Nasehat penting Syaikh Ibnu Utsaimin

🌹Nasehat penting Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله

✍Risalah penting terutama di saat ini, dimana musuh-musuh kaum muslimin menyerang kita baik dari dalam maupun luar, yaitu Râfidhah dan Khawârij di satu lembah dan Yahudi dan Nasrani di lembah yang lain.

📃 Berikut ini adalah risalah al-‘Allâmah Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullâhu yang ditujukan kepada warga Saudi secara khusus dan kepada setiap muslim secara umum.

“Wahai kaum muslimin, sesungguhnya ketakwaan itu adalah faktor penyebab Allâh beserta kita, karena Allâh Ta’âlâ berfirman :

إن الله مع الذين اتقوا والذين هم محسنون
“Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang bertakwa dan bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Kalian semua mengetahui bahwa manusia saat ini sedang menyerang umat Islam, terutama di negeri ini (Arab Saudi) yang Allâh karuniai sebagai negeri paling aman sentosa. Negeri kaum Muslimin yang paling aman, yang Allâh anugerahi dengan diterapkannya syariat-syariat Allâh, yang mana hal ini belum diterapkan oleh negeri lainnya, dan inilah nikmat yang banyak didengki oleh para musuh, yang menyebabkan mereka mengerumuni kita dan (berkonspirasi untuk) menguasai kita.

Namun, kondisi kita di dalam menghadapi konspirasi seperti ini adalah hendaknya kita meminta pertolongan hanya kepada Allâh Azza wa Jalla dan mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh sahabat-sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di saat dikatakan kepada mereka, bahwa manusia telah berhimpun (untuk memerangi) kalian dan menakut-nakuti (karena banyaknya jumlah mereka), namun keimanan mereka malah semakin bertambah dan mereka mengucapkan : “Hasbunallâhu wa Ni’mal Wakîl” (Cukuplah Allâh saja sebagai penolongku dan Dia-lah sebaik-baik pemberi pertolongan).

Sesungguhnya kalimat ini adalah kalimat yang agung, yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau saat dikatakan kepada mereka bahwa umat telah berkumpul (untuk memerangi) kalian, dan juga diucapkan oleh Ibrâhîm Kekasih Allâh, tatkala beliau dilemparkan ke dalam api, kemudian Allâh memerintahkan kepada api yang membakar Ibrâhîm :
كوني بردا وسلاما
(Jadilah api yang dingin dan selamat)
sehingga Ibrâhîm pun dapat keluar dari api yang panas membara ini dalam keadaan selamat dengan izin Allâh Azza wa Jalla.

🔊 Wahai kaum muslimin, di dalam menghadapi musuh-musuh yang bermaksud menguasai kita, hendaknya kita menggunakan dua senjata yang ampuh ini, bahkan ada tiga senjata berikut ini :
1⃣ SENJATA PERTAMA : Mengimplementasikan keimanan kepada Allâh dan menjalankan amalan ketaatan kepada-Nya.
2⃣ SENJATA KEDUA : Berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla, terutama di akhir malam, di saat sujud, atau diantara adzan dan iqomah agar Allâh menghinakan musuh-musuh kita, menanamkan rasa takut diantara mereka dan menurunkan adzabnya yang tidak dapat ditolak oleh kaum yang berbuat dosa.
3⃣ SENJATA KETIGA : Melakukan i’dad (persiapan) , yaitu melakukan persiapan dengan cara berlatih menggunakan senjata dan menganjurkan para pemuda kita untuk mempelajarinya sehingga mereka menjadi orang yang mampu melaksanakan firman Allâh Azza wa Jalla :
وأعدوا لهم مااستطعتم من قوه
“Dan persiapkan untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang engkau sanggupi…” (QS al-Anfâl : 60)
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :
الرمي ألا إن القوة الرمي ألا إن القوة الرمي
“Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah dengan melempar (memanah), kekuatan itu adalah dengan melempar (memanah)…” sebanyak 2 atau 3 kali.

Apabila kita telah melakukan persiapan ini, baik persiapan maknawi (mental) maupun fisik (material), maka dengan hal ini kita menjadi orang yang melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla di dalam merealisasikan faktor-faktor penyebab yang bermanfaat.

Selain itu, kita juga wajib mengikhlaskan niat hanyalah untuk Allâh Azza wa Jalla semata, yaitu kita berniat di dalam hal ini adalah untuk membela Islam atau membela negeri kita, yaitu negeri Islam. Adapun sekedar membela negeri saja maka ini adalah niat yang rusak yang tidak menjadikan seseorang dianggap sebagai mujahid di jalan Allâh. Karena, mujahid di jalan Allâh adalah orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allâh, sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang seorang pria yang berperang dengan beraninya, yang berperang dengan tendensi (nasionalisme) dan yang berperang dengan memandang lokasi bahwa hal ini termasuk di jalan Allâh. Beliau berkata, siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allâh maka dia di jalan Allâh.

Jadi, dalam hal ini ada kondisi :
1⃣ PERTAMA : Orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allâh, maka tidak ragu lagi bahwa dia termasuk mujahid di jalan Allâh, dan apabila dia mati di dalam peperangan ini, maka dia mati syahid.
2⃣ KEDUA : Orang yang berperang untuk membela negerinya karena negerinya adalah negeri Islam, bukan lantaran bahwa negerinya tersebut adalah sekedar tempat dia tumbuh berkembang dan dididik, namun dia menganggapnya sebagai negeri Islam yang ia membela Islam yang ada di negerinya dan membela negeri yang penduduknya disifatkan sebagai kaum muslimin, maka ini adalah niat yang benar. Apabila ia mati maka diharapkan ia syahid di jalan Allâh.
3⃣ KETIGA : Orang yang berperang sekedar untuk membela negerinya saja. Maka ini adalah perang sentimen (nasionalis) bukanlah jihad di jalan Allâh dan orang yang terbunuh tidaklah dianggap syahid, karena ia berperang bukan untuk meninggikan kalimat Allâh.

Oleh karena itu haruslah menetapkan dan mendedikasikan niatnya sehingga keadaan seseorang berada di atas kejelasan, karena tidak ada yang lebih bernilai bagi seorang manusia melebihi jiwanya. Untuk itu, tidaklah sepatutnya dia menghilangkan jiwanya melainkan agar dapat hidup kekal di negeri yang penuh kenikmatan (surga), dan hal ini tentu saja haruslah dengan niat yang baik.

Saya memohon kepada Allâh Ta’âlâ agar menetapkan niat yang benar bagi kita semua di dalam seluruh ibadah dan amal perbuatan kita, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba Allâh yang ikhlas lagi mengikuti sunnah Rasulullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📎 Dishare oleh al-Ustâdz Abû Hamzah ‘Utsmân ‘Abdul Mujîb di grup Multaqô da-Du’ât ilallâh.
✒ Dialihbahasakan oleh Abû Salmâ Muhammad
📱 @abinyasalma | abusalma.net 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.