METODE KRITIK AHLI SUNNAH

METODE KRITIK AHLI SUNNAH
Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Kritikan atau bantahan terhadap suatu kekeliruan adalah pokok yang agung dari Islam, dia adalah bagian dari amar maruf dan nahi munkar, dan termasuk nasehat kepada Islam dan kaum muslimin, begitu banyak ayat-ayat Alloh yang menyebutkan kritikan dan bantahan kepada pemikiran, perkataan, dan perbuatan yang keliru.
Demikian juga banyak sekali hadits-hadits Rasulullah ( yang menyebutkan bantahan dan kritikan terhadap perkataan, perbuatan, dan pemahaman yang keliru, sebagaimana Rasulullah ( mencela kelompok Khowarij, memperingatkan umat dari perkara-perkara baru dalam agama, membantah pendapat-pendapat yang keliru dari orang-orang Yahudi, mencela Muadz yang terlalu lama dalam mengimami sholat, mencela Abu Dzar yang menghina seseorang dengan sebab ibunya, menghardik Usamah ketika membunuh seseorang yang sudah mengucap kalimat syahadat, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Tidak henti-hentinya para ulama dan zaman sahabat hingga saat ini mengoreksi pendapat-pendapat dan pemahaman-pemahaman yang keliru, sebagaimana kritikan para sahabat terhadap kelompok khowarij, kelompok qodariyyah, kelompok rafidhoh, demikian juga nasehat-nasehat para sahabat di antara mereka, seperti nasehat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar kepada Husain agar tidak memberontak kepada Yazid, demikian juga nasehat Ibnu Umar kepada Ibnu Zubair agar tidak melanjutkan niatnya dalam imarah.
Demikian juga begitu banyak kritikan dan bantahan para ulama kepada pendapat-pendapat yang keliru di dalam kitab-kitab mereka dalam berbagai disiplin ilmu, apalagi dalam kitab-kitab jarh wa tadil yang sarat dengan komentar dan kritikan ulama terhadap para perawi.
Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebut kesepakatan ulama tentang wajibnya kritikan terhadap pemilik-pemilik perkataan-perkataan yang menyeleweng dan menyelisihi Kitab dan Sunnah ( Majmu Fatawa 28/231 ).
Tetapi ternyata di sana sini masih ada orang yang membuat keragu-raguan terhadap manhaj salaf dalam masalah ini.
Masih ada orang Islam yang menganggap bahwa kritikan terhadap person dan kelompok bukanlah manhaj Islam !
Ada lagi yang menuduh bahwa orang-orang yang membantah suatu pendapat yang batil adalah penghujat !
Ada lagi yang mengatakan bahwa penjelasan kesalahan perkataan seseorang adalah pembeberan aib dan kejelekan !…
Di lain pihak ada orang-orang yang sok tahu mengatakan bahwa kritikan terhadap seseorang hanya berlaku bagi para perawi hadits saja dan tidak berlaku bagi selain mereka !
Masih banyak lagi suara-suara sumbang dalam masalah ini yang menunjukkan bahwa banyak dari kaum muslimin sekarang ini yang merasa asing terhadap manhaj Ahli Sunnah di dalam mengkritik kesalahan , sehingga kami merasa perlu untuk mengangkat bahasan syari tentang dalam masalah ini.

KRITIKAN TERHADAP KESALAHAN BUKAN GHIBAH YANG DIHARAMKAN

Ghibah adalah menyebut seseorang dengan hal yang dia benci, ghibah secara umum diharamkan oleh syariat Islam, bahkan Alloh menyamakan ghibah dengan memakan daging bangkai saudaranya.
Tetapi jika ghibah tersebut untuk mashlahat yang syari maka dibolehkan di dalam syariat, Al-Imam Nawawi berkata : Ketahuilah bahwasanya ghibah dibolehkan untuk maksud-maksud yang syari jika tidak mungkin tercapai maksud tersebut kecuali dengan ghibah, ghibah dibolehkan dalam enam perkara : Yang pertama : Mengadukan suatu kezhaliman … Yang Kedua : Meminta bantuan dalam menghilangkan suatu kemungkaran… Yang Ketiga : Meminta fatwa … Yang Keempat : Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan dan memberikan nasehat kepada mereka… Yang Kelima : Suatu kefasikan atau kebidahan yang dilakukan secara terang-terangan… Yang Keenam : Untuk memperjelas identitas seseorang… ( Riyadhus Shalihin hal. 526-527 ).
Al-Hafidz Ibnu Rajab berkata : Ketahuilah bahwasanya menyebut seseorang dengan hal yang tidak disukai oleh orang tersebut adalah diharamkan jika tujuannya sekedar menghujat, mencela, atau menunjukkan aib seseorang.
Adapun jika tujuannya adalah untuk mashlahat kaum muslimin maka tidak diharamkan bahkan sesuatu yang disunnahkan atau diwajibkan.
Para ulama hadits telah menjelaskan masalah ini di dalam kitab-kitab mereka yang membahas jarh wa tadil, mereka jelaskan perbedaan antara jarh ( menyebutkan cela ) perawi dan ghibah, mereka membantah kepada orang-orang yang menyamakan antara keduanya dari orang-orang shufi dan selain mereka yang dangkal ilmunya ( Al-Farqu baina Nashihah wa Tayiir hal. 3-4 ).

KRITIKAN BERLAKU BAGI SIAPA SAJA YANG MENYELEWENG

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa jarh ( celaan ) dan tadil hanya berlaku bagi perawi hadits saja, dan tidak berlaku bagi selain para perawi hadits, bahkan ada dari mereka yang menganggap bahwa jarh wa tadil sudah berlalu seiring dengan berlalunya zaman periwayatan hadits.
Karena inilah mereka mempermasalahkan jarh dari para ulama ahli sunnah terhadap para ahli bidah orang-orang yang menyeleweng.
Al-Hafidz Ibnu Rajab membantah pendapat ini dan menyebut kesepakatan ulama yang meyelisihinya dengan mengatakan : Tidak ada perbedaan antara jarh perawi hadits untuk membedakan mana dari mereka yang diterima riwayatnya dan mana yang tidak diterima riwayatnya – dengan kritikan terhadap seseorang yang keliru memahami Kitab dan Sunnah dan menafsirkannya dengan tafsir yang keliru, berargumen dengan hal yang tidak benar, sebagai peringatan kepada kaum muslimin agar tidak mengikuti kesalahan pemahamannya, para ulama telah sepakat tentang bolehnya hal ini ( Al-Farqu baina Nashihah wa Tayiir hal. 4 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Para gembong ahli bidah yang memiliki perkataan-perkataan dan ibarat-ibarat yang menyeleweng dari Kitab dan Sunnah, maka penjelasan tentang jatidiri mereka dan memperingatkan umat dari kejelekan mereka adalah wajib dengan kesepakatan kaum muslimin ( Majmu Fatawa 28/231 ).
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : Pena yang menyeluruh adalah pena untuk membantah para pemilik kebatilan dan meninggikan para pemilik kebenaran, menyingkap bentuk-bentuk dan jenis kebatilan mereka, menjelaskan kontradiksi-kontradiksi dan kegelapan jalan mereka, menjelaskan keluarnya mereka dari kebenaran dan terjerumusnya mereka ke dalam kebatilan, … para pemilik pena ini adalah para pembela dakwah para rasul dan penyerang musuh-musuh para rasul, merekalah para dai ilallah dengan hikmah, mauizhah hasanah, dan membantah siapa saja yang menyeleweng dari jalannya dengan berbagai macam argumen ( At-Tibyan fi Aqsamil Quran 1/379 ).
Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi Al-Madkhaly berkata : Barangsiapa yang mengatakan bahwa bab jarh wa tadil sudah berlalu maka sungguh dia telah keliru, tidak henti-hentinya pena Ahli Sunnah melancarkan kritikan dan penjelasan keadaan para ahli bidah dari rafidhah, khawarij, mutazilah, shufiyyah, asyariyyah, dan kelompok-kelompok yang menyeleweng…
Manhaj ini terus tegak sepanjang sejarah Islam, dan akan terus berjalan hingga terangkatnya Al-Quran, berhentinya Islam, dan tegaknya hari kiamat pada sejelek-jelek makhluk ( Aimmatul Hadits wa Man Sara ala Nahjihim hal.12 ).
Karena inilah kita dapati kitab-kitab para ulama dari berbagai disiplin ilmu syari : tafsir, hadits, fiqih dan yang lainnya sarat dengan perdebatan dan bantahan terhadap pendapat-pendapat yang lemah dari para ulama, tidak ada satupun dari para ulama yang mencela kritikan terhadap suatu pendapat yang keliru, tidak ada satupun dari mereka yang menuduh bahwa bantahan terhadap pendapat yang keliru adalah celaan atau hujatan.
Hal itu disebabkan karena para ulama seluruhnya bertujuan menampakkan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah dan semuanya bertujuan agar agama semata-mata milik Alloh dan agar kalimat Alloh adalah yang tertinggi.

SIKAP LAPANG DADA PARA ULAMA DALAM MENERIMA KRITIKAN

Para ulama semua mengakui bahwa tidak seorangpun yang bisa menguasai seluruh ilmu dan tidak melakukan kesalahan sama sekali, karena inilah para imam salaf – yang disepakati tentang keutamaan dan keilmuan mereka selalu menerima kebenaran yang disampaikan kepada mereka, walaupun orang yang menyampaikan kebenaran tersebut lebih muda darinya, sekaligus menasehatkan kepada semua pengikutnya agar selalu menerima kebenaran meskipun kebenaran tersebut muncul dari selain mereka.
Ketika Umar menetapkan pembatasan terhadap mahar datanglah seorang wanita kepadanya dan membantahnya dengan membawakan ayat Allah ( :
( وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَاراً فَلا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئاً أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَاناً وَإِثْماً مُبِيناً (
“Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? ( An-Nisa : 20 )
Seketika itu juga Umar ruju dari pendapatnya dan mengatakan : Wanita itu benar dan laki-laki ini keliru ( Diriwayatkan oleh Abu Yala dalam Musnadnya sebagaimana dikatakan oleh Haitsamy dalam Majma Zawaid 4/284 dan dikatakan oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 1/468 : Sanadnya Jayyid lagi kuat ).
Al-Imam Asy-Syafii berkata : Tidak ada seorangpun yang mendebatku melainkan aku tidak memperdulikan munculnya kebenaran dari lisanku atau lisannya .
Ini menunjukkan bahwa beliau tidak memiliki maksud kecuali kebenaran meskipun datang melalui lisan orang lain yang mendebatnya atau menyelisihinya.
Orang yang seperti ini keadaannya tidak akan benci jika dikritik dan dijelaskan penyelisihannya terhadap Al-Haq . Dugaan inilah yang seharusnya diberikan kepada selain Al-Imam Asy-Syafii dari para imam kaum muslimin .
Al-Imam Ahmad memuji dan menyanjung Ishaq bin Rahuwiyah seraya mengatakan : Walau dia menyelisihi dalam banyak hal tetapi sejak dulu manusia biasa menyelisihi satu dengan yang lainnya .
Maka bantahan terhadap pendapat-pendapat yang lemah dan menjelaskan kebenaran yang menyelisihi pendapat-pendapat tersebut dengan menyebutkan dalil-dalilnya bukanlah hal-hal yang dibenci oleh para ulama, bahkan hal yang mereka sukai dan mereka berikan pujian kepada pelakunya.
Jikasaja ada seseorang yang benci jika ditunjukkan kesalahannya yang menyelisihi kebenaran maka kebenciannya tersebut tidak pada tempatnya, karena kebencian terhadap nampaknya kebenaran karena kebenaran tersebut menyelisihi pendapat seseorang bukanlah sifat yang terpuji, bahkan wajib atas setiap muslim agar selalu suka nampaknya kebenaran dan suka jika kaum muslimin mengetahui kebenaran tersebut meskipun menyelisihi pendapatnya pribadi.
Dan ini adalah termasuk nasehat kepada Alloh, kepada KitabNya, kepada RasulNya, kepada agamaNya, kepada para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum, dan itulah dien sebagaimana dalam sabda Rasulullah (:
” الدِّينُ النَّصِيحَةُ ” قُلْنَا: لِمَن ؟ْ قَال:َ “لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ و عامتهم ”
“ Agama itu adalah nasihat “ , Kami bertanya : “ Untuk siapa ( Wahai Rasulullah) ?, . Beliau bersabda : “ Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi umumnya kaum muslimin “ ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya 1/74 ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.