MEMBELA SUNNAH NABI 

بِسْــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــمِ

MEMBELA SUNNAH NABI 

Sunnah secara bahasa artinya adalah jalan yang ditempuh dalam kehidupan, secara istilah artinya adalah apa yang dinukil dari Nabi  dari perkataan, perbuatan, dan taqrir ( persetujuan ) .
Allah  telah memilih Muhammad  sebagai Nabi dan RasulNya,Allah turunkan Al-Qur’an padanya dan Allah perintahkan beliau menjelaskan AlQur’an kepada manusia.Allah  Berfirman :
44:النحل  وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ 
”Dan kami turunkan padamu Adz Dzikr agar kamu menerangkan kepada ummat manusia,apa yang telah diturunkan kepada mereka”. An Nahl ayat 44.
Dan sunnah Rasululah  adalah termasuk AdzDzikr الذكر  dalam ayat ini, sebagaimana dinukil pendapat ini dari Abdullah bin Al-Mubaarak, Abdurahman bin Mahdy, Ibnul Waazir,dan Ibnu Hazm.(Al Hadits Hujjatin binafsihi, hal21-25)
Adapun penjelasan Rasulullah  terhadap apa yang diturunkan kepada manusia maka ada 2 macam :
Pertama : Menerangkan lafadz-lafadz dan susunannya yang meliputi penyampaian Al-Quran kepada umat manusia tanpa ada sesuatu apapun yang disembunyikan.
Kedua : Penjelasan arti lafadz ,kalimat atau ayat yang sangat dibutuhkan penjelasannya oleh ummat,seperti ayat-ayat yang sifatnya global kemudian datang sunnah(hadits) yang memberikan perinciannya atau ayat-ayat yang umum kemudian datang sunnah(hadits) yang menjelaskan pengkhususannya,atau ayat-ayat yang muthlaq kemudian datang sunnah (hadits)yang menjelaskan pembatasan-pambatasannya, yang itu semua dengan perkataan Rasululah ,perbuatannya dan persetujuannya.

WAJIBNYA MEMAKAI SUNNAH UNTUK
MEMAHAMI AL-QUR’AN

Seperti firman Allah : 38 :المائدة  وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya”(Al- Maidah ayat 38).
Lafadz السَّارِقُ  : “pencuri” dalam ayat ini adalah muthlaq yang menunjukan setiap pencuri harus dipotong tangannya,tetapi sunnah (hadits)menjelaskan bahwa pencuri yang dipotong tanganya,adalah yang mencuri seperempat Dinar( kurang lebih Rp 162.500,- berdasarkan kurs sekarang ) keatas,sebagaimana sabda Rasulullah :
لَا تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلَّا فِي رُبْعِ دِينَارٍ فَصَاعِدً
“Tidaklah dipotong (tangan pencuri) melainkan pada seperempat dinar keatas”. (Hadits riwayat Bukhori: 6291 dan Muslim: 3189 ).
Juga Firman Allah: المائدة :3  حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ
“Diharamkan bagi kalian bangkai dan darah,”(Al-Maidah ayat 3)
Maka sunnah menjelaskan bahwa bangkai belalang dan ikan halal,demikian juga hati dan limpa(yang termasuk darah) juga halal sebagaimana dalam hadits:
أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ
“ Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah, adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang, adapun dua darah adalah hati dan limpa “ (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya : 5465 dan Ibnu Majah dalam Sunannya : 4069 secara marfudan mauquf , sanad yang mauquf shahih dan dia mempunyai hukum marfu,karena tidak mungkin dari akal perawi semata. Lihat Manzilatus Sunnah karya Syaikh Al-Albany hal 9).
Maka seandainya tidak kita jumpai hadits ini maka sungguh akan kita haramkan hal yang halal itu ,yaitu belalang,ikan, hati dan limpa.
Demikian juga Firman Allah  :
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ  الأنعام :145
“Ketahuilah tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku,sesuatu yang diharamkan bagi orang-orang yang hendak memakannya ,kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi,karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah )Al Anaam ayat 145(.
Kemudian datang sunnah yang mengharamkan beberapa hal yang tidak tersebut dalam ayat ini,seperti hadits :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ
”Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah  melarang semua binatang buas yang bertaring dan semua burung yang berkuku tajam ”( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya: 3575 ).
Maka seandainya kita tidak memakai hadits ini tentu akan kita halalkan apa yang diharamkan Alah lewat lisan Nabi Muhammad  seperti binatang buas yang bertaring,dan burung yang berkuku tajam.
Dari tiga contoh diatas jelaslah bagi kita pentingnya berhujjah dengan Sunnah untuk memahami agama Islam dengan pemahaman yang benar.

SESATNYA KELOMPOK QURANIYYIN

Alangkah disayangkan pada zaman sekarang ini adalah kelompok yang menamakan diri mereka Quraniyyin ( dikenal juga dengan nama kelompok Inkarus Sunnah )yaitu mereka tafsirkan AlQuran dengan hawa nafsu dan akal mereka tanpa memakai petunjuk dari sunnah (hadits)yang shohihah dan kelompok ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah  dengan sabdanya:
لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ أَمْرٌ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ
“Jangan sampai aku mendapati seseorang diantara kalian bertelekan diatas ranjangnya,datang urusanku dan apa yang aku perintah dan apa yang aku larang,maka berkata: Aku tidak tahu ,apa yang kami dapati dalam Kitabullah kami ikuti(dan yang tidak kami dapati dalam Kitabullah tidak kami ikuti. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jaminya 5/36 dan dishahihkan oleh Syaikh Al- Albani dalam Takhrij Misykat 1/57 )
Al-Imam Baihaqy berkata : Hadits ini merupakan berita dari Rasulullah  apa yang akan terjadi dari penolakan ahli bid’ah terhadap haditsnya yang terbukti kejadiannya sepeninggalnya “.
Diantara yang menunjukan terhadap kesesatan kelompok “Qur’aniyyin”apa yang dikisahkan oleh Syabiib bin Abi Fadhilah Al Makky bahwa Imron bin Hushoin  menyebutkan masalah syafa’at(di majlisnya)maka berkata seseorang kepadanya :
”Wahai Abu Nujaid sesungguhnya engkau telah menyampaikan kepada kami hadits yang tidak kami dapati asalnya didalam Alqur’an “ .
Maka marahlah Imran dan berkata kepada orang tersebut:”Apakah engkau telah membaca AL-Quran?
Dia berkata:”Ya
Berkata Imran:”Apakah engkau dapati dalam AlQuran sholat isya empat rakaat,shalat maghrib tiga rakaat,shalat shubuh dua rakaat, Shalat dhuhur empat rakaat,shalat ashar empat rakaat?
Dia berkata :Tidak.
Berkata Imran:Maka dari siapa kalian mengetahui hal itu,Bukankah kalian mengambilnya dari kami dan kami ambil itu dari Rasulullah ?! “ (Diriwayatkan oleh Thobrony dalam Mu’jam Kabir 18/219)
Datang seorang wanita kepada Ibnu Mas’ud dan berkata kepadanya:”Engkau mengatakan bahwa Allah mela’nat para wanita yang mencabut bulu wajah dan alisnya juga para wanita yang minta dicabut bulu wajah dan alisnya serta para wanita yang mentato?
Ibnu Masud berkata: Ya
Wanita itu berkata:Aku telah membaca Kitabullah dari awal sampai akhir,ternyata tidak aku dapati apa yang Engkau katakan itu
Maka berkatalah Ibnu Masud kepadanya:Jika engkau membacanya sungguh akan engkau dapati didalamnya.tidakkah engkau telah membaca :
 وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا الحشر : 7
”Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (AlHasyr : 7)
Wanita itu berkata:”Ya”.
Ibnu Mas’ud berkata:” Maka aku mendengar Rasulullah  bersabda :”Allah mela’nat wanita pencabut-pencabut alis mata…dst ( HR Bukhary dan Muslim )”

ATSAR-ATSAR SALAF TENTANG WAJIBNYA BERHUJJAH DENGAN SUNNAH

Ayyub AsSakhtiyani berkata:”Jika engkau menyampaikan sunnah kepada seseorang kemudian dia berkata:Tinggalkanlah kami dari ini dan beritahuakan kami dari AlQuran. Maka ketahuilah bahwa dia adalah orang-orang yang sesat. ( Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Marifatu Ulumil Hadits 1/65 )
Berkata Umar kepada Ibnu Abbas :Bagaimana umat ini berselisih padahal Kitabnya satu,Rabnya satu dan qiblatnya satu ?
Ibnu Abbas berkata : Wahai Amirul Muminin telah diturunkan AlQuran kepada kita ,kita baca dan kita ketahui pada apa dia diturunkan ,dan sesungguhnya akan datang sesudah kita orang-orang yang membaca AlQuran tanpa mengetahui pada apa dia diturunkan sehingga masing-masing kaum kaum punya pendapat sendiri-sendiri sehingga mereka berselisih dan bertengkar/berperang .( Diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam Sunannya 1/176 )
Syadz bin Yahya berkata :Tiada jalan yang telah dekat menuju surga dari pada jalan orang yang menempuh atsar ( diriwayatkan oleh Al Lalikaai dalam Syarh Ushul Itiqod 1/88 ).
Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:AsSunnah menurut kami adalah Atsar Rasulullah  dan Sunnah adalah Tafsir AlQur’an dan Dalailul Qur’an ( Diriwayatkan oleh Al Lalikaai dalam Syarh Ushul I’tiqod sebagaimana dinukil oleh Suyuthi dalam Miftahul Jannah hal.65-66).

WAJIBNYA BERHUJJAH DENGAN SUNNAH DALAM MASALAH AQIDAH DAN AHKAM

Dalil-dalil terdahulu yang menunjukkan wajibnya berhujjah dengan sunnah adalah meliputi semua perkara agama, tidak ada bedanya apakah berhubungan dengan aqidah ilmiyyah atau hukum-hukum amaliyyah, inilah yang diyakini dan diamalkan oleh pendahulu umat ini dari kalangan shahabat, tabiin, tabiit-tabiin, dan para imam.
Adapun pendapat yang membedakan antara aqidah dan hukum dalam berhujjah dengan hadits ahad maka dia adalah pendapat yang bidah yang tidak pernah dikenal oleh salafushshalih dari kalangan sahabat, tabiin,dan tabiit tabiin dan tidak dikenal juga oleh imam empat ( Abu Hanifah, Malik, Syafii, dan Ahmad ) yang merupakan imam panutan bagi kaum muslimin saat ini ( Lihat Ar-Risalah oleh Al-Imam Syafii hal. 457 dan Mukhtashor Showaiq Mursalah oleh Ibnul Qoyyim 2/412 ).
Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya berhujjah dengan hadits ahad dalam masalah aqidah dan hukum adalah firman Allah  :
 وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا  الحشر : 7
”Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Al-Hasyr : 7).
Lafadz (مَا ) adalah termasuk lafadz umum yang meliputi semua yang disampaikan oleh Rasulullah  kepada ummatnya termasuk masalah aqidah dan hukum, barangsiapa yang mengkhususkan hal itu dalam hal hukum saja tidak berhubungan dengan masalah aqidah maka ini adalah pengkhususan yang batil.
Kemudian sunnah amaliyyah yang diterapkan oleh Nabi  dan para sahabat di zaman Nabi  menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam berhujjah dengan hadits ahad dalam masalah aqidah dan hukum, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa orang-orang Yaman datang kepada Rasulullah  seraya mengatakan: “ Utuslah kepada kami seseorang yang mengajari kami Sunnah dan Islam ! “,maka Rasulullah  memegang tangan Abu Ubaidah seraya mengatakan : “ Inilah kepercayaan umat ini “ ( Muttafaq Alaih ) .
Syaikh Al-Albany berkata : “ Seandainya argumen tidak tegak dengan khobar ahad maka tidaklah Rasulullah  mengutus Abu Ubaidah ke Yaman seorang diri, demikian juga ini dikatakan pada hadits-hadits dalam Shahihain yang mengkhabarkan bahwa Rasulullah  mengutus Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal, dan Abu Musa Al-Asyary sebagai dai-dai yang diutus untuk mendakwahkan Islam ke negeri-negeri tertentu dalam keadaan sendirian. Merupakan hal yang tidak diragukan lagi bahwa para sahabat ini menyampaikan Islam secara keseluruhan termasuk di dalamnya masalah-masalah aqidah ( Al-Hadits Hujjatun Binafsihi fil Aqaid wal Ahkam hal. 59 ).
Dari Said bin Jubair bahwasanya dia berkata kepada Ibnu Abbas : Sesungguhnya Nauf Al-Bikaly menyangka bahwa Musa teman Khodhir bukanlah Musa Bani Israil “, maka Ibnu Abbas berkata “ Musuh Allah dusta, Ubay bin Ka’b telah mengkhabarkan kepadaku bahwasanya Rasulullah  berkhotbah…kemudian dia menyebutkan hadits Musa dan Khodhir dengan sesuatu yang menunjukkan bahwa Musa teman Khodhir adalah Musa yang diutus Allah kepada Bani Israil . Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhary dan Muslim secara panjang lebar dan dikeluarkan oleh Al-Imam Syafii dalam Ar-Risalah hal. 442 secara ringkas seperti ini dan kemudian Al-Imam Syafii mengomentarinya dengan perkataannya :
Ibnu Abbas dengan keilmuan dan kewaraannya membenarkan khobar Ubay bin Kab dari Rasulullah  sampai mendustakan seseorang dari kaum muslimin, ketika Ubay bin Ka’b mengkhabarkan kepada Ibnu Abbas hadits dari Rasulullah  yang menunjukkan bahwa Musa teman Khodhir adalah Musa yang diutus Allah kepada Bani Israil “.
Syaikh Al-Albany berkata : “ Perkataan Al-Imam Syafii ini menunjukkan bahwa beliau tidak membedakan aqidah dan amalan dalam berhujjah dengan hadits ahad, karena masalah bahwa Musa yang diutus Allah kepada Bani Israil adalah Musa teman Khodhir merupakan masalah ilmiyyah yang berhubungan dengan aqidah dan bukan masalah hukum yang berhubungan dengan amalan ( Al-Hadits Hujjatun Binafsihi fil Aqaid wal Ahkam hal. 61 ).
Maka kesimpulannya bahwa dalil-dalil dari Kitab, Sunnah, dan amalan sahabat, dan perkataan para ulama menunjukkan tentang wajibnya berhujjah dengan hadits ahad dalam syariat Islam, tidak ada bedanya dalam aqidah ilmiyyah atau ahkam amaliyyah, dan bahwasanya pendapat yang membedakan antara keduanya adalah pendapat yang bidah yang tidak pernah dikenal oleh salaf, karena inilah maka Al-Imam Ibnul Qoyyim mengatakan :
Pendapat yang membedakan antara keduanya adalah pendapat yang batil dengan kesepakatan umat karena umat tidak henti-hentinya berhujjah dengan hadits-hadits ahad dalam khobar-khobar ilmiyyah yang berhubungan dengan aqidah, sebagaimana mereka berhujjah dengan khobar-khobar amaliyyah, terutama hukum-hukum amaliyyah yang mengandung khobar dari Allah bahwasanya Allah mensyariatkan ini dan itu, mewajibkannya, dan meridhoinya sebagai agama,…Tidak henti-hentinya para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin, dan ahli hadits dan sunnah berhujjah dengan hadits-hadits ahad dalam masalah-masalah sifat, qadar, asma, dan ahkam,…
Maka siapakah pendahulu dari orang-orang yang membedakan antara aqidah dan ahkam dalam berhujjah dengan hadits ahad ?! pendahulu mereka adalah sebagian mutakallimin belakangan yang tidak punya perhatian sama sekali terhadap apa yang datang dari Allah, Rasulnya, dan para sahabat , bahkan mereka halangi manusia dari mengambil petunjuk Kitab, Sunnah dan perkataan para sahabat, mereka bawa manusia kepada pemikiran-pemikiran ahli-ahli filsafat dan kaidah-kaidah mutakallimin… seperti perkataan sebagian mereka bahwa masalah-masalah ushul adalah masalah-masalah ilmiyyah, sedangkan masalah-masalah furu adalah masalah-masalah amaliyyah, ini adalah pemisahan yang batil juga, karena yang dituntut dari masalah-masalah amaliyyah adalah dua perkara, yaitu ilmu dan amal, demikian juga yang dituntut dari masalah-masalah ilmiyyah juga ilmu dan amal, yaitu kecintaan hati dan kebenciannya : kecintaannya kepada al-haq dan kebenciannya kepada kebatilan yang menyelisihinya, maka amalan bukanlah dibatasi pada amalan anggota tubuh saja, bahkan amalan hati adalah landasan bagi amalan anggota tubuh. Maka setiap masalah amaliyyah selalu diiringi oleh keimanan hati, pembenarannya, dan kecintaannya, dan ini adalah amal bahkan pokok dari amalan. Hal inilah yang dilalaikan oleh kebanyakan mutakallimin dalam masalah keimanan, di mana mereka menyangka bahwa iman adalah sekedar membenarkan tanpa melakukan amalan !.
Ini adalah kesalahan yang paling besar dan paling buruk, karena banyak orang-orang kafir yang meyakini kebenaran Nabi  tanpa meragukannya sama sekali, hanya saja mereka tidak mengiringi pembenaran itu dengan amalan hati, yang meliputi kecintaan apa yang dibawa oleh Nabi  , ridho kepadanya, dan berkehendak untuk mengamalkannya…
Maka masalah-masalah ilmiyyah adalah amaliyyah dan masalah-masalah amaliyyah adalah ilmiyyah, karena Allah tidak menerima dari orang mukallaf dalam masalah amalan hanya dengan sekedar amal tanpa ilmu, dan tidak juga dalam masalah ilmiyyah dengan sekedar ilmu tanpa amal ( Mukhtashor Showaiq Mursalah 2/412 ).

Wallahu Alam Bishowaab

( Disusun oleh Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.