MENGKRITISI BUKU FIQIH DEMONSTRASI

MENGKRITISI BUKU FIQIH DEMONSTRASI

Demonstrasi adalah sebuah virus ganas yang dicetuskan oleh orang-orang kafir, yang kemudian menular ke dalam tubuh kaum muslimin dan menimbulkan banyak musibah ke dalam diri kaum muslimin.
Akan tetapi realita yang ada bahwa sedikit dari kaum muslimin yang menyadari masalah ini, bahkan banyak dari mereka yang menjadikan demonstrasi sebagai kendaraan untuk merealisasikan ambisi-ambisi mereka, mereka mengemas dan membumbui demonstrasi dengan label-label Islami, seperti dikatakan sebagai ” Jihad Islami “, ” Amar Ma’ruf Nahi Munkar “, dan sebagainya.
Di antara tulisan-tulisan yang berusaha melegalkan demonstrasi dalam Islam adalah buku yang berjudul Fiqih Demonstrasi, Kajian Hukum Dan Urgensi Unjuk Rasa Dalam Pandangan Islam oleh Aus Hidayat Nur. Buku ini mengumpulkan berbagai macam syubhat-syubhat para pembela demonstrasi dari kalangan harokiyyin, bahkan di antara syubhat yang dia katakan bahwa ada di antara ulama Salafi yang membolehkannya !.
Insya Alloh di dalam bahasan kali ini akan kami singkap sebagian syubhat-syubhat buku ini sebagai saham kami di dalam memberikan nasehat kepada Islam dan kaum muslimin.

HUKUM ASAL DEMONSTRASI

Penulis berkata di dalam hal. 13 dari bukunya ini : ” Para ulama yang dapat dipercaya di abad ini berpendapat al-ashlu fil muzhahaah al-ibahah ( hukum as
al muzhaharah adalah boleh ), berdasarkan kesesuaiannya dengan maqashid syari’ah yaitu melindungi dan memelihara agama, nasab, harta, jiwa dan kehormatan “.
Kami katakan : Siapakah ulama yang dapat dipercaya di abad ini yang membolehkan demonstrasi ?! tidak lain adalah para gembong harokiyyin seperti Sayyid Quthb dan murid-muridnya, adapun para ulama sunnah maka mereka sepakat bahwa demonstrasi adalah produk musuh-musuh Islam dari kaum kuffar, Syaikh Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi berkata : ” … Aksi unjuk rasa dan demonstrasi, sedangkan Islam tidak mengakui perbuatan ini, dan tidak membenarkannya, bahkan dia adalah perkara yang baru, buatan orang-orang kafir, dan telah menular dari mereka kepada kita … ” ( Al-Maurid Al-‘Adzbu Zallal hal. 228 ).
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata : ” Nabi ( tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau tidak pernah menggunakan demonstrasi dan unjuk rasa, beliau tidak pernah mengancam manusia akan merusak harta benda mereka dan menculik mereka ” ( Majalah Buhuts Islamiyyah Edisi 38 hal. 310 ).
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Sesungguhnya demonstrasi adalah perkara baru, – tidak pernah dikenal pada zaman Nabi ( , tidak juga pada zaman Khulafaur Rasyidin, dan pada zaman sahabat Radhiyallahu Anhum ” ( Al-Jawabul Abhar oleh Fuad Siraj hal. 75 ).
Maka melakukan demonstrasi adalah tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir, padahal Rasulullah ( bersabda :
من تشبه بقوم فهو منهم
“ Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka “ ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/44, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 4/216, dan Ahmad dalam Musnadnya 2/50 dan dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil : 1269 : Hasan Shahih ).

MENGIDENTIKKAN DEMONSTRASI DENGAN SYI’AR-SYI’AR ISLAM

Penulis berkata di dalam hal. 16 : ” Ruh Syari’at Islam Menunjukkan Pentingnya Muzhaharah. Syariat Islam datang dengan membawa banyak syi’ar untuk azh-har izzah al Islam wa ad-da’wah ilaih ( unjuk kebanggaan Islam dan dakwah Islam ) seperti : Shalat Jama’ah , Jum’at dan hari Raya “.
Kami katakan : Syaikh Abdul Aziz bin Baz telah membantah syubhat ini di dalam bantahan beliau kepada Abdurrahman Abdul Khaliq yang memakai dalih di atas untuk melegalkan demonstrasi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata : ” Adapun yang berhubungan dengan sholat Jum’at, sholat Ied dan yang semacamnya dari pertemuan-pertemuan yang kadang diserukan oleh Nabi ( seperti sholat kusuf, sholat Istisqa’, maka semua itu termasuk menampakkan syi’ar-syi’ar Islam dan tidak ada hubungannya dengan demonstrasi ” ( Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 8/257 ).

DEMONSTRASI UNTUK MEMBELA AGAMA ADALAH BID’AH

Penulis berkata di dalam hal. 22 : ” Muzharah adalah ibadah dan jihad yang berpahala “.
Kami katakan : Merupkan kaidah yang dimaklumi, bahwa hukum asal ibadah adalah terlarang, kecuali jika ada dalil yang memerintahkannya.
Jika seorang menjadikan demonstrasi sebagai sarana ibadah, maka demonstrasi merupakan bidah dan perkara yang diada-adakan di dalam agama. Rasulullah ( bersabda :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ منه فَهُوَ رَدٌّ
“ Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya maka akan tertolak ” ( Diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Shahihnya : 2499 dan Muslim di dalam Shahihnya : 3243 ), dan di dalam lafadz yang lain :
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“ Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak”.
Dan inilah Rasulullah ( berkata kepada sebagian sahabatnya tatkala mereka mengadukan kepadanya apa yang mereka terima dari siksaan orang-orang musyrik :
قد كان من قبلكم يؤخذ الرجل فيحفر له في الأرض فيجعل فيها فيجاء بالمنشار فيوضع على رأسه فيجعل نصفين ويمشط بأمشاط الحديد ما دون لحمه وعظمه فما يصده ذلك عن دينه والله ليتمن هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخاف إلا الله والذئب على غنمه ولكنكم تستعجلون
“ Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditangkap kemudian digalikan lubang baginya dan dia dimasukkan ke dalamnya, kemudian didatangkan gergaji yang diletakkan di atas kepalanya dan dia dibelah menjadi dua, ada yang disisir tubuhnya dengan sisir besi di antara daging dan tulangnya, hal itu semua tidaklah menghalanginya dari agamanya. Demi Alloh sungguh Alloh akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara berjalan dari Shon’a kep Hadhramaut tidaklah takut kecuali kepada Alloh dan serigala atas kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa ( Shahih Bukhari 6/2546 ).
Maka Rasulullah ( tidaklah memerintahkan para sahabatnya agar melakukan demonstrasi.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata : ” Adapun demonstrasi dan unjuk rasa di waktu haji di Makkah atau di tempat yang lainnya – dalam rangka untuk mengumumkan sikap antipati kepada kaum musyrikin maka itu adalah bid’ah yang tidak ada asalnya, yang akan menimbulkan kerusakan dan kejelekan yang besar, maka wajib atas setiap pelakunya agar meninggalkannya, dan wajib atas pemerintah agar mencegahnya, karena dia adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya di dalam syari’at yang suci, dan karena akan mengakibatkan berbagai macam kerusakan, kejelekan, dan gangguan terhadap orang-orang haji dan yang lainnya.
Dan Alloh ( telah berfirman di dalam kitabNya yang mulia :
( قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّه (
“ Katakanlah : Jika benar-benar kalian cinta kepada Alloh maka ittiba’lah kepadaku maka Alloh akan mencintai kalian ( Ali Imran : 31).
Demonstrasi ini tidak pernah ada dalam sirah Rasulullah ( tidak juga di dalam sirah para sahabatnya Radhiyallahu Anhum -, seandainya itu adalah suatu kebaikan maka pasti mereka akan mendahului kita untuk melakukannya. ” ( Fatawa dan Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 8 Bab Al-Qiyam Bil Masirat wa Mudhaharat Bismil Baraah Minal Musyrikin Bid’ah La Ashla Lahu )

MENGIDENTIKKAN DEMONSTRASI DENGAN INKARUL MUNKAR

Penulis berkata di dalam hal. 31 : ” Muzhaharah salah satu bentuk inkarul munkar “.
Kami katakan : Mengingkari kemungkaran wajib ittiba’ kepada Rasulullah ( dan para sahabatnya, karena agama Islam ini telah sempurna, dan Rasulullah ( telah memerintahkan umatnya semua kebaikan dan melarang mereka dari semua kejelekan, tatkala Rasulullah ( telah mengajarkan adab-adab buang hajat maka bagaimana Rasulullah ( tidak mengajarkan kepada umatnya sarana untuk ingkarul munkar ?!, maka barangsiapa yang menjadikan demonstrasi sebagai sarana inkarul munkar maka sungguh dia telah menambah ke dalam agama ini yang telah dilarang dengan keras oleh Rasulullah ( dalam sabdanya :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ منه فَهُوَ رَدٌّ
“ Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya maka akan tertolak ( Diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Shahihnya : 2499 dan Muslim di dalam Shahihnya : 3243 ), karena Rasulullah ( dan para sahabatnya tidak pernah melakukan demonstrasi ini sebagaimana dalam bahasan terdahulu.
Kemudian juga bahwa kemungkaran tidak boleh diingkari dengan kemungkaran yang semisalnya, karena akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata : ” Sebagaimana aku wasiatkan kepada para ulama dan semua da’i serta para pembela al-haq agar menjauhi unjuk rasa dan demonstrasi yang memadharatkan dakwah dan tidak memberi manfaat kepadanya serta menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin dan fitnah antara pemerintah dan rakyat.
Sesungguhnya yang wajib adalah menempuh jalan bisa mengantarkan kepada al-haq dan menggunakan sarana-sarana yang bermanfaat, tidak bermadharat, mempersatukan, tidak memecahbelah, dan menebarkan dakwah di antara kaum muslimin, serta menjelaskan kepada mereka kewajiban-kewajiban mereka dengan tulisan-tulisan, kaset-kaset yang berfaidah, ceramah-ceramah yang bermanfaat, khutbah-khutbah Jum’at yang yang menjelaskan al-haq dan menyeru kepadanya, menjelaskan kebatilan dan memperingatkan darinya, juga dengan kunjungan-kunjungan yang berfaidah untuk para penguasa dan pihak yang berwenang, saling menasehati dengan tulisan atau secara langsung dengan ucapan dengan kelembutan, hikmah, dan metode yang baik, sebagai pengamalan firman Alloh Azza wa Jalla ketika mensifati NabiNya Muhammad ( :
( فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ (
“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. “ ( Ali Imran : 159 ), dan firman Alloh Ta’ala kepada Harun dan Musa ketika Alloh mengutus keduanya untuk mendakwahi Fir’aun :
(َفقولا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى(
“ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. “ ( Thaha : 44 ) ( Fatawa dan Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 7 Bab Ar-Rabithah Islamiyyah Hiya A’dhamul Wasail Allati Tarbithu Bainal Muslimin

KISAH UNJUK RASA UMAR DAN HAMZAH

Penulis berkata di dalam hal. 30 : ” Seorang ulama Salafy dari Kuwait, Syaikh Abdurrahman abdul Khaliq berkata : ” Muzaharat disebutkan sebagai pemaparan berbagai sarana yang dijadikan oleh Rasulullah ( sebagai media unjuk Islam dan dakwah kepadanya, karena ada riwayat yang menjelaskan bahwa kaum muslimin keluar menampakkan diri setelah Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu masuk Islam. Dan hal itu dilakukan atas perintah Rasulullah ( . Muzhaharah dilakukan dalam dua barisan sebagai ekspresi dari izh-har quwwah ( unjuk kekuatan ). Pada salah satu barisan ada Hamzah Radhiyallahu Anhu dan pada barisan lain ada Umar bin Al-Khaththab Radhiyallau Anhu… “
Kami katakan : Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya’ 1/40 dan Dalail Nubuwwah no. 194 dari jalan Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah dari Aban bin Shalih dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Umar bin Khaththab.
Kisah ini adalah kisah yang lemah sekali karena berkisar pada Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah yang dilemahkan oleh para ulama hadits bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa dia adalah pendusta :
Dia dikatakan oleh Ibnu Sa’d : Dia banyak haditsnya meriwayatkan hadits-hadits yang mungkar dan ahli hadits tidak berhujjah dengan haditsnya
Al-Imam Bukhari berkata : Mereka meninggalkan haditsnya.
Al-Imam Ahmad berkata : Tidak halal meriwayatkan hadits darinya.
Dia dikatakan matruk oleh Al-Fallas, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Nasai, Daruquthni, dan Al-Barqani
Ibnu Khirasy dan Ibnu Ma’in dalam riwayat Ali bin Hasan berkata : Dia seorang pendusta ( Lihat Tahdzibut Tahdzib 1/240-242 ).
Al-Hafidz Ibnu Hajar menyimpulkan perkataan para ulama terhadap Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah dalam Taqribut Tahdzib hal. 130 : Matruk.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz di dalam bantahan beliau kepada Abdurrahman Andul Khaliq – mengomentari riwayat ini dengan mengatakan : ” Sesungguhnya riwayat ini berkisar pada Ishaq bin Abi Farwah yang dia tidak bisa dijadikan hujjah. Seandainya kisah ini shahih maka dia terjadi di awal Islam sebelum hijrah dan sebelum sempurnanya syari’at. Tidaklah tersembunyi bahwa yang dijadikan sandaran di dalam perintah dan larangan serta perkara-perkara lain di dalam agama adalah yang sudah ditetapakan sesudah hijrah ” ( Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 8/257 ).
Maka penisbatan demonstrasi kepada Umar Al-Faruq merupakan kedustaan atas nama beliau.
Kemudian tentang perkataan penulis ” Seorang ulama Salafy dari Kuwait, Syaikh Abdurrahman abdul Khaliq ” maka ini adalah pernyataan yang keliru, karena Abdurrahman Abdul Khaliq dikenal begitu keras permusuhannya terhadap para ulama salafiyyin dan manhaj Salafi, di sisi lain dia mengelu-elukan manhaj bid’ah dan gembong-gembong ahli bid’ah seperti Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, Al-Maududi, dan yang lainnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz telah memberikan bantahan terhadap penyimpangan-penyimpangan Abdurrahman Abdul Khaliq dalam kitab-kitabnya seperti Ushul Amal Jama’i, Khuthuth Raisiyyah Liba’tsil Ummah Islamiyyah, Masyru’iyatul Amal Jama’i dan yang lainnya di dalam Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz Jilid 8/257, demikian juga Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali telah membantah penyelewengan-penyelewengan Abdurrahman Abdul Khaliq di dalam dua kitab beliau Jama’ah Wahidah dan An-Nashrul Aziz.

DEMONSTRASI MEMBAWA KEJAYAAN ISLAM ?

Penulis berkata di dalam hal. 50 : ” Muzhaharah mengurangi penderitaan suatu bangsa dan membebaskan mereka dari tirani. Manfaat Muzhaharah yang besar dan tampak jelas dalam hal kemampuannya menghilangkan berbagai penyakit di dalam masyarakat. Hal ini berlaku pada berbagai bangsa sepanjang sejarah “.
Kami katakan : Sejak kapan Islam menjadi terhormat dengan cara-cara orang kafir ?!, bahkan kita merasakan sendiri betapa keadaan kaum muslimin semakin terpuruk tatkala mereka meninggalkan ajaran-ajaran Islam dan mengikuti cara-cara orang-orang kafir, sesuai dengan sabda Rasulullah ( :
إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم
“ Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘iinah, disibukkan oleh ternak dan tanaman, dan kalian tinggalkan jihad fi sabilillah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian “ ( Diriwayatkan oleh Abu dawud dalam Sunannya : 3462, Baihaqy dalam Sunan Kubro 5/316 dan Thobrony dalam Musnad Syamiyyin hal. 464 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Shahihah : 11 ).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Sesungguhnya demonstrasi adalah perkara baru, – tidak pernah dikenal pada zaman Nabi ( , tidak juga pada zaman Khulafaur Rasyidin, dan pada zaman sahabat Radhiyallahu Anhum – , kemudian demonstrasi menimbulkan kekacauan dan kerusakan yang membuat dia terlarang, di mana dia membuat kaca-kaca dipecahkan, pintu-pintu dirusak dan yang lainnya .. terjadi campur baur laki-laki dan wanita, yang tua maupun yang muda, dan yang serupa dari kerusakan-kerusakan dan kemungkaran-kemungkaran.
Adapun masalah menekan penguasa, jika penguasa adalah muslim maka cukuplah menasehatinya dengan Kitabullah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah ( , inilah hal terbaik yang dipaparkan pada seorang muslim, dan jika penguasa adalah kafir maka mereka tidak akan peduli dengan para demonstran, mereka akan berbasa-basi kepada mereka secara nampak, adapun yang mereka sembunyikan adalah jauh lebih jelek, karena inilah maka kami memandang bahwa demonstrasi adalah perkara yang mungkar.
Adapun perkataan mereka bahwa demonstrasi ini adalah aksi damai, maka dia kadang adalah damai di awalnya atau di kali yang pertama, kemudian menjadi aksi perusakan. Dan aku nasehatkan kepada para pemuda agar mengikuti jalan para salaf, karena sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memuji orang-orang Muhajirin dan Anshor, dan memuji kepada orang-orang yang mengkuti mereka dalam kebaikan. “ ( Al-Jawabul Abhar oleh Fuad Siraj hal. 75 ).

PENUTUP

Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari sebagian penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lainnya belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat .
Semoga yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat tersebut dan semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalanNya yang lurus dan dijauhkan dari semua jalan-jalan kesesatan. Amin.

والله أعلم بالصواب

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.