MENDOAKAN KEBAIKAN WALIYYUL AMR

Merupakan perkara yang tidak ada keraguan di dalamnya bahwa do’a adalah ibadah yang mulia, doa seorang muslim kepada saudaranya termasuk sebab dikabulkannya do’a, dan do’a kepada para waliyyul amr dengan taufiq dan kebaikan termasuk yang dihasung oleh syari’at Islam yang suci, karena jika para waliyyul amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, mendoakan kebaikan terhadap Waliyyul Amr adalah menjalankan kewajiban, karena do’a termasuk nasihat, dan nasihat adalahwajib atas setiap muslim.

Akan tetapi sungguh disayangkan bahwa realita yang ada justru sebaliknya, sangat sedikit dari kaum muslimin yang mendoakan kebaikan terhadap para waliyyul amr, bahkan kebanyakan dari mereka menjelekkan para waliyyul amr dan mencaci mereka dengan dalih kebebasan berbicara, bahkan banyak yang melaknat para waliyyul amr dan menganggap mereka sebagai sumber segala bencana.

Mengingat masalah ini banyak dilalaikan oleh kaum muslimin maka kami mengangkatnya di dalam bahasan kali ini dengan harapan agar menjadi pencerahan bagi saudara-saudara kami kaum muslimin di dalam amaliah mereka.

 

WAJIBNYA MENTAATI WALIYYUL AMR DAN HARAMNYA MEMBERONTAK KEPADA MEREKA

Alloh memerintahkan kepada setiap muslim agar taat kepada waliyyul amr sebagaimana dalam firmanNya :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa’:59)

Demikian juga Rasulullah (memerintahkan agar selalu taat kepada waliyyul amr, tidak membatalkan baiat, dan sabar atas kecurangan para penguasa:

Dari Ubadah bin Shamit bahwasanya dia berkata :
دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعناه فكان فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله قال إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان

“Rasullullah menyeru kami maka kami membaiatnya, di antara yang diambil atas kami bahwasanya kami berbaiat atas mendengar dan taat dalam keadaan yang lapang dan sempit, dalam keadaan sulit dan mudah, dan atas sikap egois atas kami, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya. Beliau bersabda: Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan nyata yang kalian punya bukti di hadapan Alloh.” (Shahih Muslim:1709).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Ini adalah perintah agar selalu taat walaupun ada sikap egois dari waliyyul amr, yang ini merupakan kezhaliman darinya, dan larangan dari merebut kekuasaan dari pemiliknya, yaitu larangan dari memberontak kepadanya, karena pemiliknya adalah para waliyul amr yang diperintahkan agar ditaati, dan mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah (Minhajus Sunnah 3/395).

Para ulama ahli sunnah wal jamaah telah sepakat atas wajibnya mentaati para waliyyul amr dan haramnya memberontak kepada para penguasa yang zhalim dan fasik dengan cara revolusi atau kudeta atau dengan cara yang lainnya, berdasarkan hadits-hadits di atas dan akibat buruk yang ditimbulkan oleh pemberontakan dari timbulnya fitnah, tertumpahnya darah, kekacauan, dan kerusakan-kerusakan, jadilah pokok ini merupakan pokok yang terpenting dari ahli sunnah wal jamaah yang menyelisihi semua kelompok-kelompok yang sesat dan ahlil ahwa, sehingga banyak dari para ulama yang menuliskan pokok ini dalam kitab-kitab mereka .

Al-Imam Ibnu Baththal yang berkata: Para fuqaha telah sepakat atas wajibnya taat kepada pemerintah yang menguasai keadaan, wajibnya berjihad bersamanya, bahwasanya ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak kepadanya, karena dengan ketaatan akan bisa menjaga tertumpahnya darah, dan menenangkan keadaan… mereka tidak mengecualikan dari hal ini kecuali jika telah terjadi kekufuran yang jelas dari penguasa ( Fathul Bari 13/7 ).

 

SIAPAKAH WALIYYUL AMR ?

Waliyyul Amr yang dimaksud di dalam nash-nash di atas adalah yang sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ahmad: “Tahukah kamu, apakah imam itu? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semuanya mengatakan: “Inilah imam” (Masa’il al-Imam Ahmad 2/185 riwayat Ibnu Hani’).

Yang sunnah adalah satu imam untuk kaum muslimin di seluruh dunia, tetapi ketika kaum muslimin terbagi menjadi beberapa negeri dan sulit disatukan, maka masing-masing penguasa negeri adalah imam yang wajib dibaiat dalam ketaatan kepadanya sesuai dengan batasan-batasan syari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَكُونَ لِلْمُسْلِمِينَ إمَامٌ وَاحِدٌ وَالْبَاقُونَ نُوَّابُهُ فَإِذَا فُرِضَ أَنَّ الْأُمَّةَ خَرَجَتْ عَنْ ذَلِكَ لِمَعْصِيَةِ مِنْ بَعْضِهَا وَعَجْزٍ مِنْ الْبَاقِينَ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ كَانَ لَهَا عِدَّةُ أَئِمَّةٍ : لَكَانَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ إمَامٍ أَنْ يُقِيمَ الْحُدُودَ وَيَسْتَوْفِيَ الْحُقُوقَ

“Yang sunnah hendaknya seluruh kaum muslimin memiliki satu imam, yang lain adalah perwakilan-perwakilannya, jika terjadi keadaan di mana umat menyelisihi hal ini karena sebab kemaksiatan atau ketidakmampuan, atau sebab yang lain, sehingga terjadilah beberapa imam negeri; maka dalam keadaan seperti ini wajib atas setiap imam agar menegakkan hudud, dan menunaikan hak-hak …” (Majmu’ Fatawa 34/175-176).

Al-Imam Syaukany berkata :
وأما بعد انتشار الإسلام واتساع رقعته وتباعد أطرافه ، فمعلوم أنه قد صار في كل قطر أو أقطار الولاية إلى إمام أو سلطان ، وفي القطر الآخر كذلك ، ولا ينعقد لبعضهم أمر ولا نهي في قطر الآخر وأقطاره التي رجعت إلى ولايته . فلا بأس بتعدد الأئمة والسلاطين ، ويجب الطاعة لكل واحد منهم بعد البيعة له على أهل القطر الذي ينفذ فيه أوامره ونواهيه

“Sesudah menyebarnya Islam, meluasnya wilayahnya, dan berjauhan batas-batasnya, merupakan hal yang dimaklumi bahwa masing-masing wilayah memiliki seorang imam atau penguasa, di di wilayah yang lain demikian juga, yang tidak berlaku kekuasaannya di wilayah yang lain. Maka tidak mengapa dengan terjadinya beberapa imam dan penguasa negeri, dan wajib ditaati masing-masing penguasa negeri sesudah dilakukan baiat atasnya oleh penduduk wilayah masing-masing yang berlaku perintah-perintah dan larangannya…” (Sailul Jarrar 4/512).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata :
الأئمة مجمعون من كل مذهب على أن من تغلب على بلد أو بلدان له حكم الإمام في جميع الأشياء ، ولولا هذا ما استقامت الدنيا لأن الناس من زمن طويل قبل الإمام أحمد إلى يومنا هذا ما اجتمعوا على إمام واحد

“Para imam dari setiap madzhab telah sepakat bahwa barangsiapa yang menguasai suatu negeri, maka dia memiliki hukum imam dalam segala sesuatu, seandainya tidak seperti ini tidaklah tegak dunia; karena kaum muslimin sejak zaman yang lama, sebelum zaman Al-Imam Ahmad hingga sekarang, belum pernah bersatu di bawah satu imam.” (Durar Saniyyah 7/239).

 

LARANGAN MENCACI WALIYYUL AMR DAN WAJIBNYA SABAR ATAS KECURANGAN MEREKA

Melanggar kehormatan para waliyyul amr dan mencaci mereka adalah kesalahan yang besar dan dosa yang keji, syari’at Islam telah melarang hal ini dan mencela pelakunya, semua nash-nash yang mengharamkan khuruj atas penguasa adalah dalil atas haramnya mencaci mereka (Mu’amalatul Hukkam hal. 87).

Dari Anas bin Malik bahwasanya dia berkata: Telah melarang kami para pembesar kami dari para sahabat Rasulullah, dia berkata :
لا تسبوا أمراءكم ولا تغـشـوهم ولا تبغضوهم واتقوا الله واصبروا فإن الأمر قريب

“Janganlah kalian mencaci para penguasa kalian dan janganlah curang kepada mereka dan membenci mereka, dan bertakwalah kepada Alloh dan bersabarlah karena sesungguhnya perkara itu adalah dekat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam As-Sunnah 2/488 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani ).

Dari Hudzaifah bin Yaman bahwasanya Rasulullah bersabda :
(( يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهدي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيكم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إِنس )) قلت : كيف أصنع إن أدركت ذلك ؟ قال : (( تسمع وتطيع للأمير وإِن ضرب ظهرك وأخذ مالك))

“Akan datang sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku, dan akan tegak di tengah-tengah kalian para laki-laki yang hati mereka adalah hati syaithan di dalam jasad manusia”, Saya (Hudzaifah) berkata: Bagaimana saya berbuat jika saya mendapat hal itu ?, Rasulullah bersabda: “Hendaknya Engkau mendengar dan taat kepada penguasa walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu.” (Shahih Muslim 6/20).

Dari Abu Bakrah bahwasanya Rasulullah bersabda:
(( السلطان ظل الله في الأرض فمن أهانه أهانه الله ومن أكرمه أكرمه الله ))

“Penguasa adalah naungan Alloh di muka bumi, barangsiapa yang menghinakannya maka Alloh akan menghinakannya dan barangsiap yang memuliakannya maka Alloh akan memuliakannya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam As-Sunnah 2/492 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani .

 

NASEHAT KEPADA WALIYYUL AMR

Dari Abi Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daary ( bahwasanya Rasulullah ( bersabda:
” الدِّينُ النَّصِيحَةُ ” قُلْنَا: لِمَن ؟ْ قَال:َ “لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ و عامتهم ”
“ Agama itu adalah nasihat “ , Kami bertanya : “ Untuk siapa ( Ya Rasulullah) ?, . Beliau bersabda : “ Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi umumnya kaum muslimin ( Shahih Muslim 1/74 ).
Al-Imam Ibnu Sholah berkata : Nasihat adalah kata yang menyeluruh yang mengandung mana apa yang dilakukan pemberi nasihat kepada yang dinasehati dengan segala macam kebaikan dengan niat dan perbuatan…
Nasihat bagi pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, mentaati mereka dalam hal yang maruf, mengingatkan mereka dalam kebenaran, menasehati mereka dengan cara yang halus dan lembut, menjauhi perlawanan kepada mereka, mendoakan kebaikan kepada mereka dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama ” ( Shiyanatu Shohih Muslim 1/221-222 ).
Maka di antara nasehat kepada waliyyul amr adalah suatu perkara yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin padahal mereka mampu melakukannya, yaitu mendoakan kebaikan kepada para waliyyul amr yang akan kami bicarakan di dalam bahasan berikut.

MENDOAKAN KEBAIKAN TERHADAP WALIYYUL AMR

Para imam Ahli Sunnah semenjak generasi-generasi pertama senantiasa berusaha menjelaskan jalan yang lurus yang ditempuh oleh orang-orang terbaik mereka dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti langkah mereka dalam kebaikan.
Di antara pokok yang agung yang mereka jelaskan kepada umat adalah wajibnya mentaati waliyyul amr dan haramnya memberontak kepada mereka, tidak berhenti sampai di sini bahkan mereka melampauinya kepada hal yang lebih khusus lagi, yaitu mendoakan waliyyul amr dengan taufiq, kebaikan, dan kelurusan jalan, inilah sebagian di antara perkataan-perkataan mereka tentang hal itu :
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi ( wafat tahun 321 H ) berkata :
ولا نرى الخروج على أئمتنا و ولاة أمورنا وإِن جاروا ، ولا ندعوا عليهم ولا ننزع يدا من طاعتهم ، ونرى طاعتهم من طاعة الله عزوجل فريضة ما لم يأمروا بمعصية، وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة
” Dan kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan para waliyyul amr kami, meskipun mereka berbuat kecurangan, kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka, kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka, kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Alloh Azza wa Jalla sebagai suatu kewajiban selama mereka tidak memerintah kepada kemakshiyatan, dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan ( Aqidah Thahawiyyah beserta Syarahnya 2/540 ).
Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni ( wafat tahun 449 H ) berkata :
ويرى أصحاب الحديث الجمعة والعيدين و غيرهما من الصلوات ، خلف كل إِمام ، برا كان أو فاجراً ، ويرون جهاد الكفرة معهم ، وإِن كانوا جَوَرة فجرة ، ويرون الدعاء لهم بالإِصلاح والتوفيق والصلاح ، وبسط العدل في الرعية
“ Dan Ashabul hadits memandang sholat Jumat, Iedain, dan sholat-sholat yang lainnya di belakang setiap imam yang muslim yang baik maupun yang fajir, mereka memandang hendaknya mendoakan para pemimpin dengan taufiq dan kebaikan, dan menyebarkan keadilah terhadap rakyat ( Aqidah Salaf Ashabil Hadits hal. 106 ).
Dan ketahuilah Wahai Saudaraku yang mulia, sesungguhnya para imam tersebut tidaklah mencukupkan menggoreskan kalimat-kalimat ini di dalam tulisan-tulisan mereka, bahkan mereka juga menerapkan perkara ini di dalam kehidupan mereka, dan menyampaikannya di hadapan manusia sebagai pengajaran dan arahan kepada mereka, lihatlah sebuah contoh dalam hal itu dari Imam Ahli Sunnah wal Jama’ah Al-Imam Ahmad bin Hanbal yang selalu mendoakan kebaikan kepada penguasa, Abu Bakr Al-Maruudzi berkata : Aku mendengar Abu Abdillah ( Al-Imam Ahmad ) menyebut Khalifah Al-Mutawakkil seraya mengatakan :
إِني لأدعو له بالصلاح والعافية …
” Sesungguhnya aku selalu mendoakan kepadanya dengan kebaikan dan keselamatan … ” ( As-Sunnah oleh Al-Khollal hal. 84 ).
Begitu sangat beliau di dalam menghasung umat untuk mendoakan kebaikan terhadap waliyyul amr, beliau lontarkan ucapan beliau yang masyhur dan menjadi hikmah yang diikuti oleh lisan-lisan manusia, yaitu :
لو أن لي دعوة مستجابة ما جعلتها إِلا في السلطان
” Seandainya aku memiliki do’a yang mustajab maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa ” ( Siyasah Syar’iyyah hal. 218 ).
Maka sepantasnyalah bagi kaum muslimin yang ingin menegakkan kewajiban nasihat, dan menempuh jalan Salaf, sepantasnyalah bagi mereka mengkhususkan kepada waliyyul amar di dalam sebagian dari do’a-do’a kebaikan mereka, duhai seandainya orang-orang yang berkubang di dalam kehormatan para waliyyul amr berhenti dari apa yang mereka lakukan, dan menggantinya dengan do’a kebaikan, seandainya mereka melakukan ini maka sungguh ini adalah baik bagi mereka, ditambah lagi bahwa menyibukkan diri dengan pelanggaran-pelanggaran kehormatan tidaklah memeperbaiki, bahkan akan menyesakkan dada dan memperbanyak dosa, Al-Hafizh Abu Ishaq As-Sabi’i berkata :
ما سب قومٌ أميرهم إِلا حُرموا خيره
” Tidaklah suatu kaum mencaci penguasa mereka kecuali diharamkan mereka dari kebaikannya ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 21/287 ).
Dan sepantasnyalah para ulama dan para da’I untuk menjelaskan kedudukan doa’ dari nasihat, menghasung manusia semuanya kepadanya, dan mengkhabarkan kepada mereka bahwa inilah manhaj Salafush Shalih, dan hendaknya para khathib tidak melupakan waliyyul amr di dalam do’a-do’a mereka pada hari Jum’at, Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata :
ويسن أن يدعو – أي الخطيب – للمسلمين بما فيه صلاح دينهم ودنياهم ، ويدعو لإِمام المسلمين وولاة أمورهم بالصلاح والتوفيق وكان الدعاء لولاة الأمور في الخطبة معروفا عند المسلمين ، وعليه عملهم ، لأن الدعاء لولاة أمور المسلمين بالتوفيق والصلاح ، من منهج أهل السنة والجماعة ، وتركه من منهج المبتدعة ، قال الإِمام أحمد : ( لو كان لنا دعوة مستجابة ، لدعونا بها للسلطان ) ولأن في صلاحه صلاح المسلمين .
وقد تركت هذه السنة حتى صار الناس يستغربون الدعاء لولاة الأمور ويسيئون الظن بمن يفعله
” Dan disunnahkan bagi khathib agar mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dengan apa-apa yang membawa kebaikan di dalam agama dan dunia mereka, dan mendoakan para pemimpin kaum muslimin dan waliyyul amr mereka dengan kebaikan dan taufiq. Dan dahulu mendoakan kebaikan kepada para waliyyul amr adalah hal yang dikenal di kalangan kaum muslimin, dan merupakan amalan mereka, karena mendoakan para waliyyul amr dengan taufiq dan kebaikan termasuk manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah, dan meninggalkannya termasuk manhaj Ahli Bid’ah, Al-Imam Ahmad berkata : ” Seandainya aku memiliki do’a yang mustajab maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa ” , dan karena di dalam kebaikan penguasa adalah kebaikan kaum muslimin.
Dan sungguh telah ditinggalkan sunnah ini sehingga jadilah manusia menganggap aneh do’a kebaikan terhadap para waliyyul amr dan berburuk sangka kepada orang yang melakukannya ” ( Al-Mulakhkhosh Al-Fiqhi 1/182 ).

FAIDAH-FAIDAH MENDOAKAN KEBAIKAN TERHADAP WALIYYUL AMR

Mendoakan kebaikan terhadap waliyyul amr mengandung faidah-faidah yang bayak sekali, di antaranya :
Pertama : Seorang muslim beribadah dengan do’a ini, karena dia ketika mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah melaksanakan perintah Alloh, karena Allah berfriman :
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. “ ( An-Nisa’ : 59 ).
Maka seorang muslim mendengar dan mentaati waliyyul amr sebagai suatu ibadah, dan termasuk mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah mendoakan mereka, Al-Imam Nashiruddin Ibnul Munayyir Rahimahullah ( wafat tahun 681 H ) berkata :
الدعاء للسلطان الواجب الطاعة ، مشروع بكل حال
” Mendoakan seorang penguasa yang wajib ditaati adalah disyari’atkan dalam semua keadaan ” ( Al-Intishaf di dalam hasyiyah Al-Kaasyif 4/105,106 ).
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata :
الدعاء لولي الأمر من أعظم القربات ومن أفضل الطاعات …
” Mendoakan waliyyul amr termasuk qurbah yang paling agung dan termasuk ketaatan yang paling utama ” ( Risalah Nashihatul Ummah Fi Jawaabi ‘Asyarati As’ilatin Muhimmah dari Mausu’ah Fatawa Lajnah wa Imamain ).
Kedua : Mendoakan Waliyyul Amr adalah melepaskan tanggung jawab menjalankan kewajiban, karena do’a termasuk nasihat, dan nasihat wajib atas setiap muslim, Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :
إِني لأدعو له [أي السلطان ] بالتسديد والتوفيق – في الليل والنهار – والتأييد وأرى ذلك واجبا عليَّ
” Sesungguhnya aku mendoakan dia ( yaitu penguasa ) dengan kelurusan dan taufiq – siang dan malam – serta dukungan dari Allah, dan saya memandang hal itu wajib atasku ” ( As-Sunnah oleh Al-Khollal hal. 116 ).
Ketiga : Mendoakan waliyyul amr adalah satu dari tanda-tanda Ahli Sunnah wal Jama’ah, maka orang yang mendoakan waliyyul amr menyandang salah satu sifat dari sifat-sifat Ahli Sunnah wal Jama’ah, Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari berkata :
وإِذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى ، وإِذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح ، فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله
” Jika Engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli hawa, dan jika Engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli Sunnah Insya Alloh ” ( Syarhus Sunnah hal. 116 ).
Keempat : Sesungguhnya mendoakan waliyyul amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri, karena jika waliyyul amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Qais bin Abi Hazim bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq : ” Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Alloh setelah Jahiliyyah ? “, Abu Bakar menjawab :
بقاؤكم عليه ما استقامت بكم أئمتكم
” Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian ” ( Shahih Bukhari 3/51 ).
Fudhail bin ‘Iyadh berkata :
لو كانت لي دعوةٌ مستجابة ما جعلتها إِلا في السلطان
” Seandainya aku memiliki do’a yang mustajab maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa “, ketika ditanyakan tentang maksudnya maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata :
إذا جعلتُها في نفسي لم تَعْدُني.وإِذا جعلتها في السلطان صَلَح فصَلَح بصلاحه العبادُ والبلاد
” Jika saya jadikan do’a itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri ” ( Diriwayatkan oleh Barbahari di dalam Syarhu Sunnah hal. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 8/91-92 dengan sanad yang shahih ).
Kelima : Jika waliyyul amr mendengar bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan padanya maka dia akan senang sekali dengan hal itu, yang membuatnya mencintai rakyatnya dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka.
Ketika Al-Imam Ahmad menulis surat kepada Khalifah Al-Mutawakkil maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaaqan menteri Al-Mutawakkil, Ibnu Khaaqan berkata kepada beliau : ” Seyogyanya surat ini ditambah dengan do’a kebaikan untuk khalifah karena dia senang dengannya “, maka Al-Imam Ahmad menambahnya dengan do’a kebaikan kepada khalifah ( As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal 1/133-134 ).

PENUTUP

Inilah sedikit yang bisa kami paparkan tentang masalah ini. Akhirnya kami memohon kepada Alloh dengan nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang luhur agar selalu memperbaiki para waliyyul amr kaum muslimin,dan mengarahkan mereka kepada al-haq. Dan semoga Alloh selalu memberikan taufiq kepada kita semua dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasihat dan mengikuti yang baik darinya. Amin.

والله أعلم بالصواب

 

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.