NASEHAT-NASEHAT ULAMA SUNNAH TENTANG ISIS

NASEHAT-NASEHAT ULAMA SUNNAH TENTANG ISIS
Di antara kelompok-kelompok bid’ah yang banyak dinasehati oleh para ulama Sunnah dari zaman sahabat hingga hari ini adalah kelompok Khawarij, di antara yang menasehati mereka adalah Abdullah bin Abbas di dalam kisah perdebatannya dengan orang-orang Khawarij yang menyadarkan puluhan ribu dari mereka.
Kemudian di antara para tabi’in ada Al-Imam Wahb bin Munabbih yang menasehati Dzul Khaulan hingga bertaubat dari pemikiran Khawarij.
Kemudian para ulama Sunnah lainnya dari masa ke masa hingga zaman ini yang banyak menasehati kaum kaum Khawarij dengan lisan-lisan dan pena-pena mereka.
Di antara kelompok Khawarij yang menonjol pada saat ini adalah ISIS yang menggoncangkan dunia dengan aksi-aksi brutal mereka yang mengatasnamakan Islam.
Sebagai nasehat kepada mereka khususnya dan kaum muslimin secara umum maka Insya Alloh di dalam bahasan ini akan kami paparkan timbangan syari’at Islam atas pemikiran-pemikiran dan aksi-aksi mereka dengan banyak mengambil faidah dari nasehat-nasehat para ulama terhadap mereka.

CELAAN ISIS TERHADAP MANHAJ SALAFI DAN PARA ULAMA

Di antara karakteristik-karakteristik ahli bid’ah dari masa ke masa bahwasanya mereka selalu mencela dan mencoreng citra Ahli Sunnah wal Jama’ah untuk menjauhkan umat dari al-haq, Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi berkata : “ Ciri ahli bid’ah adalah mencela ahlil atsar “ ( Ashlu Sunnah hal. 24 ), Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni berkata : “ Tanda yang paling jelas dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah ( , mereka melecehkan dan menghina ahli sunnah dan menamakan ahli sunnah dengan Hasyawiyah, Jahalah, Dhahiriyyah, dan Musyabbihah “ ( Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 116 ).
Abu Umar Al-Baghdadi – Amir ISIS sebelum Abu Bakar Al-Baghdadi – berkata : “ Bertaqwalah kalian kepada Alloh wahai pasukan Dewan Politik – yang dahulu dan belakangan – khususnya mereka yang berdusta dengan afiliasi mereka terhadap Manhaj Salaf, dan tinggalkan bendera-bendera yang menggiring kalian ke Jahannam dan sejelek-jelek tampat kembali “ !!!
Kemudian dia berkata : “ Jika kalian tidak mau bertaubat – sebelum kalian ditangkap – : maka demi Alloh sungguh membunuh seorang yang murtad lebih aku sukai daripada seratus kepala orang Kristen “!! ( Dari kaset Wa’dullah dengan perantaraan kitab Da’isy Al-‘Iraq wasy Syam Fi Mizanis Sunnati wal Islam hal. 31 ).
Abu Muhammad Al-‘Adnani – juru bicara resmi ISIS – berkata : “ Kami tidak ingin menyingkap syubhat-syubhat Murji’ah Zaman ini, yang membekukan kewajiban jihad ! maka dalam waktu dekat – Insya Alloh – akan berkuasa Mujahidin, sehingga mengeluarkan apa-apa yang di dalam kepala orang-orang Murji’ah itu !! “ ( Dari kaset As-Silmiyyah Dienu Man ? dengan perantaraan kitab Da’isy Al-‘Iraq wasy Syam Fi Mizanis Sunnati wal Islam hal. 32 ).
Tuduhan dan julukan Murji’ah dari orang-orang Khawarij terhadap para ulama dan para da’i Manhaj Salaf bukanlah perkara yang baru, Al-Imam Ahmad berkata :
وأما الخوارج فأنهم يسمون أهل السنة والجماعة مرجئة، وكذبت الخوارج، بل هم المرجئة يزعمون أنهم على إيمان دون الناس ومن خالفهم كفار
“ Adapun Khawarij maka sesungguhnya mereka menamakan Ahli Sunnah wal Jama’ah Murji’ah, dan Khawarij telah dusta, bahkan merekalah Murji’ah, mereka menyangka bahwa mereka di atas keimanan sedangkan manusia tidak, dan bahwa siapa saja yang menyelisihi mereka adalah orang-orang kafir “ ( Masail Harb Al-Kirmani 3/986 ).
Demikianlah kebencian ISIS terhadap Manhaj Salafush Shalih dan inilah yang merupakan sumber kesesatan mereka, karena merupakan hal yang dimaklumi bahwa sumber kesesatan dari setiap kelompok bid’ah adalah karena mereka meninggalkan Sabilil Mukminin yaitu jalan para sahabat di dalam memahamai dan mengamalkan Islam, Alloh  berfirman:
ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا
“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat kembali ”(An-Nisa’ ayat 115).
Kalimat ( سبيل المؤمنين ) artinya adalah : jalan orang-orang mukmin, yang pertama kali masuk dalam ma’na ini adalah para shahabat Rasulullah  sebagaimana dalam sabdanya :
وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ و في رواية : ما أنا عليه و أصحابي
“Dan sesungguhnya umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 kelompok ,semuanya di neraka kecuali satu kelompok , dia adalah Al Jama’ah “.Didalam riwayat lain :”Dia adalah jalan yang Aku tempuh dan para shahabatku ”( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 2/503-504 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shohihah :203,204 dan 1492).
Dari sinilah jelas bagi kita bahwa biang keladi kesesatan semua kelompok dalam Islam,dari dahulu sampai sekarang,yaitu bahwasanya mereka tidak menghiraukan ayat dan hadits-hadits diatas, sehingga mereka menyeleweng dari jalan yang lurus,dan memilih jalan-jalan yang sesat, mengandalkan akal dan pemikiran mereka tanpa merujuk kepada pemahaman shahabat dan ulama’ yang mengikuti jalan mereka.Dan bahwa jalan keselamatan adalah manhaj para sahabat dan Salafush Sholih yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Kelompok ISIS di dalam memahami Islam secara terang-terangan meninggalkan pemahaman para shahabat Rasulullah  dan menggantinya dengan pemahaman kelompok mereka.

KHILAFAH DAN BAIAT ISIS

Pada tanggal 6 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan 29 Juni 2014 juru bicara ISIS memaklumatkan Abu Bakar Baghdadi sebagai Kholifah Muslimin dan penyebutan Negara dirubah dari ISIS menjadi Daulah Islamiyyah ( Negara Islam ). Dari sinilah ISIS melihat setiap orang yang enggan untuk membai’at Abu Bakar Bagdadi adalah kafir karena telah menentang penegakan Negara Islam dan penerapan syariat Islam. Dan mereka melihat memerangi dan membunuh kaum murtad didahulukan dari memerangi orang kafir asli. Sehingga tidak sedikit kaum muslimin yang mereka bunuh, baik dari kalangan mujahidin, maupun rakyat sipil dari wanita dan anak-anak dengan cara yang amat keji dan kejam. Perbuatan biadab tersebut mereka sebarkan melalui internet. Tujuan mereka memperlihatkan kekejian tersebut adalah sebagai ancaman dan untuk membuat ketakutan bagi orang yang enggan menerima keputusan mereka.
Syaikhuna Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad berkata : “Khalifah ISIS yang dinamakan Abu Bakr Al-Baghdadi berkhutbah di sebuah masjid di Mosul, diantara yang ia katakan dalam khutbahnya, “ Sungguh aku telah dijadikan pemimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Sungguh dia telah berkata benar bahwa ia bukanlah yang terbaik di antara mereka, karena ia telah membunuh orang yang mereka bunuh dengan pisau-pisau, apabila pembunuhan itu atas dasar perintahnya, atau ia mengetahuinya dan membolehkannya maka ia adalah yang terburuk di antara mereka (memang bukan yang terbaik), berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” , diriwayatkan oleh Muslim no. 6804 “ ( Dari makalah yang berjudul Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiyah Al-‘Iraqiyyah Al-Maz’umah tertanggal 28/9/1435 H dari www.al-abbaad.com ).
Syaikh Dr. Shalih Al-‘Abud di dalam kitabnya Al-Murad Asy-Syar’i Bil Jama’ah wa Atsaru Tahqiqihi Fi Itsbaatil Hawiyah Al-Islamiyyah hal. 18 menyebutkan pemahaman-pemahaman yang keliru tentang makna yang syar’i terhadap ” jama’ah ” dengan sebab kejahilan ( kebodohan ) terhadap ilmu syar’i dan dengan sebab mengikuti hawa nafsu sehingga meninggalkan wahyu, di antara pemahaman-pemahaman yang keliru tersebut adalah :
Keyakinan bahwa pada hari ini tidak ada jama’ah bagi kaum muslimin yang memiliki wilayah dengan baiat yang syar’i, yang dimaksudkan oleh nash-nash yang syar’i, yang diwajibkan agar setiap muslim berpegang teguh dengannya dan haram keluar darinya.
Keyakinan yang rusak ini menjadikan para penganutnya mewajibkan umat Islam agar berupaya dengan sungguh-sungguh mewujudkan jama’ah sesuai dengan pemahaman mereka yang keliru, bahkan mereka memandang bahwa upaya mewujudkan jama’ah ala mereka tersebut adalah fardhu ‘ain atas setiap muslim.
Mereka juga meyakini bahwa jama’ah sekarang ini tidak ada, karena semenjak waktu yang lama belum pernah kaum muslimin sepakat atas seorang imam yang satu, dan berdasarkan atas keyakinan yang rusak ini timbul kayakinan yang rusak lagi sesat atas bolehnya khuruj ( memberontak ) kepada seluruh pemerintahan Islam pada hari ini
Adapun makna jama’ah yang benar maka Al-Imam Asy-Syathibi berkata :
” Kesimpulannya bahwa jama’ah kembali kepada berkumpul di atas seorang imam yang mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah dan hal itu jelas bahwa berkumpul di atas selain Sunnah adalah keluar dari makna al-jama’ah yang disebut di dalam hadits-hadits tersebut seperti orang-orang Khowarij dan orang-orang yang menempuh jalan mereka ” ( Al-I’tisham 2/265 ).
Yang sunnah adalah satu imam untuk kaum muslimin di seluruh dunia, tetapi ketika kaum muslimin terbagi menjadi beberapa negeri dan sulit disatukan, maka masing-masing penguasa negeri adalah imam yang wajib dibaiat dalam ketaatan kepadanya sesuai dengan batasan-batasan syar’i, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“ Yang sunnah hendaknya seluruh kaum muslimin memiliki satu imam, yang lain adalah perwakilan-perwakilannya, jika terjadi keadaan di mana umat menyelisihi hal ini karena sebab kemaksiatan atau ketidakmampuan, atau sebab yang lain, sehingga terjadilah beberapa imam negeri ; maka dalam keadaan seperti ini wajib atas setiap imam agar menegakkan hudud, dan menunaikan hak-hak … “ ( Majmu’ Fatawa 34/175-176 ).
Al-Imam Asy-Syaukani berkata :
“ Sesudah menyebarnya Islam, meluasnya wilayahnya, dan berjauhan batas-batasnya, merupakan hal yang dimaklumi bahwa masing-masing wilayah memiliki seorang imam atau penguasa, di di wilayah yang lain demikian juga, yang tidak berlaku kekuasaannya di wilayah yang lain.
Maka tidak mengapa dengan terjadinya beberapa imam dan penguasa negeri, dan wajib ditaati masing-masing penguasa negeri sesudah dilakukan baiat atasnya oleh penduduk wilayah masing-masing yang berlaku perintah-perintah dan larangannya… “ ( Sailul Jarrar 4/512 ).
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata :
“ Para imam dari setiap madzhab telah sepakat bahwa barangsiapa yang menguasai suatu negeri, maka dia memiliki hukum imam dalam segala sesuatu, seandainya tidak seperti ini tidaklah tegak dunia; karena kaum muslimin sejak zaman yang lama, sebelum zaman Al-Imam Ahmad hingga sekarang, belum pernah bersatu di bawah satu imam “ ( Durar Saniyyah 7/239 ).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata :
” Dengan ini kita mengetahui kesesatan anak-anak muda yang mengatakan : Sesungguhnya hari ini tidak ada imam bagi kaum muslimin sehingga tidak ada baiat bagi seorang pun, – Kita memohon keselamatan kepada Alloh -, dan saya tidak tahu apakah mereka menghendaki urusan-urusan menjadi kacau balau tidak ada pemimpin yang mengatur manusia ? ataukah mereka menghendaki dikatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin dirinya ? mereka ini jika mati dengan tanpa baiat maka mereka mati jahiliyyah – Kita berlindung kepada Alloh darinya – ” ( Syarhul Mumti’ 8/9 ).

ISIS DAN TAKFIR

Abu Muhammad Al-‘Adnani – juru bicara resmi ISIS berkata : “ Telah murtad pasukan Mesir, Pakistan, Afghanistan, Tunis, Libia, Yaman – dan selain mereka dari pasukan-pasukan thaghut-thaghut dan para pembela mereka -“ ( Dari kaset ‘Udzran Amiral Qa’idah dengan perantaraan kitab Da’isy Al-‘Iraq wasy Syam Fi Mizanis Sunnati wal Islam hal. 105 ).
Dia juga berkata : “ Sesungguhnya pasukan-pasukan thaghut-thaghut dari para pemerintah negeri-negeri kaum muslimin – secara umum – adalah pasukan-pasukan murtad dan kafir “ !!! ( Dari kaset As-Silmiyyah Dienu Man ? dengan perantaraan kitab Da’isy Al-‘Iraq wasy Syam Fi Mizanis Sunnati wal Islam hal. 115 ).
Dia juga berkata : “ Sesungguhnya kami melihat kekafiran dan kemurtadanseluruh para pemerintah negeri-negeri itu dan pasukan-pasukan mereka, dan memerangi mereka lebih wajib daripada memerangi para penjajah Salibis “( Dari kaset Inni ‘Ala Bayyinatin Min Rabbi dengan perantaraan kitab Da’isy Al-‘Iraq wasy Syam Fi Mizanis Sunnati wal Islam hal. 115 ).
Demikianlah ISIS mengikuti jejak para pendahulu mereka kaum Khawarij yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir keluar dari Islam ( Lihat Aqidah Wasithiyyah hal. 233 ), padahal yang benar bahwa pelaku dosa besar adalah fasiq, maka mereka mengkafirkan pelaku kefasiqan, dari sinilah maka Khawarij mengkafirkan pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Alloh.
Al-Imam Al-Aajurri berkata : “ Di antara ayat-ayat mutasyabihat yang diikuti oleh orang-orang Haruriyyah ( Khawarij ) adalah firman Alloh ( :

“ Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah ,maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir ” ( Al-Maidah : 44 ) mereka sertakan juga firman Alloh ( :

“ namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka ” ( Al-An’am : 1 ) , jika mereka melihat seorang penguasa menghukumi dengan tidak haq maka mereka berkata : “ Dia telah kafir, dan barangsiapa yang kafir mempersekutukan ( sesuatu ) dengan Rabbnya maka sungguh telah musyrik, para penguasa ini telah kafir “, maka mereka memberontak dan melakukan hal yang Engkau lihat; karena mereka menakwilkan ayat ini “ ( Asy-Syari’ah hal. 27 ).
Al-Imam Abu Hayyan berkata : “ Orang-orang khawarij berargumen dengan ayat ini atas bahwa setiap orang yang ma’shiyat kepada Alloh maka dia telah kafir dan mereka berkata : ‘ Dia adalah nash pada setiap orang yang berhukum dengan selain yang diturunkan Alloh maka dia kafir ‘ “ ( Bahrul Muhith 3/493 ).
Khawarij mengkafirkan Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan sebab perdamaiannya dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, mereka berkata kepada Ali : “ Jika Engkau telah mempersaksikan dirimu dengan kekufuran dan bertaubat darinya maka kami akan melihat apa yang kita bicarakan antara kami dan Engkau, dan jika tidak maka kami tolak dirimu ! “ ( Al-Bidayah wan Nihayah 7/306 ).
Karena inilah maka jika Khawarij melihat para penguasa melakukan kema’shiyatan – atau kekafiran menurut mereka – maka mereka mengkafirkannya dan khuruj ( memberontak ) kepada mereka.
Padahal banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan bahwa sekedar kema’shiyatan tidaklah menjadikan pelakunya kafir seperti firman Alloh ( :

“ Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! “ ( Al-Hujurat : 9 ), lihatlah bagaimana Alloh menyebut mereka beriman dalam keadaan mereka melakukan kema’shiyatan yaitu memerangi sesama muslim !.
Dan firman Alloh ( :

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia “ ( Al-Mumtahanah : 1 ) .
Syaikh Muhammad Khalil Harras berkata : “ Alloh memanggil mereka dengan sebutan keimanan dalam keadaan adanya kema’siyatan, yaitu loyalitas terhadap orang-orang kafir “ ( Syarah Aqidah Wasithiyyah hal. 235-236 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Bersamaan dengan itu Ahli Sunnah wal Jama’ah tidaklah mengkafirkan ahli kiblat dengan sekedar kema’shiyatan dan dosa besar; sebagaimana dilakukan oleh khawarij, bahkan persaudaraan iman tetap ada bersama degan adanya kema’shiyatan; sebagaimana Alloh berfirman tentang ayat qishash : “ Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik “ ( Al-Baqarah : 178 ) “ ( Aqidah Wasithiyyah hal. 233 ).
Maka nash-nash yang menunjukkan tidak kafirnya setiap pelaku kema’shiyatan adalah yang memalingkan kufur akbar dalam ayat di atas kepada kufur ashghar, karena itulah maka para ulama sepakat tidak mengambil keumuman ayat ini, berbeda dengan orang-orang khawarij yang memakai keumuman ayat ini di dalam mengkafirkan para pelaku dosa dan kema’shiyatan tanpa melihat kepada dalil-dalil yang lain yang memalingkan ayat ini dari keumumannya.
Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata : “ Telah sesat sekelompok ahli bida’ dari khawarij dan mu’tazilah dalam bab ini, mereka berargumen dengan ayat-ayat di dalam Kitabullah yang tidak atas dhahirnya seperti firman Alloh ( :

“ Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah ,maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir ” ( Al-Maidah : 44 ) “ ( At-Tamhid 17/16 ).
Beliau juga berkata : “ Para ulama sepakat bahwa kecurangan dalam menghukumi termasuk dosa-dosa besar bagi seorang yang sengaja melakukannya dalam keadaan mengetahui hukumnya … “ ( At-Tamhid 5/74-75 ).
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata : “ Adapun dhahir ayat ini maka tidak ada seorangpun dari para imam fiqh yang masyhur yang berpendapat dengannya, bahkan tidak ada seorang pun yang berpendapat dengannya “ ( Tafsir Al-Manar 6/406 ).
Maka Ahlul Haq dan Sunnah maka mereka sangat berhati-hati dalam masalah takfir , tidak diragukan lagi bahwa Ahli Sunnah mengkafirkan setiap orang yang dikafirkan oleh Alloh dan RasulNya dan yang terjatuh ke dalam kekufuran, Takfir mu’ayyan ( person ) tidak diperbolehkan kecuali setelah terkumpul padanya syarat-syarat pengkafiran dan tidak ada mawani’ ( penghalang ) dari pengkafiran, di antara syarat-syarat takfir adalah ilmu dan ma’rifat, ikhtiyar ( atas pilihan sendiri bukan terpaksa ), dan kesengajaan, di antara mawani’ adalah : takwil, kejahilan ( kebodohan ), lupa, tidak sengaja, dan ikrah ( pemaksaan ).( Untuk melihat pembahasan yang lebih rinci tentang masalah takfir ini lihat Fitnah Takfir oleh Syaikh Al-Albani yang dimuat dalam majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-3 Rubrik Fatwa ).

RAHMAT ISLAM DAN KEBRUTALAN ISIS

Segala puji bagi Alloh pemilik nama Ar-Rahman Ar-Rahim, Dialah yang memiliki rahmat yang luas meliputi semua makhluknya :
( وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ (
“ Tiada datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olok kannya “ ( Al-A’raf : 156).
Di antara rahmat Alloh bahwasanya Dia jadikan Rasulullah ( sebagaimana rahmat bagi semesta alam :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiyaa’ : 107).
Dan Alloh dengan rahmatNya telah menjadikan di setiap zaman sebuah kelompok yang tetap berjalan di atas agama yang haq, agama yang dibawa oleh Rasulullah ( dan yang ditempuh oleh para sahabatnya, Rasulullah ( bersabda :
لن تزال طائفة من أمتي منصورين لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم الساعة
“Tidak henti-hentinya sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan ( dari Alloh ) tidak ada yang bisa membahayakan mereka siapapun yang menelantarkan mereka hingga tegaknya kiamat “ ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 5/34, Tirmidzi dalam Sunannya 4/485 , dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/5 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah ).
Ath-Thoifah Al-Manshuroh ini adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah sebagaimana dinashkan oleh para imam seperti Al-Imam Bukhari , Al-Imam Ahmad bin Hanbal, dan Qadhi ‘Iyadh ( Lihat Syarah Nawawi atas Muslim 13/66-67 dan Fathul Bari 1/164 ).
Maka Ahli Sunnah adalah representasi resmi dari Islam sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Bisyr bin Harits : “Islam adalah Sunnah, dan Sunnah adalah Islam “ ( Syarhu Sunnah hal. 126 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menjelaskan siapa itu Ahlus Sunnah, beliau berkata :
هُمْ أَعْلَمُ بِالْحَق وَأرحم بِالْخَلْقِ
“Mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran lagi paling penyayang terhadap makhuk.” (Minhajus Sunnah An Nabawiyah 5/158)
Maka Dakwah Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah dakwah yang penuh kasih sayang terhadap manusia, dan bukanlah dakwah yang ekstrim dan menyeramkan.
Adapun ISIS justru kebalikannya, mereka memandang bahwa Islam ditegakkan di atas pedang dan kekerasan, Abu Muhammad Al-‘Adnani – juru bicara resmi ISIS – berkata : “ Sesungguhnya meraih kemuliaan, menghindarkan kezhaliman, dan memecahkan belenggu-belenggu kehinaan tidaklah terjadi kecuali dengan tikaman pedang-pedang, penumpahan darah, dan pengorbanan jiwa-jiwa dan nyawa-nyawa, dan tidak akan terjadi – selamanya – dengan dakwah-dakwah yang damai … “ !! ( Dari kaset As-Silmiyyatu Dienu Man ? dengan perantaraan kitab Da’isy Al-‘Iraq wasy Syam Fi Mizanis Sunnati wal Islam hal. 42 ).
Al-‘Adnani juga berkata : “ Ketahuilah bahwa kami memiliki pasukan-pasukan di ‘Iraq dan pasukan-pasukan di Syam dari para singa yang lapar, minuman mereka adalah darah, kegemaran mereka adalah potongan-potongan daging manusia … “ !!! ( Dari kaset As-Silmiyyatu Dienu Man ? dengan perantaraan kitab Da’isy Al-‘Iraq wasy Syam Fi Mizanis Sunnati wal Islam hal. 42 ).
Dia juga berkata : “ Tugas pasukan-pasukan “ Daulah Islamiyyah “ – dan para pembelanya – adalah memotong kepala-kepala mereka, mengusir mereka, merobohkan rumah-rumah mereka – atau membakarnya … “( Dari kaset As-Silmiyyatu Dienu Man ? dengan perantaraan kitab Da’isy Al-‘Iraq wasy Syam Fi Mizanis Sunnati wal Islam hal. 43 )..
Inilah ucapan-ucapan bengis mereka, dan inilah yang mereka praktekkan di dalam tindakan-tindakan brutal mereka yang mereka upload di media-media sosial, memotong kepala-kepala dengan belati-belati, membakar kampung-kampung, dan yang terbaru mereka bakar tawanan mereka hidup-hidup !!!.

PEMAKSAAN ISIS DALAM BERAGAMA

ISIS memaksa orang-orang kafir untuk masuk Islam, kalau ada yang menolak maka mereka bunuh, demikian juga mereka memaksakan pendapat-pendapat mereka kepada kaum muslimin, kalau mereka tidak mau maka mereka tidak segan-segan untuk membunuhnya. Hal ini mereka sebarkan melalui video-video yang mereka upload di internet.
Padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam kitabNya :

“ Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka “ Al-Ghasyiyah : 22, dan Alloh Ta’ala berfirman :

“ Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. “ ( Al-Baqarah : 256 ), dan Alloh berfirman :

“ Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? “ ( Yunus : 99 ).
Di dalam hadits Buraidah bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mengangkat seorang komandan untuk suatu pasukan atau ekspedisi perang, beliau memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, lalu bersabda. :
اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تَمْثُلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ أَوْ خِلَالٍ فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ … فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمْ الْجِزْيَةَ فَإِنْ هُمْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَقَاتِلْهُمْ
” Berperanglah dengan nama Allah untuk menegakkan di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah, berperanglah kalian dan janganlah kalian menipu (dalam harta rampasan), jangan kalian mengkhianati janji, jangan membunuh seseorang dengan cara yang kejam, dan janganlah membunuh anak-anak. Apabila kalian bertemu dengan musuhmu dari orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka kepada tiga hal, apabila mereka mau menerima salah satu dari tiga hal tersebut, maka terimalah mereka dan berhentilah memerangi mereka, setelah itu serulah mereka untuk masuk agama Islam … Jika mereka menolak maka mintalah jizyah ( upeti) kepada mereka, apabila mereka mau menyerahkan jizyah tersebut kepadamu maka terimalah dan janganlah kamu memerangi mereka, namun jika mereka enggan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah lalu perangilah mereka “ ( Shahih Muslim : 3261 ).
Hadits ini menunjukkan bahwa orang kafir ketika mau membayar jizyah maka dia tidak dipaksa masuk Islam.

PENUTUP

Inilah sebagian dari koreksi-koreksi penting terhadap kelompok ISIS yang selayaknya diketahui oleh setiap muslim. Semoga paparan yang ringkas ini bisa menyadarkan mereka dan menjauhkan kaum muslimin dari terjerumus ke dalam kesesatan-kesesatan mereka.
Akhirnya kami tutup bahasan ini dengan nasehat dari Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimi :
وكما أوصيت الإخوة في العراق بالأمس؛ كما أوصيتُهم من زمانٍ في بلاد أخرى:
يلزموا بيوتهم، فإن اعتُدِيَ عليهم فَلْيُدافعوا عن أنفسهم، ومن قُتِلَ دون ماله أو عرضه أو نفسه فهو شهيدٌ.
لكن لا يُقاتلوا مع هذه الأحزاب كلّها، فكلّها على ضلال سواء دولة الرّفض أو دولة الشَّام والعراق أو دولة الخلافة المزعومة!
كلّهم ضدَّ أهل السُّنّة والجماعة، فلا نشتغل بهم، ولا شأن لنا بهم، بَل نعبدُ الله ونتعلّم ونتفقّه في دين الله إلى أن يستريحَ بَرٌّ أو يُستراح من فاجرٍ، نعم
“ Dan sebagaimana wasiat yang telah kusampaikan kepada penduduk Iraq belum lama ini, dan wasiatku kepada penduduk negeri lain sejak dahulu; Yaitu, hendaknya mereka tetap tinggal di rumah masing-masing. Kalau mereka diserang, maka silahkan membela diri. Barangsiapa yang terbunuh demi membela harta, kehormatan, atau jiwanya, maka dia syahid.
Akan tetapi jangan ikut-ikutan berperang dalam barisan pasukan kelompok-kelompok ini semuanya. Mereka semua itu berada dalam kesesatan; baik Daulah Rafidhah, atau Daulah Syam dan Iraq atau Daulah Khilafah Khayalan.
Mereka semua kontra dengan Ahlus Sunnah wal jama’ah. Jangan sampai kita tersibukkan oleh mereka, tidak ada perlunya kita terhadap mereka. Bahkan kita tetap beribadah kepada Allah, belajar, dan menuntut ilmu agama Allah, hingga Allah mencabut ruh kita dalam keadaan baik atau mengistirahatkan kita dari gangguan para pelaku dosa “ ( Dari dars Syarh “Ushulus Sunnah” karya Imam Ahmad. Pertemuan ke-3, tanggal 3 Ramadhan 1435 H / 1 Juli 2014 di Masjid Nabawi, dari: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=145025 ).
والله أعلم بالصواب

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.