NODA-NODA HITAM BUKU PUTIH SYIAH

NODA-NODA HITAM BUKU PUTIH SYIAH

Disusun oleh : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Buku Putih Mazhab Syiah. Secara global buku ini adalah salah satu buku yang membela ajaran-ajaran agama Syi’ah dan berusaha membela kesesatan-kesesatan mereka.
Buku ini juga penuh dengan propaganda pemikiran-pemikiran Syiah dan melontarkan syubhat-syubhat yang membahayakan aqidah dan pemahaman seorang muslim.
Karena itulah Insya Alloh dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai pembelaan terhadap manhaj yang haq dan nasehat kepada kaum muslimin secara umum.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Buku yang memiliki judul lengkap Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Para Ulamanya yang Mukhtabar ini ditulis oleh Tim Ahlul Bait Indonesia cetakan keempat Desember 2012, dengan kata pengantar dari Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, MA.
Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, MA juga telah menulis buku yang berjudul Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan ! Mungkinkah ? Kajian Atas Konsep Ajaran Dan Pemikiran diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati Ciputat Tangerang cetakan pertama Maret 2007 M / Rabiul Awwal 1428. Bukunya ini penuh dengan tikaman-tikaman terhadap para sahabat seperti Umar bin Khaththab dan Muawiyah, berdusta atas Abu Hanifah, dan menyatakan bahwa Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif ( Lihat bahasan atas buku ini didalam Majalah Al-Furqon Tahun ke-8 Edisi 8 Rubrik Kitab ).

TIKAMAN PENULIS TERHADAP PARA SAHABAT NABI

Penulis mengatakan bahwa di antara sahabat ada yang munafik, sebagaimana di dalam hal. 52 : Al-Quran bercerita tentang kaum munafik yang notabene adalah orang Muslim yang hidup pada waktu hidup Nabidan, karena itu, dalam definisi umum yang berlaku, dapat disebut sebagai sahabatdan mengecam mereka dengan keras .
Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan miring yang lainnya dari penulis kepada para sahabat.
Kami katakan : Demikianlah penulis mencela para sahabat Rasulullah ( dengan menyatakan bahwa di antara sahabat ada yang munafik padahal orang-orang munafik berada di kerak paling dalam dari neraka, ini menunjukkan kebodohan yang sangat dari tim penulis terhadap para sahabat. Para ulama telah menjelaskan tentang siapakah yang dimaksud dengan para sahabat Nabi :
Al-Imam Bukhari berkata tentang definisi sahabat :
من صحب النبي صلى الله عليه وسلم أو رآه من المسلمين
” Orang yang bersahabat dengan Nabi ( atau yang melihat beliau dari kaum muslimin ” ( Shahih Bukhari 4/188 ).
Al-Imam Ali bin Madini berkata :
من صحب النبي صلى الله عليه وسلم أو رآه ولو ساعة من نهار
” Orang yang bersahabat dengan Nabi ( atau melihat beliau walau hanya sesaat dari siang ” ( Lihat Thabaqah Hanabilah 1/243, Fathul Baari 7/5, dan Fathul Mughits 3/86 ).
Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :
كل من صحبه سنةً أو شهراً أو يوماً أو ساعةً أو رآه .له من الصحبة على قدر ما صحبه وكانت سابقته معه ،وسمع منه، ونظر إليه .
” Setiap orang yang bersahabat dengan Nabi ( selama satu tahun atau satu bulan atau satu hari atau satu saat atau yang melihat beliau. Dia memiliki kedudukan sahabat sesuai dengan kadar pertemuannya dengan beliau, dan pernah bersama dengan beliau, mendengar dari beliau dan melihat kepada beliau ( Lihat kitab Tahqiiqir Rutbah Liman Tsabata Lahu Syarafush Shuhbah hal. 30-31 dan Al-Kifayah hal. 51 ).
Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata :
وأجمعوا على أن الخيار بعد العشرة في أهل بدر من المهاجرين والأنصار على قدر الهجرة والسابقة ، وعلى أن كل من صحب النبي صلى الله عليه وسلم ولو ساعة ، أو رآه ولو مرةً مع إيمانه به وبما دعا إليه أفضل من التابعين بذلك
” Para salaf telah sepakat bahwa orang-orang yang terbaik sesudah sepuluh orang sahabat yang terbaik pada Ahli Badar dari kaum Muhajirin dan Anshor sesuai dengan kadar hijrah dahulunya keislamannya, dan sepakat atas bahwa setiap orang yang bersahabat dengan Nabi ( walau sesaat, atau melihat beliau walaupun hanya sekali dengan mengimani beliau dan apa yang beliau dakwahkan, adalah lebih afdhol dengan hal itu dibandingkan dengan para tabi’in ” ( Risalah Ila Ahli Tsaghr hal. 171 ).
Definisi-definisi di atas membantah kebohongan tim penulis buku hitam Syiah ini yang menyatakan bahwa di antara para sahabat ada yang munafik, bahkan para sahabat semuanya adalah mulia dengan pemuliaan Alloh dan RasulNya, Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdady menyebutkan ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan para sahabat di antaranya :
( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُِ (
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. ( At-Taubah : 100 ).
Kemudian beliau berkata : Hadits-hadits yang semana dengan hal ini banyak sekali, semuanya sesuai dengan apa yang datang dalam nash Al-Quran, yang semuanya menunjukkan pada kesucian para sahabat dan pemastian atas keadilan mereka, mereka tidak butuh rekomendasi kepada siapapun setelah rekomendasi Allah kepada mereka, Allah Dzat Yang Maha Mengetahui isi hati mereka… Ini adalah madzhab seluruh ulama dan yang dianggap perkataaannya dari fuqaha ( Al-Kifayah hal. 96 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Di antara pokok-pokok ahli sunnah adalah : selamatnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah ( sebagaimana pensifatan Allah ( dalam firmanNya :
( وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. ( Al-Hasyr : 10).
Sikap ahli sunnah ini adalah merupakan ketaatan kepada Rasulullah ( terhadap sabdanya : Janganlah kalian mencaci para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku di tanganNya; seandainya seorang di antara kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud tidaklah itu mencapai satu mud infaq seorang dari mereka dan tidak juga mencapai separuhnya ( Muttafaq Alaih, Bukhary : 3673 dan Muslim : 2540 ).
Maka ahli sunnah menerima apa saja yang yang datang dalam Kitab, Sunnah, dan Ijma tentang keutamaan-keutamaan dan tingkatan-tingkatan mereka, ahli sunnah berlepas diri dari cara orang-orang rafidhah yang membenci dan mencaci para sahabat, dan berlepas diri dari cara orang-orang nawashib yang menyakiti ahlil bait dengan perkataan atau perbuatan… ( Aqidah Wasithiyyah hal. 142-151 ).
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ciri khas agama Syi’ah yang batil adalah celaan mereka terhadap para sahabat Nabi !.

MENGIMANI IMAM 12

Di dalam hal. 22-23 penulis mengatakan : Oleh karena itu, Syiah meyakini bahwa sesudah Nabi Muhammad Saw. wafat ada seorang imam untuk setiap masa yang melanjutkan misi RasulullahSaw. Mereka adalah orang-orang yang terbaik padamasanya. Dalam hal ini, Syiah (Imamiyah) meyakini bahwa Allah telah menetapkan garis imamah sesudahNabi Muhammad Saw. pada orang-orang suci dari dzuriyat-nya atau keturunannya, yang berjumlah 12 orang yaitu: 1. Ali ibn Abu Thalib (Lihat Lampiran
1: Keutamaan Imam Ali r.a.), 2. Hasan ibn Ali Al-Mujtaba, 3. Husan ibn Ali Sayyidussyuhada, penghulu para syuhada, 4. Ali ibn Husain, 5. Muhammad Al Baqir, 6. Jafar ibn Muhammad Ash-Shadiq, 7. Musa
ibn Jafar, 8. Ali ibn Musa Ar-Ridha, 9. Mohammad ibn Ali Al-Taqi Al-Jawad, 10. Ali ibn Mohammad an-Naqi Al-Hadi, 11. Hasan ibn Ali Al-Askari, dan terakhir,12. Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi. Syiah meyakini bahwa Imam Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi masih hidup hingga sekarang ini, tapi dalam keadaan gaib, namun akan muncul kembali pada akhir zaman. Syiah meyakini bahwa kedua belas Imam tersebut di atas telah dinyatakan oleh Rasulullah Saw. (lihat Lam piran 2: Hadis 12 Imam) sebagai imam-imam sesudahnya Akan tetapi, perlu ditegaskan bahwa konsep imamah dan kemaksuman hanya berlaku pada 12 Imam penerus Rasulullah “.
Kami katakan : Demikianlah Syiah membatasi imamah hanya pada imam 12 ini, ini sangat mirip dengan orang-orang Yahudi membatasi imamah ( kepemimpinan ) pada keluarga Dawud sebagaimana tertera di dalam kitab-kitab mereka :
Bagi Dawud dan keturunannya dan rumahnya dan kursinya keselamatan selama-lamanya di sisi Rabb ( Al-Ishhah Tsani paragraf 33 ).
Raja Sulaiman diberkahi dan kursi Dawud tetap di depan Rabb selama-lamanya ( Al-Ishhah ke-2 paragraf 45 ).
Tidak henti-hentinya orang-orang Yahudi hingga saat ini terus meyakini aqidah ini dan memimpikan kembalinya singgasana Israel dan diangkatnya seorang keturunan Dawud atasnya. Di dalam Protokolat Zionis tertera : Dan sekarang aku akan membahas metode yang bisa menguatkan negara Raja Dawud, hingga berlangsung sampai hari akhir ( Protokolat ke-24 hal. 210 ).
Jumlah imam yang 12 ini dikatakan oleh orang-orang Syiah sebagai kesesuaian dengan jumalah asbath Bani Israil, hal ini menunjukkan begitu sangatnya kegandrungan orang-orang Syiah untuk menyerupai orang-orang Yahudi. Ash-Shaduq menulis sebuah judul dalam kitabnya Al-Khisal ( hal. 465 ) : Alloh telah mengeluarkan dari Bani Israil 12 sibthan, dan menebarkan dari Hasan dan Husain 12 sibthan .
Keyakinan orang-orang Yahudi dan orang-orang Syiah bahwa imamah terbatas pada orang-orang tertentu adalah keyakinan yang batil, di antara dalil yang menunjukkan kebatilannya adalah firman Alloh ( :
( (((((((( ((((((((( ((( (((((((((( (((( (((((( (((((((((( (((( (((((((( ((((((((( ((((((((( ((((((((((((( ((((( (
Dan sungguh Telah kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. ( Al-Anbiya : 105 ).
Dalam ayat ini mensyaratkan keshalihan dalam mempusakai bumi dan menguasainya dan tidak membatasinya pada kelompok atau ras sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Syiah.
Dan Alloh ( berfirman:

Dan kami jadikan di antara mereka itu para imam ( pemimpin ) yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami. ( Al-Anbiya : 105 ).
Ayat di atas menunjukkan bahwa bahwa imamah sesungguhnya didapatkan dengan dengan keimanan dan kesabaran dan bukan secara warisan sebagaimana sangkaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Rafidhah.

BERARGUMEN DENGAN HADITS-HADITS PALSU

1. Di dalam hal. 115-116 penulis membawakan riwayat dari Abu Dzar yang menyatakan bahwa Ali bershadaqah dengan sebuah cincin dalam keadaan dia sedang ruku, maka Nabi ( bertanya kepada peminta : Siapakah yang memberimu cincin ini ? , maka dia menjawab : Orang yang ruku itu . Maka Alloh ( menurunkan ayat :
(( إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ…(
Kami katakan : Ini adalah riwayat yang palsu dengan kesepakatan ulama ( Lihat Al-Fawaidul Majmu’ah hal. 316 dan Tadzkiratul Maudhu’at hal. 84 ).
2. Penulis di dalam hal. 113-114 membawakan riwayat tentang tafsir surat Al-Maidah ayat 67 :
(( يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ …(
Bahwa ayat ini turun atas Rasulullah ( pada hari Ghadir Khumm tentang Ali bin Abi Thalib Nabi Saw. diperintahkan oleh Allah untuk meng angkat Ali a.s. sebagai khalifah sepeninggalnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali a.s. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya.
Kami katakan : Ini adalah riwayat yang palsu sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Al-Jauraqani di dalam Al-Abathil wal Manakir 2/366 ).
3. Di dalam hal. 137-138 penulis membawakan hadits Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya .
Kami katakan : Ini adalah hadits yang palsu, Al-Imam Yahya bin Main berkata : Hadits ini adalah dusta tidak ada asalnya.
Al-Imam Ibnu Adi berkata : Hadits ini adalah palsu.
Al-Imam Ibnu Hibban berkata : Hadits ini tidak asalnya ( Lihat Al-Maudhuat 1/354 dan Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah wal Maudhuah 6/518 ).

KEDUSTAAN-KEDUSTAAN BUKU INI

Penulis berkata di dalam hal. 167-168 membawakan riwayat Dari Jabir Al Jufi, ia menuturkan: Aku pernah mendengar Abu Jafar alaihissalaam berkata: Tidaklah ada seseorang yang mengaku telah menghafal Al Quran semuanya sebagaimana tatkala diturunkan melainkan ia adalah seorang pendusta, dan tidaklah ada orang yang berhasil mengumpulkan dan menghafalnya secara utuh sebagaimana ketika diturunkan selain Ali bin Abi Tholib dan para imam setelahnya.
Kemudian penulis berkata : perlu diketahui bahwa dalam hadis tersebut tidak ada penegasan akan terjadinya pengurangan pada Al-Quran Al-Karîm. Sebab kata جمع disusul dengan kata حفظ , yang memberikan makna bahwa yang dihafal dan dikumpulkan oleh Imam Ali dan para Imam suci Syiah a.s. adalah ilmu tentang seluruh teks ayat Al-Quran beserta takwil, tafsir, dan kandungannya baik yang zhahir maupun yang bathin. Dan bukan sekadar menghafal teks ayat-ayat suci Al-Quran.
Selain itu, pemaknaan seperti itu sangat sejalan dengan ke yakinan Al-Kulaini yang memasukkan hadis di atas dalam bab khusus dengan judul: Bahwa sesungguhnya tidak ada yang mengumpulkan Al-Quran seluruhnya, kecuali para imam dan mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Quran .
Kami katakan : Demikianlah penulis bersikeras mengimani riwayat di atas yang merupakan tuduhan bahwa Al-Quran yang utuh adalah yang ada pada mushaf Ali Radhiyallahu Anhu.
Ini adalah kedustaan Syiah atas nama Al Baqir Abu Jafar rahimahullah dengan bukti sahabat Ali radhiallahu anhu sendiri selama masa khilafahnya -padahal beliau berada di kota Kuffah- tidak pernah beramal selain dengan Mushaf yang telah dikumpulkan dan disebar luaskan serta ditetapkan untuk diamalkan di seluruh penjuru -sebagai karunia dari Allah taala- oleh khalifah Utsman radhiallahu anhu, hingga zaman kita dan hingga hari kiamat. Seandainya sahabat Ali radhiallahu anhu memiliki mushaf lain, -sedangkan ia adalah seorang khalifah dan penguasa, di seluruh wilayah kekuasaannya tidak ada yang berani menentangnya- niscaya ia akan mengamalkannya, dan memerintahkan kaum muslimin untuk menyebar luaskan dan mengamalkannya. Dan seandainya ia memiliki mushaf lain, sedangkan ia menyembunyikannya dari kaum muslimin, maka ia adalah seorang pengkhianat terhadap Allah, Rasul-Nya dan agama islam!!
Sedangkan Jabir Al Jufi yang mengaku mendengar ucapan keji tersebut dari Imam Abi Jafar Muhammad Al Baqir, walaupun dianggap berkredibilitas tinggi (dapat dipercaya) menurut mereka, akan tetapi sebenarnya ia telah dikenal oleh imam kaum muslimin sebagai pendusta. Abu Yahya Al Himmani berkata: Aku mendengar Abu Hanifah berkata: Aku tidak pernah melihat dari orang-orang yang pernah aku temui seorang pun yang lebih utama dibanding Atha, dan tidak seorang pun yang lebih pendusta dibanding Jabir Al Jufi.( Lihat Al-Khuthuth al-Aridhah hal. 17-18 oleh Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib ).
Di antara kedustaan lain yang mereka bawakan di dalam buku ini adalah dongeng mereka tentang adanya Mushaf Fathimah yang mereka koarkan dengan mengatasnamakan Al-Imam Jafar Ash-Shadiq, penulis buku ini berkata di dalam hal. 205-206 : Al-Kulaini telah meriwayatkan dengan sa nad bersambung kepada Husain ibn Abu Al-Alâ, yang di dalamnya dia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ash-Shadiq) berkata, “Ada padaku Al-Jafr Al-Abyadh (putih) Dan Mushaf Fathimah. Aku tidak mengatakan bahwa di dalamnya terdapat ayat Al-Quran. Akan tetapi, di dalamnya terdapat apa-apa yang umat manusia butuh kepada kami dan kami tidak butuh kepada seorang pun .
Kemudian penulis membawakan lima riwayat lain yang semakna dan menyetujuinya.

PENUTUP

Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari sebagian penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lainnya belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat .
Semoga sedikit yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat buku ini dan semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalanNya yang lurus dan dijauhkan dari semua jalan-jalan kesesatan. Amin.
والله أعلم بالصواب

4 comments

  • Toto - Bekasi

    Ustadz dalam hal hubungan kenegaraan adakah udzur bagi seseorang untuk mewakili sebuah negara bermua’malah dg negara d Syi’ah / Iran. Yg dapat dipastikan ketika ia berkunjung ke negri tersebut akan mengikuti urf negara tsb.
    Sebagai contoh menjadi ma’mum sholat
    Syukron jaziilan

    • Ustadz Arif Fathul Ulum

      Harom sholat bermakmum kpd Rafidhah yg kafir kecuali dharurat. dia sholat di blkg kafir tsb kmdn mengulanginya.

      Ahli bidah tidak lepas dari dua keadaan, keadaan yang pertama dia dihukumi kafir keluar dari Islam dan keadaan yang kedua dia belum dihukumi kafir keluar dari Islam.
      Jika dia telah dihukumi kafir maka tidak sah sholat di belakangnya, karena sholat seorang kafir tidak sah maka sholat di belakangnya juga tidak sah, ini adalah kesepakatan para ulama ahli sunnah, sama saja apakah ahli bidah yang dihukumi kafir tadi menyeru kepada kebidahannya atau tidak ( Lihat Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 3/32 dan Bahru Raiq oleh Ibnu Najim Al-Hanafy 1/370 ). Jumhur Ulama juga berpendapat bahwa orang shalat dibelakang ahli bidah yang dihukumi kafir dalam keadaan tidak tahu kekafirannya maka dia wajib mengulangi sholatnya ( Lihat Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 3/33 ).
      Ketika Watsilah bin Asqa ( ditanya tentang sholat dibelakang orang qadariyyah maka beliau berkata : Janganlah kamu sholat di belakangnya, jika kamu terlanjur sholat di belakangnya maka kamu harus mengulanginya ( Diriwayatkan oleh Lalikai dalam Syarah Ushul Itiqod Ahli Sunnah 2/731 ).
      Sayyar Abul Hakam salah seorang tabiin berkata : Janganlah kamu sholat di belakang orang-orang qadariyyah, kalau terlanjur sholat di belakangnya maka sholat itu harus diulangi ( Diriwayatkan oleh Lalikai dalam Syarah Ushul Itiqod Ahli Sunnah 2/731 ).
      Ketika Sallam bin Abi Muthi ditanya tentang Jahmiyyah maka beliau menjawab : Mereka adalah kafir dan tidak boleh sholat di belakang mereka ( Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 1/105 dan Lalikai dalam Syarah Ushul Itiqod Ahli Sunnah 1/321 ).
      Al-Imam Malik ditanya tentang masalah sholat di belakang orang qadariyyah maka beliau berkata : Jika kau meminta fatwa maka janganlah Engkau sholat di belakangnya , penanya berkata : Tidak juga sholat Jumah , Al-Imam Malik berkata : Tidak juga sholat Jumat, dan aku memandang jika Engkau takut kepadanya maka Engkau sholat di belakangnya dan mengulanginya sebagai sholat Zhuhur ( Mudawwanah Kubro 1/84 dan Syarah Ushul Itiqod Ahli Sunnah 2/732 ).
      Al-Qadhy Abu Yusuf berkata : Aku tidak mau sholat di belakang orang jahmiyyah, orang rafidhah, dan orang qadariyyah ( Diriwayatkan oleh Lalikai dalam Syarah Ushul Itiqod Ahli Sunnah 2/733 ).
      Ketika Al-Imam Ahmad ditanya tentang sholat Jumat di belakang orang Jahmiyyah beliau menjawab : Aku mengulangi sholatku dan kapan saja Engkau sholat di belakang orang yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk maka ulangilah sholatmu ! ( Masail Al-Imam Ahmad oleh Abu Dawud hal. 43 ).
      Dan masih banyak lagi atsar-atsar salaf tentang masalah ini yang keseluruhannya menunjukkan atas kesepakatan salaf atas larangan sholat di belakang ahli bidah yang dihukumi kafir seperti qadariyyah, jahmiyyah, rafidhah, dan selain mereka yang juga dihukumi kafir. Dan bahwasanya sholat dibelakang mereka hukumnya batil dan tidak sah dan barangsiapa yang terlanjur sholat di belakang mereka maka dia wajib mengulangi sholatnya, sama saja apakah sholat tersebut sholat Jumat, Ied, atau sholat lima waktu ( Lihat Mauqif Ahli Sunnah min Ahlil Ahwa wal Bida oleh Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hal. 347-348 ).

  • Zuhri - Depok

    Assalamualaikum. Ustadz yg semoga di rahmati Allah bagaimana sikap kita di zaman fitnah seperti sekarang dimana syiah, dan ahli kitab sudah mulai bergerak menggalang kekuatan? Sudah saatnyakah kita menggalang kekuatan untuk melindungi umat? Syukron wa jazakumullah

    • Ustadz Arif Fathul Ulum

      Cara Ahlus Sunnah Menghadapi Kekuatan-kekuatan Anti Islam

      Demokrasi, dengan segenap perangkatnya, telah memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok sesat anti Islam seperti JIL, Syiah, dan lain-lain untuk menduduki jabatan-jabatan politik yang sangat strategis.

      Wajar jika muncul kekhawatiran terhadap makar-makar musuh Islam yang akan semakin menguat karena ditopang oleh kekuasaan. Walau sesungguhnya, kesadaran akan bahayanya makar mereka selalu dituntut dari seorang muslim, terlepas apakah mereka berkuasa atau tidak.

      Yang menjadi masalah, bagaimana cara menyikapi makar tersebut. Sangat disayangkan, telah sampai kepada kami sebagian Ikhwan yang menyikapinya dengan cara yang kurang tepat.

      Diantaranya, ada yang sampai mengatakan, Untuk apalagi menuntut ilmu, sekarang saatnya latihan fisik untuk menghadapi orang-orang Syiah yang mulai masuk melalui jalur politik dan sosial kemasyarakatan. 

      Padahal ilmu adalah pelita dalam kegelapan, tidak akan bermanfaat kekuatan fisik tanpa ilmu.

      Sebagian lagi tenggelam dalam pembicaraan tentang kondisi politik kontemporer, dunia Facebook, Twitter hingga website-website yang dianggap rujukan dalam ilmu-ilmu Islam pun mengambil bagian yang besar dalam diskusi berita-berita politik, walau sering kali berita-berita tersebut berasal dari sumber-sumber yang tidak jelas, bahkan media-media berpaham pengkafiran dan media-media sekuler.

      Link-link website sampah internet yang berisi berita gosip, dusta dan kesesatan pun berseliweran di beranda Facebook, iklan gratis. Tidak lupa disertai komentar pengamat politik dadakan hingga jurkam dadakan, lalu disusul dengan perdebatan hingga permusuhan para pengamat tersebut. 

      Tidak jarang gambar-gambar bernyawa dan wanita membuka aurat ikut mengambil kesempatan untuk tampil.

      Sebagian orang juga berpendapat, sekarang saatnya memasuki dunia politik, kalau perlu mendirikan partai politik, dan seterusnya. Maka pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan  -insya Allah ta’ala- dua kaidah penting untuk menghadapi makar musuh :

      1) Sabar, Takwa, Tawakkal dan Senantiasa Berdoa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

      Allah subhanahu ta’ala berfirman,

      وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

      “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui (meliputi) segala apa yang mereka kerjakan.” [Ali Imron: 120]

      Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

      يرشدهم تعالى إلى السلامة من شر الأشرار وكَيْدِ الفُجّار، باستعمال الصبر والتقوى، والتوكل على الله الذي هو محيط بأعدائهم، فلا حول ولا قوة لهم إلا به، وهو الذي ما شاء كان، وما لم يشأ لم يكن. ولا يقع في الوجود شيء إلا بتقديره ومشيئته، ومن توكل عليه كفاه

      “Allah ta’ala membimbing kaum mukminin untuk selamat dari keburukan orang-orang jelek dan makar orang-orang jahat, dengan mengamalkan sabar, takwa dan tawakkal kepada Allah yang maha mampu meliputi musuh-musuh mereka.

      Maka tidak ada daya dan kekuatan bagi kaum mukminin kecuali dengan-Nya, Dialah yang kehendak-Nya pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki maka tidak akan terjadi, dan tidak ada sedikitpun yang dapat menjadi kenyataan kecuali dengan taqdir-Nya dan kehendak-Nya.

      Maka siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupinya. [Tafsir Ibnu Katsir, 2/109].

      Nasihat yang agung ini juga sangat bermanfaat bagi para duat Ahlus Sunnah, ketika manusia berbuat makar kepadanya, menjatuhkan kehormatannya (di dunia nyata maupun maya), bahkan tindakan fisik sekalipun, maka janganlah ia takut di jalan Allah terhadap celaan orang yang mencela dan tindakan fisik apa pun, selama ia sabar, takwa dan tawakkal kepada Allah taala.

      Yang perlu dia takutkan adalah apabila Allah murka kepada-Nya ketika ia tidak sabar, tidak takwa dan tidak awakkal kepada-Nya.

      Dan tidak diragukan lagi, berdoa kepada Allah ta’ala dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya adalah sebaik-baiknya solusi.
      Allah ta’ala berfirman,

      أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

      “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi!?

      Apakah ada sesembahan yang lain bersama Allah!? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” [An-Naml: 62].

      Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

      مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

      “Barangsiapa yang ditimpa kesusahan, lalu ia mengadu kepada manusia maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa mengadukannya kepada Allah maka tidak lama Allah akan mencukupinya, apakah dengan kematian (yang baik) yang dekat atau kecukupan yang dekat.” [HR. Abu Daud dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 1452].

      Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata,

      فمن تعلق بالله وأنزل حوائجه إليه والتجأ إليه وفوض أمره إليه وكفاه وقرب إليه كل بعيد ويسر له كل عسير ومن تعلق بغيره أو سكن إلى رأيه وعقله ودوائه وتمائمه ونحو ذلك وكله الله إلى ذلك وخذله وهذا معروف بالنصوص والتجارب قال تعالى ومن يتوكل على الله فهو حسبه

      “Maka barangsiapa yang bergantung kepada Allah taala, memohon hajat-hajatnya kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, memasrahkan urusannya kepada-Nya niscaya Allah taala akan mencukupinya, mendekatkan baginya setiap yang jauh, memudahkan baginya semua yang sulit.

      Dan barangsiapa yang bergantung kepada selain-Nya atau lebih tenang (ketika bersandar) kepada pendapatnya, akalnya, obatnya, jimat-jimatnya dan yang semisalnya maka Allah taala jadikan dia bergantung kepada makhluk-makhluk tersebut dan Allah taala akan menghinakannya.

      Dan ini sudah dimaklumi berdasarkan dalil-dalil dan kenyataan. Allah ta’ala berfirman,

      وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

      “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.” [Ath-Tholaq: 3].” [Fathul Majid, hal. 124].

      2) Menuntut Ilmu Agama, Mengamalkannya dan Menyebarkannya
      Kaidah dalam kenyataan hidup ini, apabila kebodohan terhadap ilmu agama merebak, kesesatan pun tersebar.

      Demikianlah, apabila tauhid dan sunnah tidak dipelajari dengan baik, tidak diamalkan, tidak pula disebarkan pada satu masyarakat, maka syirik dan bidah akan merajalela di tengah-tengah mereka, dan kelompok-kelompok sesat akan mendominasi.

      Oleh karena itu, kembali kepada ilmu yang shahih, berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf, berusaha mengamalkannya dengan baik dan menyebarkannya di tengah-tengah manusia adalah termasuk solusi terbaik menghadapi semua kekuatan politik apa pun yang memusuhi Islam, dan semua kelompok sesat.

      Karena kemenangan Islam selamanya bukan karena kekuatan fisik atau materi, tetapi karena pertolongan Allah taala, sedang pertolongan itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, yang hanya dapat diraih dengan ilmu, amal dan dakwah kepada iman dan amal shalih tersebut. Allah taala berfirman,

      وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

      “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An-Nur: 55].

      Adapun terjun memasuki politik praktis di masa ini, dengan sistem politik yang bertentangan dengan Islam dan keadaan kaum muslimin yang jauh dari agama, bukanlah pilihan yang benar.

      Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Faqih Al-’Allamah Al-Albani rahimahullah berkata,

      إنه نحن الآن عملنا في تصحيح المفاهيم الإسلامية ، خاصة فيما يتعلق منها بالعقيدة … العمل السياسي قد ذكرت لك في أثناء البحث والتحقيق ، لكن الآن أعود وأقول لك شيئا نحن حينما نقول لا نعمل في السياسة أرجوا أن لا تفهموا أننا ننكر العمل السياسي ، ونحن نعتقد أننا الآن في دعوتنا للمسلمين ، الذين انحرفوا عن الإسلام في كثير من جوانبه وانصرفنا نحن بسبب إقبالنا على هذا النوع من الدعوة ، لا لأن العمل السياسي ننكره ، بل نعتقد الآن أن من السياسة ترك السياسة ، فتبسم الرجل ضاحكا ، وقال مع السلامة ، فمن السياسة ترك السياسة في هذا الزمان ، لأن المسلمين بعيدون كل البعد عن أصول الشريعة الإسلامية

      “Tugas kita saat ini adalah meluruskan pemahaman tentang Islam, terutama yang berkaitan dengan aqidah.

      Adapun kegiatan politik -telah aku katakan kepadamu di tengah-tengah pembahasan dan penelitian- akan tetapi saat ini aku ulangi dan aku akan mengatakan sesuatu kepadamu, ketika kita mengatakan bahwa kita tidak mengikuti politik.

      Aku harap kalian tidak memahami bahwa kami mengingkari kegiatan politik, dan kita meyakini bahwa dakwah kita saat ini terhadap kaum muslimin yang menyimpang dari Islam pada banyak bidangnya, dan kita pun bangkit karena kita telah menerima dakwah seperti ini, bukan karena kita mengingkari kegiatan politik,

      Bahkan kita meyakini bahwa : Termasuk politik di masa ini adalah meninggalkan politik -maka penanya pun senyum dan beliau berkata semoga selamat-.

      Maka termasuk politik di zaman ini adalah meninggalkan politik, sebab kaum muslimin masih sangat jauh dari prinsip-prinsip syari’at Islam.” [Transkrip Kaset Silsilatul Hudaa  wan Nuur: 210].

      وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

      (Dari http://salafstreet.blogspot.com/2014/06/cara-ahlus-sunnah-menghadapi-kekuatan.html)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.