MENDUDUKKAN MASALAH TABARRUK

MENDUDUKKAN MASALAH TABARRUK

Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa kerangka budaya suku-suku di Indonesia banyak dilatarbelakangi prinsip animisme dan dinamisme. Karena itulah pengagungan terhadap benda-benda ataupun sesuatu yang dianggap keramat masih hidup hingga hari ini.
Yang sangat disayangkan bahwa banyak dari kaum muslimin yang masih terpengaruh dengan keyakinan di atas sehingga mereka mengagungkan dan mengharap berkah dari hal-hal yang tidak syari’atnya. Hingga banyak kaum muslimin yang berbondong-bondong ke tempat keramat atau orang yang disangka punya berkah seperti kuburan wali, gua, pemandian, pohon, dan sebagainya. Kenyataan ini diperburuk dengan ada orang yang dipandang oleh masyarakat sebagai kiai atau ulama kemudian malah menganjurkan.
Karena itulah Insya Alloh di dalam bahasan ini akan kami dudukkan masalah tabarruk ini dengan merujuk kepada Kitab dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah sebagai nasihat kepada kaum muslimin semuanya.

BARAKAH DATANG DARI ALLAH

Tabarruk adalah mencari barakah ( berkah ). Dan barakah artinya adalah “ kebaikan yang banyak dan tetap.” Diambil dari kata “ birkah ” yang artinya kumpulan air ( Lihat Mu’Jam Maqayis Lughah 1/130 , Lisanul Arab 10/395 dan Qaulul Mufid 1/245 ).
Hal yang penting untuk diketahui bahwa barakah datang dari Allah  sebagai satu bentuk karunia yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Alloh  berfirman :
 (((( ((((((((( ((((((( (((((((((( ((((((( (((((((((( ((( (((((((( ((((((((( (((((((((( ((((( (((((((( (((((((( ((( (((((((( (((((((( ((( (((((((( ( (((((((( (((((((((( ( ( 
“ Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebaikan.” ( Ali ‘Imran: 26).
Rasulullah ( bersabda :
و الخير كله بيديك
“Dan kebaikan seluruhnya ada di kedua tangan-Mu.” ( Shahih Muslim no. 771).
البركة من الله
“ Barakah datangnya dari Alloh ” ( Shahih Bukhari 5/2135 ).

TABARRUK YANG SYAR’I DAN YANG TIDAK SYAR’I
Karena barakah datangnya dari Alloh maka cara mencari berkah melalui hal-hal yang diakui menurut syariat, juga harus mengikuti petunjuk syariat, agar tidak terjerumus dalam perbuatan bid’ah atau syirik. Maka dari segi disyari’atkan dan tidaknya maka tabarruk terbagi menjadi dua macam yaitu tabarruk yang syar’i dan yang tidak syar’I :
1. Tabarruk Yang Syar’I adalah tabbaruk dengan sesuatu yang syar’i dan diketahui secara pasti atau ada dalilnya bahwa sesuatu tersebut mendatangkan barokah, seperti :
a. Tabarruk dengan perkataan dan perbuatan, seperti :
– Membaca Al Quran , Alloh berfirman :
 ((((((( (((((((((((( (((((((( ((((((((( ((((((((((((((( ((((((((((( (((((((((((((( ((((((((( ((((((((((( (((( 
“Al-Qur’an yang Kami telah turunkan kepadamu akan dapat memberikan barakah.” ( Shad : 29 ).
Bentuk barakah Al-Qur’an di antaranya, barang siapa mengambil apa yang ada di dalamnya baik berupa perintah maupun larangan, niscaya akan terwujud kemenangan, dan Allah telah menyelamatkan umat-umat dengan Al-Qur’an ini. Rasulullah ( mengatakan tentang hal ini :
إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما ويضع به آخرين
”Sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum dengan Al-Qur’an ini dan menghinakan kaum yang lain.” (Shahih Muslim no. 817 dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu).
– Berdzikir , di antara barakah dzikir kepada Alloh adalah mendapatkan doa dari malaikat, sanjungan di hadapan makhluk-Nya dan ampunan dari Alloh, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari.
– Belajar ilmu agama dan mengajarkannya , di antara barakahnya adalah terangkatnya derajat di dunia dan di akhirat, Allah ( berfirman :
( يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ (
“ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat “ ( Al-Mujadilah : 10 )
– Makan dengan berjamaah sebagaimana di dalam sabda Rasulullah ( :
اجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله عليه يبارك لكم فيه
“Makanlah kalian dengan berjamaah dan sebutlah Allah, niscaya Allah akan memberkahi kalian padanya.” ( Hadits riwayat Abu Dawud dalam Sunannya 3/346 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3199 dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 664 dari shahabat Wahsyi radhiallahu ‘anhu).
Tabarruk dengan tempat, seperti :
– Masjid-masjid, di mana mencari barakahnya dengan melaksanakan shalat lima waktu, beri’tikaf, menghadiri majelis ilmu, dan sebagainya dengan cara-cara yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Perlu diketahui, bertabarruk pada masjid-masjid itu bukan dengan cara mengusap-ngusap tembok atau tanah masjid tersebut, atau yang hal-hal lain yang dilarang syariat.
– Barakah kota Makkah, Madinah, Syam, Masjid Al-Haram, Masjid Quba, dan Masjid Al-Aqsha. Mencari barakah padanya bukan dengan menziarahi semata, mencium, atau mengusap tanahnya, namun dengan cara beribadah di dalamnya sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.
c. Tabarruk dengan waktu, seperti :
– Bulan Ramadhan, caranya dengan mengisi bulan mulia tersebut dengan berpuasa yang akan terhapuskan dosa-dosa dan bertambahnya rizki orang-orang yang beriman.
– Malam Lailatul Qadar
– Sepuluh pertama bulan Dzulhijjah
– Hari Jum’at
– sepertiga malam terakhir
Mencari barakah pada waktu-waktu tersebut adalah dengan cara melaksanakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah (.
Tabarruk dengan makanan dan minuman dan hal-hal lain yang ada dalilnya seperti meminum madu dan air zam-zam, memakai minyak zaitun, mengonsumsi habatussauda’ (jintan hitam). Rasulullah ( bersabda tentang itsmid (celak mata) : “Hendaklah kalian memakai itsmid karena sesungguhnya itsmid itu dapat menumbuhkan bulu mata, menghilangkan kotorannya, dan membersihkan penglihatan.” (HR. Al-Bukhari di dalam At-Tarikh, 4/2/412, dan Ath-Thabrani, 1/12/1, dan Abu Nua’im di dalam Al-Hilyah, 3/178, dan dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2/270 ).
d. Tabarruk dengan zat Nabi ( : berebut ludahnya, mengambil keringatnya, mengumpulkan rontokan rambutnya ketika beliau masih hidup.Hal ini datang di dalam hadits-hadits yang shahih di antaranya perkataan Urwah bin Mas’ud At-Tsaqafi :
والله ما تنخم رسول الله صلى الله عليه وسلم نخامة إلا وقعت في كف رجل منهم فدلك بها وجهه وجلده
“ Demi Alloh tidaklah Rasulullah ( berdahak kecuali air dahaknya terjatuh pada salah seorang sahabat beliau lalu diusapkan di wajah dan badannya ” ( Shahih Bukhari 2/976 ).
Apa-apa yang disebutkan di atas maupun yang belum disebutkan yang sudah jelas nashnya, mencari barakahnya adalah dengan cara yang telah disyariatkan oleh Allah dan tidak keluar dari pensyariatan tersebut ( Lihat Al-Qaulul Mufid oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 1/245-248 dan At-Tabarruk Al-Masyru’ wa At-Tabarruk Al-Mamnu’ oleh Dr. Ali bin Nufai’ Al-’Ulyani hal. 33-50).
2. Tabarruk yang tidak syar’i atau terlarang yaitu tabarruk yang tidak ada dalil syar’inya atau tidak mengikuti tuntunan syariat, seperti :
Tabarruk dengan perkataan dan perbuatan yang bid’ah seperti sholawat atau zikir yang bid’ah.
b. Tabbaruk dengan tempat-tempat dengan cara-cara yang tidak ada dalilnya dari syari’at seperti mencium, mengusap, atau mencari kesembuhan dari tanahnya.
Termasuk hal ini adalah ziarah religius ke kubur para wali. Pergi ke kuburan dengan tujuan ziarah dan berdoa di sisinya, dengan keyakinan bahwa berdoa di sisinya lebih utama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim hal. 433 mengatakan, “Bila seseorang shalat di sisi kuburan para nabi atau orang-orang shalih dengan tujuan untuk mencari barakah, maka ini merupakan bentuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya, menyelisihi agama, dan mengada-ada di dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah.”
c. Tabarruk dengan waktu-waktu dengan berbagai macam bentuk pengagungan dan acara-acara serta berbagai bentuk ibadah lainnya. Seperti menyambut hari kelahiran Rasulullah ( , hari Isra’ Mi’raj, hari hijrah, Nuzulul Qur’an, hari Badr, hari Fathu Makkah, dan sebagainya. Bertabarruk pada hari-hari di atas termasuk perbuatan bid’ah dalam agama.
Tabarruk dengan makanan dan minuman seperti minum sisa kiai, berebut tumpeng sekaten dan sebagainya.
Tabarruk dengan benda-benda: mengambil tanah karbala, sabuk supranatural, keris, jimat-jimat dan sebagainya.
Tabarruk dengan zat orang sholih atau peninggalannya: meminum ludahnya atau keringatnya, berebut bekas peci atau bajunya, memilih sholat di tempat orang sholih itu sholat, meminum atau menyimpan sisa air wudhu’ orang sholih, atau dengan menciumi lututnya ( Lihat Ta’liq atas Al-Qaul Al-Mufid 1/246-250).

PERKATAAN DAN SIKAP SALAFUSH SHALIH TERHADAP TABARRUK YANG TIDAK SYAR’I

Para salafushshalih begitu keras di dalam mengingkari tabrruk yang tidak syar’i, ketika Umar bin Khaththab pulang dari haji beliau melihat orang-orang berduyun-duyun di sebuah masjid, maka beliau bertanya : ” Ada apa ini ? “, Ma’rur bin Suwaid ( perawi ) berkata : ” Ini adalah masjid yang dahulu Rasulullah ( pernah sholat di dalamnya “, maka beliau berkata :
هكذا هلك أهل الكتاب اتخذوا آثار أنبيائهم بيعا من عرضت له منكم فيها الصلاة فليصل ومن لم يعرض له منكم فيه الصلاة فلا يصل
” Dengan hal demikianlah ahli kitab menjadi binasa, mereka menjadikan petilasan-petilasan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah !, jika kalian mendapati masjid-masjid tersebut dalam keadaan masuk waktu sholat maka sholatlah, dan jika tidak maka janganlah sholat ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushonnaf 2/42 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tahdzirus Sajid hal. 93 ).
Ketika Umar bin Khottob mencium Hajar Aswad beliau mengatakan :
إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك
“Sungguh aku tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak mendatangkan manfaat juga tidak mendatangkan mudhorot. Seandainya aku tidak melihat Rosululloh menciummu maka aku pun tidak akan menciummu.” ( Shahih Bukhori 2/579 ). Lihatlah kepasrahan Umar terhadap syariat yang ditetapkan ketika beliau mencium Hajar Aswad. Beliau mencium Hajar Aswad karena ittiba’ ( mencontoh ) Rosululloh, dan dengan mencontoh Rosululloh inilah didapatkan barokah. Lain halnya dengan beberapa kaum muslimin yang justru malah mengusap baju-baju mereka di Hajar Aswad untuk mencari berkah! .

PERKATAAN-PERKATAAN PARA ULAMA MADZHAB TERHADAP TABARRUK YANG TIDAK SYAR’I

Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata : ” Datang seorang laki-laki kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan mengusap baju Al-Imam Ahmad dengan kedua tangannya lalu dia usapkan ke wajahnya, maka langsung Al-Imam Ahmad marah dan mengingkarinya dengan keras seraya berkata : ” Dari mana kalian mengambil perkara ini ?! ” ( Al-Hikam Al-Jadirah bil Idza’ah hal. 56 ).
Al-Imam Ibnu Jama’ah Asy-Syafi’i berkata : ” Barangsiapa yang terlintas di dalam benaknya bahwa mencium tanah kuburan akan lebih membawa berkah maka ini termasuk kejahilan dan kelalaiannya, karena sesungguhnya barakah hanyalah di dalam hal-hal yang mencocoki syari’at dan perkataan para salaf dan amalan mereka ” ( Hidayatus Salik hal. 1390 ).
Al-Imam Abu Muhammad Al-‘Aini Al-Hanafi berkata : ” Alloh telah mendatangkan masyayikh Makkah yang mengingkari meletakkan tangan di atas kuburan dan mereka mengatakan bahwa hal itu adalah adat kebiasaan orang-orang ahli Kitab. Di dalam Al-Akhbar : Dia adalah kebiasaan orang-orag Nashara. Az-Za’farani berkata : Tidak boleh menutup kuburan dengan kain dan menciumnya, Inilah yang sunnah, sedangkan apa yang dilakukan orang-orang sekarang ini adalah bid’ah yang munkar ” ( Al-Binayah Fil Janaiz 3/305 ).
Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi Al-Maliki berkata tentang tabarruk yang tidak syar’i : ” Dia adalah asal penyembahan kepada berhala-berhala pada umat-umat yang terdahulu sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah ” ( Al-I’tisham 2/9 ).
PENUTUP

Demikianlah, pada prinsipnya, berkah itu hanya kepunyaan Alloh. Dialah yang memberikannya. Sedangkan pribadi-pribadi, benda-benda, tempat-tempat serta waktu-waktu yang dinyatakan banyak mengandung berkah oleh syariat, tidak lain hanyalah sebab semata bagi diperolehnya berkah. Bukan pemilik dan pemberi berkah. Cara mencari berkah melalui hal-hal yang diakui menurut syariat, juga harus mengikuti petunjuk syariat, agar tidak terjerumus dalam perbuatan bid’ah atau syirik. Siapa yang mencari berkah kepada selain Alloh, ia terjerumus ke dalam syirik akbar. Dan siapa yang mencari berkah melalui hal-hal yang dibenarkan menurut syariat, tetapi dengan cara yang berlawanan dengan syariat, ia terjerumus dalam bid’ah ( Lihat Tahdzib Tashil Aqidah Islamiyyah hal. 122 ).
Semoga Alloh  selalu menunjukkan kita semua ke jalan yang lurus dan melindungi kita semua dari jalan-jalan kesesatan, kebid’ahan dan kesyirikan. Amin.

والله أعلم بالصواب
Disusun oleh : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.