidaklah mereka dicela ketika menghalalkannya, tatkala diiringkan penghalalannya dengan penghalalan khamr dan sutra … orang yang menghalalkan alat-alat musik diancam akan dibenamkan Alloh di dalam bumi dan diubah menjadi kera-kera dan babi-babi, meskipun ancaman berlaku atas seluruh perbuatan-perbuatan ini, akan tetapi masing-masing memiliki bagian di dalam celaan dan ancaman .
Al-Imam Asy-Syaukani berkata di dalam kitab Nailul Authar 8/85 : Dijawab bahwa pengiringan hal-hal ini tidaklah menunjukkan bahwa yang diharamkan hanyalah ketika hal-hal ini dikumpulkan semuanya, karena jika demikian lazimnya bahwa zina yang tersebut jelas di dalam hadits Bukhari tersebut tidaklah diharamkan kecuali jika sambil meminum khamr dan menggunakan alat-alat musik, dan kelaziman ini adalah bathil dengan ijma, dan yang dilazimkan juga demikian.

HADITS BUDAK PEREMPUAN PENYANYI

Penulis berkata di dalam hal. 48 dari bukunya ini : Mereka juga beralasan dengan hadits Aisyah,
إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ الْقَيْنَةَ، وَبَيْعَهَا، وَثَمَنَهَا، وَتَعْلِيمَهَا
“ Sesungguhnya Allah swt mengharamkan qainah ( penyanyi budak wanita ), menjualnya, memakan hasilnya, dan mengajarinya :
Jawabannya adalah sebagai berikut :
Pertama, hadits ini dhaif. Seluruh hadits yang menyebutkan haramnya menjual budak perempuan yang menjadi penyanyi adalah dhaif.
Kedua, Imam Al-Ghazali mengatakan, Yang dimaksud dengan qainah adalah budak wanita yang menyanyi untuk lelaki di majelis minuman khamr. Sedangkan nyanyian perempuan asing ( bukan mahram ) di hadapan lelaki fasik dan orang-orang ahli fitnah, juga haram. Mereka tidak memaksudkan kata fitnah itu kecuali apa-apa yang diperingatkan ( dilarang ). Adapun budak perempuan yang menyanyi di hadapan tuannya, menurut hadits ini tidak bisa dipahami sebagai berhukum haram. Bahkan selain tuannya pun boleh saja mendengarkan nyanyian itu, asalkan tidak dikhawatirkan timbul fitnah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim tentang budak perempuan yang menyanyi di rumah Aisyah ra .
Kami katakan : Di dalam perkataan Al-Qaradhawi ada beberapa catatan :
Pertama : Perkataannya Seluruh hadits yang menyebutkan haramnya menjual budak perempuan yang menjadi penyanyi adalah dhaif hendak mengelabui pembaca akan halalnya budak perempuan penyanyi, ini adalah batil karena banyak hadits-hadits shahih yang mengharamkan budak perempuan penyanyi, di antara hadits-hadits tersebut adalah :
Hadits Imran bin Hushain dia berkata: Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَتَى ذَاكَ قَالَ إِذَا ظَهَرَتْ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتْ الْخُمُورُ
“Akan terjadi pada ummat ini bencana longsor, digantinya rupanya dan angin ribut yang menghempaskan manusia, ” bertanyalah seseorang dari kaum muslimin: Wahai Rasulullah, kapan itu terjadi? beliau menjawab: “Apabila bermunculan para budak wanita penyanyi dan alat alat musik dan orang meminum minuman khamar.” ( Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi di dalam Jaminya : 2213 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 64 ).
Hadits Sahl bin Sad dia berkata: Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
” Pada akhir zaman akan terjadi tanah longsor, kerusuhan, dan perubahan muka. ‘Ada yang bertanya kepada Rasulullah’. Wahai Rasulullah, kapankah hal itu terjadi.? Beliau menjawab. ‘Apabila telah merajalela bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi-penyanyi wanita”. ( Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/1350 dan yang lainnya. Al-Albani berkata : ‘Shahih’. Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir 3/216 hadits no. 3559).
Kedua : Perkataan Al-Ghazali bahwa budak perempuan yang menyanyi di hadapan tuannya, menurut hadits ini tidak bisa dipahami sebagai berhukum haram. Bahkan selain tuannya pun boleh saja mendengarkan nyanyian itu, asalkan tidak dikhawatirkan timbul fitnah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim tentang budak perempuan yang menyanyi di rumah Aisyah ra telah terbantah dengan hadits-hadits shahih di atas yang mengharamkan budak perempuan penyanyi, adapun hadits Aisyah bukanlah tentang budak perempuan penyanyi akan tetapi tentang dua anak perempuan yang menyanyi ketika hari Ied yang dibolehkan melakukan hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam Majmuatu Ar-Rasail Al-Kubra 2/285, Ibnul Qayyim di dalam Ighatsatu Lahfan 1/257 dan Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari 2/442 ).

ULAMA KONTEMPORER LEBIH KERAS DI DALAM MELARANG NYANYIAN DIBANDINGKAN DENGAN ULAMA TEMPO DULU ?

Penulis berkata di dalam hal. 77 dari bukunya ini : Agaknya para ulama kontemporer dari kalangan ahli fiqih bersikap lebih keras dalam melarang nyanyian terlebih nyanyian yang menggunakan alat-alat musik dibanding dengan para ulama fiqih tempo dulu.
Hal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :
Mengambil sikap ahawath ( hati-hati ) bukan yang aisar ( lebih mudah )
Para ulama yang terdahulu lebih banyak berpegang pada prinsip yang lebih mudah , sementara para ulama belakangan lebih banyak berpegang kepada prinsip hati-hari , yakni yang lebih berat dan lebih keras. Barangsiapa yang mengamati garis skema masalah fiqih dan fatwa semenjak masa sahabat dan orang-orang sesudahnya akan menjumpai hal ini secara jelas. Contoh-contohnya banyak sekali.
Terpedaya oleh hadits-hadits dhaif dan palsu
Banyak ahli fiqih kontemporer terkejut dengan derasnya arus hadits-hadits lemah dan palsu yang memenuhi halaman berbagai kitab. Sementara mereka sendiri tidak ahli dalam hal seleksi riwayat dan sanad. Maka laku keraslah hadits-hadits itu di tengah mereka, apalagi prinsip bahwa sanad lemah yang banyak jumlahnya bisa saling menguatkan antar sesamanya sudah demikian menancap kuat di dalam benak mereka.
Tekanan realita
Realita yang ada, menyangkut maraknya nyanyian yang dilumuri oleh berbagai tindak penyelewengan, sangat besar perannya dalam mempengaruhi penetapan hukum halal dan haramnya. Realita ini bagaikan pisau bermata dua yang masing-masing mempengaruhi kelompok tertentu dari kalangan ahli fiqih .
Kami katakan : Perkataan Al-Qaradhawi bahwa para ulama belakangan bersikap lebih keras dalam melarang nyanyian terlebih nyanyian yang menggunakan alat-alat musik dibanding dengan para ulama terdahulu adalah perkataan yang bathil, karena yang benar bahwa para ulama Sunnah dari kalangan sahabat, tabi’in, para imam empat dan yang setelah mereka sepakat atas haramnya musik, akan kami bawakan sebagian dari nukilan-nukilan dari mereka :
Abdullah bin Mas’ud berkata :
الغناء ينبت النفاق في القلب
“ Nyanyian menumbuhkan kenifaqan di dalam hati “ ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya di dalam Dzammul Malahi lembar 4/2 dan Al-Baihaqi di dalam As-Sunan 10/223 dan Syu’abul Iman 4/278 dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 145 ).
Abdullah bin Abbas berkata tentang Lahwal hadits di dalam surat Luqman ayat 6 :
وَمِنْ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“ Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan “ Abdullah bin Abbas berkata : Ayat ini turun pada nyanyian dan yang semisalnya ( Diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Adabul Mufrad : 1265 dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 142 ).
Ikrimah ketika ditanya tentang arti lahwal hadits maka dia menjawab : Dia adalah nyanyian ( Diriwayatkan oleh Bukhari di dalam At-Tarikh 2/2/217 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 143 ).
Mujahid berkata : Al-Lahwu adalah gendang ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushonnaf : 1167 dan 1179 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 144 ).
Asy-Syabi berkata : Sesungguhnya nyanyian menumbuhkan kenifaqan di dalam hati ( Diriwayatkan oleh Ibnu Nashr di dalam Qadru Sholat Lembar 151-152 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 148 ).
Said bin Musayyib berkata : Sesungguhnya aku membenci nyanyian dan menyukai rajaz ( Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq di dalam Al-Mushonnaf 11/6/19743 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 101 ).
Al-Imam Malik ketika ditanya tentang nyanyian maka beliau berkata : Yang melakukan itu di sisi kami adalah orang-orang fasiq ( Diriwayatkan oleh Abu Bakr Al-Khollal di dalam Al-Amru Bil Maruf dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 99 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Sesungguhnya imam empat ( Abu Hanifah, Malik, Syafii, dan Ahmad ) sepakat atas haramnya al-maazif yang dia adalah alat-alat musik ( Minhajus Sunnah 3/439 ).
Syaikh Al-Albani berkata : Sesungguhnya para ulama dan fuqoha termasuk imam empat sepakat atas haramnya alat-alat musik karena mengikuti hadits-hadits Nabi dan atsar-atsar salaf. Dan jika ada yang shahih dari sebagian mereka yang menyelisihi hal ini maka dia dibatalkan dengan apa yang telah disebutkan ( Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 105 ).

PENUTUP

Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari sebagian penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lain belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat.
Semoga yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat tersebut dan semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalanNya yang lurus dan dijauhkan dari semua jalan-jalan kesesatan. Amin.

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.